Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 47


__ADS_3

Michel sibuk mengurusi kedua anaknya yang sudah duduk di meja makan untuk sarapan, dia mengoleskan selai diroti milik anak-anaknya tersebut. Selesai itu dia langsung berjalan kearah laci meja yang tak jauh dari meja makan.


“Papa sama mama pasti sering lupa kalau aku suruh minum vitamin, sampai masih banyak begini” omelnya mengambil botol kecil yang berisi beberapa vitamin didalamnya.


“Mama sering minum itu papa kamu itu yang jarang meminumnya” sahut Vita yang baru saja muncul dari dapur.


“gimana papa mau minum nggak ada yang nyiapin, biasanya Michel. Dia sekarang sibuk, jadi nggak ada yang ngingetin papa” jawab Mahendra yang tengah membaca korannya.


“Ya kan bisa ambil sendiri pa, masa harus dilayani” timpal Vita mengambil duduk di depan kedua cucunya yang tenang memakan sarapan mereka.


“Ini ada apa sih pagi-pagi begini sudah ribut” Mark baru saja turun dari lantai atas penasaran dengan obrolan apa yang terjadi dimeja makan.


“Biasalah Mark,..” kata Mahendra.


“Kak Mark mau makan nasi atau roti, kalau roti aku ambilin dulu” ucap Michel berjalan mendekati sang kakak yang mengambil duduk disebelah mama mereka.


“Nasi aja,” jawab Mark singkat.


“Mark bagaimana Selina, dia sudah memberitahu orang tuanya kalau papa meminta mereka kesini untuk makan malam bersama” Mahendra langsung bertanya pada anaknya soal perintah yang ia berikan waktu itu untuk meminta kedua orang tua Selina datang kerumahnya.


“Sudah pa, dan rencananya nanti mereka bakal kesini.” Jawab Mark.


“bagus kalau begitu,” Mahendra hanya menggut-manggut mendengarnya.


“Nah gitu dong Mark, perempuan harus diberi kepastian, dan orang tua pacarmu sesekali harus diajak kesini “ sahut sang mama.


“iya,.”


“Michel, ayah dan ibumu juga suruh kesini kita makan malam bersama. Kita kan keluarga” tukas Mahendra pada Michel.


Michel yang tadinya duduk sambil sesekali membantu Aira langsung melihat kearah papanya.


“Papa serius mau ngundang ayah sama ibu?” tanya Michel balik.


“Iyalah, dia orang tua kandungmu dan keluarga kita juga”


“Ayah sama Ibu kayaknya nggak bisa pa, soalnya ayah katanya mau berangkat ke Natuna untuk melihat pelelangan ikan disana. Kalau ibu pasti ikut” balas Naina.


“Bisnis ayahmu berarti lancar ya, papa ikut senang mendengarnya.”


“mama juga ikut senang Michel” sahut Vita yang sependapat dengan suaminya.

__ADS_1


“Iya pa, itu juga berkat kalian yang membantu orang tuaku”


“nggaklah, itu berkat tuhan bukan kita” sangkal Mahendra.


“bener kata papa” pungkas Vita yang lagi-lagi sependapat dengan sang suami. Sedangkan Mark hanya fokus makan dan sesekali menggoda bocah kembar didepannya.


Selesai makan Michel dan juga Mark berjalan keluar bersama, tak lupa kedua bocah kecil mengikuti mereka di belakangnya. Michel akan pergi mengantar kedua anaknya sekolah sedangkan Mark akan pergi ke GINAI terlebih dahulu baru dia akan pergi kerumah sakit melkaukan kewajbannya sebagai dokter.


“Kamu yakin, nggak mau kakak anterin?” tanya Mark yang berdiri di sebelah Michle.


“Iya, aku bisa sendiri kak arahnya juga beda jalur masa aku mau nebeng kak Mark” jawab Michel sambil membenarkan tas milik Aiden.


“Aira sini, kamu nanti jangan nangis kalau Aiden masuk ke kelas. Kamu hari ii belum boleh masuk sekolah oke” Michel memegang bahu Aira mensehati bocah kecil itu yang kemungkinan akan iri saat kembarannya masuk kedalam kelas.


“Huh, aku kan udah sembuh ma.” Aira langsung mengerucutkan bibirnya dan meliat kedua tangannya di dada.


“Iih jeleknya anak papa” ejek Mark sambil tersenyum melihat Aira.


“Papa jahat” cibir bocah itu kesal.


“Ya makanya jangan cemberut gitu sayang, gemes deh” Mark langsung mengacak rambut Aira karena begitu gemasnya dengan bocah itu.


“Iya sayang, sebentar”


“Aiden, masa nggak cium papa dulu” ucap Mark yang langsung menghentikan langkah bocah tersebut yang akan masuk kedalam mobil.


“Oh iya, Aiden lupa” bocah laki-laki itu langsung menepuk jidatnya sendiri dan berbalik untuk mencium pipi Mark yang sudah menekuk lututnya agar tingginya sama dengan keponakannya.


“Gitu dong, Kalau Aira masa nggak cium papa juga” ucap Mark dan beralih menatap Aira.


“Cium dong..papa Mark kan ganteng. Aku maunya cium yang ganteng-ganteng” Aira langsung nyosor mencium pipi Mark.


“Pinter..Aiden disekolah belajar yang pinter ya. Aira juga, tapi hari ini nurut apa kata mama ya. Papa pa...”


“Michel itu mobil siapa?” lanjut Mark saat melihat sebuah mobil memasuki pagar rumahnya.


“Entah kak” jawab Michel yang juga tak tahu itu mobil siapa yang baru saja memasuki halaman rumahnya.


Mobil tersebut langsung berhenti tepat didepan Michel dan juga Mark yang menatap penasaran siapa pemilik mobil tersebut.


Pintu mobil itu perlahan mulai terbuka, Mark dan juga Michel semakin penasarn siapa yang turun dari mobil itu. terlihat kaki wanita menuruni mobil itu semakin mengundang rasa penasaran keduanya.

__ADS_1


Deg...


Michel terpaku di tempatnya saat sudah jelas melihat siapa yang turun dari mobil itu. ia terdiam bak patung terus mentap perempuan yang baru saja turun tersebut. Dan buru-buru memalingkan wajahnya sebelum perempuan itu melihatnya.


“maaf, dr. Mark...saya mengganggu waktu anda..” ucap Tari yang sudah berada di depan Mark.


Mark memincingkan matanya, dia tak tahu siapa perempuan didepannya saat ini.


“Maaf anda siapa ya, bagaimana tahu soal saya?” heran Mark sambil menatap Tari dari atas kebawah memastikan kalau dia kenal atau tidak dengan perempuan didepannya.


“Oh, iya saya minta maaf dr.Mark. kenalkan saya Tari dok sekertaris pak Gibran. Saya kesini ingin bertemu adik anda Michel karena ada titipan dari pak Gibran yang harus saya berikan pada non Michel” jelas Tari sambil memperkenalkan dirinya pada Mark.


“Eh saya lupa juga, saya kenal dr. Mark karena dokter kan pernah muncul di salah satu majalah terkenal dan melakukan wawancara yang luar biasa sehingga membuat saya dan suami saya kagum pada anda. Anda begitu menginspirasi kita berdua dok” lanjut Tari.


“Terimakasih” jawab Mark singkat.


“Saya boleh bertemu dengan adik anda, Michel ada kan dok?”


“Ini mamaku disini tante” sahut Aiden yang mendengar perempuan dewasa didepannya mencari mamanya.


“Iya ini adikku, Michel..” ucap Mark dan memanggil Michel. Michel tak kunung menoleh, dia merasa sedikit bingung harus bersikap bagaimana saat dia berhadapan dengan Tari ia tidak bisa berbohong pada sahabatnya yang pernah menolong dirinya dulu. apalagi Tari past dia bisa melihat kalau ini dirinya Naina.


“Michel ada yang mencarimu” lagi Mark memanggil Michel dan memegang tangan adiknya tersebut agar melihat ekdepan. Mark merasa sedikit aneh dengan sikap Michel saat ini..kenapa adiknya seakan takut untuk melihat kedepan.


“Ada apa?” bisik Mark ditelinga Michel.


“Ngg..nggak kak” jawab Michel


Tari sendiri hanya diam smabil memperhatikan dia merasa penasaran kenapa adik dari Mark seakan tak mau melihat kearahnya bahkan terkesan menyembunyikan wajah darinya.


“Ma..maaf, memang apa yang Gibran titipkan” perlahan Michel memutar tubuhnya.


Sebentar nona Michel, barangnya ketinggalan di mobil” ucap Tari yag belum sempat melihat wajah Michel. Dia langsung berlari kecil kembali ke mobil untuk mengambil sebuket bunga dari dalam mobilnya.


“Ini bunga da...” Tari terdiam saat akan menyerahkan sebuket bunga yang ia bawa pada Michel.


“Naina..” gumamnya dan bunga yang ia pegang terjatuh ke tanah karena dia cukup terkejut melihat siapa yang bediri didepannya saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2