
“Masih sakit?’ tanya Gibran lirih pada Michel yang sedari tadi diam saat dia memijit pergelangan kaki perempuan tersebut.
Michel yang tadinya terus menatap kearah Gibran langsung memalingkan wajahnya saat Gibran melihat kearahnya.
“terimakasih” Michel bukannya menjawab, dia malah mengucapkan terimakasih dan buru-buru menurunkan kakinya dari pangkuan Gibran.
“Pelan-pelan, nanti sakit lagi” Gibran memegang lembut kaki Michel dan menurunkannya secara hati-hati.
Michel tak bicara lagi, dia langsung berdiri dari duduknya berniat untuk pergi tetapi Gibran menahan tangannya saat ini membuat Michel mau tak mau menatap pria itu kembali.
Saat dia melihat Gibran bayang-bayang kelam masa lalunya kembali terputar di kepalanya saat ini, tangannya tiba-tiba saja gemetar lagi. Gibran yang tengah memegang tangan Michel merasakan itu dia melihat tangan perempuan didepannya bergetar cukup cepat.
“kamu kenapa? Kenapa tanganmu berubah dingin sekarang?” panik Gibran, dia menatap Michel yang terlihat pucat.
“Lepas,” Michel melepaskan tangannya dari genggaman Gibran. Dia lalu akan pergi tapi lagi-lagi Gibran menahannya.
“kamu mau kemana? Kamu sakit, kenapa tanganmu bergetar seperti itu?” tanya Gibran dengan tatapan cemasnya.
“Bukan urusanmu aku kenapa, lepaskan tanganku. Kalau kau memang ingin disini dengan anak-anakku silahkan aku pergi” ucap Michel dan buru-buru melepaskan tangannya dari Gibran.
Gibran terdiam di tempatnya sambil memperhatikan Michel yang berjalan menjauh keluar dari rumah. perempuan itu pergi meninggalkan anak-anaknya di rumah orang tuanya.
“Dia tidak membawa Aiden dan Aira..apa itu artinya dia tak masalah aku bersama mereka” gumam Gibran kebingungan, apa ucapan Michel tadi artinya memperbolehkan dia untuk bersama anak-anaknya, batin Gibran berharap.
Michel ternyata tidak pergi jauh, dia menghentikan mobilnya di area yang masih dekat dengan rumah orang tuanya. Michel masih berada di komplek perumahan kedua orang tuanya itu, dia pergi karena berusaha menghilangkan bayangan masa lalunya.
“Seharusnya aku tidak langsung pergi, harusnya aku mendengarkan apa yang di suruh Rosa padaku. Aturan aku melawan trauma ku ini” sesal Michel yang malah pergi saat Trauma hinggap.
Michel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia menatap lurus ke depan. Ia mengingat kembali dimana Gibran memijat kakinya dengan telaten serta begitu lembut seakan itu benar dilakukan dari dalam hatinya.
“Apa-apaan dia tadi kenapa seolah tulus melakukannya. Itu sebuah ketulusan atau hanya kebohongan” gumam Michel merasa tak percaya dengan sikap Gibran barusan.
Saat Michel tengah mengingat perlakuan lembut Gibran padanya tadi tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi membuat bayangan itu buyar. Michel langsung menoleh kearah tas kecilnya, ia segera mengambil ponsel miliknya dari dalam situ.
“dr.Reyhan,” gumamnya saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel itu.
__ADS_1
Michel langsung mengangkat panggilan tersebut,
“Iya dokter Reyhan, ada apa?”
“Kamu dimana sekarang? Aku ada di dekat rumah saat ini. aku bawa mainan untuk Aiden dan juga Aira kamu ada dirumahkan?”
“Aku sedang di luar dok, maaf ya”
“Oh, kamu sedang ada di luar, ya sudah kalau begitu mainan Aiden sama Aira aku taruh di pos satpam ya?”
“Kok dokter repot-repot sih, aturan nggak usah beli mainan untuk mereka dok”
“Nggak pa-pa, aku sekalian beli buat keponakanku. Ya sudah kalau begitu Michel, lain kali kita ketemu ya?”
“Iya dok,” jawab Michel singkat karena dia memang bersikap cuek pada Reyhan karena dia tak ingin memberikan harapan untuk dokter itu yang begitu baik padanya. Ia takut orang itu kecewa padanya nanti. Kemarin saja waktu mereka jalan ke mall bersama itupun karena disuruh oleh mamanya kalau tidak disuruh ia tidak akan mau diajak jalan oleh Reyhan.
Panggilan langsung terputus, Michel kembali menaruh ponselnya di dalam tas kecil miliknya.
Dan dia kembali melamun, ia tadi meninggalkan anak-anaknya dirumah ibunya. Apa mungkin ini saatnya dia memberikan ruang untuk Gibran dan si kembar. Tapi kenapa semua ini masih terasa cukup sulit baginya.
“Kamu bisa Michel, kamu bisa demi anak-anak kamu. ayok jangan egois Michel..” Michel menyemangati dirinya sendiri.
...........................................
Malam hari Erlan baru saja pulang dari menemui teman-temannya, dia merapatkan jaket kulitnya karena terasa begitu dingin. Dia berjalan melewati ruang tengah, saat dia akan menaiki tangga langkahnya langsung berhenti karena mendengar oang berbicara.
“Siapa itu malam-malam begini ngomong sendiri” ucapnya saat mendengar suara dari dapur. “Itu bukannya suara kak Gibran,” lanjutnya sambil menajamkan pendengarannya. Dia langsung berjalan menuju ruang dapur dimana dia melihat Gibran yang duduk di pantry sambil makan dan bicara sendiri menatap layar ponsel.
“Jangan bilang tuh orang gila beneran lagi,” Erlan melangkah semakin mendekati Gibran.
“Papa hari senang bisa bermain sama kalian, papa rasanya benar-benar bahagia hari ini” ucap Gibran berbicara sendiri sabil memandangi layar ponselnya dimana ada foto Aiden dan juga Aira yang berfoto dengannya. Foto itu ia ambil tadi saat dia bermain bersama mereka, itu bukan foto lama melainkan foto baru sungguh dia benar-benar bahagia karena memiliki foto bersama mereka meskipun di foto itu Aiden terlihat tak bahagia. Bocah itu tak tersenyum sama sekali meskipun sang kembaran Aira tertawa lepas di foto tersebut.
“Kak, kaka Gibran nggak gila kan?” Erlan tiba-tiba saja mendorong pelan bahu Gibran untuk memastikan pria itu sadar atau tidak saat bicara.
“kenapa sih,” Gibran langsung sewot saat melihat adik tirinya tersebut.
__ADS_1
“sewot begini berarti masih sadar, syukurlah” ucap Erlan merasa lega, karena kalau Gibran masih sewot padanya itu tandanya Gibran masih waras. Karena pria itu selalu sengok saat bicara pada dirinya.
“Apa sih nggak jelas, sana pergi ke kamarmu mengganggu saja” tukas Gibran yang merasa terganggu dengan kedatangan Erlan.
Bukannya pergi Erlan malah mengambil duduk di sebelah Gibran, dia melihat makanan yang dimakan Gibran.
“Buat pasta, nggak sekalian bikini gue” dengus Erlan dan menarik piring Gibran.
“Apaan sih Erlan,” kesal Gibran yang terganggu.
Erlan tak perduli, dia malah memakan pasta yang ada di piring Gibran. Tapi matanya sekilas melihat kearah ponsel Gibran yang menyala.
“Wiih, foto siapa itu. anakmu kak?” tanya Erlan kepo, dia mendekat untuk melihat lebih jelas.
“Foto baru ya?” lanjutnya penasaran.
“Iya, dia anak-anakku. Mirip semua denganku kan..?” Gibran tampak sumringah saat membahas kedua anaknya.
“cakep-cakep anak lo.” Puji Erlan.
“Iyalah siapa dulu papanya” jawab Gibran kepedean.
“Cih, nyesel gue muji” dengus pemuda itu.
“Kenapa yang cowok kok diem begitu, yang lain senyum dia diem aja” ucap Erlan saat melihat foto Aiden.
“Dia marah padaku,” lirih Gibran,
“Emm. Ya sudah gue ke atas dulu. nih kak terimakasih” pungkas Erlan dan langsung pergi tapi sebelum itu dia menyodorkan piring Gibran yang sudah kosong hanya sisa bekasnya saja.
“Ya terus lakuin, mau gue usir dari sini. Ngambil makanan orang seenaknya sendiri dihabisin pula” kesal Gibran saat melihat piringnya yang sudah kosong.
“habisnya laper, sudah malem-malem jangan ngomel” ucap Erlan dan langsung melenggang pergi. Gibran sendiri hanya bisa pasrah atas kelakuan dari adiknya tersebut. sungguh menjengkelkan memang Erlan, sedari bocah itu masih remaja hingga kuliah tetap menjengkelkan, batin Gibran.
°°°
__ADS_1
T.B.C