Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 50


__ADS_3

Gibran datang kerumah Khalif saat ini, dia langsung masuk begitu saja kedalam rumah itu saat sang pemilik rumah membukakan pintu untuknya.


“Ada apa? tumben kau main kerumahku?” tanya Khalif penasaran karena tak biasanya Gibran main kerumahnya.


Gibran langsung duduk di sofa, dia gelisah sendiri seakan tak tenang. Dia sesekali menggenggam kedua tangannya gelisah.


“Kau ada masalah apa?” tanya kHalif yang tahu kegelisaan Gibran saat ini.


“Apa aku salah kalau mengancam Naina, aku kesal dia tidak mau mengakui kalau itu dia” Gibran mulai mengutarakan kegelisahannya karena merasa bersalah karena mengancam Michel kemarin.


“Kamu mengancam dia bagaimana? Dan kenapa kau harus mengancam Michel bukannya kau sendiri yang bilang akan mengikuti sandiwara yang dia lakukan. Kenapa kau jadi tidak sabaran begini” ucap Khalif mendekatkan dirinya pada Gibran, ia memegang pundak pria itu agar lebih tenang.


“Aku kesal saja padanya, masa dia bilang pada anak-anakku kalau aku sudah tiada. Aku hanya ingin bersama anak-anakku apa itu juga tidak bisa” kesal Gibran sambil mengingat bagaimana kemarin dia melihat Aiden di sekolah dan dengan memberanikan dirinya ia mendekati Aiden dan bicara kalau ialah papa dari bocah itu. tapi bocah itu tidak percaya dan malah menangis sehingga dia di usir dari sekolahan tersebut.


“Kamu tahu dairmana kalau Naina bilang kalau kau sudah tiada,”


“Aku tanya sendiri pada Aiden anak laki-lakiku, kemarin sebelum menemui Naina aku kesekolahan bocah itu. aku menemui dia, dan saat dia mebahas soal ayah, aku tidak bisa berbohong aku langsung bilang kalau aku ayah mereka dan bocah itu tidak percaya kalau aku ayahnya dan malah menangis” jelas Gibran mengacak rambutnya kesal.


“Kau yakin cuman bilang itu, kenapa dia harus menangis kalau kau bilang dirimu ayahnya. Harusnya dia senangkan, dia bocah lima tahun yang rindu kasih sayang seorang ayah”


“Aku bilang juga kalau mamanya berbohong, karena mengatakan kalau ayah mereka sudah tiada.”


“Kau gila berkata seperti itu pada bocah lima tahun yang selama ini diasuh mamanya, dia jelas menangis saat orang yang dia sayang dikatakan berbohong. Kau seharusnya bersabar Gibran, dia masih kecil dan Michel sendiri belum berterus terang padamu kalau dia Michel”


“Tapi aku benar-benar ingin bersama dengan anak-anakku, aku benar-benar ingin bersama mereka Khalif, kau pasti mengerti perasaanku”


“Iya aku mengerti perasaanmu tapi kau harus sabar, dan caramu mengancam Michel agar dia mengaku sangat salah Gibran. Karena apa yang kau lakukan barusan malah membuat dia berpikir kalau dirimu masih Gibran yang dulu bukan yang sekarang dimana kau sudah berubah” Khalif berusaha menasehati Gibran soal itu yang dilupakan pria tersebut.


Gibran mengusap wajahnya kasar, dia baru sadar akan apa yang dia lakukan setelah mendengar ucapan Khalif.


“kenapa aku tidak memikirkan sampai situ, Michel selama ini selalu menganggapku dan menilaiku kejam. Dan kenapa aku malah memperburuknya” lirih Gibran menyesali yang telah dia lakukan tadi.


“Sekarang baru sadar, kemarin kemana saja. kalau mau emosi ditelaah paki otak dulu jangan asal menuruti emosi” sindir Khalif menatap Gibran yang frustasi dengan dirinya sendiri.


.........................................


Michel berjalan cepat keluar dari ruangannya, dia akan menemui Mark yang ada di balkon rumah sakit bersama dengan rekan-rekan pria itu. sebenarnya dia malas untuk menemui kakaknya saat bersama dengan rekan-rekannya, karena dia tidak bisa langsung bersosialisasi dengan orang-orang abru tapi Mark terus memaksanya.

__ADS_1


Brukkk


Terjadilah tabrakan antara Naina dengan seorang pria yang memakai jas dokter. Pria itu sama-sama akan masuk kedalam lift karena Michel yang sangking terburu-burunya begitu juga pria itu membuat keduanya bertabrakan saat memasuki lift.


“Maaf, maaf saya tidak senga..ja dr.Reyhan” ucap Michel sedikit menggantung karena sembari dia mencari name tag dokter tersebut yang tersemat di jas dokternya.


Jujur dia sebagai wakil Direktur di rumah sakit ini belum tahu seua siapa dokter yang bekerja dirumah sakit kakaknya saat ini.


“Iya tidak apa-apa, itu juga salah saya karena tidak berhati-hati” pungkas Reyhan yang juga merasa bersalah.


“Nona Michel kan? adik dr.Mark?” ucap Reyhan saat dia baru sadar kalau didepannya adalah adik dari rekan kerjanya.


“Iya,” jawab ichel singkat, suasana agak canggung diantara mereka berdua.


“anda ma..mau ke lantai berapa?” tanya Michel sambil menatap dokter disebelahnya yang hanya diam tak menekan tombol lift sama sekali.


“Mau ke lantai atas, ke balkon lebih tepatnya. Dr.mark menunggu saya disana” jawab Reyhan sesekali memperhatikan wajah Michel dia lebih banyak memalingkan wajahnya dari perempuan didepannya.


“Sama kalau begitu, saya juga mau ke balkon.” Sahut Michel dan langsung menekan tombo; lift paling atas.


“Kamu juga mau bertemu dengan dokter Mark?” tanya Reyhan penasaran.


Reyhan hanya menganggukkan pelan kepalanya, dan dia kembali diam tapi ia masih sesekali mencuri pandang pada Michel.


“bagaimana kamu betah di Indonesia?” tanya Reyhan tiba-tiba.


“hah..”


“Nggak lupakan saja” ucap Reyhan.


“Nona Michel, kita belum saling kenal satu sama lain. Mau kenalan denganku?” lanjut Reyhan yang tiba-tiba saja mengajak berkenalan.


Michel langsung melihat kearah Reyhan,


“Ya boleh dokter, salam kenal juga. saya Michel” pungkas Michel tak keberatan.


“Salaman dulu kalau begitu” ucap Reyhan dan langsung mengulurkan tangannya pada Michel.

__ADS_1


“Reyhan,” ucap Reyhan.


“Michel” jawab Michel sembari membalas jabat tangan Reyhan barusan.


“Kita teman kan sekarang, saya sudah menunggu dari lama agar bisa berkenalan dengan perempuan cantik seperti nona Michel”


“dokter Reyhan bisa saja, dan jangan panggil saya nona. Panggil saja Michel,..” tukas Michel.


“Baiklah, biar nyaman begitu kan” balas Reyhan.


“Yups tepat dok,”


“kalau biar nyaman, jangan panggil saya dokter juga dokter juga dong. Panggil namaku saja” pinta Reyhan.


“tapikan anda dokter, rasanya tidak enak kalau memanggil dengan nama” ucap Michel.


“ya tidak apa-apa, kita kan teman”


“Tapi kalau yang lain merasa terganggu karena saya memanggil anda dengan sebutan naa saja bagaimana?”


“Kenapa harus pikirkan orang lain, kan saya kamu panggil bukan mereka. Bagaimana? Mau memanggilku nama saja?”


“Tidak ah dok, saya tetap akan memanggil dokter Reyhan dokter.” Kukuh Michel.


“Ya sudah kalau kau menolaknya, tapi yang penting kita sekarang bertemankan”


“Iya “


“Syukurlah, kau mau menjaid temanku. Aku pikir aku tidak akan bisa dekat denganmu” pungkas Reyhan.


“kenapa dokter Reyhan berpikir begitu, kitakan satu pekerjaan disini”


“ya karena kau anak pemilik rumah sakit dan kakakmu dr terkenal”


“Itu mereka bukan saya, dan saya bukan siapa-siapa” ucap Michel merendah, ya bukan merendah sih karena memang dirinya bukan siapa-siapa tanpa keluarga Mahendra.


Kedua orang itu lalu bersikap santai hingga lift berhenti di lantai atas, mereka segera berjalan bersama menuju balkon tempat dimana Mark dan yang lain sudah menunggu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2