
Karena tidak ada respon, Hana pergi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Lalu menyiapkan air panas untuk mandi Roby, dan memasak makanan untuk makan malam.
Roby masih tidak bergeming, entah apa yang terjadi kepada pemuda itu hingga tidak merespon apapun yang istrinya katakan. Hingga saat terdengar gemericik dari arah belakang, barulah pemuda itu bangun dan mendudukan tubuhnya. Ia membuka jaket yang di kenakan lalu melemparnya kesudut ruangan, wajahnya di tekuk dengan rahang yang mengeras.
" Sialan tu orang" Katanya sambil mengumpat pelan.
Tangannya bergerak mengacak rambutnya kasar, ia merasakan kalau pikirannya sedang kacau tapi ia juga kebingungan harus melakukan apa. Kata-kata yang di lemparkan supir angkot tadi cukup membuatnya emosi dan hampir membuat ribut dengannya.
'Aku saranin kamu jangan ganggu adek ini, dia anak baik-baik. Kalo mau cari mainan, cari saja cewek malam jangan adek yang satu ini. Dia terlalu baik buat pemuda gak bermoral kaya kamu'. Ucapan supir itu terus terngiang-ngiang di di kepalanya, ia cukup terganggu dengan hal demikian.
Emang apa salahnya dengan dirinya, ia bahkan tidak ada niatan berbuat jahat pada Hana. Lagian Hana juga istrinya, untuk apa harus mencari wanita malam. Pikiran nya terasa sangat kacau dengan perkataan dari supir angkot itu, bahkan mood nya yang baik kini lenyap di gantikan oleh mood nya yang jelek.
" Sialan.. " Gerutu nya lagi.
Mendengar pintu kamar mandi di buka, Roby cepat-cepat memposisikan dirinya seperti tadi. Ia dengan cepat menelungkupkan badannya, namun kini wajahnya menghadap kearah kamar. Kedua matanya juga terpejam dan berpura-pura tidur.
Namun sedetik kemudian, aroma khas sabun mandi yang biasa Hana kenakan menyapa indra penciuman nya. Roby kembali mendengus, tak kala sebelah matanya terbuka dan mengintip keadaan. Ia mendapati Hana yang berjalan dengan handuk yang melilit di badannya, ia meneguk saliva nya kasar saat pandangannya tertuju pada paha yang terlihat dari bawah. 'Mulus' satu kata yang menggambarkan bahwa Roby tengah menikmati acara mengintipnya itu, bahkan bagian bawah nya bergerak gelisah karena sudah tak kuasa menahan sesuatu yang semakin menyesakkan di sana.
" Kenapa harus gini sih, sial amat perasaan. Gak pikiran, gak si junior dua-dua nya sama sialnya malam ini. " Gerutu nya dengan kesal.
Tangannya terulur kebawah untuk menenangkan sang junior yang terus mendesak untuk keluar, ia membuka resleting celana jeans nya dan memberikan sedikit ruang untuk adik kecilnya itu. Mata nya kembali terpejam, saat pikiran-pikiran kotor memenuhi otaknya. Kembali ia mendengus saat bagian bawah nya semakin mengencang, ia tidak menyangka kalau acara mengintip nya itu malah berujung penyiksaan untuk sang junior. Ia kembali menikmati bayangan dimana Hana berpenampilan sexy, dan kini dia tengah berada di hadapan nya sambil sesekali menggoda dirinya. Roby tak sadar kalau nafasnya mulai memburu saat bayangan di pikirannya semakin jauh.
" Kak, air nya sudah aku siapakan di kamar mandi. Sebaiknya kakak cepat mandi, ini sudah hampir malam. " Ucap Hana kembali membangunkan Roby.
Hana merasa heran saat mendengar nafas Roby yang terdengar kasar, ia mencoba memeriksa suhu tubuh Roby tapi biasa saja. Ia merasa cemas kalau Roby tiba-tiba saja sakit, karena pas jemput dirinya Roby masih baik-baik saja.
" Kak " Ucap Hana lagi.
" Iya, tunggu sebentar lagi nanti aku bangun langsung mandi. " Jawab Roby kesal.
" Ya sudah, jangan Lama-lama ya kak, nanti air nya keburu dingin. " ucap Hana dengan keheranan.
Hana kemudian bangkit dan bergegas menuju dapur, ia segera masak untuk makan malamnya. Hari ini menu sederhana, lauk sayur bening sama goreng ikan. Itu menu yang cukup sederhana, dan beruntungnya Roby tak pernah mengeluh dan selalu suka masakan apapun yang ia masak.
Hana menengok sebentar, ia tersenyum melihat Roby yang berjalan malas ke dalam kamar mandi yang ada di belakangnya. Ia merasa aneh, karena Roby selalu berpenampilan lusuh. Berbanding terbalik sama penampilannya saat pertemuan pertama mereka, penampilan yang selalu rapi dan juga bersih selalu ia lihat dalam diri Roby. Namun sekarang jauh berbeda, bahkan tubuhnya sedikit kurus.
Hana kembali melanjutkan menggoreng ikan nya, sembari menunggu ikan matang. Ia memotong sayur kol, wortel, kembang kol dan juga kentang yang sudah di rebus. Kemudian ia memanaskan air di panci kecil.
Namun tiba-tiba Hana tersentak kaget, saat Roby memeluknya dari arah belakang. Tetesan air yang berasal dari rambut Roby yang masih basah mengenai baju dan juga pundaknya, bahkan samping kepala bagian kirinya juga ikut basah karena kepala Roby bersandar di sana.
" Kak Roby...aku lagi masak!" Ucap hana gugup, ia berharap Roby segera pergi dari sana. Apalagi jantung nya semakin berdebar kencang, membuat dirinya tidak pokus pada masakannya.
" Tunggu sebentar An.. " Gumam Roby pelan. Tangannya terulur memeluk perut Hana yang sedikit berisi tapi tidak buncit. Ia sangat nyaman dengan rasa hangat dari tubuh Hana, apalagi aroma tubuhnya yang selalu membuat akal sehatnya lenyap.
__ADS_1
Roby merasa nyaman saat ini, ditambah aroma tubuh Hana mampu menenangkan pikirannya. Sedangkan Hana sendiri bertambah gugup, ia masih belum terbiasa dengan perlakuan manja yang selalu datang tiba-tiba dari suaminya itu.
" Apa kakak sedang tak enak badan, atau mau bercerita sama Hana? " Tanya Hana dengan lembut. Ia merasa kalau perubahan sikap Roby ini mampu membuatnya khawatir, ia sering mendapati Roby yang tengah melamun dan lebih pendiam. Sifat pemarah dan arogan nya juga tak lagi di tunjukan, hanya ada Roby yang perhatian dan selalu bersikap romantis.
Tiba-tiba Roby melepaskan pelukannya dan pergi dari sana, bahkan Roby tak menjawab pertanyaan dari Hana. Membuat Hana semakin gelisah dengan keadaan Roby, dalam hati bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya.
Dengan cepat, Hana segera menyelesaikan masakannya. Menaruhnya di piring dan mangkuk, tak lupa menyiapkan nasi secukupnya dan segera membawa nya ke ruang tengah. Hana hanya diam, saat Roby masih ada di dalam kamar. Ia sudah selesai menghidangkan makanannya dan menunggu Roby yang tak kunjung keluar dari kamar.
Saat Hana akan menghampiri Roby, langkahnya terhenti saat Roby keluar dari dalam kamar nya. Dengan hanya mengenakan celana kolor tanpa atasan, bahkan rambutnya sudah kering. Biasanya Hana akan membantu Roby mengeringkan rambut serta menyiapkan pakaian untuknya.
" Ayok makan Kak " Ajak Hana dengan canggung.
Roby hanya mengangguk patuh dan lekas duduk di depan hidangan makanan. Hana juga kembali duduk, kemudian ia segera mengambilkan makanan untuk Roby. Acara makan makan berlangsung begitu saja, hanya ada suara sendok dan piring sang sesekali saling beradu.
Setelah selesai acara makan dan juga beberes, Hana kembali ke dalam kamar untuk segera istirahat. Sebelum itu ia duduk di depan meja kecil dan memakai krim untuk merawat kulitnya. Hingga suara benda jatuh mengagetkan Hana hingga ia menoleh kearah belakangnya.
" Kak Roby gak papa? " Tanya Hana kaget, ia melihat Roby yang tengah tengkurap di atas kasur miliknya.
Tak ada jawaban, Roby hanya diam bahkan ia tak bergerak sedikit pun.
Hana kemudian mendekat sambil membawa salah satu produk skincare yang biasa ia pakai untuk melembapkan kulit nya. Tangannya bergerak mengambil sebelah tangan Roby, lalu memaksakan gel pelembab itu pada telapak tangan nya. Dan benar saja, Hana bisa merasakan kalau tangan suaminya itu semakin kasar dan ada beberapa kapalan di telapak tangannya.
" Apa kakak lagi ada masalah, kalau kakak gak keberatan kakak bisa cerita sama aku. Siapa tau nanti aku bisa bantu, tapi kalau kakak gak mau juga gak papa. " Ucap Hana sambil memijat lengan Roby dengan perlahan.
"Ana? " Tanya Roby.
" Iya Kak " Jawab Hana dengan cepat, ia senang ketika Roby mulai terbuka kepadanya.
" Seandainya suatu saat kamu menginginkan seorang anak, tapi aku tidak bisa memberikannya. Apa kamu akan pergi dari ku? " Tanya Roby pelan.
Hana tertegun mendengar perkataan Roby, ia bingung dengan maksud dari ucapan suaminya itu.
" Maksud kak Roby apa? " Tanya balik Hana. Jujur ia bingung harus menjawab apa, emang dirinya harus pergi kemana, pikir Hana.
" Gak papa, jangan dipikirkan soal pertanyaan ku tadi. " Ucap Roby sambil memalingkan wajahnya ke sisi lainnya.
Hana menjadi serba salah, ia semakin bingung dengan perilaku aneh Roby.
" Kita berdoa saja sama Alloh, kalau kita mengalami kesulitan. Kita minta kepada Alloh agar di mudahkan dalam menjalaninya. Begitu pula jika kita mengaharapkan sesuatu, tapi susah untuk di dapatkan. Kita memohon kepada Alloh, agar di lancarkan dalam segalanya. " Ucap Hana.
Roby termenung mendengar jawaban Hana, ia sedikit merasa lega setelah sedikit bercerita walau pun kenyataan nya dia cuman bertanya.
" Kak Roby enggak tidur di luar? " Tanya Hana.
__ADS_1
" Kenapa?, apa aku gak boleh tidur disini?." Tanya balik Roby.
" Bu... Bukan gitu kak, hanya saja__" Kata Hana gugup.
" Sudahlah, aku juga gak bakal ngapa-ngapain kamu. Aku bakal nunggu sampai kamu siap, aku gak mau melakukan kesalahan lagi. " Ucap Roby memotong perkataan Hana. " Sini tidur bareng, makasih karena udah mijitin aku. Tangan kamu halus, jadi makin enak, apalagi yang mijit nya udah halal. " Canda Roby sambil menarik lengan Hana hingga tubuhnya jatuh ke pelukannya.
" Kak.... " Gumam Hana malu-malu, ia bahkan tanpa sadar malah menenggelamkan wajahnya di dada Roby.
" Kenapa?, malu lagi. Bukannya kemarin udah lebih dari yang ginian ya. " Goda Roby sambil berusaha menjauhkan dada nya dan melihat wajah Hana.
" Kakak ih, sukanya godain Hana mulu. " Ucap Hana kesal sambil mencubit pelan perut Roby.
" Akh, sakit..sakit.ampun deh ampun, lagian kamu lucu banget. Udah pernah di cium juga masih malu, gimana kalo buat yang gituan. " ucap Roby sambil meringis, namun tak lama malah terkekeh pelan.
Hana termenung mendengar perkataan Roby, ia tersadar ternyata Roby sudah menantikan hal itu. Bahkan ia tidak kepikiran sampai kesana, dan sekarang ia baru merasa menyesal juga merasa bersalah karena tidak memberikan hak seutuhnya sebagai suami dari istri.
" Maaf, aku gak bermaksud berkata seperti itu. Tadi aku udah bilang kalo aku mau nunggu kamu siap dulu, jadi gak usah merasa bersalah atau terbebani oke. " Ucap Roby menenangkan Hana, ia merasa bersalah ketika melihat Hana termenung karena ucapannya.
" Tetap seperti ini, aku suka sama wangi tubuh kamu An. Wanginya bikin candu sama nenangin pikiran. " Ucap Roby kembali.
Roby semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh Hana, bahkan tanpa sadar kakinya juga sudah menumpang di atas kaki Hana layaknya memeluk guling.
" Oh ya, mulai sekarang panggil aku Bian, jangan Roby. Aku lebih senang pas denger kamu manggil aku dengan sebutan itu, dan aku juga akan manggil kamu dengan sebutan Ana. Panggilan spesial buat kita mulai sekarang dan kedepannya. " Bisik Roby di telinga Hana.
Hana hanya mengangguk patuh, ia juga suka dengan panggilan spesial nya itu. Apalagi itu pemberian dari Roby, namun mendengar panggilan baru untuknya itu. Ia merasa tak asing saat Roby mengucapkannya, hal itu ia rasakan saat pertama kali Roby memanggil dirinya dengan panggilan Ana. Bahkan dalam mimpinya juga ada yang memanggilnya dengan sebutan Ana.
Tanpa ia sadari, dirinya kembali merenung. Hingga tepukan pelan di pipinya kembali membawa dirinya sadar kembali.
" Kamu ini kenapa sih, akun perhatiin sering banget ngelamun. Kayaknya hampir tiap hari kerjaan nya melamun terus. " Ucap Roby kesal, karena sedari tadi dirinya ngobrol malah di cuekin sama Hana.
" Maaf kak, mungkin aku udah capek. Jadi kurang pokus, emang kakak mau cerita apalagi sama Hana. Nanti aku dengerin kok" Ucap Hana sambil menahan kantuknya.
Roby menjadi merasa tak tega melihat Hana yang sudah kelelahan juga menahan kantuk. Terlebih ia juga sadar diri, kalau Hana sudah mengurusnya dengan sangat baik. Bahkan setelah lelah dari pulang bekerja, ia masih dengan baik hati menyiapkan air untuk mandi dirinya, memasak untuk makan malam. Dan juga mengurus nya seperti di pijat tadi. Ia semakin di buat merasa bersalah, setelah mengingat kartu ATM yang ia ambil dari dompet milik Hana tanpa seijin yang punya. Bahkan uangnya hampir saja ia habiskan untuk Berpoya-poya, tanpa tahu kalau uang itu hasil dari jerih payah istrinya untuk melanjutkan pendidikan nya nanti.
" Ya udah kamu cepetan tidur, aku juga mau tidur. Tapi tidurnya kayak gini dulu untuk malam ini. " Ucap Roby sambil mengeratkan pelukannya, membawa Hana dalam dekapan dan memberikan kehangatan agar dia semakin nyaman.
Hana yang sudah menahan kantuknya hanya pasrah dan membalas pelukan dari Roby, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Ia bisa merasakan kalau Roby menciumnya di atas ubun-ubun, dan elusan lembut di punggung nya membuat dirinya semakin nyaman dan lebih cepat terlelap.
...Sekedar info :...
...[ Gambar di atas hanya ilustrasi semata, agar lebih memperluas dunia khayalan. ]...
__ADS_1
...Gambar di ambil dari salah satu situs Google. Daftar Link : https://i.pinimg.com/474x/9c/51/42/9c51420461fc30128d5c98d9d6635384--manga.jpg...