
Roby yang sudah tersadar kemudian bangkit dari atas tubuh Hana, ia memijat pelipisnya lalu memukul dinding tembok dengan keras. Ia juga membanting benda yang ada didekatnya hingga jatuh berserakan.
" Apa yang sudah aku lakukan, bagaimana bisa aku sampai melakukannya seperti itu. Kenapa saat aku menatap matanya membuat jantung ku berdebar, bukankah selama ini aku sangat muak saat dekat dengan wanita." Gumam Roby dalam hatinya. Ia melihat Hana yang histeris dan ketakutan dengan perlakuannya sendiri.
" Ma.. Af... " Ucap Roby perlahan, lalu ia pergi meninggalkan Hana dan keluar dari kamar pengantin.
Sedangkan Hana masih menangis ketakutan, hingga pada akhirnya Hana tak sadarkan diri dan tergeletak begitu saja.
π... π... π... π...
Sedangkan di rumah sakit, Nisa terlihat sedang gelisah. Sepulang dari villa miliknya yang ada di daerah Bogor, ia langsung menuju kerumah sakit. Nisa terus memegang tangan sang suami, dan mengusapnya perlahan.
" Pah, apa keputusan ku dan permintaan mu itu sudah benar. Apa aku terlalu berlebihan sama anak kita dan gadis baik itu, aku takut jika Roby malah menyiksa anak itu. Mama sangat sayang sama Hana, entah kenapa mama sangat nyaman dekat sama dia. Apa mereka akan bahagia, Mama lakukan ini semua demi Roby anak kita. Papa tahu kan kalau Roby sangat membenci wanita karena kelainan yang sedang ia derita, tapi apa harus mama mengorbankan kebahagiaan Hana. Cepatlah bangun Pah " cerita Nisa kepada Raihan. Ia bahkan sampai berderai air mata melihat sang suami yang masih tertidur dengan berbagai macam alat medis menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Kembali ketempat dimana pernikahan itu berlangsung. Roby terlihat sangat kacau dengan botol minuman yang tergeletak di dekat tubuhnya. Ia mabuk hingga tak sadarkan diri setelah keluar dari kamar pengantin, ia juga sempat menelpon sang sahabat sebelum ia jatuh pingsan dan menceritakan semua kejadian yang terjadi kepadanya.
Pukul 3:40, Hana terbangun dari pingsannya setelah kejadian semalam. Ia meraih selimut dan menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka, ia juga melihat ke sekeliling kamar yang sudah berantakan. Hingga ingatan tentang kejadian semalam kembali muncul di dalam pikirannya, Hana kembali menangis tersedu-sedu sambil duduk memeluk lututnya di dalam selimut. Ia merasakan trauma akibat perlakuan robi terhadapnya.
" Ya Tuhan, apa salah ku hingga kau memberikan ujian seperti ini. Aku mohon ampunilah aku, dan jangan mengujiku dengan cobaan seperti ini lagi. " Doa Hana dalam tangisannya.
" Nak, kau harus kuat dan menjadi lebih dewasa. Kakek yakin kamu bisa menjalani hidup mandiri, kau anak yang baik dan bertanggung jawab. Ingatlah pesan kakek, jika suatu saat kau sedang dalam masalah besar. Kau hadapi dan teruslah berdoa untuk meminta perlindungan serta pertolongan kepada Tuhan. Kakek berdoa, semoga suatu saat nanti ketika kamu sudah berkeluarga. Tuhan memberikan orang-orang yang menyayangi kamu dan mengasihani dirimu nak, jikalau pun sebaliknya, semoga kamu menjadi lebih sabar dan tawakal menjalani takdir dari Tuhan. " Seketika ucapan sang kakek tercinta terngiang di pikiran Hana. Ia kembali berurai air mata setelah mengingat pesan dari mendiang sang kakek.
Dengan keberaniannya, Hana kemudian bergerak turun dari ranjang tempat ia duduk. Ia berjalan dengan langkah gontay menuju pintu toilet, dengan perasaan yang cemas dan bimbang. Ia membuka pintu toilet dan menutupnya kembali setelah berada didalamnya, tak lupa ia juga mengunci nya dari dalam agar orang lain tak bisa masuk.
Setelah lelah karena terus menerus menangis, Hana akhirnya berhenti dan terdiam sejenak. Ia mencoba membangun kekuatan mental nya kembali, dan berusaha untuk menjadi lebih tegar dan mengikuti perkataan dari sang kakek. Hana kemudian mencoba untuk bangun dan berjalan menuju shower, lalu ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang sangat dingin. Ia juga menanggalkan pakaian yang sudah robek bagian atasnya itu, dan mulai membersihkan seluruh badannya.
Setelah cukup, Hana memakai handuk kimono yang memang sudah ada disana dan pergi keluar. Dengan perasaan yang sudah mulai merasa tenang, Hana merapikan kamar nya dan menyusun barang-barang ketempat asalnya. Ia juga memakai pakaian yang ternyata sudah di siapkan oleh Nisa untuk dirinya.
__ADS_1
Azan subuh pun berkumandang, walau terdengar sangat pelan karena letak villa tempat Hana memang agak lumayan jauh dari perkampungan. Hana kemudian mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan.
Keesokan paginya, Hana memberanikan diri untuk keluar kamar. karena setelah selesai sholat dan tadarusan, ia merasa sangat kelaparan karena terakhir ia makan saat Nisa mengajaknya makan di restoran sebelum sampai di Villa. Hana kemudian mengedarkan pandangannya dan melihat setiap penjuru di rumah itu. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah botol yang tergeletak dekat sofa.
Dengan langkah pelan, Hana menghampiri botol itu karena dirinya merasa penasaran. Ia meraih botol itu dan melihat tulisan yang menempel pada botolnya, dengan cepat Hana meletakan kembali botol yang ia pungut karena mencium aroma menyengat. Saat Hana sedang membersihkan tangan, kedua bola matanya menangkap objek yang tak asing buat dirinya. Lalu Hana bergerak lebih dekat untuk melihat apa yang barusan ia lihat.
" Astaghfirullah, Kak Roby... " Teriaknya dengan keras.
Hana kemudian menghampiri Roby yang tergeletak tak sadarkan diri dengan beberapa botol lainnya yang sama dengan botol yang hana pungut. Saat Hana sudah berada dekat dengan Roby, ia kemudian menutup hidungnya karena tak nyaman dengan bau menyengat sama seperti pada botol itu.
Namun karena Hana merasa kasihan, dengan sebelah tangan yang masih di perban. Hana mencoba membalikan tubuh Roby dan berusaha membuatnya sadar, ia menggoyangkan tubuh Roby dan terus mengulangnya. Tapi Roby tak metespon apa yang di lakukan Hana, karena ia terlalu banyak meminum minuman yang mengandung alkohol itu.
" Maaf... Maafkan aku Hana.. " Gumam Roby pelan. Ia tidak sadar mengucapkan kata-kata tersebut, karena sedang dalam pengaruh minuman beralkohol.
__ADS_1
Hana tertegun mendengar perkataan Roby yang terdengar pelan itu, ia merasa kasihan melihat Roby yang sedang tak berdaya. Hingga suara pintu di ketuk menyadarkan Hana yang sedang menatap sendu wajah Roby. Ia lantas bangun dan segera menghampiri sumber suara dan membukakan pintu untuk melihat orang yang mengetuknya.