Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 49


__ADS_3

Michel yang abru saja mengantar Aiden pulang krumah langsung keluar lagi, saat ini dia menemui Selina di salah satu Cafe yang tidak jauh dari prusahaan Gibran. Michel cukup was-was takut kalau pria itu melihatnya berada di sini.


“kak Selina kenapa sih ngajak ketemu di sini?” gerutu Michel melayangkan protes.


“Kan kakak lagi desain di perusahaan depan itu” tunjuk Selina pada perusahan milik Gibran. Perusahaan milik keluarga Sinaga.


“kenapa kak Selina nggak bilang sih, kalau bilang kakak kerja disitu aku nggak mau nemuin kakak disini” sungut Michel sambil menyedot capucinonya.


“Kamu kenapa sih, kayak sensi banget sama keluarga Sinaga” heran Selina melihat Michel yang tapak tak suka saat dia menyebutkan perusahaan milik keluarga Sinaga.


“Aku ggak suka aja sama CEO nya, dia orang jahat kak”


“Orang jahat bagaiman, dia baik kok. Bahkan para pegawaiku yang merenovasi perusahaannya di berikan makan di traktir terus setiap hari. Bahkan aku di beriupah lebih awal dari orang-orang biasanya”


“Itu pencitraan kak, pokoknya Gibran Montana itu orang ja....”


“Aku orang apa? orang jahat” tiba-tiba saja Gibran muncul dari belakang Michel memotong ucapan perempuan tersebut.


Michel langsung menoleh kebelakang,


“Kau? Kenapa kau ada disini?” tukas Michel tak suka.


“Beli kopilah” jawab Gibran sambil menunjukkan cup kopi ditangannya.


“Hai nona Selina, boleh saya bergabung dengan kalian” ucap Gibran pada Selina.


“Boleh pak Gibran, silahkan duduk” Selina mempersilahkannya sedangkan Michel langsung elebarkan mata menatap kearah Selina dan langsung menoleh kearah Gibran saat pria itu menarik kursi disebelahnya.


“kenapa? Kau keberatan. Nona Selina saja mengijinkan aku duduk disini” kata Gibran sabil duduk dan melihat kearah Michel yang tampak keberatan saat dirinya duduk di situ.


Michel hanya diam saja, dia memalingkan wajahnya kesal.


Selina sendiri hanya diam saja memperhatikan, dia merasa ada yang tidak beres dari keduanya. Dan keduanya tampak sudah saling mengenal sejak lama.

__ADS_1


“Bagaimana hadiahku tadi pagi, kau menyukainya?” tanya Gibran pada Michel yang membelakangi dirinya.


“Hadiah mana?”


“Kau pura-pura lupa atau malas untuk membahasnya” ucap Gibran.


“Aku tidak tahu apa yang kau maksud”


“ya sudah kalau kau tidak mengingatnya, oh iya tapi tadi sekertaris ku bilang padaku kalau kau mirip seseorang tapi kira-kira siapa ya”


“Ya mana aku tahu,” dengus Michel kesal.


“Sepertinya kalian berdua hanya perlu bicara berdua saja deh, aku disini kayak patung yang dianggurin. Michel kakak pergi dulu ya” ucap Selina dan langsung berdiri sambil memegang minumannya.


“Kok pergi sih kak, aku ikut” heran Michel dan dia juga ikut berdiri tetapi Gibran langsung menahan tangannya.


“Iya nona Selina, selama bekerja kembali. Dan kau pacarku, disini saja sebentar, aku ingin bicara padamu” ucap Gibran pada Selina dan dia berlaih menatap Michel..


“Michel kakak pergi dulu ya, sampai ketemu dirumah” ucap Sleina dan memang nanti dia akan kerumah keluarga Mahendra dan tentu saja mereka akan bertemu lagi.


“Duduk,” Gibran menarik paksa tangan Naina dan menyuruh perempuan itu untuk duduk.


“Aku ingin bicara serius padamu sekarang” tukas Gibran dan raut wajahnya berubah serius.


“Apa? aku tidak mau berlama-lama bicara denganmu”


“Sebegitu bencinya kau padaku Naina?”


Bola mata Michel langsung melebar saat mendengar ucapan Gibran dan tatapan serius pria tersebut.


“Apa maksudmu tuan Gibran, aku bu..”


“Jangan mengelak lagi, aku sudah tahu semua tentangmu. Kau Naina istriku, bukan Michel Hendrajit” tegas Gibran.

__ADS_1


“Kau sudah gila ya tuan, aku bukan Naina dan minggir” ucap Michel dan akan pergi tetapi Gibran buru-buru mencengkram tangannya.


“Stop Nai..jangan membohongiku lagi. Aku sudah tahu dan sudah memiliki semua bukti kalau kau naina. Apa susahnya untuk mu mengaku apdaku, apa karena kau membenciku sampai kau pura-pura tidak kenal denganku”


“Tuan Gibran sudah berapa kali saya bilang saya bukan Naina, saya Michel kau dengar”


“kau pikir mengalak begitu membuatku percaya kau Michel, aku bukan orang bodoh Nai. Aku punya bukti semuanya, kau bakal mengaku kalau dirimu Michel atau kau akan tetap berbohong tetapi Mark yang akan menjadi taruhannya”


“APA? apa maksudmu kenapa kau membawa-bawa kakakku. Dan aku tidak mengerti dengan ucapanmu tuan”


“jangan pura-pura bodoh Nai, Mark yang memalsukan semua hasil autopsimu. Dia memakai nama dr. Chandra di kertas hasil visum mu. Kau mau aku melaporkan hasil itu kalau semua itu hanya rekayasa dari Mark dan rekannya. Kau mau karir Mark hancur” ancam Gibran, dia terpaksa mengancam Naina karena Naina terus saja mengelak dengan keras kepalanya.


Naina terdiam tak bisa bicara apa-apa, dia mulai merasakan ketakutan yang sempat hilang dalam dirinya.


“Kau pria jahat, kau brengsek Gibran..” Michel mulai berdiri dan dia langsung mundur saat Gibran akan memegang tangannya.


“Ya aku memang pria seperti itu, dengan kau makiku seperti itu. itu berarti kau mengakui dirimu Naina kan. Nai..ayo kita mulai dari awal dengan anak-anak kita. Mereka butuh sosok ku sebagai papa. Ayolah jangan egois, kita mu....”


“Apa yang mau dimulai dari awal, ya.,aku akui aku Naina tuan Gibran montana tapi aku tidak sudi untuk memulai dari awal denganmu. Dan apa yang kau bilang anak-anak kita..mereka bukan anakmu. Mereka anak-anakku”


“Asal kau tahu aku sudah bahagia sekarang, aku benci dengan pria sepertimu. Kau pria yang..”


“Nai, aku mohon kau tenanglah dulu. kita bicara baik-baik, banyak orang yang mende...” Gibran yang tadinya mendekap Michel langsung terdorong karena perempuan itu mendorongnya saat ini.


“Kau bilang aku harus tenang, aku tidak bisa tenang berhadapan dengan pria keji sepertimu. Dan aku bukan Naina yang lemah lagi, aku Michel bukan Naina” Michel langsung berjalan pergi meninggalkan Gibran. Tapi Gibran tidak tinggal diam saja dia langsung menyusul Michel yang berjalan keluar dari Cafe dengan emosi.


Buru-buru Gibran menyusulnya, ia tidak mau Naina mengemudikan mobil dalam kondisi emosi seperti ini. jujur dalam diri Gibran saat ini sedikit merasa menyesal karena dia malah berbicara masalah ini didepan umum, seharunya dia tadi mengajak Michel berbicara di tempat yang sepi agar orang-orang tidak mempehatikan mereka seperti ini.


“Nai..Naina..Nai..buka pintunya Nai..” Gibran menyusul Michel kemobilnya, dia mengetuk-ngetuk pintu mobil agar Michel membukan pintu tersebut. Tetapi Michel sama sekali tak menggubris dirinya. Perempuan itu malah menyalakan mesin mobilnya saat ini.


“Nai tunggu, kita bicara sebentar. Nai, buka pintunya, kita selesaikan masalah kita berdua” ucap Gibran terus memanggil Michel agar membukakan pintu mobilnya saat ini.


Michel tak perduli, dia langsung mejalankan mobilnya meninggalkan Gibran yang terus memanggil dirinya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2