
“Dia anakku dengan Naina,”
“APA?”
Alisha langsung menatap Gibran, tangannya seketika terulur menyentuh dahi Gibran,
“Gibran kau gila? Bagaimana bisa bocah itu anakmu dengan mantan istrimu. Mantan istrimu sudah tiada” tukas Alisha mencoba menyadarkan Gibran soal kenyataan tersebut.
Gibran langsung menyingkirkan tangan Alisha perlahan,
“Aku tidak gila Alisha, Naina masih hidup dan itu anakku. Satu lagi jangan sebut dia mantan istriku karena dia masih istriku hingga saat ini” pungkas Gibran dan dia kembali melihat kearah ruangan tersebut dimana Aira yang sedang di ajak menonton lewat ponsel oleh Mark yang berbaring disebelah bocah tersebut.
“ya..ya dia masih istrimu, aku kalah. Tapi Gibran, tidak mungkin dia masih hidup apalagi melahirkan anakmu. Dia sudah tiada, dan kau sendiri yang menguburkannya” Alisha masih belum percaya akan ucapan Gibran.
“Itu palsu, aku ditipu. Naina masih hidup..dan aku akan membawanya kembali kerumahku”
“Untuk apa? untuk kau siksa lagi. Sebaiknya jangan Gibran, jika memang apa yang kau bilang dia masih hidup biarkan dia bebas dengan hidupnya”
“Siapa juga yang menyiksanya. Aku ingin memperbaiki semua dari awal, aku akan menebus semua dosa-dosaku padanya” dengus Gibran dengan suara yang sedikit lebih tinggi.
“mama..hiks hiks” bocah dua tahun yang ada di gendongan Gibran langsung terbangun dan menangis.
“kau Gibran, lihat Axel menangis karenamu” kesal Alisha dan langsung mengambil Axel dari gendongan Gibran.
“maaf,” lirih Gibran.
“Ayo pulang, kalau kau masih ingin disini aku tinggal” pungkas Alisha mengajak Gibran pergi.
“ya” jawab pria itu dan langsung menyusul Alisa tapi sebelum itu dia melihat kembali kearah ruangan Aira.
“Tunggu papa sayang, nanti papa yang akan menemanimu” ucap Gibran dalam hatinya saat menatap Aira yang berada di dalam ruang rawat bersama Mark. Setelah itu dia langsung pergi menyusul Alisha yang sudah berjalan lebih dulu.
......................................
“Maaf ya bu, aku sama papa mama lupa ngasih tahu ibu soal Aira yang sakit” ucap Michel merasa tak enak pada orang tua kandungnya. Ia takut kedua orang tuanya berpikir dia tidak sayang lagi dengan mereka berdua.
“Nggak pa-pa sayang, ibu ngerti kok. Sekarang bagaimana kondisi Aira?’ Nurma berusaha memaklumi semua itu karena mau bagaimana lagi disaat situasinya seperti ini.
“Kondisinya sekarang sudah mendingan bu, mungkin besok dia boleh dibawa pulang”
“Syukurlah kalau begitu. Besok ibu sama ayah kerumah mama sama papa kamu buat ketemu Aiden sama Aira” ucap Nurma.
__ADS_1
“Kenapa nggak hari ini saja, aku kesini buat jemput kalian”
“Hari ini..” ucapan Nurma menggantung. Dia melihat sekilas kearah Nanda yang duduk tak jauh dari situ.
“Hari ini kenapa bu?” tanya Michel.
“hari ini kita ada janji sama orang kak, jadi nggak bisa. Sebenarnya kita juga pengen lihat Aira sama Aiden hari ini tapi kita ada janji duluan sama orang” jelas Nanda menggantikan ibunya bicara. Karena dia melihat sang ibu yang seperti tak bisa berbohong.
“Sebenarnya siapa sih yang ingin kalian temui, Aira sama Aiden keluarga kalian loh. Dia cucu ibu loh bu..” rengek Michel.
“Iya, ibu tahu. tapi ibu juga nggak bisa batalin ini begitu aja. Ibu udah janji sama dia Michel”
“bener kata ibu mbak, kita sudah janji sama orang itu kasihan kalau kita nggak dateng”
“Ya sudah kalau kalian nggak bisa hari ini”
“maafin ibu sama ayah ya”
“Iya bu nggak pa-pa”
“bu..” ucap Michel dengan ragu.
“Iya kenapa?”
“Ke..kenapa kamu tanya Begitu?” dengan terbata Nurma menjawabnya, dia melihat kearah Nanda yang diam saja.
“Aku padahal selama ini bersembunyi darinya, tapi aku malah selalu bertemu dengan dia bu. Dia malah jadi rekan bisnis kak Mark”
“Bagus dong kak, kalau kakak sama kak Gibran ketemu terus dia gimana?” mendengar itu Nanda tampak bersemangat, dia senang mendengar hal itu. akhirnya yang ia tunggu-tunggu terjadi juga.
“kok bagus sih Nda..dia orang jahat bagaimana kalau dia sadar ini kakak”
“ya nggak pa-pa kalau dia sadar kak Michel tuh kak naina istri dia. dan pastinya kak Gibran bakal senang tahu kakak masih hidup” pungkas Nanda.
“Senang bagaimana, kalau kakakmu ini dia lukai bagaimana. Dia jahat sama kakak Nda, dia..”
“Michel..” Nurma memotong ucapan Michel.
“Michel orang yang dulunya jahat belum tentu dia masih tetap sama, mungkin saja dia sudah berubah” lanjut Nurma sambil memegang tangan anaknya.
“Tapi bu, Gibran itu bukan tipe orang yang bisa berubah. Dia pria jahat, dia juga kejam bu”
__ADS_1
Nanda yang mendengar itu malas untuk mendengarkannya lagi, dia langsung berdiri dan pergi meninggalkan sang ibu dan kakaknya yang tengah berbicara.
“Nanda kenapa bu,” heran Michel saat melihat adiknya yang langsung pergi.
“Dia memang begitu, dia nggak pa-pa” ucap Nurma.
“Tapi dia kelihatan marah sama aku bu,”
“nggak,.nggak usah di pikirin”
“Michel dengerin ibu, misalkan kalau Gibran tahu itu dirimu, ibu pastikan dia nggak bakal jahat ke kamu. dia bakal baik ke kamu dan anakmu. Jadi lebih baik kamu jujur saja kalau kamu naina”
“Ibu kenapa sih, kenapa ibu kayak jadi bela Gibran. Ibu memang tahu dia seperti apa, aku yang tahu bu”
“Tapi kalau dia sudah baik kamu bagaimana, orang itu pasti ada masa lalunya yang kelam. Dan saat dia ingin berubah bahkan mungkin sudah berubah itulah yang dirinya sebenarnya”
“Yang anak ibu disini siapa, kenapa sedari tadi ibu seakan membela dia.” Michel perlahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan ibunya.
“Kamu anak ibu Michel, tapi apa salahnya kita memaafkan orang yang sudah berubah”
“Ibu tahu darimana kalau dia sudah berubah, apa dia sering kesini?”
Nurma langsung diam dengan pertanyaan sang anak. Dia bingung harus menjawabnya bagaimana kalau dia jujur takutnya Michel akan marah padanya tapi kalau dia tidak jujur Michel akan terus menganggap Gibran orang yang jahat dan belum berubah.
“Ibu kenapa diam, jawab bu”
“Nggak, dia nggak pernah kesini. Cuman ibu dengar dari orang-orang yang kenal Gibran pria itu sekarang berubah tidak seperti Gibran yang dulu. ibu dengar juga dia mendedikasikan sebuah perusahaan atas nama kalian berdua dan hasil dari perusahaan itu dia sumbangkan dan gunakan untuk kebutuhan sosial sebagai rasa hormatnya padamu Michel”
“nggak mungkin bu, dia cuman cari perhatian saja.”
“nggak Michel, itu bukan untuk cari perhatian tapi itu memang benar. ibu juga dengar dia banyak membantu orang lain. Bahkan para pedagang kecil ia bantu juga”
“Kamu bisa cari di internet atau apa soal Gibran, pasti bakal muncul nama perusahaan yang gabungan dirimu dan dia” lanjut Nurma.
Michel hanya diam saja, dia terpikir sebuah nama perusahaan Gibran yang seperti nama gabungan.
“mana mungkin itu” ucapnya menyangkal pikirannya.
“Michel kenapa?” ucap Nurma karena anaknya itu terlihat melamun.
“Nggak bu, kalau begitu aku permisi dulu aku harus menemui Aira dia pasti nyariin aku” ucap Michel langsung berdiri dan mencium ibunya. Ia langsung pamit pulang membuat sang ibu menatapnya heran dan juga penasaran kenapa Michel tiba-tiba pamit untuk pulang, padahal mereka belum cukup lama berbicara apa karena dirinya seakan membela Gibran sehingga putrinya itu langsung pergi, batin Nurma dalam kebingungan.
__ADS_1
°°°
T.B.C