
“Mama, mama apa iya disini mama ada adek bayi?” tanya Aiden pada mamanya. bocah itu saat ini duduk ditengah-tengah Gibran dan juga Naina yang berada di sofa kamar sepasang suami istri tersebut.
Aiden memegang perut mamanya, sambil terlihat mendekatkan telinganya ke depan perut mamanya itu.
“Iya disini ada adik kalian, mama kan hamil sayang jadi di perut mama ada adek bayinya” jawab Gibran menjelaskan pada sang anak.
“Berarti aku sama Aira mau punya adik dong ma?’ tanya Aiden kembali melihat kearah sang mama.
“Iya, kalian senang kan mau punya adik” jawab Naina sambil menatap wajah sang anak.
“Iya aku senang” balas Aiden.
“Aira dimana sayang?” Gibran menanyakan anak perempuannya pada Aiden.
“Sama Papa Mark,” jawab Aiden.
“Tadi kemana aja sama papa Mark, maaf ya mama tadi nggak enak badan jadi nggak bisa ikut” Naina merasa bersalah pada kedua anaknya tersebut. karena dirinya yang mengalami morning sickness dia tidak bisa menemani kedua anaknya jalan-jalan.
“Iya nggak pa-pa, tadi papa Mark bilang kalau mama sakit adik bayinya lagi ngambek gitu. Jadi aku sama Aira nggak jadi marah” pungkas bocah lima tahun tersebut.
“bagus, anak-anak papa memang pinter-pinter nggak suka marah” ucap Gibran sambil mengusap kepala anak laki-lakinya itu.
“Iya dong kan mama yang ajarin, kita nggak boleh marah kalau nggak sesuai sama yang kita mau” ucap Aiden cukup dewasa dalam menjawabnya.
“Terimakasih ya sayang, kamu sudah ngajarin anak-anak kita dengan baik” Gibran merasa kagum dengan cara didik Naina pada kedua anaknya selama ini.
“Iya “ jawab Naina lirih.
“Papa kita pulang ke Jakarta kapan?” tanya Aiden pada sang papa.
“Kenapa kok Aiden tanya begitu? Aiden pengen pulang ke Jakarta ya?” Gibran bertanya balik pada sang anak.
“Iya Aiden mau main sama teman-teman” jawab Aiden jujur, karena dirinya ingin bertemu teman-teman sekolahnya.
“Dua hari lagi kok kita pulang, atau Aiden pengen pulang duluan sama papa Mark. Papa Mark soalnya besok pulang duluan” tukas Naina.
“Papa Mark besok pulang, terus mama sama papa kenapa nggak pulang besok juga?”
Gibran dan Naina yang mendengar pertanyaan dari anak mereka hanya bisa saling pandang saja.
“Mama sama papa kok nggak jawab?” tanya Aiden lagi.
“Mmm, mama sama papa masih mau disini Aiden sam Aira kalau ikut mama sama Papa disini dua hari lagi juga nggak pa-pa bagaimana kita pulang dua hari lagi ya?” pungkas Gibran membujuk sang anak untuk pulang dua hari lagi.
“Nggak ah, aku mau pulang sama papa Mark” tolak Aiden.
“Tapi kan Aiden sama Aira belum beli tiket sayang?” ucap Gibran melihat wajah anaknya yang langsung menunduk sedih. Bocah itu terlihat ingin segera pulang ke rumah karena ingin bermain bersama teman-temannya.
“Coba kamu bilang kak Mark buat belikan tiken untuk Aiden sama Aira, siapa tahu dia bisa cari tiket untuk mereka malam ini” perintah Naina pada sang suami karena melihat wajah anaknya yang terlihat sedih.
“Kamu beneran pengen pulang sayang, nggak mau ikut mama sama papa di sini aja?” Tanya Gibran memastikan sang anak benar-benar mau pulang atau tidak.
“Iya aku mau pulang pa, aku nggak mau disini lagi. Aku mau main sama teman-teman, please..” rengek Aiden yang tetap ingin pulang ke rumah.
“Kalau kalian pulang, di rumah nggak ada orang loh sayang Om Erlan kan ada disini” ucap Gibran.
“Aku kan bisa tempat Oma” jawab bocah tersebut.
“Sudahlah sayang biarian aja mereka pulang, Aiden sama Aira kayaknya memang nggak betah disini” ucap Naina pada sang suami.
“Ya sudah, kamu disini dulu papa nemuin Papa Mark dulu. papa minta sama papa Mark buat beliin kalian tiket. Aiden tunggu disini bentar ya, jagain mama” ucap Gibran pada sang anak.
“Oke papa” jawab Aiden.
“Sayang aku pergi sebentar, kamu sama Aiden dulu ya” ucap Gibran yang langsung berdiri dari duduknya saat ini. Dia mengecup kening istri dan anaknya terlebih dahulu sebelum pergi keluar.
“Iya, jangan lama-lama” balas Naina.
“hemmm” Gibran langsung melangkah pergi keluar dari kamar mereka.
__ADS_1
Naina sendiri langsung memeluk Aiden penuh kasih sayang, dia tampak mengecup kepala anaknya berkali-kali.
.....................................
Gibran berada di depan resort Mark saat ini, ternyata disitu tidak hanya Mark tetapi juga ada Erlan dan ada beberapa orang yang lain yang entah dia tak tahu siapa mereka tampak berbincang dan menikmati bakaran khas pinggir pantai.
“Wuihh tumben keluar dari dalam kamar?’ cibir Erlan saat melihat kakaknya yang mendatangi mereka saat ini.
Gibran hanya diam saja sambil berjalan mendekati kempat orang tersebut.
“Ada Gibran?” tanya Mark pada Gibran yang sudah berada di depannya.
“Eh duduk dulu” pinta Mark pada Gibran. Gibran langsung duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
“Ini besok kamu sama Selina mau pulang ke Jakarta kan?” tanya Gibran pada Mark.
“Iya kenapa?”
“Itu, aku pesanin tiket juga sih buat anak-anak. Aiden minta pulang sama kamu,” jelas Gibran.
“Aiden mau pulang, Aira tadi juga bilang mau pulang tapi aku bilang mereka nanti pulang sama kamu”
“Aiden nggak mau, dia maunya pulang besok sama kali. Bisa tolong pesankan tiket lagi” tukas Gibran.
“Ya sudah nanti aku pesankan tiket untuk Aiden sama Aira, Oh iya kenal kan Gibran ini teman-temanku” ucap Mark sambil mengenalkan Gibran pada kedua orang yang berada antara mereka.
“Gibran,” “Samuel”
“Gibran,” “Bayu”
Ketiga orang itu saling memperkenalkan diri tiba-tiba saja Erlan mengulurkan tangannya kearah Gibran.
“Apa?” tanya Gibran menatap datar sang adik.
“Kenalkan, Erlan..” ucap Erlan sambil mengulurkan tangannya pada Gibran.
“Ya biarin, biar seru.” Uap Erlan sambil tertawa.
Mereka yang berada di situ juga ikut tertawa dengan ulah jahil dari Erlan barusan.
“Aira dimana?” tanya Gibran saat sadar anak perempuannya tidak berada di dekat Mark.
“Aira didalam sama Selina, tadi bilangnya ngantuk terus sama Selina di ajak tidur” jawab Mark.
“Oh, tolong bangunin kalau begitu. Soalnya Aiden mau tidur denganku dan Naina” pinta Gibran pada Mark.
“Sudah biarin aja, biar Aira tidur disini.” ucap Mark.
“Michel sama Aiden dimana?” lanjut Mark bertanya soal Naina dan juga keponakannya.
“Naina ada di kamarnya lagi nonton tv sama Aiden” jawab Mark.
“bagaimana Michel, sudah enak kan belum?” tanya Mark pada Gibran.
“Sudah, dia juga sudah mau makan”
“Syukurlah” ucap mark merasa lega kalau adiknya sudah baikan saat ini.
“Tunggu-tunggu, ini yang kalian bahas ada dua orang ya” tiba-tiba salah satu rekan Mark terlihat kebingungan dengan pembicaraan Mark dan juga Gibran barusan.
“Bagaimana maksudnya?” tanya Gibran yang tak mengerti.
“Tadi kamu sebut Naina dan Mark menyebut nama Michel. Ini dua orang atau satu orang?” tanya Bayu.
“Satu orang, dia istriku. Aku memang memanggilnya Naina, karena namanya itu” jawab Gibran menjelaskannya.
“Terus kenapa Mark memanggilnya Michel?” Bayu masih terlihat heran.
“Ya karena Michel adikku, itu panggilan ke sayangnya di keluarga” ucap Mark menjawab kebingungan dari Bayu.
__ADS_1
“Oh gitu,”setelah mendengar jawaban tersebut Bayu hanya manggut-manggut mengerti.
“kalau begitu aku kembali dulu ke kamar ya Mark” ucap Gibran yang akan pamit pergi.
“Hei Gibran kenapa buru-buru, kita mengobrol dulu” sahut Samuel pada Gibran.
“Istriku pasti sudah menungguku, dia sedang tidak enak badan” jawab Gibran.
“kakak ipar sudah baik kan, disini sajalah kak. kita ngobrol-ngobrol” ucap Erlan pada kakaknya.
“Erlan kau tahu kakak ipar mu bagaimana kalau marah, kamu mau kakakmu ini dimarahi” bisik Gibran ditelinga Erlan.
“Takut istri banget sih” cibir Erlan juga berbisik ditelinga sang kakak.
“kalian ngomongin apa?” tanya Mark dan ketiga orang di sana yang juga ikut penasaran.
“nggak” Gibran langsung menggeleng.
“Papa..” seru Aira yang keluar dari dalam resort Mark.
“Loh Aira..kata papa Mark kamu tidur” kaget Gibran dan langsung menghampiri sang anak.
“Iya tadi dia tidur terus kebangun nyari Aiden sama Naina” Selina keluar mengikuti Aira yang berjalan keluar.
“Oh gitu,” Gibran langsung menggendong anaknya yang masih setengah mengantuk.
“Ya sudah kalau begitu aku kembali ke kamar ya,” ucap Gibran yang tengah menggendong Aira. Akhirnya dia ada alasan untuk segera kembali ke kamar, untung saja anaknya terbangun dan langsung keluar.
“Ya sudah sana, tapi sebentar..” ucap Mark menahan Gibran yang akan pergi.
“kenapa?”
“Aku mau bertanya pada Aira dulu,” ucap Mark dan langsung berdiri dari duduknya.
“mau tanya apa dengan anakku?” tanya Gibran penasaran.
“Aira besok beneran mau ikut pulang papa Mark?” tanya Mark pada Aira yang berada di gendongan Gibran saat ini.
“Iya” jawab Aira lirih dnegan wajah sedikit mengantuk, dia bersandar lemas ke bahu sang papa.
“ya sudah nanti papa Mark pesankan tiket” ucap Mark akhirnya.
“Sana Gibran kalau kamu mau balik kamar, Aira sudah ngantuk banget kayaknya” lanjut Mark sambil mengusap lembut kepala Aira.
“Mari mas..” ucap Gibran pada kedua orang teman Mark. Dia langsung pergi meninggalkan mereka berempat..Erlan yang orangnya mudah akrab dengan orang lain tidak pergi dia masih tetap ingin mengobrol bersama mereka.
.............................
“Sayang..” panggil Naina yang berada di pinggir tempat tidur menepuk bahu Gibran yang tidur di sebelah kiri karena saat ini anak-anak mereka tidur di tengah-tengah. Ranjang yang luas itu ditempati oleh empat orang.
Gibran yang merasa bahunya ditepuk seseorang langsung membuka matanya dan melihat kearah sang istri yang tengah menatap dirinya.
“kenapa sayang?” tanya Gibran pada Naina.
“Tolong sih aku pengen dipeluk kamu,” ucap Naina lirih.
‘Bagaimana meluknya” jawab Naina dengan suara serak, dia juga sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung bagaimana cara memeluk istrinya sedangkan mereka saat ini tidur ke pisah dua anak mereka yang tidur di tengah-tengah.
“tidur di sana yok” ucap Naina sambil menunjuk sofa yang berada di depan ranjang mereka.
“Anak-anak bagaimana?” tanya Gibran.
“Kan mereka tidur, ayok..aku dari tadi nggak bisa tidur. rasanya aneh minta dipeluk” manja Naina pada sang suami.
“Ya sudah ayok” Gibran mau dengan rasa kantuknya langsung bangun dari ranjang dan berjalan menyusul sang istri yang berjalan lebih dulu ke sofa.
°°°
T.B.C
__ADS_1