
kehamilan Naina saat ini sudah memasuki 7 bulan, perempuan itu semakin manja dan semakin tak mau pisah dengan Gibran bahkan saat ini dia ikut ke kantor bersama sang suami. kehamilan lainnya yang kedua ini sungguh berbeda dengan kehamilannya yang pertama. saat hamil Aiden dan Aira dulu dia tidak posesif dan tidak terlalu memikirkan soal Gibran.
Entahlah dia juga tidak tahu kenapa dia seperti ini, mungkin karena saat hamil Aiden dan Aira dulu dia dan Gibran tak bersama makanya dia tak ada Tempat untuk bermanja sedangkan saat ini ada orang yang memanjakan dirinya.
Naina duduk di tepi tempat tidur yang berada di kamar yang ada di ruangan Gibran. Naina tampak risau sambil menimang-nimang untuk keluar dari kamar atau tidak.
" Gibran ke mana sih Lama bener tadi katanya sebentar kenapa sampai sekarang belum kembali juga" ucap Naina setengah mendumel.
" oh keluar aja deh dia nanti dia malah pergi dengan perempuan lain" ucap Naina lagi sambil berdiri. Entah kenapa dia ada pemikiran seperti itu, ia sendiri juga heran rasanya pikiran buruk terus-terusan menghantui kepalanya saat ini.
usia kandungannya padahal sudah cukup besar tapi dia malah semakin menjadi bahkan saat ini saja dia begitu posesif pada Gibran dan sering menuduh pria itu bersama dengan perempuan lain.
Naina sudah tak sabar dia langsung berjalan ke arah pintu tapi baru beberapa langkah pintu sudah terbuka dari luar dan membuatnya berhenti melangkah sambil menatap ke arah pintu yang sudah terbuka.
ternyata Gibran yang membukanya pria itu menatap sang istri yang berdiri sambil melihat ke arahnya saat ini, Gibran terlihat heran melihat wajah istrinya yang tampak gelisah sembari menatap dirinya.
" mau ke mana Sayang, kamu pengen sesuatu atau perut kamu sakit?" ucap Gibran menatap cemas istrinya itu.
" Kamu kenapa sih lama banget Aku udah nunggu kamu dari tadi loh, kamu pergi ke mana barusan kamu jalan sama perempuan lain ya" Naina langsung menuduh Gibran begitu saja.
" Kamu ngomong apa sih sayang" ucap Gibran sambil menutup pintu kamar tersebut. dia langsung mendekati istrinya yang bersedekap dada sambil memalingkan wajah darinya.
" Kamu kenapa sih tiba-tiba nuduh aku begitu, aku tuh kerja nggak kemana-mana sini Duduk dulu" ucap Gibran sambil menuntun istrinya untuk duduk di tempat tidur.
" bohong masa kerja lama banget tadi bilangnya bentar kenapa lama" ucap Naina.
" yang namanya kerja ya lama sayang masa bentar,"
Naina hanya diam saja dan masih memalingkan wajah dari Gibran.
Gibran memegang bahu sang istri dan mengarahkan ke arahnya.
" kamu lihat aku deh lihat mata aku Apa aku kelihatan bohong" pungkas Gibran dengan cukup tegas.
Naina langsung melihat ke arah mata Gibran sesuai perintah pria itu. Naina mengamati dengan seksama mata Gibran dia menelisik tatapan sang suami jujur atau bohong.
" kamu sudah selesai belum? kalau sudah ayo kita pulang" ucap Naina mengajak Gibran pulang.
__ADS_1
" aku belum selesai Sayang, masih ada satu rapat lagi Yang Harus Aku hadiri Tunggu sebentar ya jangan ngambek" ucap Gibran berusaha membuat sang istri untuk mengerti.
"hah, satu rapat lagi Masih lama dong?"
" nggak lama kok mungkin Cuman 30 menit bentar aja"
" Ya udah aku tunggu di sini" ucap ucap Naina.
" Makasih Sayang udah ngertiin, kamu minta apa nanti aku beliin?" ucap Gibran sambil merengkuh bahu istrinya penuh sayang.
" aku nggak mau apa-apa kok, Aku pengen berduaan aja sama kamu" ucap Naina tanpa Gengsi.
mendengar itu Gibran langsung tersenyum dan mengusap perut buncit istrinya tersebut.
" Papa senang deh kamu ada di perut Mama karena semenjak ada kamu Mama kamu manja sama papa" ucap Gibran sambil mengusap perut istrinya Dia berbicara pada anaknya yang ada di dalam perut Naina.
" Ya sudah sana kalau mau rapat buruan habis itu kita langsung pulang " ucap Naina menyuruh Gibran untuk segera melaksanakan rapatnya.
" ya nanti Sayang ini masih jam istirahat kita tidur aja dulu." Gibran malah mengajak sang istri untuk tidur terlebih dahulu ketimbang dia keluar untuk melakukan rapat.
naina diam saja tak menjawab iya atau tidak dia malah menatap suaminya dengan heran.
" ayo" Naina langsung berbaring terlebih dahulu baru setelah itu Gibran menyusulnya berbaring di sebelahnya saat ini.
sepasang suami istri itu kini berbaring di tempat tidur Gibran memeluk Naina dari belakang sambil mengusap perut istrinya. Naina memejamkan matanya sambil merasakan usapan lembut yang diberikan oleh Gibran di perutnya saat ini, ia begitu terasa nyaman ketika Gibran mengusap perutnya.
..................
Erlan tengah bersama Khalif saat ini, mereka terlihat mengobrol di sebuah Cafe tempat biasa mereka merundingkan pekerjaan.
" Bagaimana kabarmu Erlan dua bulan lebih Aku tidak melihatmu, aku dengar kamu kabur dari rumah kenapa? berantem sama Gibran atau ada masalah lain" ucap Khalif penasaran.
" Siapa yang kabur dari rumah, ngasal Kak kalif nih" ucap Erlan tak terima dikatakan kabur dari rumah.
" Siapa lagi yang bilang kalau bukan kakakmu" jawab khalif.
" ngarang orang itu, aku loh disuruh dia buat ke Kalimantan" ucap Erlan dengan kesal, bisa-bisanya Gibran mengatakan dia kabur dari rumah padahal pria itu sendiri yang menyuruhnya untuk ke Kalimantan mengecek perkebunan sawit yang ada di sana.
__ADS_1
" Serius kamu nggak bohong?" khalif tampak tak percaya dengan apa yang diucapkan Erlan.
" serius lah ngapain bohong, lagian yang punya perusahaan kalian berdua tapi kenapa aku jadi suruh susah-susah Kalimantan ke perkebunan lagi"
" Iya maksud Gibran tuh baik, dia ngajarin kamu susahnya dulu baru itu senangnya perusahaan itu juga nantinya dia kasih serahkan ke kamu mungkin" ucap Khalif berusaha membuat Erlan mengerti.
" Mana mungkin, jelas-jelas nama perusahaannya saja GINAI Bagaimana bisa dia menyerahkannya padaku" ucap Erlan sambil bersungut-sungut kesal.
" terserah saja kalau kamu tidak percaya" ucap khalif.
....................
Gibran merengkuh pinggang Naina yang berjalan di sebelahnya, mereka saat ini tengah berjalan di koridor rumah sakit setelah keduanya selesai memeriksakan kandungan Naina.
Mereka pergi ke dokter kandungan karena ingin melihat jenis kelamin anak yang dikandung Naina saat ini. ini ketiga kalinya mereka memeriksakan jenis kelamin anak mereka dan dari pemeriksaan pertama hingga ketiga ini jenis kelamin calon anak mereka tetap sama yakni laki-laki.
" bagaimana sudah mantapkan, soalnya sudah ketiga kali ini kita periksa dan jenis kelamin calon anak kita tetap sama" ucap Gibran sambil melihat ke arah istrinya tersebut. Gibran berbicara seperti itu karena Naina masih tidak yakin kalau anak mereka nantinya adalah laki-laki lagi dia ingin anaknya perempuan tapi ternyata anaknya laki-laki.
" iya" Naina hanya menjawab singkat.
" kita mau langsung pulang atau mau ketemu sama kakakmu?" ucap Gibran pada sang istri.
" kita langsung pulang saja, kamar kayaknya sedang sibuk Dia kan ada keperluan sama Reyhan" ucap Naina.
" Oke sayang, kalau itu mau kamu kita langsung pulang. mau mampir dulu ke mall atau ke mana sebelum kita pulang?" ucap Gibran dan bertanya pada istrinya mau langsung pulang atau mampir ke mall.
" kita beli makanan atau cemilan gitu untuk Aiden sama Aira kasihan mereka dari pagi kita tinggal terus" ucap Naina pada sang suami.
" kalau begitu nanti kita beli pizza Bagaimana? ucap Gibran.
" Iya nggak papa mereka pasti senang kita bawain pizza" Naina setuju dengan ide suaminya untuk membelikan kedua anak mereka pizza, karena kedua bocah itu memang sangat suka dengan makanan khas Itali tersebut.
sepasang suami istri itu terus berjalan menuju pintu keluar rumah sakit ke arah parkiran tempat di mana mobil mereka di parkir.
°°°
T.B.C
__ADS_1
Mahon maaf ya buat reader semua, beberapa minggu ini author nggak up dan buat kalian nunggu sangat lama soalnya author lagi ada acara ditambah author sakit jadinya baru bisa up lagi sekarang. jadi author minta maaf ya Sekali lagi maaf banget karena baru bisa up kali ini. tunggu terus kelanjutan dari novel ini ya terima kasih🙏