Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 39


__ADS_3

“kenapa harus buru-buru pulang, kau tidak lelah sudah berkeliling kebun teh. Ini juga sudah malam tapi kau terus memaksa ingin pulang” Gibran mengajak Michel bicara didalam mobil karena perempuan itu tak ingin bicara padanya.


“Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku tidak ingin menginap di Villa mu itu” tegas Michel sambil menatap Gibran.


“Sepertinya bukan itu alasanmu, tadi siapa yang meneleponmu dan yang membuatnya cemas begini” tanya Gibran begitu penasaran, karena setelah menerima telpon dari seseorang Michel langsung bersikeras untuk pulang.


“Bukan urusanmu tuan, kenapa kau selalu ingin ikut campur urusanku. Stop ikut campur urusanku, kita tidak saling kenal” tukas Michel emosi.


Gibran memilih untuk mengalah, dia tak lagi bertanya pada Michel perempuan itu sudah mulai tersulut emosi saat ini daripada mereka terus berdebat di jalan lebih baik ia mengalah. Tapi dia juga begitu penasaran tentang apa yang membuat perempuan didepannya tampak gelisah.


Baru sebentar hening, ponsel Michel berbunyi membuat kedua orang itu langsung menoleh satu sama lain. Michel langsung buru-buru mengangkatnya,


“Iya halo kak, iya sebentar aku lagi dijalan. Aira bagaimana, sudah kakak periksakan?” tanya Michel pada Mark yang berada di seberang sana. Dia tadi dikabari oleh orang tuanya kalau Aira demam dan pulang sekolah langsung muntah-muntah.


“ya sudah kakak bawa kerumah sakit saja, aku masih dijalan ini tolong tenangkan Aiden kak. Dia pasti nangis lihat Aira sakit,..papa sama mama ada di rumah kan” cemasnya mengkhawatir kan kedua anaknya. Kedua bocah itu tak bisa di pisahkan, yang satunya sakit pasti yang satunya menangis takut saudaranya kenapa-kenapa.


Panggilan langsung terputus dan Michel kembali menaruh ponselnya ke dalam tas miliknya, dia menggenggam tangannya sendiri yang berkeringat dingin saat ini.


“Ada apa? siapa yang sakit?” tanya Gibran sekilas melihat kearah Michel.


“Saudara” jawab Michel berbohong.


“Aiden dan Aira siapa? Dia saudaramu?” tanya Gibran curiga. Dia melihat kearah Michel yang sekarang melihat kearahnya perempuan itu tampak bingung untuk menjawabnya.


“Itu anakmu kan, anakmu kembar bukan?” lanjut Gibran terdengar menuntut jawaban.


“Bukan urusanmu, jangan banyak tanya soal keluargaku. Dan siapa juga anakku, sudahlah lebih baik kau dima aku pusing sekarang”


“Sepintar-pintarnya menutupi kebohongan pasti akan terbongkar juga. apa salahnya untuk bicara jujur” cibir Gibran tanpa melihat kearah Michel.


“Kau menyindirku barusan”


“nggak, aku bicara sendiri. kau tidur saja, kalau sudah sampai aku bangunkan”


“memang kau tahu aku akan kemana?”


“Ke Rahen hospital kan?”


Michel hanya diam saja, dia langsung memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Baginya di luar jendela lebih menarik dari pria disebelahnya.


“Aiden, Aira papa datang sayang. Kalian anakku kan?” ucap Gibran dalam hatinya, dia melihat sekilas kearah Michel yang membelakanginya. “Aku tahu kau membenciku Nai, tapi kau tidak bisa memisahkan aku dari kedua buah hatiku. Dan aku yakin kau Naina meskipun aku belum mendapatkan bukti DNA mu” ucap Gibran dari dalam hatinya.

__ADS_1


.......................................


“AIDEN..” seru Michel berlari dikoridor rumah sakit, dia mendekati keluarganya yang menunggu di luar ruangan Aira di rawat.


“mama,..” Aiden yang dipangku Mahendra langsung berlari menghampiri sang Mama sambil menangis.


“Mama, Ira Ma..Ira sakit.. hiks hiks” tangis bocah lima tahun itu di gendongan sang mama.


“Aiden jangan nangis dong,..mama ikut nangis nanti” ucap Michel sambil menghapus air mata sang anak. Dia menggendong anaknya itu mendekati mama dan papanya yang sedang menunggu di kursi tunggu.


“Kamu dari Sukabumi langsung kesini?” tanya Mahendra.


“Iya pa,”


“Sama siapa sayang, kamu sendiri?” tanya Vita karena hanya melihat Michel yang datang sendiri.


“Nggak ma tadi sama rekan bisnis kak Mark. Oh iya kak Mark dimana sekarang?” jawab Michel dan langsung menanyakan kakaknya yang tidak ada di antara mereka.


“kakakmu di dalam menemani Aira, dia nangis terus nyariin kamu” sahut Mahendra.


“Ya udah aku masuk dulu ya pa ma” ucap Michel dan langsung akan masuk kedalam.


“Sini Aiden sama Oma sama Opa aja, nanti nangis lihat Aira di infus.” Ucap Vita dan akan menggendong Aiden.


Bocah itu mengangguk lemah, sebenarnya dia ingin ikut masuk kedalam tetapi dia juga tidak tega melihat saudara kembarnya di infus sambil menangis seperti tadi.


Vita langsung menggendong Aiden dan Michel segera masuk kedalam untuk menemui anak perempuannya.


Tanpa diduga Gibran sedari tadi mengikuti Michel, dia tak langsung pulang setelah mengantar perempuan itu tapi dia memarkirkan mobilnya untuk mengecoh Michel. Dia bisa melihat dengan jelas bocah laki-laki yang tengah menangis digendong Michel tadi dan kini bocah itu bersama dengan orang tua Mark.


Mata Gibran berkaca-kaca melihat bocah itu, hatinya berdesir melihat bocah yang sekilas mirip dirinya saat kecil dulu. perlahan kakinya melangkah mendekat..ia ingin sekali melihat bocah itu dari jarak dekat. Kalau bisa bukan hanya melihat tapi berinteraksi juga dengan bocah yang kemungkinan besar adalah anaknya.


“maaf permisi,.” Lirihnya saat sudah berada di dekat Mahendra dan juga Vita.


Sontak kedua orang paruh baya itu menoleh kebelakang dan mereka menatap penuh tanya pria didepan mereka saat ini.


“Iya ada apa?” tanya Mahendra.


“Maaf Om saya ganggu, saya yang nganter Michel tadi, saya rekan bisnisnya Mark” ucap Gibran memperkenalkan dirinya pada Mahendra dan juga Vita.


“oh, yang nganter Michel. Makasih ya nak sudah nganter anak tante kesini” ucap Vita.

__ADS_1


“iya tan sama-sama” jawab Gibran, tapi pandanganya tak lepas pada bocah lima tahun yang digendong Vita.


“Oma, Om ini siapa?” tanya Aiden pada sang Oma. Dia penasaran dengan pria asing yang belum pernah ia temui tersebut.


“Ini temannya Papa Mark sayang,..” jelas Vita.


“duduk dulu nak,” ucap Mahendra menyuruh Gibran untuk duduk disebelahnya.


“Iya Om” Gibran langsung duduk disebelah Mahendra sedangkan Vita menurunkan Aiden dan duduk didepan mereka berdua.


“Namanya siapa sayang,?” Gibran memberanikan dirinya bertanya pada bocah itu, dia ingin lebih dekat dengan bocah tersebut.


“Tuh Aiden, Omnya tanya di jawab sayang” ucap Vita pada sang cucu.


“Namanya siapa Aiden, jawab dong kalau omnya tanya” pungkas Mahendra karena Aiden hanya diam dan terus berada disisi Vita.


“Aiden” jawab bocah itu lirih.


“Aiden ya..wah bagus namanya.” Ucap Gibran dan dia langsung berdiri menghampiri Aiden berjongkok didepan bocah tersebut.


“Kalau Om, namanya Om Gibran. Kamu mirip sama Om waktu kecil dulu” lanjut Gibran sambil tersenyum mengusap lembut rambut Aiden.


“Masa Om, aku kan mirip papaku. Tapi papa udah nggak..” ucap bocah itu dan langsung menunduk sedih.


Gibran menelan ludahnya, wajahnya seketika berubah dingin.


“Om tante memang ayah dari Aiden kemana?” rasa tak terima seketika membuatnya langsung bertanya seperti itu.


Vita diam tak menjawab dia malah saling pandang dengan Mahendra, keduanya tampak bingung untuk menjawab itu semua.


“Maaf ya nak Gibran bukannya saya tidak mau menjawab pertanyaan mu. Tapi disini ada Aiden dan ini masalah orang dewasa dan ini masalah pribadi jadi maaf kalau tante sama om tidak bisa menjawabnya” jawab Vita.


Gibran memaksakan untuk tersenyum, dia langsung berdiri dari jongkoknya.


“Iya tan tidak apa-apa,” jawabnya terkesan datar. “Kalau begitu saya pamit ya, sampaikan salam saya pada Mark dan Michel” lanjut Gibran yang langsung pamit. Karena dia tak terima dengan semua ini, dia harus segera mencari bukti kalau Michel itu Naina agar dia bisa leluasa dengan anaknya dan agar anak-anaknya tak berpikiran kalau dia sudah tiada.


“Loh kok buru-buru, nggak ngobrol sama Mark dulu” heran Mahendra.


“Nggak Om, saya masih ada urusan lain. Mari Om, tante...dada Aiden sampai ketemu lagi” pungkas Gibran dan langsung pamit sambil menatap Aiden yang balas melambaikan tangan padanya. Bocah itu memang perpaduannya dan naina..tapi dirinya lebih dominan di wajah Aiden. Entah Aira seperti apa, apa dia juga sama atau bahkan lebih dominan ke Naina karena dia perempuan. Gibran langsung berjalan pergi begitu saja,


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2