Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 52


__ADS_3

Mobil Gibran berhenti didepan sekolah besar dimana anak-anaknya bersekolah, dia tak bisa masuk kedalam karena tak memiliki akses. Karena yang berhak masuk hanya wali murid saja dan itupun memiliki kartu akses, dirinya saat ini hanya bisa menunggu di depan sekolah itu seperti kemarin saat dia menemui Aiden. Kemarin dia bertemu Aiden karena bocah itu saat pulang sekolah pergi ke mini market yang berada di depan sekolah itu. dan semoga saja hari ini dia bisa bertemu lagi dengan anak-anaknya.


“Tapi apa yang aku katakan nanti saat bertemu Aiden, dia kemarin menangis dengan apa yang aku bilang. Apa dia masih mau bertemu denganku hari ini” monolog Gibran sambil menatap kearah halaman depan sekolah itu yang luas dan dia bisa melihat banyak mobil yang sudah diijinkan masuk untuk menjemput anak-anak mereka.


“kenapa mobil keluarga tuan Mahendra tidak kelihatan dalam barisan mobil itu?’ heran Gibran saat tak melihat mobil Mahendra ada disitu. karena kemarin Aiden turun dari mobil dengan plat MHR di belakangnya.


Cukup lama gibran menunggu, dia mulai gelisah karena tak melihat Aiden ataupun mobil Mahendra masuk kedalam sekolah itu. Gibran langsung turun dari mobilnya, dia berjalan menuju pos masuk kesekolahan tersebut.


“Maaf pak, boleh minta waktunya sebentar?” tanya Gibran pada seorang satpam yang ada di dalam pos.


“Iya boleh mas, ada apa ya?”


“Em..murid yang namanya Aiden kok belum kelihatan juga pak. Apa dia sudah di jemput?” tanya Gibran cukup hati-hati karena dia tak ingin di tuduh macam.


“Oh, Aiden. Tadi dia pulang lebih awal mas. Dia sakit jadinya sudah pulang dari tadi” jawab sang satpam.


“Apa? Aiden sakit. Terus kondisinya bagaimana pak?” Gibran langsung cemas mendengar hal itu.


“Tadi sih saya denger dia cuman demam, terus nangis minta pulang ketemu mamanya” jawab sang satpam tersebut.


“Oh begitu, ya sudah pak terimakasih” ucap Gibran dan langsung buru-buru pergi menuju mobilnya kembali. Dia begitu mengkhawatirkan kondisi Aiden saat ini, ada apa dengan anaknya itu kenapa dia bisa sakit padahal kemarin saat mereka bertemu dia tidak kenapa-kenapa.


.....................................


Michel sendiri saat ini berjalan cepat dengan emosinya yang berusaha ia tahan, dia tak perduli dan berusaha melawan rasa takutnya memasuki kantor Gibran. Dimana dirinya dulu pernah menjadi OG di perusahaan ini. dia berusaha melawan rasa traumanya itu menaiki lift dengan wajah dinginnya. Ia akan memberi pelajaran pada Gibran yang telah membuat anaknya seperti saat ini.


Lift yang di naiki Michel berhenti di lantai paling atas dimana ruangan Gibran berada, dia mengatur nafasnya lebih dulu untuk mengendalikan dirinya. Saat pintu lift terbuka, dia langsung terpaku ditempatnya saat melihat siapa yang didepannya saat ini. begitu juga pria yang berdiri di depan Michel saat ini.


“Na..naina..” khalif begitu syok melihat Michel didepannya. dia yang selama ini belum pernah bertemu langsung saat Gibran menceritakan soal Michel yang memang Naina masih cukup terkejut meskipun dia sudah tahu kalau Michel itu Naina.

__ADS_1


Michel hanya diam saja, sambil menelan ludahnya.


“pak Khalif,” ucapnya dalam hati saat melihat pria tersebut.


“Nai, kau apa kabar. Kamu benar-benar masih hidup..” mata Khalif berbinar senang dengan kenyataan itu.


“Maaf saya permisi,” Michel langsung pergi begitu saja. ia pura-pura tak tahu soal Khalif.


“Nona Michel, aku sudah tahu kalau kau Naina.” Seru Khalif saat Michel melewatinya.


Michel langsung berbalik melihat kearah Khalif,


“Aku minta maaf padamu pak Khalif, tapi sekarang aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu. Dimana sepupumu yang brengsek itu”


“Siapa? Gibran maksudmu?”


Khalif terdiam, dia melihat perubahan yang cukup banyak dalam diri Naina yang pernah ia kenal dulu. dulu Naina adalah perempuan yang lembut dan kini itu sungguh bukan Naina.


“Kalau anda tidak mau memberitahu, saya bisa cari sendiri dimana pria itu” tukas Michel dan langsung pergi dari hadapan Khalif.


“Gibran tidak ada di kantor sekarang” ucap Khalif saat Michel akan pergi.


“kemana dia?”


“Aku tidak tahu, kenapa kau mencarinya Nai. Kita bicara dulu..” ucap Khalif dan akan mengajak bicara Michel.


“Aku sekarang bukan Naina, aku Michel” pungkas Michel.


“Dimana dia?” lanjut Michel dengan tegas.

__ADS_1


“Aku bilang aku tidak tahu, sebenarnya ada apa kenapa kau mencarinya sabil marah begini?” heran Khalif .


“Pria itu benar-benar jahat, sampai kapan dia akan menggangguku seperti ini. gara-gara dia anakku sakit sekarang. Apa yang dia lakukan pada anakku sampai bilang diriku pembohong” Michel benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya, tak terasa setetes air jatuh dari matanya saat ini.


“Soal itu, Michel aku minta maaf atas apa yang dilakukan Gibran. Tapi tolong maklumi dia..dia begitu karena ingin bertemu anaknya”


“Maklum..kau bilang aku harus memaklumi itu pak Khalif. Kau tahu seberapa jahatnya sepupumu itu padaku dulu kan, dan kau masih memintaku untuk memaklumi hal itu”


“Ya aku tahu, tapi Gibran sekarang tidak begitu Nai”


“Bulshitt, dia masih pria jahat. Aku hanya minta padanya untuk tidak menggangguku dan anak-anakku tapi kenapa da terus mengusik hidupku saat ini..aku sudah bahagia dengan kedua anak-anakku” kesal Michel mengutarakan isi hatinya yang terdalam. Ia merasa putus asa karena masih dibayang-bayangi oleh Gibran.


“Nai aku tahu kau pasti..” Khalif akan mendekati naina yang begitu tapak frustasi tetapi perempuan itu mengangkat tangannya.


“Cukup pak Khalif, jika kau terus membela sepupumu aku tidak mau mendengarnya. Aku sekarang hanya ingin bertemu dengannya tolong katakan dimana dia sekarang?”


“Gibran memang tidak ada di kantor sekarang Nai, dan aku tidak tahu dimana dia” uap Khalif jujur.


“Kalau kau memang tidak tahu, cukup katakan padanya tolong jangan pernah ganggu diriku ataupun anak-anakku” pungkas Michel dan dia langsung pergi melewati Khalif, ia masuk kembali kedalam lift meninggalkan Khalif di situ.


“Nai, Gibran memang salah tapi dia juga sudah menebus semuanya. Dan yang dia lakukan kemarin emang salah tapi dia menyesalinya Nai..aku harap kau bisa memaafkan Gibran” lirih Khalif sambil menatap nanar Michel yang sudah masuk kedalam lift.


Michel sendiri, dia diam sambil menatap dirinya melalu pantulan yanga da di dalam lift. Ia begitu sakit saat ini karena berkata kasar pada Khalif, padahal pria itu dulu sudah banyak membantunya.


“Aku minta maaf pak Khalif, aku terpaksa berkata seperti itu padamu. Karena aku tidak ingin berurusan lagi dengan orang-orang dimasa laluku. Masa laluku cukup menyakitkan..” monolog Michel sambil melihat dirinya sendiri melalu pantulan di lift tersebut. Dia melakukan semua ini karena Khalif adalah sepupu Gibran, dia tak ingin terhubung lagi pada orang-orang terdekat Gibran.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2