
“Sini tas kamu” Gibran meminta ransel Naina agar dia yang membawakannya.
“Aku aja yang bawa” tolak Naina dan dia malah berjalan melewati suaminya untuk masuk kedalam vila yang mereka sewa untuk semalam.
Gibran tak banyak bicara dia langsung menahan ransel yang di gendong istrinya, dan tentu saja Naina tak bisa berjalan ke depan.
“Kamu apa-apaan sih kayak anak kecil deh” keluh Naina pada suaminya.
“Biarin salah sendiri keras kepala, aku sudah menuruti kamu masa kamu nggak mau nuruti aku” Gibran melepas paksa ransel yang digendong Naina. Naina hanya bisa pasrah sambil menatap terus kearah Gibran.
“Ayo masuk” ajak Gibran dan langsung berjalan lebih dulu meninggalkan sang istri. Dia tentu saja buru-buru pergi sebelum Naina mencak-mencak padanya.
“Kamu kayak anak kecil deh” gerutu Naina sambil berlari kecil mengejar Gibran.
“Biarin wekk..” Gibran menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidahnya.
“Ngeselin” tukas Naina mengejar Gibran yang buru-buru membuka pintu Vila dan masuk kedalam. Mereka seperti anak kecil saja yang saling kejar..keduanya masuk kedalam Vila tersebut dan Gibran tetap mengejek istrinya.
“Gibran berhenti nggak” ancam Naina yang kesal karena suaminya itu terus meledeknya.
“Ya sudah nih aku berhenti” ucap Gibran, dia langsung berhenti berlari menunggu istrinya didepan sofa.
Naina tentu saja tak membuang kesempatan, dia akan memukul pelan suaminya karena sudah mengejek dirinya. Dengan langkah cepat perempuan itu langsung mendekat dan bersiap untuk memukul suaminya.
Naina sudah bersiap mengangkat tangannya, dia akan memukul Gibran tapi sayang tangannya itu ditahan oleh pria tersebut.
“Lepas nggak?” perintah Naina.
“Nggak” jawab Gibran sambil tersenyum. Melihat Gibran yang tersenyum membuat heran Naina.
Tanpa aba-aba, Gibran langsung memeluk Naina dan membawanya jatuh ke sofa sehingga Naina saat ini berada di atas Gibran.
“Kamu kenapa sih, lepasin nggak. Jangan bercanda terus deh, aku capek mau istirahat”
“Ya udah kita begini aja, kan ini istirahat” Gibran semakin mengeratkan pelukannya. Naina berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya.
“Lepasin nggak?”pinta Naina karena dia tak bisa terlepas dari pelukan Gibran saat ini.
“Nggak, cium dulu baru aku lepas”
“Gibran jangan bercanda, jangan kayak anak kecil juga” tukas Naina.
“Ya udah kalau nggak mau, kita tetap gini a...”
Naina mencium Gibran tepat di bibirnya, perempuan itu mengecup bibir suaminya dengan kecupan hangat.
“Puas sekarang, sudah lepaskan” ucap Naina.
“Padahal aku minta dicium disini, malah dibibir kamu pengen ya nyium bibir aku” Gibran menujuk pipi kanannya dan dia menggoda sang istri.
Karena hal itu, pipi Naina memerah. Dia tersipu alu atas apa yang dia lakukan barusan.
“Sudah ah lepas,” dia segera buru-buru melepaskan pelukan dari Gibran.
Gibran langsung melepaskannya begitu saja, dia senang menjahili istrinya. Pria itu tersenyum puas melihat Naina yang tersipu malu.
“Sudah ah, aku mau ke kamar” Naina yang salah tingkah langsung pergi dari hadapan Gibran menuju kamar yang ada di Vila tersebut. Gibran tampak begitu senang karena berhasil menjahili istrinya, inilah pernikahan yang sesungguhnya batinnya. Hubungannya dan Naina sudah mulai ada kemajuan, tinggal menunggu Naina hamil pasti perempuan itu semakin manja padanya.
Gibran tersenyum membayangkan itu, dia langsung buru-buru mengejar istrinya.
“Sayang bikin adik yuk buat si kembar” serunya sambil berjalan di belakang Naina.
“bikin aja sendiri,” jawab Naina yang masuk kedalam kamar.
“Gimana bikinnya kalau sendiri” balas Gibran, mereka berdua malah saling berbalas ucapan saat didalam kamar.
........................................
“Jangan ganggu kembaran aku” ucap Aiden saat melihat kembarannya di ganggu oleh temannya dari kelas lain.
__ADS_1
Seorang bocah laki-laki dan bocah perempuan yang tadi merundung Aira langsung melihat kearah Aiden.
Aira sendiri yang tadi menangis di kerubuni dua orang itu langsung berlari kearah Aiden
“Aiden” ucap bocah itu yang sudah menangis.
“Kalian apain kembaran aku” ucap bocah itu yang menatap kedua temannya.
Keduanya hanya diam,
“jawab, aku bilangin miss kalau kalau nggak mau jawab” tukas Aiden dengan sedikit emosi.
“Kembaran kamu habisnya pelit, kita pinjem pensil warnanya nggak dikasih” jawab bocah laki-laki teman Aiden dan Aira itu.
“Ya kalau nggak di pinjemin jangan maksa” pungkas Aiden.
“masa pinjem aja nggak boleh, mama aku bilang harus saling pinjam sama orang. Dasar Aira pelit” ucap bocah perempuan tersebut dan mengatai Aira pelit.
“Aira nggak pelit kok, kan masih Aira pakai” jawab Aira.
“Bohong, dasar pelit, dasar pelit” ledek bocah itu pada Aira.
“Aira nggak pelit,..” balas Aira sambil menangis.
Aiden yang melihat kembarannya menangis langsung memegang wajah Aira.
“Jangan nangis Aira, biarin aja mereka. Mana pensil warna kamu?” ucap Aiden.
“Itu” tunjuk Aira pada pensil warnanya yang di jatuhkan ke lantai oleh dua bocah tadi.
Aiden langsung berjalan mendekat kearah pensil warna Aira yang tergeletak di lantai. Dia mengambilnya satu persatu memasukkannya kedalam wadahnya.
“Nih ambil, dasar miskin” Aiden langsung membuang itu ke depan dua bocah tersebut. dia marah karena kembarannya di buat nangis oleh dua orang itu.
Bocah perempuan itu terkena lembaran diwajahnya, sehingga membuatnya menangis kencang sehingga membuat teman-temannya masuk untuk melihat.
“Aiden tadi ngelempar kotak pensil warna bu, tuh dahinya Chika merah” adu bocah tersebut.
“benar Aiden” tanya Miss Fira.
“Iya” jawab Aiden jujur, dia bukan type anak pembohong. Begitu juga Aira, karena mamanya dan keluarganya mengajarkan mereka hal-hal yang baik.
“Mereka dulu yang nakal miss bukan Aiden” ucap Aira menghampiri kembarannya.
“Nggak bu, Aiden yang nakal. Dia melempar kotak pensil warna tadi sambil ngatain kita miskin” ucap bocah lima tahun tersebut.
“Aiden, Aira ayo ikut miss keruangan” ucap Miss Fira dan langsung menggandeng tangan bocah kembar tersebut mengajak mereka berdua ke ruangannya.
“Oh iya Bimo sama Delia kalian kan bukan di kelas ini kenapa ada disini kembali keruangan kalian. Miss Hani sebentar lagi mau masuk” ucap Miss Fira.
“iya miss, ayo Delia” ucap Bimo mengajak temannya yang masih sesegukan untuk kembali ke kelas mereka.
Aira dan Aiden saat ini ada di ruangan miss Fira, keduanya duduk di kursi kecil yang ada didepan Miss Fira yang berjongkok didepan mereka berdua sambil menggenggam tangan keduanya.
“Tadi Aiden benar melempar kotak pensil ke Delia?” Miss Fira bertanya dengan lembut pada bocah tersebut.
Aiden mengangguk pelan
“Kenapa, kok sama temannya begitu”
“Tadi Aiden mau..”
“Aira..Miss bicara sama Aiden bukan sama kamu” Miss Fira memotong ucapan Aira barusan membuat bocah tersebut langsung diam.
“Tadi Bimo sama Delia buat Aira nangis, mereka mau ambil pensil warna Aira sama Aira nggak boleh terus Aira di ejek pelit” Aiden menjelaskan dengan bahasanya.
“benar Aira? Kamu tadi nangis karena Bimo sama Delia”
“Iya” lirih Aira.
__ADS_1
“Oke kali ini Miss maafkan kamu ya Aiden, lain kali jangan diulangi lagi ya, kalau Aiden marah sama temannya sudah biarin aja terus nanti bilang ke Miss biar Miss yang marahin mereka” ucap Fira menasehati Aiden.
“Iya Miss” jawab bocah tersebut.
“Ya udah nanti minta maaf ya sama Delia”
“Nggak mau, kenapa aku yang harus minta maaf miss. Kan mereka yang nakal?” jawab Aiden.
“Kan tadi Aiden melempar kotak pensil ke Delia sampai Delia nangis”
“mereka juga buat Aira nangis, kata mama sama Opa kalau yang salah harus minta maaf duluan” ucap Aiden.
“kalau begitu nanti miss bilang sama mereka suruh minta maaf duluan sama kalian, tapi kalian mau kan maafin Bimo sama Delia. Teman nggak boleh loh saling marahan” ucap Miss Fira.
“Iya mau” jawab Aiden dan juga Aira bersamaan.
“Ya sudah yok kita masuk ke kelas, sebentar lagi pulang” Miss Fira langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada kedua bocah itu.
Keduanya langsung memegang tangan miss Fira. Fira langsung menggandeng keduanya berjalan keluar dari ruangannya saat ini.
...................................
Naina saat ini tengah berbicara dengan para pegawai yang memetik teh, dan Gibran tengah berbicara dengan pemilik perkebunan yang ada di sana. Mereka saat ini berada di tengah-tengah perkebunan cuaca cukup sejuk dan menyegarkan mata serta pikiran.
“Bu, Bu Naina pak Gibran bu” seorang tiba-tiba saja datang dengan tergopoh-gopoh.
“Gibran? Gibran kenapa?” tanya Naina berusaha beripikir posistif melihat perempuan paruh baya itu berlari menghampirinya dengan gelisah.
“Pa Gibran, pak Gibran jatuh ke jurang bu” ucap perempuan tersebut.
“APA?” mendengar itu tentu saja Naina terkejut,
“dimana, dimana dia terjatuhnya” Naina sudah mulai cemas dia tak sabar menunggu jawaban dari perempuan itu.
“Disana bu” jawab perempuan tersebut sambil menunjuk kearah Vila nya yang memang tidak jauh dari situ.
Tidak banyak tanya lagi Naina langsung berlari kearah yang ditunjuk oleh perempuan tersebut. karena Vila yang dia tempati tidak jauh dari jurang.
Naina begitu takut saat ini, wajahnya begitu cemas mengkhawatirkan kondisi Gibran sekarang.
Dia berlari cukup kencang meskipun beberapa kali hampir terjatuh karena tempatnya yang tidak rata. Pikirannya saat ini tengah kalut, bagaimana tidak suaminya terjatuh ke jurang dan dia tidak tahu kondisinya seperti apa.
“Gibran, Gibran aku mohon semoga kamu baik-baik saja. aku mohon bertahan sampai tim penyelamat datang” Naina terus berdoa memohon keselamatan untuk suaminya. Sangking dia takutnya Gibran kenapa-kenapa dia terjatuh karena kakinya tersandung batu.
“Aughh” rintih nya kesakitan melihat lututnya yang tergores saat ini. dan darah mulai. Naina tak perduli dengan lututnya yang terluka, dia menahan rasa sakit itu mencoba berdiri untuk melanjutkan langkahnya lagi.
“Augh sakit, tapi aku harus lihat Gibran” rintih nya dan berusaha untuk tetap berdiri.
“mau aku bantu” ucap seseorang tiba-tiba sambil meraih tangan Naina.
Naina yang cukup familiar dengan suara itu langsung berbalik, dia begitu terkejut melihat suaminya yang berdiri gagah didepannya tak terluka sama sekali.
“Ka..kamu, ke..kenapa ada disini kata ibu-ibu tadi kamu jatuh ke jurang” Nana terbata-bata saat melihat Gibran yang berdiri didepannya.
Gibran tidak menjawab, dia langsung menggendong Naina.
“Aku cuman ngerjain kamu, aku yang nyuruh tadi. Aku minta maaf ya, malah buat kamu terluka begini” ucap Gibran dan merasa bersalah telah membohongi istrinya
“kamu,aku benci sama kamu. aku benci. Bisa-bisanya kamu bohongi aku.” kesal Naina sambil memukuli dada Gibran.
“turunkan aku, turunkan” pintanya sambil berontak untuk diturunkan. Di sesekali merintih sakit karena lututnya yang cedera.
“Sakit kan? Sudah aku gendong saja. aku minta maaf ya sayang” lirih Gibran dan mengecup kening Naina.
Naina masih kesal, dan dia terus memukul Gibran, tapi pria itu tak perduli dia tetap menggendong istrinya ke Vila mereka.
°°°
T.B.C
__ADS_1