
Gibran dan Naina saat ini terjebak dalam kemacetan di ibu kota, mereka saling diam dan fokus mendengarkan musik yang diputar oleh Gibran. Sesekali juga mereka bersenandung mengikuti alunan musik tersebut.
“Mau makan malem di rumah atau di luar sayang?” tanya Gibran sambil melihat sekilas kearah istrinya.
“Makan saja di luar, eh tapi anak-anak bagaimana ya” jawab Naina dan dia langsung bingung mengingat anak-anaknya di rumah hanya bersama dengan pengasuh mereka dan juga Erlan.
“Soal anak-anak nggak usah khawatir mereka kan sama Khalif juga di rumah ada anaknya Khalif juga jadi mereka nggak bakal nyariin kita” jelas Gibran mengingatkan Naina soal Khalif yang juga ada di rumah Gibran saat ini.
“kamu sih kelamaan, kenapa juga harus ikut kak Mark nemuin temannya. sekarang kita pulangnya malam begini” Naina menyalahkan Gibran yang membuat mereka harus pulang malam padahal mereka sudah sedari siang di rumah Mahendra. Eh Gibran malah ikut dengan Mark menemui rekan mereka.
“Ya mau bagaimana lagi, rekan bisnis kakakmu itu juga rekan bisnisku. Aku kan juga ikut menanam saham di Roche” “Brandon itu baik denganku, jadi tidak mungkin ku tidak menemuinya saat di disini” lanjut Gibran berusaha membuat Naina mengerti, kenapa tadi dia harus ikut Mark menemui Brandon rekannya dari Amerika.
Naina diam mendengarkan ucapan Gibran,
“Tadi sebelum kalian pergi, kalian kan bicara di pinggir kolam renang. Apa yang kalian bicarakan kenapa kelihatan serius sampai aku tidak boleh tahu” Naina menatap penasaran pada suaminya.
Gibran diam sejenak dan dia menjalankan mobilnya perlahan saat mobil didepannya sudah mulai berjalan.
“Kalau aku cerita, kamu bakal marah nggak?” tanya Gibran melihat sekilas kearah Naina yang duduk di sampingnya.
“kenapa aku harus marah?” heran Naina mendengar ucapan Gibran barusan.
“Soalnya menyangkut Alisha” lirih Gibran menatap was-was sang istri. Dia takut kalau Naina akan marah padanya saat dia membahas soal Alisha. Tapi Gibran lebih memilih bercerita soal Alisha ketimbang Naina yang akan marah padanya, karena kalau dia tidak cerita kemungkinan nanti kedepannya istrinya akan tahu dan malah menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
“Alisha pacar kamu dulu?”
“mantan sayang” Gibran mengulangi perkataan Naina.
“Ya mantan kamu, kenapa? Soal dia? kamu masih suka sama dia?”
“Bicara apa sih, nggaklah.”
“Lah terus kenapa mau bahas dia?”
“Aku, aku minta maaf waktu itu nggak bilang sama kamu kalau aku masih berteman dengan dia dan beberapa bulan lalu aku sempat membantu dia mengantar anaknya ke rumah sakit” jelas Gibran berkata jujur pada Naina soal dia yang masih berteman dan pernah mengantar perempuan itu ke rumah sakit.
Naina yang mendengar itu langsung melihat kearah Gibran, jujur dia sedikit kecewa mendengar hal itu karena beberapa hari lalu saat mereka ada di Bali Gibran bilang tidak ada hubungan lagi dengan Alisha. Meskipun Naina kecewa dengan Gibran tapi perempuan itu berusaha tetap tenang menyembunyikan kekecewaannya tersebut.
“Kok diam saja sayang, kamu marah ya. Aku minta maaf” Gibran melihat kearah Naina yang masih melihat kearahnya dalam diam.
“Nggak” Naina menjawab singkat.
“Beneran kamu nggak marah, mulai hari ini aku janji sama kamu aku nggak akan berteman lagi dengan Alisha, aku dulu membantunya karena kasihan” ucap Gibran sambil sat tangannya memegang tangan Naina dan dia langsung mencium tangan tersebut.
“Kamu percayakan sama aku?” tanya Gibran melihat sekilas Naina.
“Iya, kalau kamu masih berteman sama dia juga nggak pa-pa. Bukannya kamu bilang sudah tidak cinta dengannya aku tidak masalah kalau kamu masih berteman dengannya” tukas Naina berusaha bersabar dan mencoba tidak mempermasalahkan hal itu.
“nggak sayang, aku nggak akan berteman dengannya lagi dan misalkan kalau di masih minta bantuan ku aku bakal menolaknya. Aku nggak mau kamu marah sama aku” ucap Gibran masih menggenggam erat tangan Naina.
__ADS_1
“Aku nggak marah, apa salahnya masih berteman sama manta kalau itu masih wajar” pungkas Naina.
“Nggak, aku tetap nggak mau berteman dekat dengan Alisha lagi aku menjaga perasaan kamu” tukas Gibran teguh dengan ucapannya. “kamu nggak marah kan sekarang soal aku yang bahas tentang Alisha” lanjut Gibran memastikan bahwa Naina sedang tidak marah padanya.
“Nggak” jawab Naina santai.
“kamu serius nggak sih sayang, kok aku lihatnya kamu kayak marah”
“nggak, tapi kalau kamu masih ada cinta sama dia aku bukan marah lagi aku bawa anak-anak pergi lagi dari kamu” pungkas Naina menatap serius Gibran.
“YA NGGAKLAH, GILA AJA AKU KALAU Masih CINTA SAMA DIA” Gibran langsung meninggikan suaranya.
“Ya kan aku cuman bilang jangan ngegas begitu, itu jalan mobil didepan sudah jalan” ucap Naina sambil melepaskan tangannya yang digenggam Gibran.
Gibran langsung menjalankan mobil miliknya dan dia langsung belok saat ada di perempatan agar terhindar dari macet dia akan lewat jalan pintas saja.
“Udahlah, nggak mau bahas soal Alisha lagi yang penting aku sudah cerita sama kamu” tukas Gibran dan dia kembali fokus menyetir.
Naina sebenarnya hanya mengetes Gibran saja, dia ingin melihat ekspresi wajah suaminya itu. ternyata tidak mengecewakan dirinya, Gibran sepertinya memang jujur dalam ucapannya.
.......................................
“Erlan, aku mau pulang dulu ya anakku sudah ngantuk ini” ucap Khalif yang duduk di sofa sambil mendekap anaknya yang sudah mengantuk.
“Jangan pulang dulu deh kak, masa aku sendirian ngurus mereka. Ini emak bapaknya kemana lagi jam segini belum pulang” ucap Erlan mengeluh karena kakaknya tak kunjung pulang juga.
“Iya mas, kita disini saja dulu. kasihan dia mantau anak-anak sendirian” ucap istri Khalif.
“Kak kasihani aku lah,” Erlan memelas pada Khalif.
“Kan ada art-art di rumah ini suruh mereka yang nemenin atau suruh nemenin Aira sama Aiden tidur”
“Kakak apa nggak lihat mata mereka masih seger begitu, bisa-bisa bukannya mau tidur malah ngomel sama aku mereka” ucap Erlan sambil menunjuk kedua bocah tersebut yang asik menonton kartun di gadget yang diberikan Erlan tadi agar mereka tenang.
“Sudahlah mas, kita disini aja bentar. Tadi Gibran bilang bentar lagi pulang kan” Elsa istri Khalif mencoba membuat Khalif bertahan di rumah Gibran untuk menemani Erlan menjaga kedua keponakannya.
“Ya sudah kalau begitu”
“nah gitu dong kak, Elea tidurkan aja dulu di kamar tamu.” Ucap Erlan bahagia karena Khalif akhirnya tidak jadi pulang.
“Mbak Elsa, sana mbak tidurin aja dulu Elea di kamar tamu daripada begitu” lanjut Erlan menyuruh istri Khalif untuk menidurkan Elea di kamar tamu yang berada di rumah tersebut.
“Iya, nggak pa-pa. Biarin aja Elea begitu, dia kalau nggak sama papanya pasti nangis” jawab Elsa sambil melihat putrinya yang berumur tiga tahun itu tampak nyenyak tidur di pelukan sang papa.
“OH anak papa dia” ucap Erlan.
“Iya dia anaknya mas Khalif banget, apa-apa papanya padahal yang ngelahirn aku”
“Ya namanya anak cewek sayang, kalau ada anak cowok pasti dia bakal lengket sama kamu” sahut Khalif.
__ADS_1
“mungkin”
“Ya udah nambah lagi aja Mbak, biar punya anak yang anak mama” pungkas Erlan.
“Dia nggak mau kalau nambah lagi” timpal Khalif.
“Kenapa mbak, kak Gibran aja ngebet nambah tiap hari bucin nya minta ampun sama istrinya bujuk untuk bikin anak terus” selosor Erlan dia sampai muak melihat ke bucinan dua orang dirumahnya.
“Ya anak-anaknya Gibran sudah besar-besar, sudah lima tahun mereka. Pinter-pinter lagi, mandiri apa-apa nggak nangis. Lah anak aku masih tiga tahun dia aja baru lepas asi jadinya kalau mau nambah dekat-dekat ini nggak dulu deh”
Anak Khalif memang baru lepas Asi beberapa bulan lalu, padahal seharusnya sudah lepas Asi saat umur dua tahu tapi Elea baru lepas Asi karena dia tak mau minum formula dan selalu muntah saat awal-awal dulu dan selalu menangis saat tidak di bolehkan minum ASI.
Khalif yang mendengar itu hanya mengangguk seakan dia mengerti,.
“Ini kayaknya kakakmu memang sengaja deh pengen berduaan, masa dari tadi belum pulang” pungkas Khalif.
“Entah, orang itu memang menjengkelkan. Atau jangan-jangan dia cuman ngerjain aku suruh jadi pengasuh anak-anaknya” ucap Erlan dan muncul pikiran negatif di kepalanya saat ini.
“Nggaklah, mungkin mereka memang ada urusan makanya lama pulangnya”
“Tapi masa ada urusan kebangetan banget sama anak-anaknya dari siang loh mereka di tinggal. Untung aja anaknya nggak rewel tapi cerewetnya minta ampun yang satunya” tukas Erlan terkesan mengeluh.
“Sudahlah Erlan, kamu dari tadi cuman ngomel aja. Sana nyalain PS atau apa gitu biar kita nggak bosen” perintah Khalif pada pemuda itu.
“PS? Kak Khalif mau main PS kenapa nggak bilang dari tadi, kan aku jadi nggak pakai ngomel-ngomel begini karena kesel sama kak Gibran” Erlan langsung sigap berdiri dan menuju bawah tv untuk menyalak PS yang ada disitu serta mengambil stick game tersebut.
“Aira, Aiden agak minggir ya keponakan-keponakan OM” ucap Erlan pada Aira dan juga Aiden.
“Minggir kemana OM?” tanya Aiden.
“Sini sayang disebelah Tante” ucap Elsa menepuk sofa disebelahnya agar kedua bocah tersebut berpindah tempat didekatnya.
Aira dan Aiden langsung berdiri dan berjalan menghampiri Elsa yang duduk di sofa.
“Sayang tolong dong gendong Elea dulu, aku mau main PS. Nggak pa-pa kan?” ucap Khalif sambil melihat kearah istrinya
“Iya nggak pa-pa, sini Elea biar sama aku aja” ucap Elsa sambil perlahan mengambil anaknya dari Khalif.
Khalif sendiri langsung berpindah ke lantai bersama Erlan yang sudah duduk di lantai, karena main PS enaknya duduk di bawah daripada harus duduk di sofa.
“Ini PS siapa?” tanya Khalif yang sudah duduk di sebelah Erlan.
“PS ku lah, kak Gibran yang nggak asik itu apa kepikiran beli PS” jawab Erlan sambil melihat ke depan memilih tim sepak bola mana yang akan di pakai.
“Sudah aku tebak, dia nggak suka main game soalnya. Pikirannya serius terus nggak ada lunak-lunaknya” ucap Khalif yang sudah bisa menebak hal itu.
Kedua orang itu langsung bermain PS tersebut, sedangkan Elsa tampak mengajak bicara kedua bocah yang tampak tenang itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C