Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep. 104


__ADS_3

“Ayo pulang” ucap Gibran pada Khalif yang duduk di sebelahnya.


Khalif sontak melihat kearah Gibran yang berdiri dan mengajaknya pulang.


“Kau gila Gibran, kita belum bertemu anak-anakmu kau sudah mengajak pulang” tukas Kalif ikut berdiri dari duduknya.


“kita disini sudah setengah jam dan mana yang kau bilang anak-anakku” Gibran benar-benar tidak sabaran. Dia baru menunggu setengah jam tapi sudah mengajak pergi.


“Kau tidak lihat mobilnya masih mengantri” ucap Khalif sambil menunjuk kearah mobil milik Mahendra.


Gibran membuang mukanya, sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia benar-benar malas untuk menunggu.


“Gibran ayolah, jangan kekanakan begini. cobalah juga untuk mengingat masa lalu mu” pinta Khalif terdengar memohon.


Gibran yang mendengar ucapan sepupunya itu langsung melihat kearah Khalif, dia menatap serius wajah pria didepannya.


“Apa benar ini sudah delapan tahun berlalu dan aku sudah punya anak?” batin Gibran sambil menatap Khalif.


“Baiklah aku tunggu sebentar lagi” Gibran kembali duduk di kursi yang berada di pos scurity.


Khalif langsung menghela nafas lega saat Gibran menuruti ucapannya, begitu juga Khalif dia langsung berjalan duduk di sebelah Gibran.


Mereka kembali menunggu mobil Mahendra keluar dari area sekolah,.


“Pak Gibran? Kenapa duduk disini pak? Kok masuk aja” tiba-tiba ada seorang berbaju hitam engan name tag bertuliskan Juna di bajunya. Dia scurity di situ,.


Gibran yang merasa namanya di panggil langsung menoleh kebelakang, dia menatap penuh tanya tentang siapa pria yang berdiri di depannya.


Khalif juga ikut melihat kearah pria itu,


“Maaf anda siapa?” tanya Gibran.


Juna mengernyitkan dahinya,


“Saya Juna pak, petugas keamanan di sekolah ini. pak Gibran tidak ingat dengan saya, kita sering bicara dulu pak.” Heran Juna menatap aneh pada Gibran.


“maaf kapan saya pernah berbicara dengan anda, saya saja tidak kenal dengan anda”


Mendengar itu Juna semakin terkejut apalagi dengan ucapan serta tatapan Gibran yang seperti memandang rendah dirinya.


“Anda sedang bercanda atau apa pak, pak Gibran sering ke sekolah buat jemput Aiden sama Aira pak dan kita sering ngobrol”ucap Juna masih berusaha mengingatkan Gibran soal dulu mereka yang sering mengobrol sewaktu Gibran menjemput kedua anaknya.


“Arghh, bisa berhenti bicara kau membuat kepala ku pu..arggh” Gibran memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing dan dia melihat seklebat bayangan di kepalanya.


“pak Juna maaf, saya ikut nimbrung. Sebentar pak,.” Khalif langsung berdiri dan merangkul Juna mengajak pria itu berjalan agak jauh dari Gibran.


“Pak Juna maaf atas ucapan Gibran tadi, Gibran sedang amnesia pak dia baru saja mengalami kecelakaan seminggu lalu” Khalif mencoba menjelaskan kondisi Gibran agar Juna tidak salah paham atas ucapan Gibran tadi.


“Ya ampun serius pak, pantas dia tidak mengenali saya barusan padahal kita sering ngobrol dan makan siang bareng” kaget Juna saat mendengar Gibran mengalami amnesia saat ini.


“Bagaimana kok bisa sampai amnesia pak? Apa parah kecelakaannya?” lanjut Juna.


“ya lumayan pak, doa kan Gibran ya pak semoga dia cepat mengingat masa lalunya. Soalnya kasihan istri dan anak-anaknya”


“Iya pak pasti saya doakan semoga pak Gibran mengingat kembali, benar kasihan bu Adiba saya dengar dia sedang hamil besar ya sekarang”

__ADS_1


“Iya” lirih Khalif sambil sesekali menunduk sedih.


“Khalif,.” Tukas Gibran memanggil Khalif yang malah asik mengobrol dengan petugas keamanan tersebut.


“Hemmm” balas Khalif dan dia langsung mengajak Juna mendekat kembali pada Gibran.


“Pak itu mobil pak mahendra tolong bapak berhentikan sebentar, saya ingin bicara dengan Aiden dan juga Aira” ucap Khalif saat melihat mobil milik Mahendra yang sudah mengantri untuk keluar dari sekolah.


“baik pak” Juna langsung menurut pada perintah Khalif barusan.


.............................


“Mark, Mark..” Vita berjalan berlari keluar dari dalam kamar Michel mencari anak sulungnya.


“Ada apa ma?” Mark muncul bersama dengan Shelina yang baru saja dari luar.


“Adikmu Mark, adikmu jatuh dari kamar mandi dia kesakitan sekarang” ucap Vita dengan panik dia menarik-narik tangan Mark agar segera melihat Naina.


“Apa?” kaget Shelina dan juga Mark bersamaan.


“kok bisa jatuh ma, ayo ma..” Mark yang mendengar itu tentu saja langsung ikut panik dia buru-buru masuk kedalam kamar Naina.


Naina sendiri saat ini mengerang kesakitan di tempat tidur, dia memegangi perutnya yang mengencang.


“Arggh, arghh..please nak kamu harus baik-baik saja, tolong jangan kenapa-kenapa” Naina benar-benar kesakita dan juga dia terlihat ketakutan. Dia takut anak yang ada di perutnya kenapa-kenapa..


“Ma.mama..” ucapnya smabil merintih menahan sakit.


“Michel kau kenapa? Perutmu sakit?” Mark yang sudah masuk melihat kearah adiknya.


“kak sakit,..” rintih Naina melihat Mark yang terlihat panik.


“iya sebentar” ucap Mark berusaha menghilangkan paniknya saat ini. dia memeriksa denyut tangan Naina memastikan kalau adiknya stabil. Tapi baru saja dia memeriksanya Mark sudah di kejutkan dengan kaki Naina yang berdarah.


“Mark..” ucap Shelina yang juga menyadari adanya darah yang keluar di bawah baju Naina.


Mark tak tinggal diam, dia langsung mengangkat Michel


“Michel kau sabar ya, jangan panik ya. Tahan sebentar kakak akan membawamu ke dokter kandunganmu” ucap Mark yang membopong Michel.


“Ma, Shelina tolong bawakan baju Michel dan nanti kalian menyusul dengan papa. Aku bawa Mcihel kerumah sakit lebih dulu” pungkas Mark sambil berjalan cepat membopong Naina keluar dari kamar.


Vita dan juga Shelina langsung melakukan apa yang di perintahkan Mark barusan mereka buru-buru mengambil baju-baju Naina dari dalam lemari.


“Arghh,.kak sakit..”lagi Naina yang berada di gendongan Mark merintih kesakitan.


“Iya sebentar ya” Mark berusaha untuk tetap tenang saat ini.


“Anakku tidak akan kenapa-kenapa kan kak, dia akan baik-baik saja kan” Michel dengan terbata sambil menangis bertanya pada Mark.


“anakmu pasti baik-baik saja, kau percaya pada kakak” Mark berusaha menenangkan Naina. Dia buru-buru membuka pintu mobilnya dengan hati-hati meskipun sedikit kesusahan karena menggendong Naina. Dia langsung menaruh Naina perlahan di kursi mobil, dengan cepat Mark langsung berlari ke kursi pengemudi saat ini. dia harus segera membawa adiknya ke rumah sakit sebelum terjadi apa-apa dengan kandungan Naina.


...........................................


Gibran kesal sendiri dengan Khalif karena sepupunya itu meninggalkan dirinya di mobil Mahendra dan saat ini bocah yang dikatakan anaknya tengah duduk di pangkuannya. Bocah perempuan yang sedari terus saja bicara sedangkan kembarannya hanya duduk diam di belakang.

__ADS_1


“papa kenapa lama banget pulangnya, Aira sama Aiden kangen tahu sama papa” ucap Airan sambil menatap papanya.


“Aira duduk di belakang sama Aiden, papamu capek” instruksi Mahendra menyuruh Aira untuk duduk di belakang bersama kembarannya.


“Nggak mau, aku mau duduk sama papa. Aku kangen sama papa, Opa” pungkas Airan masih tetap pada tempatnya.


Mahendra menatap Gibran yang tersenyum kikuk melihat kearah Airan yang begitu cerewet, bocah itu memang lebih banyak bicara ketimbang Aiden.


“Ada sesuatu yang kau ingat?” tanya Mahendra pada Gibran yang terlihat sesekali memegangi kepalanya.


Gibran langsung melihat sekilas kearah pria paruh baya disebelahnya, dengan masih memegangi kepalanya saat ini.


“Apa benar mereka anak-anak ku?’ tanya Gibran lirih.


Mahendra mengangguk mengiyakan,.


Kepala Gibran terasa semakin sakit sekarang,


“Kau bisa turun dari pangkuan ku” tukasnya tiba-tiba pada Aira. Dia benar-benar pusing dan Aira terus mengajaknya bicara.


Aira yang mendengar itu tentu saja terkejut, karena suara Gibran seperti membentaknya.


“Papa marah sama Aira?” mimik wajah bocah tersebut terlihat sediit takut.


“Aira duduk belakang sama Aiden” lagi mahendra menyuruh cucunya untuk duduk di belakang.


“Aira sini, papa capek dengar kamu ngomong terus” ucap Aiden dari belakang. Dengan wajah yang hampir menangis Aira pindah kebelakang bersama kembarannya.


“Arghh,” erang Gibran tertahan, dia tampak begitu kesakitan memegangi kepalanya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Mahendra sambil memegang bahu Gibran.


“Kepalaku pusing,..” jawab Gibran lirih.


“Kalau kau belum bisa mengingatnya jangan terlalu dipaksa,” nasehat Mahendra.


Gibran diam saja sambil menahan rasa sakit, dan dia sekilas melihat kebelakang dimana bocah yang dia bentak tadi terlihat sedih dan takut melihat kearahnya. Entah mengapa melihat tatapan itu hatinya ikut merasa sakit.


Dan Giban beralih kearah bocah laki-laki yang sedari tadi lebih banyak diam, dia mengamati wajah itu.


“Benar dia mirip denganku dulu, benarkah mereka anak-anakku?” batin Gibran sambil melihat kearah Aira dan juga Aiden.


Mahendra yang sedang menerima panggilan mengalihkan pandangan Gibran, dia menatap pria disebelahnya yang terlihat panik.


“Apa bagaimana bisa, terus Michel bagaimana sekarang kondisinya?”


“Baikalah papa akan menjemput mamamu dan juga Shelina, kau jaga adikmu” ucap Mahendra.


“Pak percepat laju mobilnya,” perintah Mahendra pada supirnya.


Gibran menatap dalam diam kearah Mahendra yang terlihat panik, dia ingin bertanya tapi dia juga merasa kenapa juga harus bertanya. jadi lebih baik dia diam saja toh bukan urusannya, pikir Gibran.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2