
Mereka akhirnya kembali duduk di bangku masing-masing, Hana juga sudah duduk di bangku tempatnya. Karena Alifa orang yang tak sabaran, ia memaksa Hana untuk cepat memberitahunya, begitupun dengan Mira sama Wahyu yang udah di buat penasaran. Namun belum juga Hana akan bercerita, dari arah pintu terlihat Ali yang sudah heboh sendiri mencari keberadaan Hana. Disusul juga sama Romi yang sama hebohnya kaya Ali, dia ikut masuk ke kelas Hana dan melihat keadaannya.
" Mak, loe kemana aja sih selama ini. Loe udah buat gempar satu sekolah gara-gara ulah loe itu, setidaknya kabarin aku atau enggak guru atau siapalah. " Kata Ali sambil berdiri di samping Hana.
" Kamu gak kenapa-kenapa kan, kenapa tiba-tiba ngilang gak ada kabar. Kau tahu aku sangat cemas pas denger dari dia kalo kamu gak masuk dan gak ada pemberitahuan. " Ucap Romi menimpali ucapan Ali.
" Maaf ya Al, kak Romi, aku udah buat kalian semua cemas. Tapi jujur saja aku juga bingung harus ngomongin dari mana dulu, karena dari tadi aku mau jelasin tapi selalu saja di potong. Gimana aku mau jelasin tentang keadaan aku " Kata Hana dengan nada lembut.
" Entah nih si Ali, loe ganggu orang mau ngomong aja. " Celetuk Wahyu.
" Ya sorry, gue kan kaget pas denger dari anak-anak yang lain kalo Hana udah kembali sekolah. Makanya pas beneran ngeliat kalo si Mak udah balik, gue gak bisa nahan buat nanya kenapa dia sampe gak masuk sekolah dan hilang kabar. " Bela Ali sambil menatap kesal kearah Wahyu.
" Kok malah jadi debat sih, kalian ini mau denger penjelasan Hana atau mau ribut. " Ucap Alifa dengan wajah kesalnya.
" Udah Mak, biarin aja mereka " Ucapnya lagi.
" Yaudah, gak usah ribut bisa kan. Lagian aku udah balik dan aku sehat-sehat aja. " Ucap Hana Kukuh.
" Iya, jadi beberapa hari kebelakang itu, aku ngalamin kecelakaan. Selama ini aku di rawat di rumah sakit, gara-gara kecelakan itu pula HP aku rusak. Jadi aku enggak bisa ngabarin siapa-siapa termasuk kalian " Jelas Hana kepada temannya.
" Apa, kamu kecelakaan. Terus gimana keadaan kamu, apa gak ada cedera yang parah. " Ucap Romi tiba-tiba, terlihat raut wajahnya juga sangat khawatir terhadap Hana.
" Loe enggak lihat kak, kalo sebelah tangan Hana di perban berarti dia ada apa-apa dong. " Kata Mira.
" Kenapa udah masuk sekolah kalo kamu masih sakit, kan bisa kirim surat izin ke guru piket. " Ucap Romi sambil memegang tangan Hana yang di perban.
" Aku udah baikan kok kak, makasih ya udah khawatir sama keadaan aku. Tapi aku udah beneran sehat, lagian aku gak mau terlalu jauh ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi kan ujian kenaikan kelas, jadi aku enggak boleh bolos terlalu sering. " Jawab Hana dengan lembut, ia juga menurunkan tangan Romi yang memegang tangannya.
__ADS_1
Sementara wahyu yang sedari tadi mendengarkan merasa aneh dengan sikap Hana, ia merasa ada hal yang janggal dan seperti di tutupi dari nya.
Tak lama kemudian bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera dimulai, Romi langsung keluar dari dalam kelas Hana dan kembali ke kelasnya. Ali juga kini sudah duduk di bangkunya, hingga akhirnya guru pelajaran masuk dan memulai menerangkan materi ajarannya.
πβ¦ π... πβ¦ π...
Setelah kegiatan di sekolahnya usai, Hana kemudian pulang kerumah kostan nya. Sebelum berangkat sekolah tadi pagi, Hana sudah meminta izin untuk pulang kerumahnya. Ia juga meminta izin untuk tinggal disana, dan saat akhir pekan ia akan kerumah Nisa untuk menginap. Pada awalnya Nisa menolak karena ia tidak ingin Hana tinggal sendiri dan ia merasa takut kalau terjadi apa-apa kepadanya, tapi dengan tenang Hana berbicara kepada mertuanya itu kalau dirinya akan baik-baik saja. Nisa juga sadar kalau sebelumnya ia sudah menyepakati jika Hana akan tetap tinggal di rumahnya dan akhir pekan akan tinggal dirumahnya, namun hati seorang ibu membuat nya menjadi egois. Ia tidak ingin ada hal buruk yang menimpa Hana, ia juga merasa kehilangan kalau Hana tiba-tiba pergi jauh.
Sesampainya di depan rumah, Hana sudah di sambut sama Ibu-ibu tetangganya yang sedang asik menggosip kan dirinya. Hana merasa sangat sedih saat mendengar hal buruk tentangnya, karena ia tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
" Eh Hana, udah pulang kamu. " Tanya seorang ibu kepada Hana, ia juga terlihat memandang rendah kepada Hana.
" Iya Bu, aku udah pulang " Jawab Hana dengan sopan, ia tetap menghargai mereka walau ia tahu jika mereka Mengobrolkan hal jelek tentangnya.
" Selama sepekan terakhir kamu kemana aja, tumben pergi lama-lama. Biasanya juga kalo pulang kampung enggak lebih dari dua hari. " Ledek ibu yang lainnya.
" Iya, bukannya terakhir kali kamu diantar balik sama lelaki ganteng yang pake mobil bagus itu. Kalo bukan ngelayanin lelaki seperti itu, dari mana kamu dapet uang buat sewa rumah ini sama bayar sekolah elit mu itu. " Ucap Ibu yang kedua sambil memandang rendah Hana.
" Eh bu, ini pelajaran buat kita. Supaya kita enggak salah mendidik anak kita dalam bergaul, jaman sekarang itu bayak Gadis-gadis yang udah gak suci lagi bahkan mereka banyak yang menyamar kayak anak baik dan lugu. " Ucap Ibu yang pertama.
" iya bu, kita harus lebih berhati-hati lagi. jaman sekarang anak-anak sudah kelewat batas dalam bergaul. " jawab yang lainnya.
Hana yang mendengar perkataan yang merendahkannya segera pergi dari sana, ia membuka pintu lalu menguncinya dengan rapat. Ia juga menutup jendelanya dengan gorden, agar orang luar tidak melihat apa yang terjadi di dalam.
Setelah berhasil mengunci pintu, Hana terduduk lemas di lantai. Ia tak menyangka jika selama ini dirinya di pandang rendah oleh Ibu-ibu tetangga nya, ia bahkan mendengarkan sendiri apa yang mereka katakan kepadanya.
Seketika itu pula, air mata Hana jatuh membasahi kedua pipinya. Hana merasa sakit hati mendengar perkataan dari tetangga julidnya itu, tak hanya sampai disitu saja. Hana merasa dirinya sudah gagal dan karena dirinya kedua orang tua nya juga ikut di rendahkan, terlebih lagi perkataan dari mereka secara sengaja sudah menyinggung kakek nya yang selama ini mendidik nya.
__ADS_1
Karena hal itu Hana menangis sejadi-jadinya dalam hening, ia mengeratkan kepalan tangannya dan berusaha menekan agar emosinya tidak terlepas. Selama ini dirinya selalu menyimpan banyak kekecewaan dan ia memendam kesedihannya tanpa tahu bagaimana harus melampiaskannya.
Karena terlalu hanyut dalam kesedihan dan kemarahan, Hana hampir saja berteriak dalam tangisannya. Namun dengan sekuat tenaga ia menahannya, bahkan ia mengunci mulutnya dengan menggigit bibir bawahnya hingga sedikit mengeluarkan darah.
" Kenapa Tuhan, kenapa kau selalu melimpahkan hal seperti ini kepadaku. Sampai manakah kau akan memberimu kesedihan, sampai mana kau akan mengujiku dengan kehidupan yang pahit seperti ini. Apakah tidak ada sedikit kebahagiaan untuk ku, sedikit saja agar aku bisa merasakan arti kehidupan ini ya Tuhan.. " Ucap Hana dalam hati.
Karena terlalu lelah dengan kesedihan yang di rasakannya, Hana akhirnya tertidur. Bahkan ia masih belum menganti seragam sekolahnya, dan ia terlelap tepat di depan pintu.
Hingga malam pun telah tiba, di kediaman Danuarta. Lebih tepatnya di kamar atas, Roby terlihat uring-uringan tak jelas. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk tidur, padahal AC selalu di hidupkan, ia juga hanya memakai ****** ******** saja. Tapi sekuat apapun ia mencoba untuk menutup matanya, ia kembali terbangun.
" Sebenarnya kenapa sih, tumben banget gue gak bisa tidur. Biasanya juga kalo udah di kasur langsung ketiduran, kenapa sekarang gak bisa. " Keluh Roby sambil mengacak-acak rambutnya.
Ia kemudian bangkit dari ranjang, dengan perasaan kesal. Ia berjalan-jalan di kamarnya dan berharap ia bisa tidur, ia juga melakukan beberapa gerakan yang akan membuat tubuhnya lelah dan berharap bisa tidur.
Pandangan terlihat memandang sebuah jam yang menempel di tembok tepat di atas pintu toilet, karena sejak kejadian pagi tadi. Dirinya merasa terhina dengan perkataan Hana yang merendahkan dirinya karena tidak memiliki jam di kamar, karena itu lah dirinya langsung menyuruh pelayan untuk memesankan jam dinding dan langsung memasangkan di dalam kamarnya.
Bahkan warna jam itu terlihat sedikit mencolok dari barang-barang yang ada didalam kamarnya itu. Karena semua dekorasi kamar itu di desain dengan warna hitam dan abu-abu, walau ada beberapa furniture yang terbuat dari kayu dengan corak warna coklat tua. Sedangkan jam dinding itu berwarna putih terang dengan diameter 40Γ40 cm.
" Cih, emangnya gue semiskin itu hingga dia berani meledek kamar gue sendiri. Lihatlah nanti kalau dia sudah kembali kesini, awas saja kalo dia gak lihat jam nya. Gue pastikan matanya terpajang di samping jam itu, biar dia bisa melihatnya dengan jelas. " Ucap Roby dengan wajah sombongnya. Tanpa disadari, dirinya tertawa dengan diakhiri senyuman liciknya.
Tanpa disadari oleh nya, ia kini sudah terbaring karena sangat kelelahan di atas karpet tempat Hana tertidur. Dan disitu pula Roby membuat Hana tergulung sama karpet itu karena tindakan bodohnya.
Roby memandang langit-langit kamarnya, ia membayangkan kejadian saat bangun tadi pagi. Ia masih ingat dengan jelas wajah Hana yang terlihat sangat damai, seketika senyumannya terbit saat mengingat moment dimana ia melihat bercak merah di leher sampai dada Hana. Ia tersenyum bangga saat melihat hasil karya yang di buat karena lepas kendali sama hawa nafsunya.
Ahkirnya Roby membalikan badannya, seketika dirinya terkejut mendapati seseorang yang ada di hadapannya. Kini di hadapannya terlihat Hana yang sedang tertidur, bahkan tanpa disadari. Tangan Roby bergerak menghampiri wajah Hana, ia menyingkirkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajahnya.
Saat sedang asik memandangi wajah indah Hana, Roby terkejut saat Hana memeluknya dengan sangat erat. Bahkan kini badan mereka saling menempel tanpa jarak di antara mereka, karena hal itu membuat jantung nya berdegup sangat kencang dan sesuatu di bawah sana sudah terbangun. Tapi ia merasa sangat senang karena perlakuan Hana tersebut, hingga tanpa ia sadari dirinya sudah tertidur pulas di atas karpet. Roby bahkan tertidur dalam keadaan tersenyum dengan gurat wajah yang terlihat sangat bahagia. Kenyataannya apa yang di alami Roby hanyalah mimpinya saja, karena ia terlalu kelelahan akibat berolahraga agar membuatnya tertidur.
__ADS_1