
“Jangan bohon Nda, aku tahu kamu sudah tahu kalau Naina masih hidup dan sekarang dia memakai nama Michel kan?”
Mata Nanda melebar, dia cukup terkejut mendengar hal itu. bagaimana bisa Gibran tahu kalau kakaknya Naina masih hidup dan memakai nama Michel, batin Nanda. Mulut pria itu masih terkatup, ia bingung untuk berbicara apa
“Kak..Kak Gibran su..sudah tahu kalau kak Naina masih hi..hidup” Nanda terbata menjwabnya, ia malah melontarkan pertayaan kembali pada Gibran.
“Jadi benar kakakmu masih hidup,” tebak Gibran, wajahnya terlihat kecewa ternyata adik iparnya itu sudah tahu soal Naina yang masih hidup.
“ka..aku..”
“Kau tidak usah merasa bersalah padaku, aku tahu kau terpaksa melakukannya. Soal aku yang tahu kakakmu masih hidup tolong jangan bilang dulu sama ayah atau ibu soal ini” pinta Gibran, dia melihat adik iparnya dengan tatapan memohon.
“Kenapa? Dan kenapa kak Gibran nggak bilang kalau sudah tahu?” heran Nanda dan dia penasaran tentang alasan Gibran yang tak bilang sebelumnya kalau sudah tahu kalau kakaknya Naina masih hidup.
“Aku tahu juga belum lama ini, itupun masih dugaanku. Makanya aku tanya padamu langsung,” jawab Gibran.
“Aku minta maaf, bukannya aku ingin menyembunyikan semua ini kak. Tapi aku tidak bisa memilih anatar dirimu atau kak Naina” Nanda mendekatkan dirinya pada Gibran dan dia menunduk dengan perasaan bersalahnya.
“nggak pa-pa, aku ngerti diposisimu” Gibran mengusap lembuh bahu Nanda.
“Lalu sekarang apa yang akan kakak lakukan saat itu Kak Nai?”
“Aku memilih diam saja dulu, sambil menunggu hasil tes DNA ku dengan Aira setelah itu baru aku langsung mengajaknya bicara masalah ini”
“APA, kak Gibran sudah tes DNA dengan Aira?” kaget Nanda saat mendengar itu, ternyata kakak iparnya sudah bergerak cepat tanpa sepengetahuan mereka semua.
“Iya, itu aku lakukan agar buktiku semakin kuat agar kakakmu tidak mengelak. Tahu sendiri kakakmu sekarang keras kepala dan bukan yang menerima seperti dulu” senyum Gibran pada Nanda, dia menunjukkan sneyum tulusnya pada pemuda itu.
“Iya kak Nai sekarang dia keras kepala, terus bar-bar lagi, kuat banget juga kalau mukul” adu Nanda pada Gibran.
“Masa..” ucap Gibran yang tertarik dengan ucapan Nanda.
“Iya, kayak preman pasar sekarang. Kalau nggak suka mukul,”
“Iya sih, aku pernah dindang oleh kakakmu waktu itu”
“Serius kak?”
“hemm, dia adik kecilku lagi”
“Hahaha serius, sakit banget tuh pasti” tawa Nanda mendengar cerita Gibran.
“Bukan sakit lagi,” jawab Gibran membayangkan betapa ngilunya waktu itu sampai membuatnya tak bisa berjalan untuk mengejar Naina lagi.
Mereka berdua saling tertawa saat membicarakan naina yang sekarang keduanya tampak begitu kompak.
...................................
__ADS_1
Pagi sudah menyapa lalu lintas juga sudah mulai ramai apalagi di rumah sakit yang mulai sibuk beroperasi menangani pasien dari berbagai lapisan masyarakat. Gibran dengan snatainya berjalan sambil membawa sebuket bunga kecil di tangannya dia juga tak lupa bersenandung untuk mengekspresikan hatinya yang tengah bahagia.
Dia langsung membuka pintu ruangan dimana Aira dirawat saat ini, dia terdiam di ambang pintu saat melihat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tampak sibuk dan langsung menghentikan aktifitasnya saat melihat dirinya yang membuka pintu saat ini.
“Kau..”
“Gibran,..” ucap Michel dan juga Mark yang sedang memberesi barang-barang Aira.
“Om Ibran” seru bocah itu yang tadinya duduk di sofa langsung berlari menghampiri Gibran yang berada didepan pintu.
“Hai sayang, Aira sudah boleh pulang?’ tanya Gibran sambil menyamakan tingginya dengan Aira.
“Sudah dong Om, aku sudah sehat. Aku mau pulang ketemu Iden, eh kembaran ku. Om belum ketemukan sama Iden” ucap Aira cerewet didepan Gibran.
“Kau ada perlu apa kesini Gibran?” tanya Mark yang berjalan mendekati mereka berdua.
“Iya ada apa kau kesini?” sahut Michel yang sudah selesai memberesi barang-barang Aira. Dia berjalan mendekat sambil menenteng tas kecil yang berisi perlengkapan Aira.
Gibran langsung berdiri, dia berjalan mendekati Michel membuat perempuan itu was-was akan apa yang dilakukan Gibran.
“ma..mau apa kau,” ucap Michel dan sedikit mundur.
“Ini..” ucap Gibran sambil menyerahkan sebuket buga pada Michel.
“Apa ini?”
“Gibran aku tanya padamu tadi, kenapa kau kesini. Perasaan kita tidak ada janji temu?” tanya Mark lagi karena pertayaanya tak dibalas oleh gibran.
“Aku kesini..” ucapan Gibran sedikit menggantung dan dia melihat sekilas kearah Michel.
“APA” ketus Michel saat Gibran menatapnya
“Ambil bungamu” lanjut Michel dan menyerahkan kembali bunga yang diberikan Gibran tadi.
“Gibran jawab pertanyaanku” tegas Mark.
Gibran malah bergeser kesamping Michel, dan dia langsung melingkarkan tangannya di pinggan ramping perempuan itu.
“Kau tidak bilang pada kakakmu sayang, kalau kita sekarang pacaran” ucap Gibran.
“APA? kau bercanda. Michel..” tukas Mark yang terkejut mendengar ucapan rekan bisnisnya itu.
“jangan asal tuan Gibran, lepaskan” Michel melepaskan paksa tangan Gibran dari pinggangnya dan menyerahkan begitu saja bunga yang ia pegang pada Gibran.
“Gibran jangan macam-macam de..”
“Mama, Papa kapan pulang? Aku kangen Iden” ucapan Aira memotong perkataan Mark pada Gibran. Membuat tiga orang dewasa yang terlihat akan bersitegang itu langsung melihat kearah Aira saat ini.
__ADS_1
“Iya sayang kita pulang” kata Michel dan langsung berjalan menghampiri snag putri dia melihat sekilas Gibran yang tersenyum padanya.
“Dasar gila” gumam Michel dan dia membawa anaknya pergi dari situ meninggakan Gibran dan juga Mark. Mark yang sedari tadi melihat kearah Gibran langsung mencengkram tangan Gibran agar pria itu melihat kearahnya bukan kearah Michel.
“Tuan Gibran Montana, jangan macam-macam dengan adikku. Kau bilang apa tadi, kau pacaran dengan adikku” tukas Mark.
“Ya, anda tidak dengar tadi. Jadi aku mohon restumu dr.Chandra” Gibran malah seakan meledek Mark, membuat Mark tentu saja terpaku tak mengerti dengan senyum Gibran yang terkesan mengejeknya itu.
Gibran langsung berjalan pergi menyusul Michel, meninggalkan Mark yang melihatnya.
“Apa-apaan pria itu?” gumam Mark.
......................................
Michel terpaksa harus ikut mobil Gibran, karena pria licik disebelahnya berhasil membuat anaknya terpikat. Aira yang terus-terusan ingin masuk mobil ini membuat Michel terpaksa juga ikut masuk.
“Ayolah sayang, Aira sudah tidur jangan diam saja aku kesepian tidak ada teman bicara” ucap Gibran sekilas melihat Michel yang duduk disebelahnya sambil memangku Aira.
“Jangan gila, siapa sayangmu.” Sinis Michel.
“Kau lah..” ucap Gibran sambil tersenyum
“Sinting” maki Michel.
Gibran tak marah, dia malah tersenyum puas karena sudah membuat Michel kesal.
“Sayang, tahu nggak aku menemukan rahasia besar dari seseorang. Kau ingin tahu rahasia apa itu?” pungkas Gibran.
“Ogah, bukan urusanku. Dan berhenti memanggilku sayang, aku bukan siapa-siapamu’
“kau pacarku, kau lupa kita jadian kemarin”
Michel langsung diam, dia menatap kesal kearah Gibran.
“Itu omong kosong, kau memaksaku. Dan aku bukan pacarmu”
“No omong kosong, apa perlu aku cium kau la..”
“berhenti membahas hal itu,” kesal Michel.
“Oke, kita bahas lagi nanti, kau makin cantik kalau marah” goda Gibran
Michel hanya diam saja, dia malas untuk menanggapinya. Ia malah mendekap anaknya yang tertidur di pangkuannya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1