Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep.105


__ADS_3

“Gibran kau darimana saja, membuat kita semua khawatir” tukas Alfred berjalan menghampiri anaknya yang baru saja masuk ke ruang rawat. Gibran hanya diam melewati papanya begitu saja, dia mengabaikan dua orang lainnya yang berada di situ.


Gibran langsung duduk di tempat tidurnya, sambil melepaskan jaketnya saat ini.


“Kak, kau darimana saja?” tanya Erlan yang turun tangan, dia mendekati kakaknya itu.


“Bukan urusan kalian aku darimana” jawab Gibran ketus.


Alfred menghebuskan nafas panjang, dia langsung berjalan cepat menghampiri anaknya tersebut. tiba-tiba saja dia langsung mencengkram kerah baju Gibran.


“Sampai kapan kau akan begini, kita disini mengkhawatirkanmu tapi kau malah seenaknya sendiri keluar tanpa memberitahu papa dan yang lainnya” Alfred berbicara cukup taja pada anaknya bahkan tangannya mencengkram kua kerah baju sang anak.


“Mas sudahlah mas, tolong maklumi Gibran.” Karin berusaha melepaskan cengkraman Alfred pada Gibran.


“kau diam lah tidak usah ikut campur” Alfred yang sudah muak dengan sikap Gibran menepis tangan Karin.


“Kalau papa ingin menghajarku hajar saja, kau memang seperti ini kan dari dulu. kau yang selalu emosi dan mamaku yang selalu menenangkanmu gara-gara sifat emosionalmu itu dia sampai tertekan” Gibran menatap papanya menantang.


“Anak ini..” Alfred mengangkat tangannya dan langsung di tahan oleh Erlan.


“papa Alfred nggak harus mukul kak Gibran, kau tahu sendiri kakak sedang amnesia saat ini” pungkas Erlan sambil menatap ayah sambungnya tersebut.


Alfred melihat sekilas kearah Gibran dan dia langsung melepaskan cengkraman tangannya.


“Kau sudah menikah dengan tante karin kan?” Gibran tiba-tiba saja melayangkan pertanyaan itu.


Sontak ketiga orang yang ada di depanya melebarkan mata menatap kearahnya.


“kalian tidak usah kaget begitu, kalian pikir aku orang bodoh” sinis Gibran, dan dia melepaskan jaketnya dan duduk kembali di ranjang rawatnya.


“terus kau mau apa kalau papa sudah menikah dengan tante Karin?’ tukas Alfred kembali melihat anaknya.


“ya terserah kau” acuh Gibran dan langsung berbaring di ranjangnya membelakangi ketiga orang tersebut.


“Bisa keluar dari ruanganku, aku ingin istirahat” lanjut Gibran menyuruh mereka berdua untuk keluar.


“Mas sudahlah ayo kita keluar yang penting Gibran tidak apa-apa” Karin mengajak suaminya kelaur dari ruangan Gibran.


“Kalian berdua keluarlah biar aku yang disini bersama kakak” ucap Erlan pada Karin dan juga Alfred.


“ya sudah kau jaga kakak mu Erlan, kita berdua keluar dulu” ucap karin dan langsung keluar bersama dengan Alfred yang berjalan lebih dulu.


“Kak, aku minta maaf padamu karena aku tidak bilang apa-apa soal papamu dan mamaku” lirih Erlan menarik kursi untuk dia duduki.


Gibran hanya diam saja membelakanginya, hal itu membuat Erlan heran kenapa dengan kakaknya.


“ada yang sakit kak? Biar aku panggilkan dokter” tanya Erlan yang mulai khawatir karena Gibran tidak meresponnya.


“kenapa kau cerewet sekali, bukannya sudah aku bilang keluar dari ruanganku. Kepalaku pusing sekarang” kesal Gibran berbalik dan duduk menatap Erlan.


“kenapa tingkahmu semenjak amnesia seperti anak kecil, kau kena karma karena selalu mengataiku seperti anak kecil” tukas Erlan menatap kakaknya.


“Kau bilang apa barusan, kau mengataiku kena karma. Memang aku melakukan apa padamu, seharusnya kau yang kenapa karma” Gibran menatap Erlan tak terima.


“Sudahlah, aku pusing” ucap Gibran lagi dan akan berbaring tapi dia langsung mengurungkan niatnya tersebut. dia kembali duduk sambil melihat kearah Erlan.


“kenapa? Mau marah lagi padaku?” ketus Erlan saat melihat kakaknya yang kembali menatap padanya.

__ADS_1


“Kau tahu kan aku sudah menikah, perempuan yang hamil itu benar istriku kan?” Gibran tiba-tiba menanyakan hal itu pada Erlan membuat pemuda tersebut langsung serius menatap kearah kakaknya.


“Iya, kak Naina istri kakak. Kenapa? Kau tidak percaya kalau dia istrimu, dasar pria tidak tahu diri. Kau sudah membuatnya memiliki anak darimu tapi kau tidak mengakuinya” cibir Erlan dengan mulut pedasnya itu.


“Kalau dia istriku kenapa dia mau disuapi pria lain, bahkan perutnya di pegang oleh orang lain” pungkas Gibran, entah mengapa dirinya emosi dengan hal itu. rasanya dia tak ikhlas perempuan yang dikatakan istrinya bersama dengan pria lain.


“Siapa? Mana mungkin kak Naina bersama pria lain. Jangan asal deh kak, mungkin kakaknya yang menyuapinya”


“kakaknya aku tahu yang mana, itu pria lain bukan kakaknya. dia dokter yang pernah masuk keruanganku”


Erlan diam sejenak memikirkan siapa yang dimaksud Gibran barusan,.


“Oh itu kak Reyhan, dia teman dari kak Mark. Mungkin kak Naina perutnya sakit makanya di periksa olehnya”


“Huh, nggak masuk akal” decih Gibran dan dia langsung berbaring membelakangi Erlan.


“Meskipun kak Gibran tidak mengingat kak Nai, tapi hatinya masih mengingatnya. Kakak saat pasti cemburu melihat kak Naina bersama kak reyhan” batin Erlan sambil melihat punggung kakaknya.


..................................


Naina sendiri saat ini terpaksa harus di rawat setelah mengalami pendarahan, dan untung saja pendarahannya tidak fatal sehingga kandungannya tidak apa-apa.


Meskipun begitu badannya terasa lemas, dia sedari tadi hanya berbaring diam sambil mengusap perutnya. Tadi Reyhan sempat masuk dan memaksanya untuk makan karena harus meminum vitamin, karena tidak ada orang di ruangannya membuat pria itu menyuapinya dan hal tak terduga perutnya terasa keram membuat Reyhan langsung memeriksa perutnya mengusap pelan.


Saat itu kebetulan Mahendra masuk bersama dengan Vita dan Gibran yang datang bersama mereka hanya berdiri di depan pintu lalu pergi begitu saja tanpa berbicara apa-apa pada Naina.


Naina sendiri melamun menatap kearah sofa yang kosong, dia tak sendiri di ruangan melainkan bersama Vita dan juga Mahendra dan juga Shelina tapi dia tak berminat mengobrol dengan mereka bertiga.


“Kenapa kamu malah pergi Gibran, padahal aku membutuhkanmu saat ini. kamu malah pergi begitu saja tadi” batin Naina rasanya terasa sesak melihat Gibran yang malah pergi. Padahal di kondisinya saat ini, dia membutuhkan sosok suaminya itu.


“Kenapa kau melupakanku, hiks hiks” lirih Naina sambil menahan tangis, dia tidak ingin orang-orang yang ada di ruangannya mendengarnya.


“Nggak ma” jawab Naina sambil mengusap pelupuk matanya, dia pelahan duduk. Vita buru-buru membantunya dan memberikan sandaran dibelakag sang putri.


“Kamu mau apa Michel, papa belikan buatmu?” tanya Mahendra. Dan ikut berjalan menghampiri sang anak.


“papa..” Naina mengulurkan tangannya dan Mahendra langsung mendekat. Naina memeluk erat papanya sambil menangis.


“aku nggak mau apa-apa, aku hanya mau meluk papa sama aku hanya mau Gibran pa..aku butuh Gibran” Naina berucap sambil menangis, dia begitu menginginkan suaminya saat ini. siapa yang tidak ingin di manja suaminya di saat kondisi dirinya seperti ini.


“Hiks, Hiks aku mau Gibran pa” tangis Naina pecah di pelukan Mahendra.


“Iya sayang, papa bakal bawa gibran kesini. Papa bakal suruh dia nemuin kamu..” mahendra mengusap lembut kepala Naina. Shelina yang tadinya hanya duduk kini berjalan mendekat dia merasa kasihan dengan adik iparnya itu.


“Sayang sudah ya, nanati papa kamu bawa Gibran kesini. Jangan nangis lagi ya, mama ikut sedih kalau kamu begini” Vita mengusap kepala putrinya itu.


Naina sesegukan memeluk sang papa, dia kembali teringat tadi dimana Gibran malah pergi dari ruangannya. Rasanya sakit melihat hal itu, apa sebegitu lupanya Gibran padanya..


...........................


Gibran masuk kedalam ruangan Naina, dia membuka pintu perlahan. Tapi sebelum masuk dia menoleh kebelakang dimana ada Mahendra yang menganggu menyuruh dirinya untuk segera masuk. Ruangan Naina sendiri begitu sepi tidak ada orang yang ada di dalam..


Mahendra sengaja menyuruh Shelina dan juga Vita pulang kerumah sehingga ruangan Naina sepi tidak ada orang di dalamnya.


Gibran langsung masuk perlahan, sedangkan Mahendra tidak ikut masuk kedalam dia kembali menutup pintu ruangan anaknya dengan hati-hati.


Dengan langkah pelan Gibran mendekati Naina yang tengah tidur miring saat ini, tatapan yang mengisyaratkan penuh pertanyaan begitu nampak di wajah Gibran.

__ADS_1


Dia yang sudah sampai di samping tempat tidur Naina langsung menarik kursi dan duduk tepat di depan wajah perempuan tersebut.


“manis..” gumamnya tanpa sadar. Tangannya jga secara refleks langsung mengusap kepala Naina penuh kehangatan.


“Kalau kau istriku, kenapa aku tidak bisa mengingatmu sama sekali?” lirih Gibran sambil mengusap kepala Naina. Dan pandangannya langsung beralih ke perut buncit perempuan tersebut. ada keinginan dirinya untuk memegang perut itu.


Nalurinya berkata untuk memegangnya, Gibran langsung memegang perut Naina mengusapnya lembut tanpa di duga dia merasakan perut itu bergerak sehingga membuatnya spechless.


Karena hal itu juga Naina tiba-tiba saja membuka matanya dan dia langsung terkejut melihat Gibran ada di depannya saat ini.


“Gibran..” lirih Naina.


Gibran yang melihat itu cukup terkejut dia langsung menyingkirkan tangannya dari perut Naina.


Naina langsung memeluk Gibran, dia begitu senang melihat suaminya ada di depannya saat ini.


“kamu kesini, kamu nemuin aku?” ucap Naina sambil memeluk erat Gibran.


Gibran hanya diam saja tak membalas pelukan Naina tapi hatinya terasa hangat menerima pelukan tersebut.


“Hiks hiks kamu akhirnya nemuin aku..” Naina mulai terisak, karena tak menyangka Gibran akan mendatanginya saat ini.


“maaf aku harus pergi” Gibran langsung melepaskan pelukan Naina dan dia buru-buru berdiri.


“kau mau pergi kemana? Kenapa kau harus pergi”


“Aku pergi du..”


“Arggh,..” rintih Naina langsung memegangi perutnya. Sontak Gibran langsung mendekat kembali.


“kau kenapa? Perutmu sakit? Mana yang sakit” Gibran terlihat panik tanpa dia sadari. Dia memegang perut Naina mengusapnya lembut.


“mana yang sakit?” tanya Gibran smabil melihat Naina yang tengah menatapnya.


“Sakitnya hilang” jawab Naina lirih.


“kau menipuku?”


“aku tidak menipumu tadi benar-benar sakit” ucap Naina sambil menggelengkan kepalanya.


“Kau memang menipuku” Gibran langsung berdiri lagi dari duduknya dan dia akan berjalan pergi tapi Naina kembali merintih sakit.


Gibran yang tadinya mengabaikan saja tapi merasa tak tega karena Naina terlihat mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


Gibran menghela nafas panjang dan langsung berjalan mendekat kembali kearah Naina. Dia kembali menyentuh perut perempuan itu,


“geser,” ucap Gibran singkat. Naina tak mengerti maksud Gibran apa sehingga dia hanya menatap heran pada suaminya.


Gibran tampak jengan tapi dia berusaha untuk bersabar, tiba-tiba saja dia langsung mengangkat Naina agar sedikit bergeser setelah naina bergeser dia langsung naik ke atas ranjang tempat yang di tempati Naina.


“Aku ngantuk, aku mau tidur. kau juga tidurlah” pungkas Gibran dan menidurkan Naina di lengannya. Dia menjadikan lengannya sebagai bantal bagi Naina.


Naina sedikit terkejut dengan sikap Gibran saat ini, dia tak menyangka Gibran akan tidur bersamanya dan mengusap perutnya saat ini.


Naina tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung memeluk Gibran. Kapan lagi dia bisa memeluk suaminya yang hilang ingatan ini kalau bukan sekarang.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2