
Naina sudah bangun lebih dulu, dia menyingkirkan tangan Gibran dari tubuhnya. Ia perlahan menggapai ponsel miliknya yang berada di nakas meja yang tepat berada di sebelahnya. Perempuan itu melihat jam di layar ponselnya dan ternyata masih jam empat subuh, ia pikir sudah kesiangan ternyata masih cukup pagi.
Meskipun masih terlalu pagi Naina tidak memutuskan untuk tidur lagi, dia langsung beranjak dari ranjang. Lebih baik ia membuat sarapan sekarang nanti tinggal mandi dan membangukan Gibran karena hari ini mereka bisa tidak bisa harus pulang. Dia janji pada anak-anaknya kalau hanya dua hari saja di puncak.
Naina saat ini sudah berada di dapur, dia mengambil beberapa kornet dari dalam kulkas dan juga ia langsung mengambil nasi dari dalam rice cooker.
“Ah lupa, kan di kulkas ada telur. Aku goreng aja buat lauk” ingat Naina, kenapa juga dia tak sekalian mengambil telur tadi. Perempuan itu kembali membuka kulkasnya mengambil dua butir telur yang ada di dalam kulkas tersebut.
Dia langsung mengambil wadah kecil untuk tempat ia memcahkan telur tersebut, dia akan membuat telur dadar. Sarapan pagi cukup dengan nasi goreng dan juga telur goreng yang penting perut mereka terisi saat di perjalanan menuju ibu kota.
Perempuan itu begitu telaten menyiapka sarapan untuk dirinya dan juga sang suami, dia mengiris daun bawang dengan hati-hati.
“Aku kira kamu kemana sayang?” Gibran tiba-tiba saja muncul di depan Naina dengan muka bantalnya. Pria itu berjalan dengan sedikit terhuyung karena masih mengantuk. Dia bangun karena merasa di sebelahnya kosong tak ada sang istri.
“Kenapa kamu sudah bangun, tidur lagi sana ini masih pagi banget, aku buat sarapan dulu” pungkas Naina meminta suaminya untuk kembali tidur saja.
“Ya justru masih pagi banget kenapa kamu malah sudah buat sarapan, tidur lagi yuk” ucap Gibran mengajak Naina tidur lagi. Dia duduk di kursi yang berada di depan sang istri mereka terpisah ole pantry dapur.
“Aku mau buat sarapan biar nanti nggak kesiangan kita pulangnya” balas naina sembari memasukkan daun bawang ke telur yang sudah di kocok tadi.
Gibran diam saja smabil menguap, dia sebenarnya masih mengantuk. Pria itu tak bicara apa-apa langsung berdiri dan berjalan menghampiri Naina yang sibuk mengaduk daun bawang dengan telur agar tercampur.
Gibran langsung saja memeluk Naina, membuat perempuan itu melihat sekilas Gibran dan menghentikan kegiatannya saat ini.
“Ayolah jangan ganggu aku” ucap Naina sambil melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
“Kita mau pulang hari ini kan? aku minta tolong sama kamu sih sayang”
“Minta tolong apa?”
Gibran melepaskan pelukannya di perut Naina, dia langsung memutar tubuh istrinya agar menghadap kearahnya.
“Mau apa?” heran Naina karena Gibran tiba-tiba saja memutarkan tubuhnya hingga menatap pria tersebut.
Gibran tak menjawab dia langsung megangkat Naina keatas Pantry, mendudukkan perempuan itu.
“Gibran jangan aneh-aneh deh, kamu mau apa sih. Aku mau masak” tukas Naina.
“Kali ini aja, aku mau kamu. masa kita disini nggak ngapa-ngapain dari kemarin sibuk terus hari ini mau pulang masa kita nggak ngapa-ngapin sih sayang. Terus kapan adiknya si kembar lahir” Gibran memasang wajah memelas, membujuk sang istri.
“kamu masih mikirin itu?”
“Iyalah, cowok normal masa nggak mikirin begituan sama istrinya pas pergi berdua. Ayoklah,..” bujuk Gibran, dia benar-benar menginginkan sang istri sungguh istrinya candu baginya.
“Terus kalau kita begituan ini semua bagaimana?”
“Jawaban kamu begitu, berarti itu mau tandanya. Biarin aja begini,” pungkas Gibran dan langsung mencium Naina.
__ADS_1
Dia mencium sang istri dengan kecupan manisnya, dia langsung melepaskan ciumannya tersebut saat Naina tak menolaknya. Gibran langsung melihat wajah istrinya yang memejamkan matanya.
“kenapa?” tanya Naina saat tak merasakan ciuman Gibran di bibirnya.
“Nggak pa-pa,” jawab Gibran sumringah. Dia langsung mencium kembali istrinya dan dia menggendong sang istri dengan bibir mereka yang masih tertaut satu sama lain.
Gibran membawa Naina ke kamar mereka, dia langsung menaruh istrinya di atas tempat tidur membuka baju tidurnya terlebih dahulu sehingga hanya dada polosnya yang terlihat.
“Masa kita pagi-pagi mau..” ucapan Naina terhenti karena Gibran langsung berada di atasnya.
“Nggak pa-palah” jawab Gibran dan dia mencium kembali bibir Naina. Dia perlahan melepaskan semua yang melekat di tubuh sang istri. Naina tak diam saja dia juga membantu suaminya tersebut.
Naina langsung mengalungkan tangannya dia leher Gibran dan Gibran ******* habis bibir istrinya itu hingga turun ke gunung kembar Naina.
“Arkhh,” Naina melenguh atas apa yang dilakukan Gibran.
Mendengar itu semakin menambah gejolak Gibran dan dia langsung melakukan apa yang harus dia lakukan. Berkali-kali Naina mencoba menahan rintihannya karena nyeri dari apa yang di lakukan suaminya saat ini.
“Arkh, Gi..Gibran pelan..pelan” rintihnya tertahan memegangi kepala Gibran karena pria itu sibuk pada gunung kembarnya.
“Iya sayang” jawab pria tersebut dan dia kembali mencium istrinya, dan berkali-kali dia memasukkan miliknya hingga mencapai klimaksnya
...................................
Setelah pergulatan yang cukup lama di atas kasur, keduanya saat ini sudah mengenakan baju yang cukup rapi untuk kembali ke ibu kota. Gibran sesekali melempar senyum pada Naina yang menata barang-barang di ransel.
“kenapa senyum-senyum?” tukas Naina saat melihat suaminya yang sedari tadi tersenyum.
“Mau apa lagi?’ Naina yang menyadari sang suami berjalan mendekat kearahnya langsung waspada karena tahu sendiri Gibran sering modus.
“Kenapa sih, aku nggak mau ngapa-ngapain. Aku cuman mau benerin baju kamu, kelihtan orang nanti kamu malu lagi” goda Gibran sambil mengancingkan kancing kemeja atas Naina dan mengura rambut sebahu sang istri agar menutupi lehernya.
Naina tentu saja sadar kenapa Gibran melakukannya, bercak merah bekas ulah Gibran terlihat begitu jelas di lehernya karena pria itu tadi pagi melakukannya berkali-kali dan memberikan bekasnya di situ.
Gibran langsung tersenyum saat Naina tersipu malu,
“Mm merah, malu ya sayang” ucap Gibran sambil memegang kedua pipi Naina. Perempuan itu yang tadinya diam sambil menunduk langsung mendongak kearah Gibran.
“Sudah-sudah minggir sana, kamu ganggu aku aja..kalau nggak kamu aja nih yang beresin aku mau ke kamar mandi dulu” Naina benar-benar gugup saat ini.
“Grogi ya dekat sama aku sayang” goda Gibran saat sang istri berjalan melewatinya.
“itu rapiin dulu” tukas Gibran dan buru-buru berjalan ke kamar mandi.
Gibran dengan senang hati melakukannya, karena dia sudah dapat jatah dari istrinya.
“Terserah orang-orang kalau menganggapku terlalu bucin dengan istri. Yang penting aku bahagia” gumamnya sambil memasukkan powerbankd dan barang-barang lain kedalam ransel mereka.
__ADS_1
“Aira, Aiden sebentar lagi kalian punya adik. Adik kalian segera datang..” Gibran tersenyum sendiri membayangkan saat itu tiba. Jujur dia memang ingin segera punya anak lagi karena dia ingin menemani istrinya hamil dia ingin menjadi suami yang siap sedia bagi istrinya.
Saat hamil si kembar dulu kan Naina tidak bersama dengannya dan dia dulu hanya merasakan ngidam simpatik saja, jadi kali ini dia ingin menjadi suami yang sesungguhnya. Masa lalunya yang jahat dulu akan dia tebus saat ini, dia akan benar-benar mencintai Naina dan anak-anaknya hingga akhir hayatnya.
....................................
Reyhan dan Mark saat ini tengah berada di satu mobil yang sama. Reyhan datang untuk menjemput rekannya itu karena mobil Mark sedang ada di bengkel mobil lainnya di pakai sang istri dan lainnya lagi di pakai papanya. Ada total empat mobil dulu dirumahnya tapi karena Naina sudah tidak tinggal dirumahnya lagi jadi mobil adiknya itu jelas di bawa orangnya.
“Maaf bro, aku ngeropotin kamu”
“Nggak pa-pa, santai aja. Tadi kok si kembar ada dirumahmu..bukannya kamu bilang Michel sudah pindah kerumah suaminya”
“Iya, dia dan suaminya ada pekerjaan jadi anak-anaknya di titipkan dirumahku. Mama juga kangen sama cucu-cucunya” jawab Mark.
“Kamu kapan mau nikah, biar nggak kesepian. Biar punya anak seperti keponak-keponakanku tadi, aku lihat kau tadi menikmati bermain bersama mereka” lanjut Mark sambil melihat kearah Reyhan yang tengah menyetir mobil.
“Entah kapan belum ada rencana”
“masa, waktu itu sebelum Michel kembali dengan suaminya kau bilang ada rencana mau menikahi adikku. Sekarang kenapa bilang belum ada rencana?”
Skak,
Reyhan langsung terdiam mendengarnya, dia bingung harus menjawab apa saat ini.
“jangan bilang belum Move On dari Michel, ayolah Reyhan ada banyak perempuan yang menyukaimu. percuma kau memendam perasaan pada adikku karena itu tak mungkin akan terwujud”
“Iya aku tahu, aku sudah Move dari adikmu. Hanya saja saat ini aku belum ada pikiran lagi untuk menikah. Aku ingin fokus dengan pekerjaanku, lagi pula orang tuaku juga sibuk di luar negeri dan kakak-kakakku juga sedang sibuk. Jadi kalau aku menikah sekarang siapa yang akan hadir” tukas Reyhan yangs edikit jengah aslinya tapi mau bagaimana lagi Mark sahabatnya.
“Ya sudahlah terserah kamu saja” pungkas Mark.
“Reyhan sebelum kita kerumah sakit, kita mampir ke mall di depan. Aku ingin membelikan mainan untuk para pasien anak dirumah sakit” lanjut Mark pada sahabatnya itu.
“Oke” jawab Reyhan, dia langsung melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.
Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua sampai di basement mal tersebut, Reyhan tiba-tiba saja mengerem mendadak karena ada seorang yang tiba-tiba berlari kedepan mobilnya saat ini.
“Reyhan, kau bagaimana menyetir mobil”
“Bukan aku yang salah tapi orang di depan kita” tukas Reyhan sembari membuka pintu mobil untuk melihat orang yang tiba-tiba muncul didepan mobilnya barusan. Untung saja dia buru-buru mengijak rem bisa-bisa dia menabrak orang itu.
“Siapa?” ucap Mark karena tak melihat ada orang didepan mobil. Dia langsung ikut turun dan baru terlihat orang tersebut yang berjongkok sambil menutupi wajahnya ketakutan.
“Kau tidak punya mata nona, bagaimana kalau kau tertabrak mobil..” ucapan Reyhan terhenti.
“Nona Alisha?” ucap mark yang seperti mengenali perempuan tersebut. perempuan itu membuka tangannya yang gemetar menutupi wajah dan menoleh kebelakang benar saja itu Alisha.
“Do..dokter Mark..” Alisha langsung berdiri dan dia bersembunyi di belakang Mark saat ini. Reyhan yang berada di situ menatap bingung kenapa perempuan itu tampak ketakutan dan langsung bersembunyi di belakang Mark.
__ADS_1
°°°
T.B.C