Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 83


__ADS_3

Gibran mendudukkan Naina di sofa yang ada di Vila mereka saat ini, Gibran menatap Naina yang diam saja sambil tak mau melihat kearahnya saat ini.


“Sayang, aku minta maaf ya” ucap Gibran sambil memegang tangan istrinya itu.


Naina menepis begitu saja tangan Gibran yang memegang tangannya dan dia langsung menghindar dari pria itu. Gibran langsung berdiri dan duduk disampingnya.


“Aku minta maaf, aku membuatmu cemas ya.?” Gibran mendekatkan dirinya pada Naina. Tapi Naina langsung berdiri dia malas didekati Gibran saat ini. tapi Gibran langsung menarik tangannya dan membuat Naina terjatuh kepangkuan Gibran saat ini. Gibran tak membuang kesempatannya dia memeluk erat istrinya agar tidak bisa pergi.


“Sayang, aku tahu aku salah. Aku minta maaf ya..aku cuman bercanda tadi” Gibran memelas sambil memeluk Naina dari belakang.


“Bercanda?” sinis Naina menatap tajam Gibran.


“Bercanda kamu nggak seru ngerti, kau pria bodoh yang bercanda seperti itu. lepas, lepaskan aku benci dengan orang yang mempermainkan nyawa” kesal Naina berontak minta dilepaskan.


“Nggak akan aku lepaskan, aku tahu aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi sayang. Aku mohon sama kamu..aku minta maaf.” Pungkas Gibran


Naina langsung diam, dia tak berontak lagi dia sudah capek sedari tadi terus memberontak minta dilepaskan.


“Aku minta maaf ya, aku janji nggak bakal mengulangi bercanda yang nggak lucu itu. aku cuman pengen lihat reaksi kamu aja kalau aku benar-benar terluka. Aku minta maaf ya” lirih Gibran sambil memegang dagu Naina agar melihat kearahnya.


Naina melihat Gibran dengan datar, dia tak menjawab ucapan pria itu sama sekali. Gibran memperhatikan wajah istrinya dengan seksama, dan dia langsung mendekatkan wajahnya ke pada Naina. Dan dia mencium kening sang istri setelah itu ia beralih mencium bibir manis istrinya tersebut.


Naina tak membalas ciuman Gibran sama sekali, dia masih kesal bercampur marah atas apa yang dilakukan Gibran.


Gibran seakan memakluminya, dia perlahan memindahkan tubuh Naina ke sofa disebelahnya.


“Kamu disini sebentar ya, aku ambilkan kotak p3k dulu” ucap Gibran pada istrinya. Dia langsung berdiri meninggalkan Naina untuk mengambilkan kotak obat merah.


Naina tak menjawabnya, dia masih tetap pada pendiriannya dengan berdiam diri.


Tidak butuh waktu lama, Gibran sudah kembali dengan membawa kotak p3k ditangannya dia langsung berlutut didepan istrinya membuka kota tersebut dan mengambil alkohol untuk mengobati luka di lutut istrinya tersebut.


“Nggak usah aku bisa sendiri” Naina akan mengambil kapas yang sudah diberi alkohol.


“Aku aja, kamu kayak gini kan gara-gara aku” Gibran mengusapkannya perlahan ke luka yang ada di lutut Naina.


Naina hanya melihatnya saja, dia benar-benar masih kesal dengan tindakan Gibran tadi.


............................................


Tok-tok


“Pak Gibran, Bu Naina..” panggil seseorang dari luar Vila. Seorang perempuan paruh baya tengah mengetuk-ngetuk pintu Vila tersebut memanggil sepasang suami istri yang ada di dalam.


“Iya..ada apa bu?” Naina yang membukakan pintu tersebut melihat seorang perempuan paruh baya tengah membawa rantang makanan berwarna putih dengan corak bunga.


“Ini bu saya bawakan makanan untuk kalian berdua,” perempuan paruh baya itu memberikan rantang makanan itu pada Naina.


“Aduh kok repot-repot sih bu, saya barusan juga mau masak” Naina dengan berat hati menerima itu.


“Nggak pa-pa bu, warga disini mah sering begini kalau sama tamu. Diterima ya bu, ini sebagai ucapan terimakasih saya karena berkat perusahaan pak Gibran penghasilan kebun warga sini naik drastis” pungkas perempuan itu.


“Ya sudah saya terima ya. Terimakasih banget loh bu” tukas Naina.


“Iya sama-sama bu Nai, kalau begitu saya permisi dulu ya” ucap perempuan itu dan langsung pamit untuk pergi.


“Iya bu” ucap Naina mengangguk.


Setelah perempuan itu pergi Naina langsung menutup pintu Vila nya dan dia berjalan masuk kedalam lebih tepatnya menuju dapur. Dia akan menghangatkan masakan itu terlebih dahulu sebelum ia makan meskipun saat ini masakan yang dibawakan masih terbilang hangat.


“Siapa sayang?” tanya Gibran yang baru saja keluar dari kamar.


“Warga sini, mereka bawain makanan buat kita” jawab Naina sambil berjalan ke dapur.

__ADS_1


“Oh,” Gibran berjalan mengikuti sang istri. Dia langsung duduk di kursi pantry melihat Naina yang mengambil panci kecil untuk memanaskan sayur tersebut.


“Kamu udah nggak marah kan sama aku” taya Gibran hati-hati. Sedari pagi tadi hingga sore ini mereka tidak bicara, dan tadi saja Naina dia ajak tidur siang bersama perempuan itu menolak. Jadi akhirnya Gibran tidur sendiri dan saat ini baru bangun.


“Nggak” lirih Naina dan sibuk memindahkan masakan yang ada di dalam rantang ke piring.


“Serius, beneran nggak marah lagi” Gibran langsung riang kembali seperti saat mereka berangkat ke puncak.


“Hemm, sudah deh sana mandi jangan ganggu aku. aku mau menyiapkan makan malam dulu” tukas Naina mengusir sang suami agar pergi.


“Oke, sayang kalau begitu aku mandi dulu” ucap Gibran dan langsung berdiri dari duduknya.


“Sayang sini sebentar, itu ada apa di rambut kamu” lanjut Gibran dan menyuruh istrinya untuk mendekat.


Naina tak curiga sama sekali, dia langsung mendekat kearah Gibran. Tak menyia-nyiakan kesempatan Gibran langsung mencium bibir Naina meskipun terpisah oleh Pantry yang menghalangi mereka.


“Dah sayang” ucap Gibran langsung pergi setelah mencium istrinya.


“Kamu ya..tukang mencuri kesempatan aja” Seru Naina karena di bohongi Gibran, pria itu terus mencuri kesempatan saja padanya.


“Biarin sama istri sendiri, aku mandi ya jangan kangen. Kamu pernah nonton film Dilan nggak di film itu katanya kangen itu berat loh sayang”


“Bodo amat, nggak tahu dan nggak pernah nonton. Sana pergi..” tukas Naina sarkas..


Gibran tak tersinggung sama sekali, dia justru tersenyum puas karena berhasil menjahili istrinya.


Pria itu langsung berjalan masuk ke kamarnya untuk mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar.


.......................................


“iih bagus,” seru Aira saat melihat dirinya di pantulan kaca kecil yang dibawa Delina. Dia terpukau melihat rambutnya yang di kepang cukup cantik oleh tantenya itu.


“bagus kan sayang?” ucap Selina tersenyum melihat bocah didepannya yang terlihat senang.


“Ayo tante, ayo” ucap Aira dan langsung mengajak tantenya turun dari tempat tidur.


“Mau kemana sayang?” tanya Selina heran.


“Mau ketemu Oma, aku mau tunjukin ke Oma” ucap Aira pada Selina.


“Ya sudah ayo” Selina mengiyakan ajakan dari Aira. Dia langsung perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan mengikuti bocah tersebut yang akan menemui mertuanya.


“Aduh..” Aira tiba-tiba saja menabrak seseorang.


“Aira hati-hati dong sayang” ucap Selina dan juga Mahendra. Ya, yang ditabrak Aira adalah Mahendra.


“Eh Opa” ucap Bocah itu langsung berdiri dengan dibantu sang Opa.


“Kamu kok lari-lari..eh itu rambut kamu siapa yang ngepang sayang” Mahendra langsung salah fokus pada rambut cucunya.


“tante cantik yang kepang, aku cantik kan Opa” ucap Aira sambil bergaya menunjukkan rambutnya pada sang kakek.


“Kamu yang ngepang Selina?” tanya Mahendra sebelum menjawab pertanyaan dari sang cucu.


“Iya pa,” jawab Selina lirih.


“Bagus ya, kamu jago jago juga ngepang rambut persis kayak mamanya Mark” ucap Mahendra.


“Mama bisa ngepang rambut pa, tadi Aira bilang mama nggak bisa” heran Selina mendengar itu karena Aira tadi bilang kalau Vita tidak bisa mengepang rambut.


“Dulu dia bisa, dia dulu sering ngepang rambut Michel” jawab Mahendra lirih dan wajahnya berubah sedih. Hal itu tak lepas dari pengamatan Selina, dia merasa penasaran kenapa papa mertuanya berubah sedih saat membahas hal itu.


“Sini sayang sama Opa, mau nemuin Oma kan?” ucap Mahendra dan langsung menggendong cucunya.

__ADS_1


“Aira biar sama papa saja, kamu kalau mau menyiapkan keperluan Mark siapkan saja Selina” ucap Mahendra.


“Iya pa, kalau begitu aku ke kamarku dulu ya pa” pamit Selina, karena dia memang mau menyiapkan baju ganti untuk Mark dan juga dia akan menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. dia tadi mau melakukan hal itu karena Aira ingin ditemani olehnya jadi dia meninggalkan pekerjaannya tersebut.


“Iya” jawab Mahendra.


“dadah tante” Aira yang digendong Mahendra saat ini langsung melambaikan tangannya pada sang tante yang akan pergi dari hadapannya.


“Dadah sayang” balas Selina sambil berlalu pergi.


“Yuk kita sama Oma sama Aiden di kamar Opa” ajak mahendra pada cucunya


“Ayo” jawab Aira.


“Oh iya, tadi opa denger dari miss di sekolah. Aiden berantem ya sama temannya” tanya Mahendra pada cucu perempuannya itu.


“Iya” lirih Aira sambil cemberut.


“Kok cucu Opa sedih sih,” heran Mahendra.


“Aiden tadi, berantem gara-gara Aira opa”


“Kok gara-gara Aira?”


“Tadi teman Aira ngatain Aira pelit terus Aira nangis karena terus dikatain pelit. Padahal Aira nggak pelit kok..Aira kan masih makai pensil warnanya masa mereka maksa minjem” jelas bocah itu pada sang kakek.


“Jadi Aiden belain Aira begitu?”


Aira mengangguk mengiyakan ucapan sang Opa padanya.


“Opa nggak marah sama Aiden kan, itu bukan salah Aiden..Aiden belain Aira”


“Nggak kok, Opa nggak marah. Opa malah bangga sama Aiden, dia bisa belain kamu” Mahendra mengusap kepala cucunya gemas.


“Beneran?”


“Iya, opa apa pernah bohong sama Aira”


“Nggak” jawab bocah itu sambil menggeleng.


“Nggak kan,” gemes Opa sama kamu. Mahendra mencubit pipi cucunya yang memang chubby sehingga membuatnya gemas.


“Opa jangan bilang mama sama papa ya?”


“Papa Gibran atau papa Mark ini?” tanya Mahendra sambil menggoda anaknya.


“Papa Ibran, kalau papa Mark pasti nggak bakal marah”


“Memang papa Gibran sering marah sama Aira Aiden”


“Nggak,”


“Lah kok nggak boleh bilang sama Papa mama kamu”


“Kan aku belum tahu banget papa Ibran itu kayak mana Opa”


“Oke deh, nanti Opa nggak bilang sama orang tua kamu. ayok masuk ke kamar Oma..Oma sama Aiden lagi makan Pizza loh”


“Pizza?”


“Iya”


“Ihh, Opa kok bilang..ayok Opa buruan masuk. Nanti abis sama Aiden Pizza nya” ucap bocah itu dan meminta sang Opa untuk segera masuk kedalam kamar Omanya. Ia takut Pizza nya sudah dihabiskan oleh Aiden.

__ADS_1


°°°


__ADS_2