Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 90


__ADS_3

“Mark aku titip anak-anak disini dulu ya?” ucap Gibran pada mark yang duduk di sofa ruangan Mark.


Mendengar itu membuat Naina langsung melihat kearah Gibran yang tengah berbicara dengan Mark di sofa.


“kenapa anak-anak harus di titipkan di sini, kita emang mau kemana?” heran Naina menatap sang suami.


“Kau tidak bilang pada Michel?” tanya Mark yang melihat adiknya tanpa bingung.


“Belum” jawab Gibran dan dia langsung melihat kearah Naina yang masih menatapnya.


“Kita mau kemana? Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan ku” pungkas Naina yang semakin penasaran karena Gibran tak kunjung menjawabnya.


“Sini dulu sayang, kamu duduk dulu” Gibran membawa Naina duduk di sofa sebelahnya.


“Aku janjian sama dokter kandungan, sebentar lagi kita temui dia” lanjut Gibran ragu untuk mengatakannya.


“Dokter kandungan? untuk apa?”


“Kamu merasa aneh nggak sama diri kamu sekarang, aku rasa kamu hamil deh” pungkas Gibran.


“Aku hamil? kayaknya ng...” Naina langsung terdiam, dia menjadi ragu karena dia baru ingat kalau bulan ini dirinya belum datang bulan.


“kenapa?’ tanya Gibran menatap penasaran sang istri.


“Nggak.” Jawab Naina menggeleng.


“Kalau begitu ayok, Mark titip anak-anak” pungkas Gibran langsung berdiri dari duduknya saat ini. dia mengulurkan tangannya pada sang istri, Naina menerima uluran tangan tersebut dengan ragu.


“Iya sana, anak-anak biar sama aku disini. Aiden sama Aira nggak pa-pa kan kalau disini sama papa Mark” ucap Mark pada kedua bocah itu yang tengah menonton kartun di ponselnya.


“Nggak pa-pa” jawab keduanya tanpa melihat kearah Mark.


“Anak-anak, papa pergi dulu sama mama, kalian disini sama papa Mark ya?” tutur Gibran pada kedua anaknya.


“Iya papa” jawab keduanya serempak.


Gibran langsung menggandeng tangan Naina yang terlihat diam saja, pikiran Naina terlihat mengawang kemana-mana. dia masih memikirkan apakah benar dirinya tengah Hamil saat ini.


............................


“Benar kan kataku kamu hamil, kamu sih nggak percaya” girang Gibran saat berjalan keluar sambil menuntun istrinya keluar dari ruangan dokter kandungan.


Naina memegangi perutnya, dia tak menyangka kalau saat ini tengah hamil. ia melihat sekilas perutnya yang masih rata itu.


“Kok aku sadar kalau lagi hamil” batinnya mengusap lembut perutnya sendiri.


“Kenapa diam saja? kamu nggak senang kalau hamil” tanya Gibran pada sang istri yang diam tak bersuara sejak dinyatakan hamil oleh dokter.


“bukan begitu, aku..aku masih nggak nyangka aja kalau aku hamil lagi. Apalagi aku nggak tahu kalau lagi hamil sekarang” ucap Naina.


“Ya namanya rezeki sayang, tuhan berarti mengabulkan doaku untuk nambah anak lagi. Akhirnya kita bakal punya anak lagi, aku nggak sabar nunggu ngidam kamu. kamu kalau pengen apa-apa bilang sama aku sayang” tukas Gibran menaruh tangannya di atas tangan Naina yang masih berada di atas perut.


“Michel, Gibran..” ucap seseorang dari arah depan mereka. Keduanya yang tadi tak melihat ke depan langsung terdiam saat Reyhan yang tengah berdiri didepan mereka saat ini. wajah Gibran berubah menjadi dingin, padahal tadi wajah ceria yang nampak.


“dr.Reyhan” ucap Naina saat melihat Reyhan.


“Sedang apa anda disini?” tanya Gibran dengan wajah datarnya.


“Sayang, jelas dokter Reyhan ada disini. diakan memang bertugas disini. Kamu aneh deh” ucap Naina pada Gibran. Gibran langsung melihat kearah istrinya tersebut.


“Aku tidak perlu menjawabnya lagi kan, sudah di jawab oleh istrimu. Kalian sendiri ada apa kesini, mau bertemu dengan Mark?” Reyhan balik bertanya kepada sepasang suami istri yang berdiri didepannya itu.


“Bukan, kita kesini untuk memeriksakan kandungan istriku” jawab Gibran sambil mengeratkan rengkuhannya di pinggang Naina.


“Oh, Michel hamil? selamat ya Michel Gibran. Si kembar berarti akan punya adik sebentar lagi”

__ADS_1


“Iya” jawab Gibran dan juga Naina bersamaan


“Dr. Reyhan mau kemana sekarang?” tanya Naina pada Reyhan.


“Aku mau kembali ke ruanganku” jawab Reyhan.


“Oh, ya sudah kalau begitu kita pergi dulu” ucap Gibran dan langsung mengajak istrinya untuk pergi.


“Sebentar” lirih Naina pada Gibran.


“Apa lagi? Aku mau bicara sebentar dengan dr Reyhan.” Pungkas Naina pada suaminya.


“Bicara apa?” Gibran penasaran kenapa istrinya harus bicara dengan Reyhan.


“dr. Reyhan tunggu sebentar” panggil Naina membuat Reyhan yang tadinya melangkah pergi langsung berhenti dan melihat kembali kebelakang.


“Iya ada apa?” jawab Reyhan saat Naina memanggilnya.


“Kita berdua mau keruangan kak Mark setelah itu kita mau makan siang bersama, ayo kau sekalian ikut dengan kita” ucap Naina mengajak Reyhan untuk makan siang bersama mereka.


“Sayang, kenapa ngajak dia” Gibran berbisik di telinga Naina.


“Nggak pa-pa, dia teman kak Mark juga” balas Naina dengan berbisik juga.


“Memang saya boleh ikut?” tanya Reyhan menatap keduanya.


“Tentu boleh, kenapa harus nggak boleh. Ayo, ikut ya dr Reyhan” tukas Naina yang girang mengajak Reyhan.


“bagaimana tuan Gibran saya boleh ikut atau tidak?” tanya Reyhan pada Gibran, karena dia melihat sekilas kearah Gibran yang terlihat tak senang saat Naina mengajak dirinya.


“boleh” jawab Gibran singkat dengan wajah malasnya.


“Kalau begitu ayo dr.Reyhan, ayo sayang..” pungkas Naina yang langsung melingkarkan tangannya di lengan Gibran. Sedangkan Reyhan berjalan dibelakang, dia hanya bisa melihat kemesraan tersebut dengan berbesar hati menerima kalau dirinya hanyalah obat nyamuk saat ini.


Meskipun Gibran merasa sedikit tidak mood karena istrinya mengajak Reyhan untuk makan siang bersama tapi saat ini dia juga senang karena Naina begitu manja padanya bahkan terang-terangan memanggilnya sayang.


.......................................


Mereka berempat masih berada di ruangan Mark saat ini menunggu Mark selesai memeriksa laporan medis pasiennya. Karena dia tadi harus menjaga kedua keponakannya membuat dirinya belum menyelesaikan tugasnya itu.


“kak Mark masih lama?” tanya Naina pada kakaknya yang ada di meja kerja.


“Nggak kok, ini satu lagi” pungkas Mark.


“Selesai” lanjutnya saat sudah menandatangani berkasnya itu. Dia langsung berdiri menghampiri ketiga orang yang sudah menunggunya di sofa ruangannya itu.


“Ayok jalan” ucap Mark pada ketiganya.


“Ayo anak-anak sama papa Mark” seru Mark pada kedua anak Naina. Kedua bocah itu langsung berdiri dari rebahan nya dan berlari kecil menghampiri Mark.


“Ayo papa” ajak keduanya.


Sedangkan ketiga orang dewasa yang juga berada di situ juga ikut berdiri mereka saat ini tengah.


“Ayo buruan, istri dan anakku keburu lapar” pungkas Gibran yang tak sabaran, dia sengaja menekankan kata istri dan anakku agar terdengar oleh Reyhan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


“Ayok, sorry ya kalian harus nunggu lama. Padahal yang ngajak aku..” Mark merasa bersalah karena dirinya mereka belum makan siang.


“Tidak apa-apa dr.Mark” jawab Reyhan.


Keempat orang itu beserta kedua anak Naina langsung berjalan keluar dari ruangan Mark bergantian.


“dr. Reyhan kamu sudah tidak ada pasien yang diperiksa lagi?” tanya Mark sambil berjalan di sebelah Reyhan. Sedangkan Gibran dan Naina berjalan di belakang mereka. Anak-anak Naina sendiri berjalan di samping Reyhan dan juga Mark. Mark menggandeng Aiden dan Reyhan menggandeng Aira.


“Sudah tidak ada kayaknya, habis ini aku langsung pulang ke rumah” jawab Mark.

__ADS_1


“Oh, enak sekali kamu. aku nanti masih ada dua pasien lagi yang aku periksa satu anak kecil dan satu orang dewasa.” Tukas Mark.


“Jangan bilang kau masih merawat anak dari nona Alisha, sudah berapa kali aku bilang untuk tidak merawat anaknya serahkan saja ke dokter anak” tukas Reyhan yang terlihat tidak senang saat Mark masih merawat anak dari Alisha.


Naina yang mendengar nama itu langsung berhenti begitu juga Gibran, kedua orang tersebut melihat kearah Mark dan juga Reyhan.


“Mama papa, kenapa berhenti..” tanya Aira pada kedua orang tuanya.


Mark dan reyhan yang tengah berbicara langsung buru-buru berhenti dan melihat ke depan dimana Gibran dan juga Naina melihat kearahnya mereka berdua.


“Kalian kenapa berhenti?” tanya Mark pada adik dan juga adik iparnya.


“Barusan aku dengar kalian menyebutkan nama Alisha?” tanya Gibran dan juga Naina hampir bersamaan. Naina langsung menatap sang suai yang juga menanyakan hal yang sama sepertinya.


“Iya kita memang sedang membahas perempuan yang bernama Alisha, memang kenapa? Kalian kenal dengan dia?” tanya Mark dan Reyhan yang juga penasaran menatap sepasang suami istri yang menatap kearah mereka.


“Dia mantan model internasional atau bukan?’ tanya Gibran.


“Tanya dia, aku tidak tahu” Reyhan langsung memalingkan wajahnya sambil menunjuk kearah Mark.


“Aku dengar sih iya, tapi darimana kau tahu kalau dia mantan model internasional?” tanya Mark penasaran.


“Jelas dia tahu, perempuan itu mantannya” sahut Naina sambil memalingkan wajahnya dari Gibran yang tengah melihatnya saat ini.


“APA?” Mark terlihat terkejut begitu juga dengan Reyhan yang langsung menatap kearah Gibran.


“Sayang itu kan dulu, kamu jangan mikir aneh-aneh” ucap Gibran pada istrinya.


“Jangan bilang dia mantanmu yang kamu pacari saat masih menikah dengan Michel dulu?” tanya Mark penuh selidik.


“Ya itu perempuannya dulu” timpal Naina.


“Sudah lah nggak usah dibahas, ayo sayang jalan katanya mau makan” ucap Gibran berusaha mengalihkan pembicaraan dan dia mengajak istrinya cepat berjalan.


“Gibran tunggu” ucap Mark menahan tangan Gibran.


“ada apa?”


“Kau belum menjawab pertanyaan ku, jadi perempuan itu yang membuatmu menyakiti adikku dulu” Mark mencengkram tangan Gibran.


Reyhan yang melihat itu tampak bingung, karena Mark terlihat emosi.


“Iya, tapi itu dulu. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Alisha kau bisa tanya sendiri pada Naina”


“Kenapa kamu nggak bilang sama kakak Michel?” tukas Mark merasa kecewa.


“Aku juga tidak tahu kalau kak Mark kenal dengan perempuan itu. memang kakak kenal dengannya” ucap Naina sambil menatap kearah kakaknya.


“dr. Reyhan mulai hari ini aku tidak akan menangani anak dari perempuan itu. aku serahkan padamu kalau dia mencari ku bilang saja aku tidak mau merawat anaknya lagi. Aku tidak akan pernah menolong perempuan yang menjadi penyebab penderitaan adikku dulu” tukas Mark dan langsung pergi dari hadapan mereka semua. Mark benar-benar bersalah pada Naina karena selama ini dia malah menolong perempuan yang sudah membuat adiknya menderita.


“Kak, kak Mark mau kemana, dr.Mark, Mark” panggil ketiga orang itu karena Mark langsung pergi begitu saja.


Naina langsung melihat kearah Reyhan,


“Sebenarnya ada apa, kalian kenal dengan Alisha?”


“Hmmm, kalau begitu lain kali saja kita makan siangnya. Dr. Mark juga sudah pergi” pungkas Reyhan dan langsung menyusul Mark yang pergi lebih dulu.


Dua bocah yang tadi digandeng Mark dan juga Reyhan kebingungan, mereka sesekali melihat kearah orang tuanya.


“Papa Mama, kita nggak jadi makan. Kenapa papa Mark sama Om tadi pergi?” tanya Aiden.


“Ayo sayang kita makan” ucap Naina dan langsung menggandeng tangan kedua anaknya.


”Sayang kok aku kamu tinggal sih” Gibran yang merasa di cueki tampak kebingungan. Dalam hatinya langsung berpikir aneh-aneh, apakah istrinya itu marah padanya saat ini. kenapa juga tadi dia membahas soal Alisha, batin Gibran merutuki hal itu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2