Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 60


__ADS_3

Gibran dan juga Mobil milik ichel secara bersamaan sampai di sekolah Aiden dan Aira, Gibran turun dari mobilnya dan mendekati Michel yang tengah menyerahkan kartu akses masuk ke sekolah tersebut.


Tanpa menunggu atau ijin terlebih dahulu Gibran langsung masuk kedalam mobil Michel membuat perempuan itu langsung menoleh kearahnya yang sudah duduk manis di sebelah Michel saat ini.


“kenapa kau tiba-tiba masuk kedalam mobilku?” tukas Michel merasa tak senang dengan apa yang dilakukan Gibran saat ini.


“Ya aku juga ingin masuk kedalam, bukannya kau tadi mengijinkan ku ikut menjemput si kembar” pungkas Gibran mengingatkan Michel soal itu.


“Tapi tidak satu mobil denganku”


“aku tidak bisa masuk kedalam, aku tidak punya kartunya. Sudah ayo cepat jalan, tuh dibelakang banyak mobil yang juga mau masuk” ucap Gibran sambil menunjuk kebelakang dimana banyak mobil yang sudah berjejer mengantri untuk masuk kedalam sekolah tersebut.


Mau tak mau Michel langsung menjalankan mobil miliknya masuk kedalam area sekolah. Dia mengabaikan Gibran yang tersenyum kecil melihat Michel yang memendam kekesalan padanya.


“Trauma itu diatasi, bukan dihindari” sindir Gibran tak melihat kearah Michel ia fokus melihat kedepan. Michel langsung melihat kearah Gibran.


“Nyindir aku?” ketus perempuan tersebut.


“Nggak aku bicara sendiri” elak Gibran melihat sekilas Michel yang tampak marah terhadapnya.


“Seharusnya kau sadar diri, kenapa aku trauma bukannya malah terus mendekatiku” balas Michel tak kalah ketus.


Gibran langsung balik melihat kearah Michel,


“Iya aku tahu kesalahanku dulu padamu tidak bisa dimaafkan begitu saja, maka dari itu beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku sudah berubah. Kalau kau tidak memberikan ku kesempatan bagaimana bisa kau tahu kalau aku tidak seperti dulu. aku janji juga aku akan menyembuhkan trauma mu itu kau puas. Makanya beri aku kesempatan” tukas Gibran cukup tegas.


“kenapa kau diam saja, setidaknya jawab ucapanku barusan. Okelah kalau kau tidak mau melakukannya karena diriku tapi setidaknya lakukan demi anak-anak kita” ucap Gibran lagi karena Michel tak merespon ucapannya. Perempuan itu dnegan wajah dinginnya fokus menyetir.


“Masih tidak mau menjawab,” ucap Gibran karena Michel malah menjadi mengacuhkan dirinya saat ini.


“Sebaiknya sekarang jangan bahas hal ini, anak-anak sudah di luar” Michel melarang Gibran untuk membahas masalah mereka karena dia melihat kedua anaknya yang sudah berada di luar gedung bersama wali kelas mereka.


“Oke, kalau kau tidak mau menjawabnya. Tapi jangan pernah larang diriku untuk melakukan apapun yang aku suka. Nainaku sekarang ternyata orang yang keras kepala..aku rindu Nainaku yang dulu” ucap Gibran sedikit mengecilkan suaranya.


Michel mencoba mengacuhkan hal itu, dia berusaha fokus melihat kedua anaknya.


Michel dan Gibran saat ini berada di mobil mereka masing-masing, tetapi kedua anak mereka juga terbagi dua. Aira satu mobil dengan Michel dan Aiden satu mobil dengan Gibran.


Suasana di dalam mobil Gibran sendiri saat ini hanya ada keheningan karena bocah lima tahun itu tak berceloteh sama sekali.


“Aiden mau ice cream, om beliin ya?” ucap Gibran yang berusaha membuka obrolan kepada bocah tersebut.

__ADS_1


Aiden yang sedari tadi diam saja, menoleh menatap Gibran saat ini.


“Kamu mau Ice cream?” tanya Gibran lagi saat Aiden melihat kearahnya.


Aiden menggeleng menolak hal itu. tapi dia terus menatap Gibran..dia mencari kesamaan apa yang ada dalam dirinya di wajah pria dewasa di depannya saat ini.


Gibran yang tadinya fokus menyetir karena Aiden seakan tak menyukai dirinya jadi lebih memilih diam. Tapi saat ini dia merasa anaknya itu melihat terus kearah dirinya membuat dia langsung melihat kembali kearah sang putra.


“Kenapa? Ada yang aneh ya di wajah Om?” tanya Gibran sambil memegang wajahnya sendiri.


Bocah itu menggeleng pelan, pandangannya masih terfokus pada Gibran.


“om serius papa Aiden sama Aira?’ tanya bocah itu lirih.


Mendengar itu Gibran langsung mengerem mobilnya, ia langsung menatap kearah Aiden. Apa bocah didepannya sudah mau menerima dirinya.


Gibran meminggirkan mobilnya, karena mungkin inilah saatnya dia untuk mina maaf atas kejadian beberapa minggu lalu dan sekaligus membuat anaknya mengerti kalau dirinya memang papa dari bocah itu.


“Aiden, soal waktu itu Om minta maaf. Om salah karena sudah mengatai mama kamu pembohong. Tapi Om nggak ada maksud begitu..” Gibran mulai berbicara, dia menyadari kesalahannya waktu itu yang mengolok Naina didepan anak mereka.


“Om memang papa kamu sama Aira, kalian berdua anak-anak Om. Kamu percayakan apa yang Om katakan sama kamu, Om papa kamu sayang” lanjut Gibran dengan mata yang berkaca-kaca.


“Maafin papa ya..” ucap Gibran lagi sambil memegang tangan kecil Aiden.


Gibran merasa bingung untuk menjelaskannya apa yang ahrus dia katakan saat ini, kalau berbicara tentang masa lalunya jelas tak mungkin Aiden masih lima tahun tak mungkin dia mengerti akan masalahnya dulu.


“Papa ada salah sama mama kamu, papa..” ucap Gibran dan dia tak bisa melanjutkannya.


“kenapa?”


“Pokoknya papa ada salah sama mama kamu, papa minta maaf ya sayang papa nggak selalu ada buat kalian. Papa minta maaf, kamu mau kan maafin papa.. mau panggil Om papa juga kan?” tatapan mata Gibran penuh pengharapan, ia benar-benar berharap kalau anaknya itu mau memaafkan dirinya dan mau memanggilnya papa.


“Papa..” Aiden langsung menghambur memeluk Gibran, bocah itu sedikit menangis saat memeluk papanya. Ia bukannya menangis sedih tetapi menangis bahagia, karena selama ini dia tidak pernah melihat sosok papa kandungnya. Dan di luar negeri tak begitu mempermasalahkan siapa sosok ayah. Tapi saat dia ada di indonesia dan bersekolah apa-apa yang ditanya siapa papa mereka berdua. Apalagi saat waktu itu ketika di minta untuk membuat Famili tree dia mengisi bagian papanya dengan foto Mark membuat dia ditertawakan karena mengisi bagian itu dengan wajah Omnya. Karena dia tak tahu siapa papa mereka.


Gibran merasa terharu mendengar panggilan itu keluar dari mulut anaknya, akhirnya penantiannya yang berbulan-bulan ini terwujud anaknya memanggil dirinya papa.


“Iya sayang ini papa,” jawabnya sambil membalas pelukan Aiden.


“Maafin papa ya, maafin papa. Papa nggak akan ninggalin kalian lagi..” lanjut Gibran penuh haru. Dia memeluk erat anaknya seakan tak ingin melepaskan pelukan itu. ini momen yang cukup lama dia tunggu selama ini. dan satu masalahnya akhirnya selesai, tinggal dia terus berusaha menerima maaf dari Naina. Dan untuk Aira sepertinya dia tak akan sulit untuk bicara pada bocah itu karena selama ini Aira sudah sangat dekat dengannya ketimbang Aiden makanya dia tadi memutuskan untuk mengajak Aiden saja dalam mobilnya karena dia ingin minta maaf pada anak laki-lakinya tersebut.


............................................

__ADS_1


“Mama, Aiden kenapa sama Om Ibran? Tadi kan aku yang mau ikut?” tanya Aira polos. Dia tadi memang ingin ikut mobil Gibran tapi Gibran malah mengajak Aiden yang jelas-jelas menolak.


“Om Gibran mau minta maaf sama Aiden sayang” jawab Michel yang fokus menyetir.


“Minta maaf? Memang OM Ibran ada salah sama Aiden?”


“Mama juga nggak tahu, kamu mau makan apa? kita mampir ke restoran mau?” ucap Michel yang tak menjelaskan semua. Padahal dia tahu kenapa Gibran mengajak Aiden.


“Nggak, aku mau makan di rumah. Oma macak enak”


“Serius nggak mau?”


“nggak,” jawab Aira menggeleng.


“Aira, mama mau tanya dong sama kamu nak.”


“Apa ma?”


“Misalkan kalau papa nggak di langit, Aira senang nggak?”


“Senang ma, kan aku punya papa jadinya”


“Aira suka sama Om Gibran ya, kenapa kok kamu suka sama dia sayang?”


“Om Ibran lucu, baik sama Aira.”


“Kalau Om Gibran papa Aira sama Aiden, kamu senang nggak?” Michel bertanya hat-hati pada sang anak.


“Senang, tapi kan papa Aira sama Aiden udah nggak ada kan ma”


Michel menelan ludahnya susah payah, apalagi yang harus dia katakan untuk mengutarakan kalau Gibran adalah papa mereka.


“Mama..mama itu Om Ibran sama Aiden” ucap Aira saat melihat Gibran dan Aiden sudah ada di halaman rumah mereka. Sedangkan mobil Michel masih berada di luar pagar rumah.


“Oh iya..” lirih Michel yang baru sadar kalau dia sudah sampai didepan rumahnya. Michel yang menyetir mobil masuk ke halaman rumah melihat Aiden yang sedang bermain dengan Gibran di halaman depan rumah hatinya menghangat melihat Aiden yang tampak senang saat bermain dengan Gibran.


“Mama, mama aku mau turun. Aku mau main sama mereka” ucap Aira yang tak sabar untuk turun dari mobil.


“Ganti baju dulu sayang..” pinta Michel.


“Nggak mau, aku main sama Om Ibran” kekeh Aira dan dia langsung keluar dari mobil saat mamanya sudah mematikan mesin mobil tersebut. Michel yang akan melarangnya tak sempat untuk bicara karena Aira sudah keluar lebih dulu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2