
Malam hari Khalif pergi kerumah Gibran, dia yang sebulan lebih liburan bersama keluarga kecilnya tak pernah melihat Gibran sama sekali. Jujur dia begitu mencemaskan sepupunya tersebut tetapi untung saja ada Erlan meskipun Gibran tak terlalu menyukai pria itu tapi pemuda itu selalu menolong dan membantu Gibran.
“Ada apa kesini?” tanya Erlan yang baru saja dari kolam renang.
“Gibran dimana?” tanya Khalif pada saudaranya itu.
“Entah dia belum pulang,” jawab Erlan sambil berjalan kearah sofa ruang tv.
“Apa? jam segini belum pulang. Ini sudah jam sepuluh, sedari kapan dia pulang malam?” tanya Khalif, dia terlihat mengkhawatirkan sepupunya.
“Dia begini sudah sedari seminggu lalu semenjak pulang dari Amerika” jawab Erlan santai sambil menyalakan televisi.
“Dan kau tenang saja seperti ini, dia kakakmu kalau ada apa-apa padanya bagaiman?”
“Hei ayolah bro, dia sudah dewasa dan kau sekarang seperti istrinya saja” pungkas Erlan.
“Kau ingat pulang ternyata, Khalif” tiba-tiba suara bass terdengar mendekat, membuat mereka berdua kompak menoleh melihat siapa yang datang.
“Kau darimana saja? kau membuatku cemas saja Gibran.” Khalif langsung berdiri menghampiri sepupunya yang baru saja datang.
“Ibu mu marah tuh, dari tadi seperti emak kehilangan anak yang gelisah tidak jelas” ejek Erlan pada Khalif.
“Kau bocah,..” kesal Khalif dan akan memukul Erlan tapi tidak jadi saat Gibran berjalan melewatinya menuju sofa yang tidak jauh dari Erlan duduk.
“Gibran, kau belum jawab pertanyaan ku kau darimana saja” desak Khalif, dia menyusul Gibran yang sudah duduk sambil membuka jasnya.
“Kalau aku bilang kau apa akan percaya padaku?” akhirnya Gibran membuka suaranya sambil melihat kearah Khalif.
“memang apa yang akan kau katakan?”
“Dia pasti bilang habis memantau istrinya di depan rumahnya” sahut Erlan cuek tak memperhatikan keduanya.
“maksudnya?” Khalif tak mengerti dengan apa yang dikatakan Erlan.
“Tanya saja pada orangnya” jawab Erlan, agar Khalif bertanya langsung saja pada Gibran.
“Gibran apa maksudnya?”
“Aku habis menunggu Naina dirumahnya” jawab Gibran.
“Hah, maksudnya kau di pemakaman”
“Bukan, aku pernah bilang padamu kan seminggu atau dua minggu lalu kalau Naina masih hidup. Aku mengintainya di rumah orang tua barunya” jelas Gibran.
Khalif semakin tidak mengerti dengan pembahasan saat ini,
“Terserah kau percaya atau tidak tapi aku yakin kalau itu Naina,” lanjut Gibran yang teguh pada pendiriannya.
“Gibran jangan gila, kita tahu sendiri Naina sud....”
“Gibran tidak gila, aku sudah membawanya ke dokter jiwa”
“APA?” Khalif melebarkan matanya menatap tak percaya kalau Gibran pernah dibawa ke dokter jiwa oleh Erlan.
“Aku serius, aku tidak bohong” ucap Erlan saat Khalif menatapnya tak percaya.
__ADS_1
“Aku masih waras, aku bakal buktikan kalau itu memang Naina”
“Gibran pikirkan dulu, bagaimana kalau dia bukan Naina tapi hanya orang yang mirip”
“nggak Khalif, aku benar-benar yakin kalau itu Naina. Aku bakal membongkar kembali makam Naina untuk mengambil DNA yang ada di Jenazah itu.”
“Astaga jangan gila Gibran, ini sudah lima tahun dan soal DNA bukannya waktu itu dokter sudah mengautopsinya kau itu benar-benar Naina”
“Aku tidak perduli,”
“Sudahlah kak Khalif jangan mengganggunya, biarkan saja kak Gibran membuktikan hal itu”
“Oke kalau begitu, aku tanya sekali lagi apa yang membuatmu yakin kalau dia memang Naina?”
“Jantungku selalu berdebar saat melihat wajahnya, bahkan debarannya semakin menggila saat aku memeluknya wakt itu. kedua karena orang yang mirip dengan Naina ini punya anak berumur lima tahun dan dia tak memiliki ayah kandung karena dia memanggil Mark sebagai papa padahal kalau secara kenyataan Mark itu bukan papanya karena kakak dari Michel kedua bocah itu seharusnya memanggil lain”
“Tapikan Gibran, Mark dan siapa tadi Michel kan adik kakak wajar saja kalau anak-anak Michel memanggil Mark sebagai papa karena dia kakak dari ibu mereka. Kau saja di panggil papa juga kan oleh anakku” pungkas Khalif.
“bukan itu intinya, aku mencoba bertanya pada satpam di rumah itu kalau Michel tidak punya suami dan anak kembar itu anak Michel yang terlahir di luar nikah. Kau pikir saja ini sungguh tidak masuk akal kan, kau tahu sendiri Naina saat dinyatakan tiada dulu dia tengah hamil anakku. Menurutmu apa ini kebetulan, wajah mereka mirip dan punya anak yang tidak memiliki ayah”
Khalif memijit kepalanya pelan, dia pusing dengan semua ini. apa benar yang dikatakan Gibran soal Naina.
“Sudahlah Khalif percaya saja pada Gibran, kita lihat nanti apa dia memang Naina atau bukan”
“Baiklah jika kau memutuskan hal itu, tapi apa yang akan kau lakukan setelah tahu kalau itu Naina?”
“Aku akan diam saja, mengikuti permainan dari Naina sampai Naina sendiri yang mengaku padaku. Tujuanku melakukan ini karena aku ingin melihat anak-anakku, aku ingin melihat seperti apa anak-anakku” Gibran memang sudah tahu kalau Michel memiliki anak, karena dia terus mengintai didepan rumah perempuan itu dan mengawasi mereka semua yang berada di dalam rumah keluarga Mahendra. Hal itulah yang membuatnya bertambah yakin kalau itu memang Naina.
“Ya sudah lakukan saja kalau itu keputusanmu” ucap Khalif sambil memegang bahu Gibran memberikan kekuatan untuk sepupunya.
“tapi jangan bilang pada papa dulu soal ini, kau terutama Erlan jangan ember pada ibumu” sungut Gibran menatap Erlan.
....................................
Michel berjalan keluar dari rumahnya bersama kedua anaknya, dia akan mengantar kedua bocah itu ke supermarket yang tidak jauh dari rumahnya saat ini.
“mama beneran ya nanti kita beli eskrim, nggak cuman beli snack yang disuruh bawa ke sekolah” ucap Aiden.
“Iya sayang, nanti beli eskrim juga. ayo Aira Aiden” ucap Michel sambil menggandeng kedua anaknya.
“Michel..” Mark tiba-tiba saja keluar dari rumah dan memanggil adiknya tersebut.
Sontak Michel langsung menoleh kebelakang beserta kedua anaknya yang juga melakukan hal yang sama.
“Iya ada apa kak?”
“Kakak nanti mau ada perlu dengan Selena, kau bisa wakilin kakak ke daerah Sukabumi dengan Yash temanku yang di GINAI”
“Hah, nggak salah kakak nyuruh aku. aku harus nganter anak anak ke sekolah nanti kak terus habis itu aku harus ke rumah sakit bukannya banyak tugas di sana”
“Ya mau bagaimana, hari ini tugas kunjunganku untuk menyurvei lahan perkebunan di daerah situ. Dan itu tugasku dan Yash, karena aku tidak bisa aku menyuruhmu”
“Makanya jangan banyak bisnis repot sendiri kan” gerutu Michel.
“Adikku ini cerewet banget sih, mama kalian cerewet ya masa pagi-pagi begini papa di omelin mama kalian” Mark mengusap kepala Michel dan beralih mengadu kepada dua bocah yang berdiri di sebelah Michel.
__ADS_1
“Huh bener pa, mama memang cerewet. Aku sama Aiden juga sering di omelin mama” adu Aira balik.
“Aira,” sungut Michel.
Aira hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya,
“Kak Mark kenapa mau menemui kak Selena, bukannya kalian marahan. Kak Selena saja nggak mau ketemu sama kakak”
“Makanya itu, aku mau minta maaf padanya. Aku mau melamarnya” lirih Mark sesekali menunduk.
“Serius? Akhirnya kak kau gentle juga kasih kepastian sama cewek” celetuk Michel.
“kau,” Mark langsung menatap Michel.
“Hehehe bercanda, ayo anak-anak kita ke supermarket habis itu mama antar kalian ke sekolah” ajak Michel pada kedua anaknya.
“Michel, bagaimana kau menggantikan ku kan?” tanya Mark.
“hemm, terpaksa tapi..aku tuh males sebenarnya menggantikan kakak. Aku tidak suka dengan rekan bisnismu itu”
“Siapa?”
“Direktur GINAI”
“Maksudmu Gibran?”
“hemmm”
“memang kenapa dengan dia, dia mengganggumu atau di melakukan sesuatu padamu bilang padaku biar aku beri dia pe..”
“nggak kok, aku cuman kesal saja dengan pria itu” ucap Michel memotong ucapan Mark.
“Oh, dia memang seperti itu. awal aku bertemu dengannya aku pikir orangnya menjengkelkan dan juga merepotkan ternyata tidak. Dia orang yang hebat dan baik, apalagi soal jiwa sosialnya yang begitu mementingkan pendidikan anak jalanan dan juga mereka yang tak mampu, kau harus mengenalnya lebih jauh pasti kau bakal mudah bersahabat dengan dia.” uap Mark cukup panjang.
Michel hanya diam saja, dia terlihat tak senang mendengar Mark yang memuji Gibran barusan.
“Andai kau tahu siapa Gibran sebenarnya kak, kau tidak mungkin bicara begini. dia pria kejam di masa lalu ku dulu” batin Michel.
“mama ayok, buruan nanti kesiangan” rengekan Aira dan juga Aiden membuyarkan lamunan Michel.
“Ah iya, mama malah melamun coba. Kak aku pergi dulu,” ucap Michel dan dia langsung pamit pada Mark.
“Iya hati-hati, Aira Aiden jangan nakal ya sekolah yang pinter. Papa sayang kalian,” ucap mark dan dia menyamakan tingginya dengan kedua bocah itu mencium pipi mereka berdua bergantian.
“Siap papa Mark” ucap keduanya serempak.
Michel langsung berjalan menuju mobilnya saat ini, ia segera membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya.
Setelah Michel masuk kedalam mobil, ekspresi wajah Mark terlihat sedih seakan dia begitu patah hati.
“Nai..Kau sepertinya memang ditakdirkan menjadi adikku. Aku hanya bisa memiliki dirimu sebagai adik,” lirih mark.
Dia hari ini akan melamar Selena dan berusaha melupakan perasaannya pada Naina, karena semua itu papanya yang meminta. Papanya cukup pintar karena tahu perasaannya pada Naina selama ini, karena hal itulah sang papa mengancamnya dengan tak menganggap Naina sebagai anaknya lagi. Tentu saja dia tak bisa membiarkan itu, Naina sudah melekat di keluarganya saat ini.
“Mulai detik ini, aku berjanji hatiku hanya untuk Selena dan rasaku pada Michel akan aku hapus selamanya, dia adikku dan tetap adikku” tegas Mark berjanji pada dirinya sendiri.
__ADS_1
°°°
T.B.C