
Sementara di dapur, Hana sedang membantu Nani untuk menyiapkan sarapan paginya. Sebelum Hana pergi ke dapur, ia menghapus air matanya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa sama dirinya dan Roby. Begitupun nina yang tidak menyadari apa yang terjadi dengan Hana.
" Sarapannya sudah siap non, sebaiknya mbok panggil dulu den Roby. Biar non sama den Roby bisa sarapan bersama " ucap Nina kepada Hana.
" Baiklah bi, maaf ya sudah direpotin sama Hana. " Jawab Hana dengan sopan.
" Ini sudah menjadi tugas mbok non, jadi non gak usah sungkan untuk meminta bantuan sama mbok. Kalo non Hana gak keberatan, non bisa anggap mbok seperti keluarga non sendiri. " Kata Nina kepada Hana.
" Terimakasih mbok, Hana merasa sangat bersyukur karena ada orang yang mau menganggap Hana seperti keluarga nya sendiri. " Ucap Hana dengan senang.
Nina pun bergegas menuju kamar tempat Roby, setelah sampai didepan kamarnya. Ia mengetuk pintunya terlebih dahulu, namun tidak ada jawaban siapapun dari dalam. Padahal nina sudah beberapa kali mengetuk pintunya, tapi tetap saja tak mendapatkan respon dari Roby. Karena merasa khawatir dengan keadaan Roby, Nina akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar itu dan melihat keadaan nya secara langsung.
" Jangan-jangan den Roby.... " ucap Nina sambil menutup mulutnya. Ia juga membayangkan kondisi Roby saat terakhir kali ia mabuk dan harus mendapat perawatan di rumah sakit selama beberapa hari karena over dosis.
__ADS_1
Lantas ia pun segera masuk kedalam kamar itu, beruntungnya kamar itu tak dikunci dari dalam sehingga Nina bisa masuk untuk melihat keadaan Roby. Namun saat ia akan masuk kedalam, ia mengurungkan niatnya karena melihat Roby yang sedang tidur dengan pulas di atas sofa. Nina akhirnya kembali menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar Roby tidak terganggu, lalu ia kembali kedapur dan memberitahukan hana untuk sarapan terlebih dahulu.
" Sebaiknya non Hana sarapan sendiri aja, sepertinya den Roby sedang di kamarnya. Tadi mbok udah ketuk pintunya beberapa kali tapi gak ada yang buka, mungkin den Roby lagi mandi. Biar mbok nanti bawakan makanan untuk den Roby " ucap Nina yang sampai tepat di depan Hana.
" Loh... Ya udah mbok sarapan bareng Hana aja ya " jawab Hana dengan senang sambil tersenyum. Ia senang karena tidak harus berhadapan dengan muka datar Roby dan mendengar perkataannya yang pedas. Tapi dalam hatinya ia merasa khawatir dengan Roby, karena seingatnya Roby sudah mandi dan ia sudah sadar sepenuh dan baik-baik saja saat bertemu tadi.
" Aku kira non Hana bakal langsung khawatir atau langsung nengok keadaan den Roby, kenapa dia ini bisa sesantai ini. Apa dia cuman berpura-pura baik saja demi mendapatkan perhatian tuan dan nyonya, agar dia bisa masuk kedalam keluarga Danuarta. Sepertinya aku harus hati-hati dan tidak mudah terpancing sama keluguannya, aku harus menjaga keluarga Danuarta dan menjauhkan wanita licik seperti dia. " Batin Nina sambil menatap Hana dengan tatapan menyelidik. Sebenarnya tadi ia sengaja mengatakan hal seperti itu untuk melihat ekspresi Hana, namun siapa sangka apa yang ia bayangkan sangat bertolak belakang dengan yang ia fikirkan.
Waktu pun berlalu, kini matahari sudah berada diatas sejajar dengan pohon. Hana yang masih tertidur dalam posisi duduk pun terbangun, ia jatuh karena kelamaan tidur dalam posisi seperti itu.
" Astagfirullah, kenapa aku bisa ketiduran disini. "
" Jam berapa sekarang, apa kak Roby sudah makan. Akh... Tubuh ku sangat sakit karena terlalu lama tidur sambil duduk " Gumam Hana sambil merenggangkan tubuhnya yang kaku.
__ADS_1
Hana berjalan memasuki rumah, ia melihat seisi ruangan yang sangat sepi. Ia kemudian berjalan kearah dapur dan melihat isi tudung saji yang masih tak tersentuh. Karena Hana merasa khawatir dengan keadaan Roby yang belum makan, ia beinisiatif memasakan makanan untuk Roby. Karena makanan yang pagi sudah dingin dan tidak enak dimakan.
Dengan senyuman yang terlukiskan di wajah lembut Hana, ia memasak dengan penuh kasih sayang dengan diiringi nyanyian yang terdengar begitu riang. Hana juga sama seperti remaja lainnya yang menyukai musik trendy dan idol K-popers, terkadang ia juga sampai terbawa suasana dan ikut ngedance ala sang idol.
Setelah selesai memasak nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dan beberapa potong buah serta segelas jus, ia bergegas membawa nampan yang berisi makanan menuju kamar tempat Roby tidur. Sesampai di kamar, Hana meletakan nampan nya diatas meja, kemudian ia membangunkan Roby yang sedang tidur. Hana merasa sangat cemas saat mendekati Roby yang sudah berpindah keranjang tempat tidur, ia takut Roby akan marah dan membentaknya lagi dengan perkataan yang sangat kasar. Namun Hana terus menyemangati dirinya dan berusaha untuk lebih berani dan melupakan perbuatan yang sudah ia alami bersama Roby.
" Kak Roby, maaf aku menganggu tidur nya kakak. Tapi kakak belum makan dari kemarin, sebaiknya kakak bangun dan makan terlebih dahulu. Jika kakak masih lelah, kakak bisa melanjutkan istirahat lagi setelah makan. " Ucap Hana dengan lembut sambil menepuk pelan bagian bahu belakang.
Karena tak ada respon darinya, Hana kemudian menggoyang kan bahunya dengan pelan secara berulang-ulang sambil memanggil nya. Ia berusaha membuat nya terbangun dan segera makan makanan yang udah disiapkannya dengan susah payah. Namun tak lama kemudian Hana terkejut saat Roby bergerak dan merubah posisi tidurnya dengan menghadap kearahnya, namun yang membuat Hana terkejut dan diam seperti patung adalah ketika tangan Roby dengan erat memeluk pinggang Hana yang sedang duduk di pinggir kasur.
Hana hanya terdiam tak berkata lagi, ia merasa debaran jantung nya sangat cepat dan tidak berirama. Ia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun, karena ia sangat takut akan membuat Roby tak nyaman. Tak lama kemudian, Roby tiba-tiba melepas pelukan nya dan terbangun dari tidur. Ia terlihat meregangkan badannya yang masih telanjang dada. Sedangkan Hana ia bisa bernafas dengan lega setelah Roby terbangun.
Menyadari ada suara aneh di belakang nya, Roby lantas menoleh dan kaget melihat Hana yang terlihat seperti orang mengalami sesak nafas. Bagaimana tidak, Hana sedang memukul pelan dadanya dan bernapas dengan cepat. Seakan dia kehabisan oksigen karena menahan nafasnya, tak lupa mata yang terpejam dan tangannya yang menepuk pelan dadanya membuat ia terlihat aneh.
__ADS_1