Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep.106


__ADS_3

Naina bangun dari tidurnya, tidurnya malam ini terasa begitu nyenyak sekali meskipun sedikit nyeri pada perutnya. Dia membuka matanya saat ini mendapati Gibran yang masih tidur dengan nyenyaknya sambil memeluk dirinya saat ini, melihat Gibran yang tertidur di sebelahnya membuat hatinya menghangat. Sungguh pemandangan indah setelah seminggu lebih dia merasa gelisah.


Naina tak lepas menatap Gibran yang tertidur, senyum terukir di wajah cantik Naina sambil memandangi suaminya. Naina melihat Gibran yang terlihat mengernyitkan dahinya serta keringatnya yang tiba-tiba saja begitu banyak di dahi pria tersebut. reflek tangan Naina langsung mengusap keringat yang ada di kening suaminya, dia terlihat cemas karena Gibran seperti kesakitan dalam tidurnya.


“Kamu mimpi apa sayang?” lirih Naina sambil mengusap kringat gibran.


“Semoga kamu cepat mengingatku, aku benar-benar tidak bisa kalau kamu cueki begini” Naina mulai berkca-kaca, dia terus memegangi wajah tampan Gibran tak ingin pria di sampingnya melupakan dirinya. Sungguh dia berharap Gibran cepat mengingatnya.


“Aku minta maaf, aku salah Naina jangan tinggalkan aku” igau Gibran sambil memegang tangan Naina yang ada di wajahnya. Dia langsung terbangun dari tidurnya, Gibran terdiam saat melihat wajah cantik Naina yang tepat berada di depannya.


Naina sendiri sedikit terkejut, dia terus menatap Gibran karena pria itu tadi menyebut namanya dalam tidur.


Gibran tak bersuara tangannya masih memegangi tangan Naina menatap lekat perempuan yang ada di depannya.


“Kamu kenapa? Kamu mimpi buruk atau ada yang sakit?” tanya Naina karena Gibran tak berbicara sama sekali dan terus menatap kearahnya.


“Apa benar kau istriku? Apa dulu aku pernah menyakitimu sampai kau pergi dari hidupku?” Gibran melontarkan pertanyaan tersebut membuat Naina menutup multnya rapat.


“kenapa kau diam saja? aku bertanya padamu?” tukas Gibran karena Naina hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya.


“Apa kalau aku menjawabnya kau percaya padaku?” tatapan sendu ditampakkan Naina.


“Michel, maaf menggang...” Reyhan masuk kedalam ruang rawat Naina sambil membawakan sarapan untuk perempuan itu tapi langkahnya terhenti saat melihat Naina tidak sendiri di ranjang rumah sakit.


Gibran dan juga Naina yang saling tatap tadi bersamaan langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


“dok..dokter Reyhan,.” Naina langsung buru-buru bangkit dari posisi berbaringnya dengan kesusahan. Gibran langsung reflek membantu Naina untuk duduk dan dia langsung turun dari ranjang tersebut.


“Maaf mengganggu kalian, kalau begitu saya pergi dulu” ucap Reyhan yang merasa telah mengganggu kebersamaan sepasang suami istri itu. Dia menemui Naina karena ia pikir Naina tengah sendirian karena Mark yang sedang bertugas.


“Dokter Reyhan kenapa buru-buru, tidak kau tidak mengganggu kita” ucap Naina sebelum Reyhan berbalik untuk keluar.


Gibran yang tadinya terus menatap tajam Reyhan langsung melihat kearah Naina yang berucap seperti itu pada pria lain. Seakan perempuan di depannya menahan pria itu untuk pergi.


“Ada apa dokter Reyhan? Apa ada yang ingin di sampaikan padaku?” tanya Naina dari tempatnya.


“Tidak ada, saya kesini hanya ingin memberikan bubur ayam kesukaan mu” ujar Reyhan sambil sekilas melihat kearah Gibran yang terlihat tak suka padanya.


“Waah mana dok kebetulan aku lapar” Naina langsung antusias mendengar bubur ayam. dia memang menginginkan sarapan itu.


Gibran langsung menatap tak percaya pada Naina yang terlihat antusias dengan makanan yang dibawakan oleh dokter yang bernama Reyhan itu.

__ADS_1


“Kau siapanya? Kau bukan kerabat atau kakaknya kan. Bawa saja bubur itu keluar..aku bisa membelikan untuk istriku” sinis Gibran terlihat tak senang.


Reyhan yang mendengar perkataan ketus itu sadar diri, tapi dia juga sedikit terkejut karena Gibran terlihat cemburu.


“Meskipun kau lupa ingatan tapi hatimu sepertinya tidak” batin Reyhan, dia tersenyum tipis. Ia sama sekali tak marah atas perkataan Gibran barusan malah dia ikut senang kalau di dalam hati Gibran masih mencintai Naina. Dia ikut senang kalau Naina senang, tak ada rasa cemburu pada dirinya.


“Michel sepertinya aku tidak perlu memberikanmu bubur ayam ini, sudah ada yang akan membelikanmu. Aku pergi dulu ya, sebentar lagi kakakmu akan kesini” ucap Reyhan smabil tersenyum dan berbalik pergi dari ruangan Naina. Naina yang tadinya terlihat antusias kini terlihat cemberut, tentu saja itu tak lepas dari pengamatan Gibran.


“kenapa kau sedih tidak jadi makan bubur ayam darinya, disini siapa yang suamimu? Kenapa dia melayanimu seperti melayani istrinya. Kau ingin bubur ayam kan? aku belikan tunggu disini” Gibran langsung keluar begitu saja untuk membelikan bubur ayam untuk Naina, entah mengapa lagi-lagi dia tak suka kalau ada pria lain yang perhatian pada perempuan yang di bilang semua orang sebagai istrinya.


Naian yang melihat itu terlihat tak menyangka kalau Gibran akan bersikap seperti tadi..


“Apa kamu cemburu Gibran? Semoga saja iya dan semoga saja kamu cepat mengingatku..aku benar-benar merindukan dirimu suamiku” harap Naina sambil melihat pintu yang ditutup perlahan oleh Gibran.


................................


Dua hari setelah Gibran yang menemani Naina tidur di ranjang rumah sakit, pria itu kini kembali keruang rawat Naina setelah kemarin dia tidak menemui perempuan itu. Dia kemarin masih menenangkan dirinya soal kenyataan kalau mamanya telah tiada dan beusaha menerima kalau Naina memanglah istrinya. Dia akan mencoba untuk tinggal bersama perempuan itu sambil mencoba mengingat moment-monet mereka. Karena kata Erlan dan juga Khalif mereka banyak moment bersama di rumah dan juga kantor makanya sekarang Gibran menemui Naina ingin menyampaikan pada perempuan itu untuk mulai hidup bersama meskipun ingatannya belum pulih.


Tapi saat Gibran masuk kedalam ruangan itu, ruangan tersebut sudah kosong tidak ada orang sama sekali di situ.


“kemana dia? kenapa tidak ada disini?” bingung Gibran dan dia langsung berjalan kearah kamar mandi siapa tahu Naina ada di situ. Namun di kamar mandi juga tidak ada, Gibran langsung kebingungan dia berlari kecil keluar dari ruang rawat tersebut. kebetulan juga ada seornag perawat yang melintas di depan kamar Naina.


“Dimana pasien yang ada di ruangan ini?” tanya Gibran pada perawat perempuan itu.


“Dia sudah pulang, kau yakin?”


“Iya mbak Michel sudah pulang dari tadi dengan kedua orang tuanya dan juga dokter Mark”


“Michel? Siapa Michel?”


“Yang menempati ruangan ini” jawab perawat itu.


“Bukannya perempuan itu namanya Naina?” heran Gibran.


“Namanya Michel mas bukan Naina, tapi ada beberapa orang yang memanggilnya Naina.” Jelas perawat tersebut.


“Terimakasih kalau begitu” ucap Gibran dan langsung pergi begitu saja, dia berjalan cepat meninggalkan perawat wanita itu.


“Bisa-bisanya dia tidak bilang padaku kalau keluar dari rumah sakit, bukannya dia bilang aku suaminya” gerutu Gibran sambil berjalan. Dia sedikit kesal karena Naina tidak memberitahu dirinya kalau sudah bisa pulang.


.................................

__ADS_1


“Dimana dia sekarang?” tanya Gibran pada Mark yang berada di depannya saat ini. Gibran sudah sampai di rumah Mahendra dia juga sudah masuk kedalam rumah tersebut.


“Siapa yang kau maksud?” Mark balik bertanya pada pria yang tak ada soapan santun menuutnya.


“Perempuan itu, dimana dia sekarang?”


“Perempuan itu siapa?”


“jangan pura-pura tidak tahu dokter Mark, istriku lah siapa lagi?” ketus Gibran yang mulai tersulut emosi.


“Kau sudah mengakui Michel istrimu?”


“Sudahlah tidak usah banyak bertanya, aku ingin bertemu dengannya dimana dia?”


“Sikapmu dulu apa seperti ini tidak tahu sopan santun, Gibran yang ku kenal meskipun menjengkelkan tapi dia punya sopan santu pada kakak iparnya” ucap Mark terdengan menyindir Gibran.


Gibran membuang muka jengah, dia begitu malas untuk menanggapi tujuannya saat ini hanya Naina. Dia ingin bicara dengan perempuan itu.


“Sudahlah, kepala ku pusing dan kau menamba pusing. Dimana istriku, aku ingin bertemu dengannya” tukas Gibran dan langsung berjalan begitu saja melewati Mark yang menghalangi dirinya. Dia tak perduli pada pria yang katanya sebegai kakak iparnya tersebut.


“Kau benar-benar menyabalkan ya..kalau kau tidak amnesia sekarang sudah aku hajar dirimu” kesal Mark dari belakang Gibran dia menghela nafas meladeni sikap Gibran yang di luar batas saat ini.


“kamarnya ada di depanmu, masuklah” meskipun kesal tapi mark memberitahu dimana kamar Naina berada. Gibran yang mendengar itu langsung masuk kedalam kamar yang di tunjuk oleh Mark barusan.


Gibran langsung masuk kedalam dan dia cukup terkejut karena bertepatan dengan itu Naina baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya.


“ma..maaf aku tidak bermaksud” Gibran langsung membelakangi Naina yang juga sama terkejutnya karena ada yang masuk kedalam kamarnya saat ini dan itu Gibran.


“bentar, aku suaminya kenapa aku harus berbalik saat melihat dia begitu” pikir Gibran dan dia langsung berbalik lagi melihat kearah Naina yang masih berada di tempatnya menatap kearahnya saat ini.


“Kau benar-benar ya,?” ucap Gibran sambil berjalan mendekat kearah Naina. Naina langsung tersadar dari tatapannya ke Gibran, dia diam saja dengan ucapan pria itu. Dia kecewa karena kemarin Gibran tak menemuinya sama sekali dan pria itu juga sudah pulang dari rumah sakit tak memberitahu atau menjenguknya.


Naina berjalan begitu saja melewati Gibran yang akan mengajaknya bicara tapi siapa sangka kakinya yang basah hampir terpeleset untuk saja Gibran langsung sigap menangkapnya.


“Kau..” geram Gibran menangkap Naina yang hampir terjatuh.


“Kalau anakku kenapa-kenapa apa kau mau tanggung jawab” marah Gibran sambil melihat wajah Naina.


Naina yang masih dalam posisi di tangkap oleh Gibran menatap pria itu, dia terkejut dengan ucapan Gibran barusan.


“Apa dia mengingatku, apa dia mengakui ini anaknya?” batin Naina bertanya-tanya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2