
“Ini bunga da...” Tari terdiam saat akan menyerahkan sebuket bunga yang ia bawa pada Michel.
“Naina..” gumamnya dan bunga yang ia pegang terjatuh ke tanah karena dia cukup terkejut melihat siapa yang bediri didepannya saat ini.
“Naina, i..ini..ini kamu Nai” Tari langsung memegang tangan Michel ia memastikan kalau didepannya memanglah sahabatnya dulu.
Michel diam sambil melihat Tari yang terus menyebutnya Naina, bibirnya serasa berat untuk membuka mulut saat ini.
“Naina, kenapa diam Nain. Ini kamu kan? kamu lupa sama aku Nai. Aku Tari..” Tari terus memegang tangan Naina berusaha membuat perempuan itu ingat padanya.
“Ma..maaf, a..aku..aku bukan Naina” dengan bibir bergetar Michel menyangkal seua itu, ia melepaskan tangan Tari dari pergelangan tangannya.
“Aiden Aira ayo masuk mobil” ucapnya bergegas menyuruh kedua anaknya untuk masuk kedalam mobil.
“Nai..Naina masa kamu lupa sama aku Nai. Aku Tari” Tari berusaha mengikuti Naina yang akan masuk kedalam mobil bersama kedua anaknya.
“Maaf, adik saya Michel bukan Naina. Dan saya minta maaf karena dia harus buru-buru pergi” tukas Mark yang paham akan situasi, ia langsung menahan Tari agar tidak mengejar Michel yang masuk kedalam mobil.
“Tapi dok, dia Naina teman saya dok. Saya sangat tahu teman saya, dia Naina dok. Dokter Mark saya tidak bohong” Tari amsih bersih keras kalau Michel ada Naina sahabatnya dulu.
“Maaf tapi dia bukan Naina dia Michel adik saya, Maaf kalau tidak ada perlu lagi saya permisi karena masih ada pekerjaan. Kalau misalkan kau ingin memberikan bunga itu pada Michel tarus saja di meja kecil yang ada disana” Mark juga bergegas pergi karena dia tak mungkin memberikan penjelasan pada perempuan tersebut.
“tapi dok, di..” ucapan Tari terpaksa terhenti karena Mark mengabaikannya dan malah masuk kedalam mobil dan membawa mobil itu pergi meninggalkan dirinya sendirian didepan rumah besar keluarga Mahendra.
“tapi aku yakin itu Naina, kalau itu bukan Naina kenapa mirip sekali matanya saja mirip dengan Naina” Tari bebricara sendiri sambil mengingat wajah perempuan yang mirip Naina tadi.
Gibran ternyata sedari tadi bersembunyi di dekat pos dimana terdapat tanaman yang cukup lebat sehingga bisa menjadi tepat persembunyiannya. Dia melihat semuanya sedari tadi membuat dia tersenyum miring dengan itu semua.
“Kau memang Naina ku, ekpresi wajahmu tadi membuktikannya sayang” gumam Gibran begitu puas dengan kejadian tadi. Sekarang buktinya bertambah, yaitu kesaksian dari Tari kalau itu memanglah Naina.
Gibran langsung pergi begitu saja sebelum Tari atau yang lainnya mengetahui dirinya mengintip disitu.
......................................
__ADS_1
“Mama tante tadi siapa? Itu teman mama?” tanya Aira yang memang bocah tersebut lebih cerewet dan ingin tahunya besar ketimbang Aiden yang cuek.
“mama Ira tanya sama mama, kok diem aja” timpal Aiden yang membuyarkan lamunan Michel. Dia memang sedari tadi melamun sambil menyetir mobil miliknya tersebut.
“Hah bagaimana sayang,” ucapnya dan menoleh sekilas kebelakang melihat anak laki-lakinya yang bertanya padanya barusan.
“Aira tanya mah, tante tadi siapa? Temen mama?” Aira kembali bertanya setelah mamanya mulai tidak melamun.
“I..iya, tante tadi teman mama” jawab Michel jujur. Dia tak ingin berbohong soal kenyataan tersebut.
“Tapi kok mama tadi kayak takut, terus bilang bukan temennya” ucap Aiden.
“Iya, tadi kok itu tante yang tadi manggil mama Naina” pertanyaan Aira semakin membuat Michel bingung menjawabnya.
“Kita sudah sampai Aiden” bukannya menjawab pertanyaan Aira Michel malah mengalihkan pembicaraan.
“udah sampai..” Aiden langsung mengalihkan pandangannya keluar mobil. Ia melihat teman-temannya yang juga turun dari dalam mobil mereka.
“Dimas, ma aku turun ya” ucap Aiden langsung buru-buru turun saat melihat tean karibnya yang baru turun dari mobil orang tuanya.
“Dadah. Ira, dadah mama” bocah itu langsung keluar dari dalam mobil sang mama dan langsung berlari dengan langkah kecilnya menghampiri Dimas yang juga berjalan menuju guru mereka yang sudah menunggu kedatangan mereka. Para guru akan menunggu murid-murid yang mereka ajar di depan gedung peberhentian mobil-mobil yang mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah. Karena sekolah Aira dan Aiden bukan sekolah biasa sekolah mereka sekolah bertarap Internasional jadi setiap enam murid guru di kelas mereka ada dua orang.
“kita pulang ya sayang” ucap Michel pada Aira yang duduk di sebelahnya.
“Iya ma” jawab bocah itu.
Michel langsung mengemudikan mobilnya menuju pintu keluar sekolah tersebut, dia terus memikirkan Tari tadi. Dia sebenarnya ingin bicara pada Tari tapi karena dirinya syok dan belum siap untuk bertemu membuatnya langsung mengelak.
“Maafin aku Tari,” sesal Michel, dan dia berniat untuk menemui Tari secara diam-diam agar tidak ada yang mengetahui dirinya termasuk Gibran.
....................................
“Pak, pak Gibran..” tari memasuki ruangan Gibran dimana pria itu tengah menatap layar komputernya.
__ADS_1
“Iya ada apa?” Gibran langsung melihat kearah Tari yang ngos-ngosan berusaha mengatur nafasnya.
“Pak, ta..tadi saya ketemu Naina pak. Dia..dia Michel pak. Michel itu Naina kan pak?” dengan amsih berusaha mengatur nafasnya Tari bertanya pada Gibran.
“Begitu pendapat?” Gibran malah menanggapinya dengan santai.
“Iya, dia Naina pak. Dia sahabat saya..”
“memang dia Naina, tapi dia belum mengaku pada saya. Dia masih menyangkal kalau dia itu bukan Naina.”
“Bapak jadi sudah tahu kalau itu Naina pak, lalu kenapa bapak nggak langsung bicara padanya.”
“Saya sudah berusaha bicara padanya tapi dia terus mengelak, jadi saya ikuti saja kemauannya kalau dia Michel”
“Apa jangan-janagn dia mengelak karena masih takut pada pak Gibran,?”
“Mungkin, makanya dari itu saya ingin bicara empat ata dengan dia sebagi Naina tapi dia selalu menyangkal kalau dia Naina. Padahal saya ingin minta aaf atas semua yang saya lakukan pada dia dulu”
“Saya bantu pak, saya bakal menjelaskan semuanya pada Naina pak kalau Pak Gibran sudah berubah dan tidak seperti dulu”
“bagaima kau membantuku, dia saja juga mengelak darimu Tari.” Gibran malah tersneyum dengan cuapan Tari.
“Saya akn berusaha mendekati dia pak, agar dia mau berteman dengan saya. Entah Naina mau mengelak atau tidak tapi saya akan tetap menjelaskan soal pak Gibran yang sudah berubah.”
“tekadmu terlalu besar, Naina yang sekarang bukan Naina yang dulu. dia sekarang lebih luar biasa dan lebih keras kepala”
“Saya tidak perduli pak, saya ingin Naina dan pak Gibran bersatu lagi. Apalagi kedua bocah kembar itu anak kalian kan pak. Saya ingin melihat anda dan Naina memilii keluarga kecil yang bahagia karena selama ini pak Gibran sudah menebusnya” pungkas Tari yang begitu berambisi untuk menyatukan Gibran dan juga Naina. Selama Naina menghilang Gibran memperlakukan dirinya cukup baik dan dia juga saksi bahwa pria didepannya sudah benar-benar berubah dan sudah menerima akibatnya.
Gibran juga sudah begitu baik terhadapnya dengan menjadikannya sekertaris serta memberikan biaya bagi keluarganya juga. jadi kalau dia bisa menyatukan Naina dan Gibran kembali itu semua wujud balas budinya pada Gibran.
“terimakasih kalau kau memang benar-benar akan membantu saya,” ucap Gibran
“Pasti pak, pasti saya akan bantu” tekad Tari dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
°°°
T.B.C