Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
Kenyataan Pahit


__ADS_3

" Kau gadis yang sangat baik, aku sudah bilang untuk tidak bersikap berlebihan seperti itu. Aku sangat senang membantumu dan membuat mu menjadi lebih baik. " Ucap Alex sambil mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Hana.


" Jadi untuk pemeriksaan kali ini, aku akan memberikan obat yang seperti biasa. Tapi aku akan memberikan dosis yang sedikit lebih tinggi dari yang kemarin, karena gejala yang kau alami sekarang lebih serius lagi. Tapi kamu tenang saja, karena dosis nya masih tetap aman dan aku akan terus memantau perkembangan mu. Sebaiknya dua minggu lagi kau datang lagi kesini untuk melakukan pemeriksaan ulang, baru aku akan mempersiapkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai organ dalam kepalamu " Kata Alex sembari memberikan selembaran kertas yang berisi resep obat.


" Baiklah, terimakasih Kak. Kalo gitu aku akan pulang, sampai jumpa kembali. " Ucap Hana sambil bangkit.


" Hemm.. Ingatlah, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang gak penting dan membuat otakmu semakin terbebani. Jangan dengarkan omongan orang lain yang menjelekkan dirimu, aku tahu kau gadis yang kuat. Dan satu lagi, saat berkendara gunakanlah headset untuk mendengarkan musik lembut. Agar pikiran mu tidak terlalu terbebani dan lebih rileks lagi, atau berbincanglah dengan orang di dekat mu agar mengalihkan pokus mu pada jalanan dan satu lagi, berhati-hatilah. " Ucap Alex sambil tersenyum.


Hana sedikit terkejut dengan omongan dari Alex barusan, karena Alex sangat tahu betul dengan apa yang sedang ia alami. Hana berpikir jika Alex itu lebih mirip di katakan sebagai peramal di banding seorang dokter. Karena dia akan sangat mudah menebak pikiran seseorang, mungkin karena ia juga seorang psikolog. Jadi dia bisa dengan mudah membaca gerakan genstur wajah seseorang dan dengan cepat menyimpulaknnya.


" Baiklah pak dokter, kalo begitu aku pamit dulu. Assalamualaikum " ucap Hana sambil tersenyum lalu pergi keluar ruangan.


Alex hanya tersenyum melihat senyuman manis Hana, lalu ia membuka lagi map hasil pemeriksaan Hana selama ini. Ia mencermati dan membaca setiap hal yang sudah ia tuliskan disana. Seketika Alex terlihat syok dan begitu lemah saat mengetahui sedikit hasil dari pemeriksaan nya selama ini ia lakukan. Berdasarkan laporan medis yang di berikan oleh Hana dari puskesmas di kampungnya, Alex sudah mendapatkan sedikit kesimpulan mengenai keadaan Hana. Begitupun dengan tes psikologi yang ia lakukan pada Hana selama ini sudah mengacu pada sesuatu yang sangat besar.

__ADS_1


" Jika Hana tidak mengalami kecelakaan atau benturan keras di kepalanya, tapi dia mengalami gejala yang merajuk pada hal seperti cedera parah yang terjadi pada kepala nya dan menganggu sistem syaraf pada otaknya. Lalu apa yang terjadi sebenarnya, menurut penuturan Hana, ia tidak pernah mengalami kecelakaan atau pun benturan keras di kepalanya. Dan melihat ia bercerita saat itu, tidak ada kebohongan atau keraguan dalam raut wajahnya. Laporan medis nya juga hanya menyebutkan jika dia cuma menderita sakit kepala biasa. Namun setelah mendengar cerita nya tadi, aku menjadi ragu kembali dengan apa yang sudah aku tentukan. Hana seperti bom waktu yang akan meledak kapan saja, dan itu sangat membuat aku khawatir. Tapi melihat gejala yang di alami oleh Hana sekarang malah semakin bertambah serius, dan ini biasa terjadi pada orang yang menderita penyakit berat. Antara tumor atau kanker ganas lah yang sudah menganggu sistem syaraf pusat di otak nya, hingga Hana sering mengalami keadaan seperti ini. Ya Alloh, kenapa aku baru terpikirkan hal ini. Selama ini aku sudah mengetahui hal ini, tapi kenapa aku tidak kepikiran sampai kesana. Apa yang harus aku jelaskan kepada Hana, jika memang ternyata Hana mengidap salah satu penyakit mematikan di dunia seperti itu. Aku pasti tidak akan sanggup mengatakannya dan berakhir dengan melihat gadis lugu dan baik sepertinya menangis, ya Alloh kenapa kau menguji hambamu yang begitu Shaleh dengan keadaan seperti itu. Apa yang harus aku lakukan jika hal itu terjadi, aku tidak sanggung mengahadapi Hana." Gumam Alex sambil menyenderkan badannya pada kursi kerjanya, ia terlihat sangat syok setelah mendapat kesimpulannya itu.


Sedangkan ditempat lain di rumah sakit itu, Hana terlihat sedang Membayar obat yang ia tebus. Setelah selesai Hana kemudian berjalan menuju keluar dari area rumah sakit. Terlihat hari sudah gelap, ditambah dengan awan hitam menutupi langit dan hujan gerimis yang masih belum berhenti. Dengan keadaan tanpa membawa payung, Hana berlari menuju kearah trotoar jalan dan berlindung di bawah halte. Sedangkan Hana harus menyebrang jalan untuk pergi kehalte untuk pulang menggunakan angkutan umum menuju kearah rumahnya.


Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hana dengan sangat lembut, hingga sang empunya langsung berbalik dan menoleh kearah orang yang menepuknya. Hana sedikit terkejut melihat seorang lelaki parubaya yang memakai setelah jas kantor berdiri di dekatnya. Lelaki parubaya itu terlihat tersenyum dan matanya yang sudah berkaca-kaca. Sedangkan Hana hanya tersenyum ramah, namun dalam hatinya ia merasa ketakutan saat melihat lelaki parubaya itu.


" Ana, ternyata benar kata kakak mu. Kamu masih hidup nak, selama ini paman selalu mencari keadaan mu. Dan sekarang kita bertemu disini, mungkin Alloh sudah menakdirkan pertemuan kita ini. Bagaimana keadaan mu nak, paman begitu merindukan mu Ana." Kata lelaki parubaya itu sambil menangis.


" Maaf paman, mungkin paman salah orang. Nama ku bukan Ana paman, tapi nama ku Hanadia marisa. Aku Hana paman, bukan Ana " Jawab Hana dengan sangat sopan dan lembut.


Hana tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya, ia mengalami hal yang terjadi saat pagi hari tadi. Dimana seperti ada potongan gambar buram yang memenuhi pikirannya, bahkan potongan gambar itu terlihat semakin banyak dan membuat hanya merasa semakin kesakitan. Hana berusaha bertahan dan mencoba menahan rasa sakit di kepalanya dengan menekan dengan kedua tangannya.


" Maaf paman, aku harus segera pulang karena sudah semakin malam. Sekali lagi maaf kan aku, karena aku bukan Ana yang paman maksud. Namaku Hana, kalo begitu aku pamit untuk pergi dulu paman. " Ucap Hana kepada lelaki parubaya itu.

__ADS_1


Lalu Hana sedikit berlari untuk menyebrangi jalan, karena kebiasaan cerobohnya itu. Hana terlalu cepat berlari tanpa memperhatikan sekitarnya, hingga toples obat yang ia bawa jatuh ke aspal beserta kantong plastiknya. Hana kemudian berbalik untuk mengambilnya, namun tanpa ia sadari. Sebuah mobil melaju kearahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, sedangkan Hana yang tidak pokus karena ia sedang mengalami rasa sakit yang hebat di kepalanya itu.


" Nak awas...... "


" Ana.....…"


Semua orang yang ada disana berteriak kencang untuk memberi peringatan kepada Hana, namun semuanya sudah terlambat. Brukkk.... Mobil itu menghantam dan membuat tubunya itu terpental dan berguling-guling jauh di depan mobil itu. Sang pengendara mobil juga nampak sangat terkejut dengan kejadian itu dan karena kondisi jalan yang sedikit buram akibat gerimis, hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas dan terlambat mengerem mobil nya itu. Sang pengendara mobil keluar dari mobilnya dan langsung hampiri korban yang sudah ia tabrak, begitupun dengan orang-orang yang ada di halte bus. Mereka secara bersamaan menggotong tubuh yang sudah berlumuran dengan darah menuju ke rumah sakit.


Beruntung kejadian itu tepat di depan rumah sakit, jadi petugas medis juga langsung membantu dan membawa korban nya untuk segera mendapat penanganan lebih lanjut.


__________________________________________


...Jangan lupa untuk terus mendukung cerita ini ya, dukungan kalian sangat membantu author untuk lebih meningkatkan karya ini πŸ™πŸ˜Š.. ...

__ADS_1


Salam hangat..


Author


__ADS_2