Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 63


__ADS_3

“Bodoh, Bodoh, Bodoh” Michel melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri pada karung sak tinju di depannya. Ia merasa bodoh dan kesal pada dirinya sendiri bagaimana bisa dia tadi menerima Cuma Gibran begitu saja, bukannya menolak ia malah menikmati ciuman tersebut.


“kau emang bodoh michel, bodoh sekali bisa-bisanya..Argghh” teriak perempuan itu frustasi. Sangking lelahnya dia langsung membaringkan tubuhnya begitu saja di atas ring dengan masih menggunakan sarung tangan tinjunya itu.


Michel melepaskan sarung tangannya dengan cepat dan dia melemparnya begitu saja ke sembarang arah. Bayangan akan ciuman manis yang diberikan Gibran tadi kembali hadir di pikirannya saat ini.


“Arggghh, ngapain muncul lagi” uring nya kesal.


“Woy, nggak lagi kerasukan kan?” tiba-tiba saja bobby muncul dari luar ring tinju, dia melihat kearah Michel yang berbaring sambil melihat langit-langit dan yang membuat Bobby tak habis pikir kaki Michel aktif menendang angin.


Michel langsung melihat arah kedatangan pria itu,


“Kenapa kak Bobby ada disini? jangan ganggu aku” pungkas Michel.


“Woy, lupa ini tempat siapa. Bukan aku yang ganggu justru kamu yang mengganggu kita” ucap Bobby membalikkan omongan.


“Kita?’ heran Michel.


“Ya kita, disebelah ada atlet-atlet tinju lagi latihan dan suara cempreng mu bikin mereka gagal fokus” jelas Bobby.


“Ngapain sih sore-sore disini, mau magrib ini sana pulang Mark pasti nyariin kamu” lanjut Bobby mengusir Michel agar pulang karena saat ini sudah sore hampir magrib Michel sendiri sudah berjam-jam tadi menyewa tempatnya.


“Ya” Michel langsung bangkit dari berbaring nya, rasanya malas untuk pulang tapi demi anak-anaknya mau tak mau dia harus pulang. Sebenarnya ia masih ingin disini untuk menghilangkan ketidak sadaran nya tadi.


“nggak mungkin, aku masih cinta sama dia” gumam Michel sambil turun dari ring.


“Apa?” tanya Bobby yang berada di sebelah Michel, ia pikir Michel tengah mengajaknya bicara.


Bukannya menjawab Michel masih terus berbicara sendiri sambil mengabaikan Bobby, tentu saja Bobby semakin heran dengan sikap Michel tersebut.


“Aneh tuh anak, ngomong sendiri? apa ke sambet?” ucap Bobby ketika Michel sudah melewati dirinya.


.....................................


Di lain tempat Gibran tengah berbunga-bunga, dia merasa senang saat ini dua hari ini ia merasa bahagia bahkan lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Dia merenung duduk di sofa sabil tersenyum memegangi bibirnya..


“manis..” lirihnya yang sekilas seperti bergumam.


“Apanya yang manis?” tiba-tiba saja Erlan muncul membuat lamunan Gibran buyar begitu saja, ia menatap kesal pemuda itu yang sudah duduk di sebelahnya sambil menyodorkan sekotak pizza padanya.


“ganggu aja” dengus Gibran kesal.

__ADS_1


“Aku ganggu apa, aneh deh. Nih makan dari nyokap gue” pungkas Erlan membukakan kota Pizza tersebut.


“Kau habis dari sana?” tanya Gibran.


“hemmm”


“Papa nggak tanya apa-apa kan sama kamu?”


“nggak, memang tanya apa?”


“Siapa tahu aja dia kepo tanya-tanya apa gitu, pokoknya kau ingat ucapan ku jangan bilang apa-apa dulu sama papa kalau aku deketin istriku lagi”


“elah soal itu, bokap lu udah tahu kali”


“Kok bisa tahu,..”


“tanya aja sepupumu yang ember itu, ember bocor wkwkwk”


“Siapa Khalif maksudmu?”


“Iyalah, siapa lagi” jawab Erlan sambil mengunyah Pizza nya.


“Tuh anak memang..” kesal Gibran padahal dia akan diam-diam saja tak akan blang papanya soal Naina. Karena dia akan memberi kejutan pada Papanya saat ulang tahun sang papa nanti.


“Buat apa, besok aku pakai mobilnya. Kenapa tiba-tiba mau pinjem mobil, jangan bilang lo ngerasa enak pakai mobil gue makanya mau pinjem” tebak Gibran menatap penasaran adiknya itu.


“hehehe tahu aja deh”


“Nggak boleh, kamu punya mobil sendiri kan.”


“Kamu juga tahu sendiri kan mobilku bagaimana, pinjem ya besok kamu mobil lagi aja. Pergi sana ke showroom. Masa mobilnya model jadul, beli lah kak kau ada anakan sekarang beli buat anak gitu”


Gibran diam, dia tampak memikirkan perkataan Erlan yang ada benarnya juga. dia sudah lama tidak membeli mobil dan sekarang dia kemana-mana tak mungkin akan sendiri lagi karena dia punya anak dan sebentar lagi Naina pasti akan kembali padanya tak mungkinkan mobil miliknya yang sedang menampung mereka.


“hemmm, okelah pakai saja mobil. Aku besok beli lagi, antar kan aku ke showroom dulu besok” putus Gibran setelah memikirkan terlebih dahulu ucapan Erlan.


“Nah gitu dong, aih ngapain nggak dari dulu. Love u Big bro..” pungkas Erlan girang dan langsung memeluk Gibran.


“Apaan sih nih anak, geli tahu” Gibran langsung mendorong Erlan yang memeluknya saat ini.


“Dihh, geli? Nggak mikir dulu yang sering meluk gue siapa ya” pungkas Erlan seakan mengingatkan jama dulu dimana Gibran memang sering memeluk Erlan tapi kan dulu Erlan masih kecil jadi dia gemas saja pada pria itu untuk saat ini mana ada gemasnya malah bikin dia ilfil.

__ADS_1


“Sudahlah, ngomong sama kamu memang nggak beres. Tuh sudah aku kasih mobil kuliah mu yang bener awas aja ngabisin duit bokap gue” Gibran langsung bangkit dari duduknya.


“Ye, bukan duit bokap lo aja ya. Bokap gue juga ikut andil nyekolahin gue” kesal Erlan tak terima.


“Terserah apa katamu..” jengah Gibran dan langsung berjalan pergi.


Erlan malah tersenyum melihat Gibran yang sudah pergi,


“Gue tahu lo tuh sayang sama gue kak, tapi ya gengsi mu terlalu gede” lirih Erlan di selingin senyum manisnya.


...........................................


Si kembar saat ini sedang bersama dengan Opa dan Omanya, mereka berempat tengah menonton tv di dalam kamar. dan sesekali bermain mainan mereka yang ada di kamar itu.


“Aira, itu boneka baru? Dibelikan mama ya sayang?” tanya Vita saat melihat cucunya yang bermain boneka yang sepertinya masih baru karena dia tak pernah melihatnya.


“bukan, papa Ibran yang beliin Oma..bagus ya Oma” jawab bocah itu, hal itu membuat Vita merasa terkejut karena cucunya memanggil Gibran papa dia belum tahu kalau sang cucu sudah memanggil Gibran papa. Vita menatap kearah Mahendra yang tampak biasa saja berarti bisa dipastikan suaminya tersebut sudah tahu soal ini.


“Aku yang menyuruh Michel mengijinkan mereka manggil Gibran papa” jawab Mahendra seakan tahu arti tatapan istrinya itu.


“Kok kamu nggak bilang padaku pa?”


“Aku belum sempet dan mereka juga baru dua hari ini panggil Gibran papa. Aku kira Michel sudah bilang sama kamu soal ini. tapi kamu nggak masalahkan kalau mereka tahu Gibran adalah papa dari mereka”


“Ya aku nggak masalah, itu bukan hak ku pa. Itu hak Michel, kalau Michel sudah setuju dan menerimanya aku pun juga..apa yang anak kita anggap baik aku mengijinkannya” pungkas Vita tak mempermasalahkannya.


“baguslah kalau kamu tidak setuju juga”


“Tapi apa alasanmu menyuruh Michel untuk mengijinkan anak-anaknya memanggil Gibran papa. Padahal dulu kamu bilang bakal benci dan akan memberi pelajaran suami Michel saat bertemu tapi kenapa kini alah sebaliknya. Kamu memberikan restu..” ucap Vita penasaran, karena dulu dia pernah bilang kalau akan memberikan pelajaran pada suami Michel.


“Ada dua alsan aku menyuruh Michel untuk mengijinkan anak-anaknya memanggil Gibran papa”


“Apa itu?”


“Pertama, kamu tahu sendiri Michel bukan anak kita meskipun kita sudah menganggapnya anak sendiri dia punya orang tua kandung kan. dan orang tua kandungnya saja bisa memberikan kesempatan untuk suami Michel kenapa kita yang orang tua angkatnya tidak bisa. Kedua, karena aku melihat dari sisi Gibran..Gibran itu seorang papa sama denganku. Aku bisa melihat dari matanya yang begitu merasa kehilangan saat melihat si kembar..begitu juga denganku dulu yang begitu kehilangan Michel anak kita. Seorang ayah pasti terluka saat kehilangan anak-anak mereka..dan aku melihat itu di mata Gibran” jelas Mahendra mengutarakan alasannya menyuruh Michel untuk mengijinkan kedua bocah itu mengenal ayah kandung mereka lebih dekat.


“Iya ya pa, kehilangan itu hal terberat..” lirih Vita wajahnya berubah sedih, dia teringat kembali dimana Michel anak kandungnya dulu seumuran si kembar.


“Sudah nggak usah mikirin Michel kecil, dia sudah tenang di sisi tuhan ma. Kan sekarang ada Naina yang menjadi Michel kita..di membawa kebahagian di keluarga kita dengan kedua anaknya yang gemas-gemas” Mahendra merengkuh istrinya yang duduk disebelahnya saat ini, mereka memperhatikan kedua cucunya yang bermain di lantai..


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2