Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 54


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Gibran mendatangi rumah Mahendra dan semenjak it Gibran tak pernah terlihat. Michel sendiri sudah was-was kalau-kalau Gibran mendatangi dirinya lagi bahkan dia juga sudah mengundurkan diri sebagai wakil irektur di rumah sakit Mark. Itu ia lakukan agar dia bisa mengantar jemput anaknya agar tidak di temui oleh Gibran.


Saat ini dia sendiri tengah berada di dalam mobil yang terparkir di depan sekolah Aiden dan juga Aira menunggu jam pulang sekolah mereka. Dia bukannya egois tapi ia belum siap untuk berdamai dengan Gibran meskipun itu semua demi anak-anaknya, luka yang ditorehkan Gibran dulu masih begitu terasa sakit dan membekas di hatinya hingga saat ini.


Michel dia melamun menatap keluar mobil, ia mengingat ucapan papanya seminggu lalu soal Gibran.


FLASHBACK ON


Mahendra mengajak Michel berbicara berdua saja di ruang kerjanya, Michel merasa gelisah dengan apa yang akan di katakan papanya nantinya.


“Ada apa pa?” ucap Michel saat Mahendra sudah duduk di meja kerjanya.


“Yang tadi kesini benar ayah kandung Aira dan juga Aiden, dia suamimu?” Mahendra penatap wajah Michel penasaran.


Michel diam saja, dan sesekali dia menunduk.


“jawab ichel, papa menyuruhmu kesini bukan untuk melihatmu diam?” tukas Mahendra dengan tegas.


“Iya, dia suami ku pa. Dia ayah dari Aira dan juga Aiden” Michel akhirnya menjawab dengan jujur.


“Kenapa kau tidak bialng dari dulu, kalau suamimu Gibran Montana. Dia anak Alfred Sinaga kan?”


“karena aku tidak ingin membahasnya lagi pa, dia orang yang kejam. Aku tidak ingin mengingat wajah atau namanya lagi. Aku juga takut kalau sapai papa tahu dia anak dari Papa Alfred papa dan kak Mark bisa dalam masalah. Mereka keluarga berkuasa pa,”lirih Michel yang mencemaskan kemungkinan tersebut jika dia jujur.

__ADS_1


“Seberkuasanya mereka, memang aku tidak bisa berkutik kalau sudah mengganggu keluargaku, papamu dan kakakmu juga orang yang berpengaruh Michel meskipun tidak sekaya mereka. Harusnya kau bilang dari dulu, kalau kau bilang dari dulu dia suamimu papa sudah mengusirnya saat dia pertama kali ketemu Aiden di rumah sakit”tutur Mahendra menyayangkan ichel yang tidak jujur dari dulu.


“Aku minta maaf pa,”


“Sudahlah tidak usah minta aaf, itu sudah lewat.s ekarang kau mau apa? apa kita laporkan saja perbuatan Gibran atas perlakuannya dulu padamu. Kita tuntut dia melakukan KDRT?” pungkas Mahendra.


“jangan pa, aku..aku tidak ingin melakukannya. Aku takut malah hal yang tidak diinginkan terjadi, aku tidak ingin menuntutnya soal itu. aku takut imbasnya pada anak-anakku”


“Terus kalau kau tidak mau menuntutnya, kau mau apa sekarang bagaimana kalau dia mengganggumu dan anak-anakmu lagi?”


“Entah aku bingung pa”


“Kau masih mencintainya?”


Mahendra diam, sambil memperhatikan Michel, dia menangkap hal yang berbeda pada putrinya itu. memang diwajah ibu muda tersebut masih menyimpan luka yang diberikan Gibran tapi dari tatapan lain sepertinya Michel masih menaruh rasa pada suaminya. Karena bukan karena anak juga yang menjadikan perempuan itu tidak melaporkan Gibran selama ini. tapi karena perasaan tak tega alias cinta. Tapi itu seua tertutupi rasa trauma yang cukup berat.


“Michel papa boleh memberikan pendapat soal masalahmu ini?” tanya Mahendra dengan sedikit hati-hati.


“pendapat apa pa?” Michel yang tadi menunduk dan seakan tak tenang langsung menatap kearah papanya.


“Papa rasa kamu jujur saja pada anak-anakmu bilang kalau papa mereka masih hidup dan papanya adalah Gibran.”


“Nggak pa, aku tidak akan pernah memberitahu anak-anakku soal papa mereka”

__ADS_1


“Michel bagaimanapun Gibran adalah papa dari kedua anakmu, kamu tidak inginkan kejadian tadi terjadi kedepannya. Kamu tidak ingin juga kan kedepannya Aira dan Aiden membencimu, kamu tidak lihat reaksi Aiden saat kamu dikatakan pembohong. Dia sampai sakit karena memendamnya sendiri, apalagi nanti kalau dia sudah dewasa dia bakal diam saja dan menjadikan psikologisnya terganggu. papa rasa lebih baik kamu jujur saja Michel. Papa yakin dihatimu yang terdalam kau menginginkan kebahagian anak-anakmu kan, kau ingin mereka bersama dengan papanya..coba kamu tanyakan pada hatimu yang paling dalam” nasehat Mahendra cukup panjang, bukannya dia ingin ikut campur tapi ini juag demi kebaikan Michel. Tebakanya Michel seperti karena merasa denda atas perbuatan Gibran dulu.


FLASHBACK OFF


“Nona, Nona..” terdengar suara panggilan orang dari luar mobil yang tengah engetuk-ngetuk kaca mobil Michel. Michel langsung tersadar dari lamunannya saat ini, dia melihat kelaur dimana sang scurity yang ada di sekolah anaknya memanggil dirinya.


“Silahkan masuk, wali muruh sudah di iinkan masuk kedalam” pungkas security itu pada Michel yang menurunkan kaca mobilnya.


“Ia pak terima kasih” ucap Michel dan menaikkan kembali kaca mobilnya. Dia langsung menjalankan mobilnya masuk kedalam halaman sekolah itu.


Ternyata Gibran juga berada di situ, mobilnya berhenti agak jauh dari mobil Michel. Dia memang smeinggu ini meantau mereka secara diam-diam, karena dia memilih untuk memberi ruang bagi Michel menenagkan dirinya atas apa yang dia lakukan seminggu lalu. Ia seperti ini karena mendengarkan nasehat Khalif dan juga Nanda serta kedua mertuanya. Dan mereka juga berniat mebantu kalau dirinya bisa bersabar lebih lama lagi, akhirnya Gibran memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat saja.


“Aku bakal menunggumu siap Nai.. tapi hanya satu harapku jangan buka hatimu untuk pria lain. Aku tidak bisa kalau kau jadi milik orang lain” gumam Gibran terus memandang mobil Michel yang masuk kedalam. Dia begitu gusar dan tak tenang semenjak beberapa hari lalu dia yang tengah mengawasi Michel melihat perempuan itu jalan dengan seorang pria dengan mengajak anak-anaknya pergi ke mall bersama. Sungguh itu membuatnya sakit hati, ia merasa cemburu dengan itu semua. Itu angannya sedari dulu dan harapannya saat naina masih hidup. Tapi dia belum bisa melakukannya, dan malah orang lain yang melakukan hal itu.


Gibran membuka ponselnya, dia melihat foto USG Naina dulu yang dia sandingkan dengan foto Aira dan Aiden saat usia beberapa bulan. Foto itu dia dapat dari ibu mertuanya. Dia waktu itu langsung mendatangan sang ibu mertua menceritakan semuanya dan mengatakan kalau dia benar-benar ingin melihat dan berbicara lama dengan kedua anaknya. Sebagai solusi mertuanya memberikan foto Aiden dan juga Aira meminta dirinya mengutarakan semua yang dia rasakan di foto tersebut.


“Maafin papa ya sayang, papa belum bisa bertemu kalian. Tapi papa pasti akan bertemu kalian, kita pasti bisa bertemu. Semoga mamamu cepat mengijinkan papa bertemu dengan kalian” harap Gibran, dia berbicara pada foto tersebut.


“Papa janji pada kalian berdua, kalau papa sudah bisa bertemu dengan kalian papa akan jadi papa yang tebaik untuk kalian berdua, papa mohon juga semoga kalian tidak akan enerima orang baru selain papa” Gibran bermonolog sendiri didalam mobil sambil mengusap lembut foto anak-anaknya yang ada di ponselnya saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2