
Gibran dan Naina saat berada di dalam kamar, mereka masih berada di rumah Mahendra. Tak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka, naina sendiri bingung harus memulai bicara darimana di saat Gibran tak mengingatnya.
Gibran sendiri saat ini tampak sibuk berbicara dengan seseorang di telpon, jujur itu mengundang rasa penasaran Naina. Bagaimana dia tidak penasaran, saat ini suaminya sedang amnesia jadi siapa yang pria itu hubungi,. Apa mungkin Erlan atau Khalif, pikir Naina berusaha menghilangkan rasa penasarannya.
Daripada dia diam di atas tempat tidur lebih baik dirinya pergi keluar untuk mengambil minum, sebelum dirinya tidur. Naina langsung berjalan turun dari tempat tidur, dan akan berjalan ke pintu.
“Kamu mau kemana?” tanya Gibran yang menyadari Naina akan keluar.
“Aku mau ambil air putih di dapur” jawab Naina sambil melihat kearah Gibran.
“Biar aku saja yang mengambilnya,” Gibran mematikan ponselnya dan dia langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Kamu lanjutkan saja mengobrol dengan temanmu, aku bisa ambil sendiri” tukas Naina menolak bantuan Gibran. Dia memegang knop pintu dan akan memutarnya tapi Gibran langsung buru-buru menahan tangan Naina.
“Kalau jadi istri jangan keras kepala, dengarkan apa kata suami” ucap Gibran yang sudah berada di sebelah Naina.
Naina langsung tertegun dengan ucapan Gibran tersebut, untuk hari ini kesekian kalinya Gibran mengakuinya sebagai istri.
“Sudah kamu balik ke tempat tidur,” perintah Gibran pada Naina.
“Sabar ya anak papa, biar papa yang ambilkan” ucap Gibran lembut sambil memegang perut Naina. Sontak saja Naina melebarkan matanya dengan sikap Gibran barusan.
Setelah mengatakan itu Gibran langsung keluar dari kamar, sedangkan Naina terdiam di tempatnya.
“I..ini nggak mimpi kan..i..ini beneran tadi Gibran bicara dengan anak yang aku kandung” Naina begitu tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Dia menampar pelan wajahnya, memastikan kalau ini bukan mimpinya.
“Bukan mimpi,” gumamnya setelah menampar dirinya sendiri.
“semoga ini awal yang baik” harap naina, dia langsung berjalan kembali ke tempat tidur.
...............................
Naina terbangun dari tidurnya, namun ada sesuatu yang seperti mengikatnya saat ini membuatnya terasa tak nyaman apalagi dengan perut besarnya. Perlahan dia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat ini mendapati Gibran yang sedang memeluk dirinya dan wajah pria itu tepat di depan perutnya. Gibran terlihat sedang mencium perutnya saat ini.
Pagi Naina begitu membahagiankan saat ini mendapati suaminya yang memeluk dirinya erat. Wajah tampan itu begitu memukaunya.. sungguh Gibran memang sangat tampan.
Tangan naina mengusap lembut rambut suaminya yang memang posisi Gibran tidak selaras dengan posisi Naina. Pria itu sedikit kebawah.
Gibran yang merasakan sentuhan di kepalanya sedikit terganggu, dan membuatny membuka mata. Saat matanya terbuka dia mendapati Naina yang tengah mengusap kepalanya, sontak perempuan itu langsung menyingkirkan tangannya saat Gibran membuka matanya.
“Ma..maaf aku tidak bemaksud mengganggumu” ucap Naina terbata merasa tak enak karena telah mengganggu tidur Gibran.
Gibran mendongak melihat wajah Naina yang juga terlihat takut padanya, tak ada jawaban dari mulut pria tampan tersebut.
Dia melepaskan pelukannya pada Naina, Naina sendiri langsung menjauhkan dirinya dan akan bangun tapi Gibran menahannya.
“Mau kemana? Tidur lagi saja ini masih cukup pagi” ucap Gibran sambil menarik pelan tangan Naina agar berbaring kembali. Gibran sendiri langsung tidur di bantal, dan posisinya kini sejajar dengan Naina.
Naina diam menatap Gibran di depannya,
“Bukannya kamu bilang hari ini mau kembali kerumahmu, ini sudah pagi” ucapnya menatap sang suami.
__ADS_1
Gibran yang akan memejam kan matanya, langsung membuka matanya kembali melihat kearah Naina.
“Ini masih cukup pagi, nanti saja. kamu tidur lagi saja” pungkas Gibran.
“Aku tidak bisa tidur lagi, aku mau keluar saja mungkin anak-anak memerlukanku” ucap Naina yang memang masih terasa canggung dengan Gibran. Dia masih sedikit takut, takut kalau Gibran bersikap seperti waktu di rumah sakit waktu itu menuduh dirinya yang mengejar-ngejar”
“Anak-anak sudah ada yang mengurus, apa gunanya orang tuamu mengerjakan penjaga anak-anak. Sudah tidur lagi saja” tukas Gibran kembali menarik lengan Naina sehingga membuat Naina kembali berbaring di sebelahnya.
Gibran diam sesaat, mengamati wajah Naina yang telihat menelisik dirinya. Gibran tanpa aba-aba memeluk istrinya itu membuat Naina sekali lagi terkejut dengan sikap Gibran yang begitu lengket dengannya sedari kemarin.
“Kamu memelukku?” ucap Naina tertahan.
“Ya memang kenapa? Kamu istriku kan. sudah ayo kita tidur lagi, nanti kalau takut kesiangan kamu aku bangunkan. Nanti saja agak siangan kita kembali kerumahku” pungkas Gibran menyuruh Naina untuk kembali tidur. Gibran sendiri langsung memejamkan matanya mengabaikan tatapan Naina.
...................................
Mobil yang di kemudiakan Gibran sudah sampai di rumahnya, dia memang mengemudikan mobilnya sendiri tanpa menyuruh sopir meskipun tadi Mahendra sempat meminta sopir mengantarnya. Tapi Gibran menolak sopir yang di perintahkan oleh ayah mertuanya tersebut.
“Yey, kita sudah sampai..Aiden kita sudah sampai di rumah kita dulu” heboh Aira sambil melihat keluar mobil memandang rumah yang mereka tinggalkan selama dua minggu.
Aiden melihat keluar, dia tidak seheboh Aira tapi dia senang karena bisa kembali kerumah mereka lagi.
“Kalian senang kita kembali kesini lagi?” tanya Gibran sambil tersenyum melihat kebelakang dimana anak-anaknya terlihat begitu gembira.
“Senang pa, ayo ma turun..ayo ma” ucap Aira dan membuat lamunan Naina tersadar. Sedari tadi Naina menatap kearah Gibran ada yang aneh pada suaminya. Gibra terlihat seperti Gibran yang dulu bukan yang dia amnesia.
Gibran langsung sadar dan melihat kearah sang istri,
“Kenapa kau melihatku seperti itu, ayo turun..anak-anak sudah mengajak turun” ucap Gibran pada Naina dan dia langsung turun terlebih dahulu. Pria itu terlihat memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Naina.
“Aiden, Aira hati-hati kalau turun” ucap Naina memperingatkan kedua anaknya karena mereka turun dengan terburu-buru sangking antusiasnya.
“Ayo, kamu juga turun” ucap Gibran saat membuka pintu mobil. Pria itu mengulurkan tangannya pada Naina.
Naina tak banyak berpikir langsung menerima uluran tangan tersebut, dia turun perlahan dengan di bantu oleh Gibran.
“Ayo Aiden, ayo.. aku kangen sama rumah kita” ucap Aira pada kembarinya agar lebih cepat lagi berjalannya.
“Anak-anak jalan lari nanti jatuh” seru Gibran memperingatkan kedua anaknya.
“Siap pa jawab Aira”
“Aira dengerin kata papa jangan alri” ucap Aiden pada kembarannya yang berlari menaiki anak tangga kecil yang menuju pintu rumah mereka.
Gibran dan Naina sendiri berjalan di belakang mereka, Gibran terus menggenggam erat tangan istrinya menuntun secara perlahan sang istri.
Naina menerima saja sikap lembut Gibran, karena dia begitu merindukan perlakuan Gibran yang seperti ini.
Gibran langsung membuka pintu rumah mereka, dan saat pintu terbuka ratusan balun jatuh di atas kepala mereka. Naina tentu saja terkejut karena tiba-tiba ada ratusan balon yang jatuh bukan balon saja tetapi beberapa kelopak bunga serta kertas seprti ulang tahun juga jatuh dari atas.
Ditambah di depannya ada sederet lilin dan juga bunga yang tertata cukup indah, semua hal itu membuatnya terpukau. Sungguh dia tak tahu apa maksud semua ini..
__ADS_1
“Ayo masuk,” suara gIbran membuat dirinya sadar, Gibran langsung mengajak Naina masuk tak jau mereka berjalan ada sebuah tulisan yang terbuat dari bunga tertulis cukup rapi.
“Sayang, Aku minta maaf karena sudah melupakanmu. Aku janji tidak akan melupakanmu dan anak-anak lagi. Aku menciuntaimu Naina” begitulah tulisan tersebut tertulis. Naina yang membaca itu berkaca-kaca dan dia langsung melihat kearah Gibran yang berada di sampingnya.
“Kamu suka sama kejutan yang aku buat” ucap Gibran lirih.
“Sekarang kamu inget aku, kamu benaran sudah ingat dengan kita. Jahat..kamu jahat..kamu jahat tahu nggak” Naina langsung menangis sambil memukuli dada Gibran.
Gibran sendiri langsung menarik Naina kedalam pelukannya,
“Aku minta maaf sayang, aku benar-benar minta maaf. “
“Kamu bohongi aku selama ini, kamu pura-pura lupa ingatan kan?” Naina berusaha melepaskan pelukannya dari Gibran.
“Nggak, aku nggak bohong. Aku benar-benar lupa ingatan..”
“Bohong”
“beneran sayang, aku baru ingat kalian kemarin” jawab Gibran jujur.
“Huhuhu, kamu jahat sama aku hik hiks” Naina langsung menangis haru.
Gibran memeluk istrinya kembali,
“Aiden Aira sini sayang sama Om,” ucap Erlan yang baru saja muncul dari dalam memanggil dua keponakannya.
“OM Erlan,. Kita kangen sama OM” seru Aiden dan juga Aira, mereka langsung berlari menghampiri Erlan.
“Kalian lanjutkan saja, anak-anak biar sama aku” ucap Erlan mengajak kedua bocah itu pergi memberikan wakt berdua untuk sang kakak.
“Erlan tahu kamu sudah ingat?”
Gibran hanya bisa mengangguk, tangannya masih berada di pinggang sang istri.
“Kamu tega sama aku, Erlan kamu beritahu aku nggak”
“Ya ini aku beritahu,”
“Kalau dia tidak aku beritahu, kejtan ini nggak mungkin ada sayang”
“Hhuhu,” Naina hanya bisa menangis haru.
“Jangan nangis dong” Gibran memeluk kembali istrinya. Dan dia memberikan kecupan di kening Naina.
Pelukannya langsung mengendur, saat dia melihat bibir istrinya yang menggoda, tak meminta ijin terlebih dahulu Gibran langsung mencium Naina. Naina tak menolak sama sekali. Dia menikmati ciuman sang suami, dia cukup merindukan ciuman ini.
Keduanya berciuman cukup mesra dan terkesan panas, melepaskan kerinduan mereka selama ini. kerinduan yang cukup menyakiti Naina. Namun kini semuanya sudah berakhir, Gibran sudah kembali mengingatnya dan mereka akan bahagia selamanya bersama anak-anak mereka.
°°°
**TAMAT
__ADS_1
Terimakasih sudah setia sama Novel Author yang ini, akhirnya novelnya selesai juga. Maaf ya readers kalau author ada salah-salah kata..dan maaf kalau novelnya nggak sesuai ekspektasi kalian..Dan maaf lagi kalau author jarang nyapa kalian..sekali lagi maaf ya readers
sampai jumpa di Novel author selanjutnya..🤗**