Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 42


__ADS_3

Gibran masuk kedalam rumahnya, ia berjalan menuju ruang tengah untuk membaringkan dirinya di sofa lebih dulu sambil melihat hasil DNA yang dia ambil dari jenazah yang dulu ia kira adalah Naina. Tadi dia sempat melihatnya sekilas belum membaca sepenuhnya.


Baru melangkah masuk, dia langsung menghentikan langkahnya dan dia langsung menyembunyikan amplop coklat kebelakang tubuhnya.


“Papa? Kenapa kesini?” tanya Gibran pada papanya yang duduk di ruang tamu.


Alfred yang tadinya tengah berbicara dengan istrinya langsung melihat kearah Gibran yang baru saja pulang.


“kau darimana saja,?” Alfred memperhatikan Gibran yang tampak menyembunyikan sesuatu darinya.


“Aku ada perlu diluar, kenapa?”


“Aku hanya memastikan sesuatu darimu, kau menyembunyikan sesuatu dari papa?” tanya Alfred curiga,


“menyembunyikan apa?”


“Gibran kalau kamu ada masalah bilang saja pada mama atau papa, kita bakal bantu kamu. jangan kamu pendam sendiri.” sahut istri Alfred yang ikut bicara.


“Aku tidak ada masalah, sudahlah kalian berdua pergi saja dari sini. Bukannya kalian sudah ada mata-mata disini, untuk apa juga kalian kerumahku” sinis Gibran cara bicara pria itu terlihat tak suka dengan kedua orang didepannya.


“Gibran, Erlan itu bukan mata-mata. Dia memang kita suruh kesini untuk menemanimu bagaimanapun dia adikmu sekarang” tegas Alfred.


“Adik darimana, kalau adik sepupu baru iya” cibir Gibran


“Sudahlah, mending papa sama tante Kiran pergi deh. Aku capek,” usir Gibran yang tak suka berlama-lama berbicara dengan kedua orang itu.


“Ya sudah mas, ayo kita pergi mungkin memang Gibran sedang capek dia tidak mau kita ganggu” ucap Kiran mengajak Alfred pergi.


“Ya sudah ayo kita pergi” Alfred setuju untuk pergi dari rumah Gibran saat ini. dia berjalan bersama sang istri saat melewati Gibran dia berbisik ditelinga anaknya.


“Aku dengar dari orang kau ke dokter jiwa dengan Erlan, papa hanya memperingatkan mu jangan sampai hal itu bocor ke publik. Kalau itu sampai bocor, kau bisa dikatakan gila” bisik Alfred.


“Aku tidak perduli, nyatanya aku tidak gila”


“ya kau tidak gila, tapi Psikolog yang kau temui dan sampai orang tahu kau bertemu psikolog mereka bakal bilang kau sakit jiwa” ucap Alfred.


“Menemui Psikolog apa bisa dibilang sakit jiwa tidak masuk akal, dan soal aku ke dokter Jiwa itu ada buktinya kalau aku tidak gila. Sudahlah papa tidak usah takut ketahuan orang anakmu ini ke psikolog kau urusi saja rumah tanggamu” kesal Gibran.

__ADS_1


“Sudahlah pa, buktinya Gibran tidak apa-apa kan. ayo kita pulang saja, dia kelihatan capek pa” pungkas Karin mengajak suaminya segera pulang agar tidak ribut dnegan Gibran nantinya. Karena situasi saat ini menandakan akan ada keributan diantara dua orang yang saling berhadapan itu.


Alfred dan juga Karin segera pergi dari rumah Gibran saat ini, Gibran sendiri setelah kedua orang itu pulang langsung berjalan kearah sofa yang ada diruang tengahnya.


Gibran mendudukkan dirinya di sofa, ia bergegas membuka amplop coklat itu kembali setelah tadi dia melihatnya sekilas.


Dia melihat tulisan yang tertera di kertas putih itu, dan dia melihat juga hasil autopsi palsu yang pernah ia lihat lima tahun lalu.


“Aku menemukanmu Naina, ini akan aku jadikan bukti kalau kau masih mengelak saja kedepannya” gumam Gibran menatap puas kertas dua kertas dengan hasil berbeda tersebut.


Drrrtttt


Ponsel milik Gibran yang ada di saku celananya bergetar, pria itu langsung bergegas untuk mengambilnya.


“Alisha,..ada apa perempuan ini menghubungiku?” gumam Gibran penuh tanda tanya karena tak biasanya mantannya tersebut menghubungi dirinya.


“Ya halo, ada apa?” tanya Gibran saat mengangkat panggilan itu.


“Kau dimana sekarang, baiklah aku kesana” ucap Gibran dan langsung menaruh kertas hasil autopsi begitu saja di atas meja. dia buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke saku celana setelan mendapat telpon dari Alisha. Gibran langsung pergi keluar dengan terburu-buru padahal dia baru saja sampai di rumah.


............................................


Michel turun dari dalam mobilnya, ia melihat kesana-kemari untuk memastikan kalau tidak ada yang melihatnya. Ia takut kalau ada seseorang yang akan memata-matainya.


“loh kakak kesini,” ucap Nanda yang sedang menyirami tanaman di depan rumahnya. Pemuda tersebut langsung menaruh selangnya dan berjalan menghampiri sang kakak.


“Iya, aku mau ketemu sama ibu, ibu ada?”


“Ada mbak, ibu lagi dibelakang bikin dendeng kesukaan kak Gibra..” perkataan Nanda terhenti saat dia sadar kalau didepannya adalah kakaknya tak mungkin dia bilang kalau kesukaan Gibran.


Michel menatap aneh adiknya,


“Kesukaan siapa Nda..?” tanya Michel penasaran.


“Kesukaanku” jawab Nanda berbohong


“Ayo kak masuk, ibu pasti senang lihat kamu disini” ajak Nanda pada Michel, ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Aku kesini juga mau ngabarin kalau Aira lagi sakit dan sekarang ada dirumah sakit Nda. Tapi dia sudah mendingan kok”


“Dari kapan kak? Kok baru bilang loh”


“kakak minta maaf, kakak banyak pikiran jadi belum sempet dan yang lain juga sibuk jadi nggak sempet ngabarin”


“ya sudah ayo masuk dulu kak”


Mereka berdua langsung berjalan masuk kedalam rumah, Michel jarang kerumah ini karena dia cukup sibuk.


....................................................


“Kamu ini cerobah tahu Alisha, bagaimana bisa anakmu kamu biarkan begitu saja sendirian” ucap Gibran memarahi Alisha yang berjalan disebelahnya. Gibran tampak menggendong bocah laki-laki yang berumur dua tahun sedangkan Alisha berjalan disebelahnya saat ini.


“Aku...aku menyesal Gibran. Mau bagaimana lagi aku tadi ada tamu dan langsung kedepan tak tahu kalau Axel bakal bangun” sesal Alisha yang terlihat sedih melihat sang anak yang harus menerima beberapa jahitan karena terjatuh dari anakan tangga yang ada di apartemennya.


“Ya kau ceroboh, sudah aku bilang juga kan untuk memindahkan kamar Axel di dekat ruang tamu. Itu tidak ada anak tangganya” Gibran masih terlihat kesal dengan mantan kekasihnya itu yang menurutnya cukup ceroboh karena meninggalkan anak kecil sendirian di dalam kamar.


“hemmm, aku salah” lirih Alisha mengakui kesalahannya, dia tak berani lagi membantah ucapan Gibran.


“Alisha tunggu sebentar” ucap Gibran menghentikan langkahnya saat melewati salah satu ruang rawat anak.


“Ada apa?” tanya Alisha bingung karena tiba-tiba saja Gibran menghentikan langkahnya.


“Kau kenal anak itu?” tanya Alisha lagi pada Gibran yang tengah melihat ke dalam ruangan melalui kaca kecil yang ada di pintu ruangan tersebut.


“Dia anakku,” lirih Gibran sekilas melihat Alisha yang cukup terkejut mendengar hal itu.


“Apa? kau gila Gibran. Kau menghamili orang..kapan? saat kau masih berpacaran denganku dan saat kau masih menikah dengan mantan mu dulu” tebak Alisha menatap tak percaya pada Gibran.


“Dia anakku dengan Naina,”


“APA?”


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2