
Hingga akhirnya suster itu mendorong kursi roda nya menjauh, dan mereka berdua kini terpisahkan. Hana menatap sendu kepergian Bimo, anak yang terlihat sangat ceria walau sebenarnya ia tengah menderita sakit yang sangat parah.
" Sampai jumpa besok ya, kakak janji besok kakak akan berkunjung dan membawakan hadiah untuk mu " Ucap hana dengan keras. Tak lama kemudian Bimo memberikan lambaian tangannya kepada Hana.
Saat ini Bimo tengah tersenyum membayangkan saat pertemuan dengan Hana. Ia sangat senang karena Hana begitu ramah dan sudah menghiburnya hari ini, tapi ia sedih karena tidak bisa berbicara lebih lama dengannya. Ia kembali merasa kesepian dan mengingat penyakitnya yang semakin parah. Namun perkataan Hana saat perpisahan tadi membuat hatinya sedikit lega, karena masih ada orang yang peduli kepadanya walaupun kedua orang tuanya tidak seperti itu.
Kembali lagi ke taman, Hana kini sedang duduk sendirian. Ia hanya mengamati tangannya yang tadi di pegang oleh Bimo saat menangis. Ia masih tidak percaya dengan kejadian yang barusan ia alami.
Jauh dari tempat Hana, seseorang kini sedang mengamatinya, tepat dari jendela kaca yang terletak di lantai 3.Wajah orang itu tampak sedih namun bibirnya tersenyum, tatapan matanya menyiratkan kerinduan yang sangat dalam. Ditangannya juga terdapat amplop dan kertas putih yang berisikan laporan medis seseorang.
" Ternyata kau memang dia, kau sangatlah berbeda sekarang. Apa kau masih mengingatku, dulu aku selalu bermain bersama kalian, apa kau juga melupakan kenangan masa lalu kita. Kau adikku, aku yakin ayah akan sangat senang saat mendengar berita ini. " Ucap orang tersebut sambil memandangi kearah taman dari balik ruangannya.
π..πΎ..π..πΎ..π..πΎ..
Sore menjelang malam harinya, Hana kembali beraktivitas seperti biasanya di tempat ia bekerja. Kebetulan malam itu malam minggu, kafe nya terlihat sangat ramai dengan pengunjung yang rata-rata anak muda semua. Kebanyakan mereka datang secara berkelompok atau enggak cuman berdua sebagai pasangan kekasih.
Hana terlihat sangat sibuk melayani para tamu dengan makanan yang sudah di order sebelumnya. Ia terlihat kelelahan karena banyaknya permintaan dari para pengunjung, bahkan ia hampir saja menjatuhkan gelas minuman karena tidak pokus. Tapi beruntungnya Mila dengan cepat membantunya, hingga hal itu tidak menyebabkan terjadinya kekacauan.
Tak jauh dari tempat Hana, Roby dan temannya Gilang baru saja datang ketempat itu untuk sekedar nongkrong. Tak lama kemudian datang juga beberapa temannya yang ikut bergabung bersama nya, mereka juga membawa pasangan mereka masing-masing untuk sekedar jalan di malam minggu.
" Bro, gue ke toilet dulu ya. Bentar kok, kalian pesan aja menu makanan nya duluan. Nanti gue nyusul, oke " Ucap Gilang yang tiba-tiba bangkit dan pergi dari sana.
__ADS_1
" Kebiasaan loe Lang, kalo mau setor tuh di rumah nggak usah di bawa ke tempat kaya ginian " Gerutu Roby dengan wajah kesalnya.
Gilang tak menghiraukan perkataan dari dari Roby yang kesal kepadanya, ia sudah tak tahan ingin mengeluarkan sesuatu yang mendesak dari dalam perutnya itu.
" Akh, sialan nih perut. Apa ini gara-gara gue makan bakso setan tadi siang ya. Tau gini gue gak tambah sambelnya " Gerutu Gilang sambil berjalan untuk mencari toilet.
Tanpa sengaja, Gilang berpapasan dengan Hana yang baru saja mengantarkan makanan pada salah satu tamu. Ia hendak mengambil makanan lain yang akan diantarkan. Hana yang sedang terburu-buru mengejar orderan tamu dan Gilang yang sedang gelisah menahan sakit perut serta berusaha mencari toilet pun tak sengaja bertabrakan.
" Maaf.. " Ucap keduanya bersamaan.
" Akh, maaf aku enggak sengaja mas " Ucap hana lagi, ia juga menundukan kepalanya untuk meminta maaf karena tak sengaja menabraknya.
Hana yang melihat wajah dan gerak-gerik Gilang yang memegangi perutnya langsung paham, ia kemudian memberitahu arah toilet dan ia juga mengantarkannya kesana.
" Mas nya cari toilet ya?, ayok biar saya antarkan. " Kata Hana sambil menunjukan jalan kepada Gilang.
" Akh benar Mbak, dari tadi saya enggak tahu harus kemana cari toilet. Disini sangat ramai jadi aku sedikit kebingungan saat mencari arah ke toiletnya. " Ucap Gilang dengan senang.
Mereka berdua pun berjalan kearah toilet, sesampai nya di depan toilet, Hana pun pamit untuk kembali bekerja. Tak lupa Gilang juga mengucapkan terimakasih keda hana karena sudah mengantarkannya ketempat yang sangat ia ingin tuju.
Hana kembali bekerja dan melayani para tamu yang tak kunjung berhenti berdatangan. Ia sangat kelelahan karena tak hentinya para tamu memesan makanannya.
__ADS_1
Namun tak lama kemudian, dari arah toilet terlihat ada sedikit keributan. Hana lantas pergi untuk melihat apa yang sudah terjadi disana, ia juga bisa sedikit santai karena orderannya sudah di tutup dari 15 menit yang lalu, karena para koki nya sudah sangat kelelahan dan stok bahan masakan juga sudah habis terjual semua.
" Ada apa ya mbak, kok disana pada ribut-ribut? " Tanya Hana kepada salah satu pengunjung yang berdiri tak jauh dari depan pintu toilet.
" Itu mbak, ada seorang pemuda yang pingsan di dalam toilet. Tapi sayangnya tidak ada yang mengenal nya, mungkin dia datang sendiri kesini. " Jawab pengunjung itu.
Hana sedikit terkejut mendengar kalo ada yang pingsan, ia teringat dengan Gilang yang ia temui saat bertabrakan tadi.
" Makasih ya mbak untuk informasi nya " Ucap Hana.
Ia kemudian berusaha masuk kedalam toilet cowok, ia melihat Gilang yang sudah tak sadarkan diri terbaring di lantai toilet. Karena para pengunjung hanya menonton dan tidak ada yang bertindak, Hana kemudian meminta bantuan lelaki untuk mengangkat tubuh Gilang. Ia juga mengatakan kalau dirinya mengenal Gilang dan menyebutnya sebagai teman.
Saat itu Adi melihat keributan itu dan ia juga melihat Hana terlibat disana, ia merasa aneh saat melihat ekspresi khawatir di wajah Hana. Ia merasa cemburu melihat kekhawatiran Hana kepada lelaki lain, karena selama ini dirinya mengharapkan hal tersebut dari Hana. Namun hanya tatapan ramah seperti hal nya perhatian kepada semua orang yang selalu ia tunjukan.
" Ada apa ini?, Hana bisa jelaskan ini kepadaku. Kenapa bisa terjadi seperti ini?. " Tanya Adi yang masuk kedalam kerumunan.
" Maaf Pak Adi, sepertinya teman saya sakit. Dia sepertinya pingsan, tapi dia masih tidak mau sadarkan diri walau sudah di kasih minyak angin. " Ucap Hana dengan raut wajah yang sangat khawatir.
" Kenapa harus dia, aku yang selalu memperhatikan mu dan selalu mengkhawatirkan dirimu. Tapi kenapa harus lelaki lain Han, apa kau tidak punya sedikit rasa kepadaku. " Ucap Adi dalam hatinya.
" Maaf Pak Adi, apa aku boleh mengantarnya dulu ke puskesmas terdekat. Sepertinya dia butuh pengobatan segera, dia sudah tidak sadarkan diri lebih dari 10 menit, ini sangat bahaya!. " Ucap Hana meminta izin pada Adi.
__ADS_1