
πβ¦.. πβ¦. π.... π.... πβ¦. π...
Hari demi hari sudah terlewati, kini di sebuah rumah yang sangat indah sedang berlangsung acara pernikahan yang sangat sederhana. Hanya ada sedikit orang disana, termasuk Nisa yang tengah semangat menunggu sang pengantin wanitanya.
Di teras depan rumah, seorang pemuda dengan setelan formalnya tengah bersandar di tiang rumah yang terbuat dari kayu itu. Semenjak ia datang kesana, tiada hentinya asap rokok yang terus mengepul saat ia menghisap batangan rokok itu. Wajahnya terlihat begitu dingin dengan tatapan tajam yang mengarah pada satu titik.
" Dia bahkan tidak takut dengan ancaman ku, apa dia sengaja berakting ketakutan saat itu. Tapi aku tidak peduli lagi terhadapnya, setelah acara menyebalkan ini selesai. Dia akan tahu seperti apa kehidupan ku dan apa yang pantas ia dapatkan karena tak mendengarkan ancaman ku. " Gumam nya sambil tersenyum dengan penuh kelicikan. Bungkusan rokok yang entah keberapa juga menjadi korbannya dan terbuang sia-sia karena ia meremasnya dengan kencang.
Sedangkan di sisi yang lainnya, seorang gadis sedang di hias dengan begitu cantik. Cukup dengan riasan yang begitu sederhana, ia sudah terlihat begitu menawan dengan aura kecantikan alami nya. Gaun kebaya sederhana yang dipadukan dengan brokat berwarna putih, membuat ia tampil bagaikan bidadari.
" Ya Tuhan, kau hanya meminta riasan yang sederhana tapi hasilnya sangat memuaskan. Aku tahu karya ku memang selalu berhasil dan tak akan mengecewakan, tapi melihat tangan mu yang masih di balut perban. Apa kau tidak merasakan sakit, jika ia tolong katakan padaku. Biar aku carikan baju yang lebih nyaman untuk mu? " Tanya sang perias dengan raut wajah khawatir.
" Aku tak apa Kak, ini tidak terlalu sakit dan Terima kasih atas pujiannya. " Ucap Hana dengan lembut.
" Ah, kau sangat manis sekali. Calon suami mu sangat beruntung mendapatkan gadis yang sangat anggun seperti bidadari ini. " Goda nya sambil tertawa pelan.
__ADS_1
Disaat perbincangan mereka tengah berlangsung, mereka terpaksa harus menghentikannya karena dari luar seseorang mengetuk pintu dan menyebutkan acaranya akan segera dimulai. Sontak sang perias yang dengan asik menggoda Hana kelimpungan karena lupa menaruh sepatu yang akan digunakan pengantin wanitanya.
Beruntungnya asisten nya menemukan sepatu itu di tumpukan gaun bekas di coba, sehingga pengantin wanita bisa dengan cepat keluar dan acara langsung dimulai.
Pengantin wanita dibantu sang asisten berjalan menuju ruang tengah yang dipakai untuk ijab qabul, saat sampai di ruang tengah. Semua sorot mata mengarah kepada gadis yang sudah menggunakan gaun pengantinnya, tatapan kagum begitu terpancar dengan jelas. Apalagi sang pengantin pria nya, dia begitu terpana saat melihat calon istrinya yang sebentar lagi akan menjadi sah.
Kini acara sedang berlangsung, Pak penghulu sudah memulai acaranya. Tahap demi tahap dilalui dengan lancar tanpa hambatan, hingga saat nya melangsungkan ijab qabul. Nisa tampak begitu senang dan terus saja memegangi tangan pengantin wanitanya yang tak lain adalah Hana.
Dengan begitu lancar dan lantang, Roby melantunkan ijab qabul nya. Semua orang berteriak sah dengan kencang dan sorak bahagia mengisi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Acara ditutup dengan rangkaian doa dan juga pemasangan cincin nikah antara pasangan pengantin itu. Nisa menangis sambil memeluk erat Hana yang ikut menangis, ia begitu bahagia melihat putra bungsunya itu sudah menikah dan ia tidak mengkhawatir kan lagi tentang masa depannya. Ia juga senang karena Hana adalah pilihan dari sang suami, dan ia juga sudah menyukai Hana sejak pertemuan pertama mereka.
Acara tersebut kini sudah usai, petugas KUA dan beberapa orang saksi sudah diantar pulang sama supir keluarga, tinggal keluarga inti yang ada disana kecuali anak sulung dari keluarga Danuarta yang tidak hadir. Mereka tidak bisa hadir karena mereka sedang ada urusan yang sangat penting, sehingga mereka tidak bisa menjenguk sekaligus datang dihari pernikahan Roby dan Hana.
" Nak, kini kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kau sekarang adalah putriku, ingatlah untuk selalu terbuka padaku. Kau bisa menceritakan apapun masalahmu terhadap ku, termasuk suamimu. Aku tau ini sangat berat untuk mu, tapi aku yakinkan untuk mu bahwa Roby anak ku sebenarnya anak yang baik. Hanya saja dia mempunyai kel.... " Kata-kata Nisa terhenti saat ia ingin menceritakan tentang keadaan Roby yang sebenarnya, namun ia tidak berani memberitahu kekurangan anak nya itu terhadap Hana.
" Ada apa Bu, kenapa ibu berhenti. Apa sudah terjadi sesuatu dengan kak Roby, apa yang sudah terjadi kepadanya?. " Tanya Hana dengan wajah yang penasaran.
__ADS_1
" Ah tidak apa-apa nak, semua baik-baik saja. Dan mulai sekarang kamu jangan panggil aku dengan sebutan ibu, itu terlalu formal untuk ku. Panggil aku Mama dan Raihan dengan sebutan Papi, aku ingin kau memanggil kami dengan sebutan itu sama seperti Roby dan kakak nya. " Jelas Nisa sambil tersenyum.
" Mama, bolehkah aku memanggil mu dengan sebutan Mama?. " Tanya Hana dengan terharu.
" Tentu saja, kau memang putriku dan kau akan menjadi putriku selamanya. " Ucap Nisa dengan terharu sambil memeluk Hana.
" Ma, apa aku boleh tinggal di rumah ku sebelumnya. Aku... Aku punya kegiatan lain selama ini, dan aku ingin berangkat sekolah seperti hari-hari biasanya. Apa aku bisa melakukan itu semua, " Tanya Hana dengan hati-hati.
" Tentu saja sayang, lusa kau bisa kembali kesekolah. Dan untuk beberapa hari kebelakang, aku sudah mengurus dan mengirimkan surat izin ke sekolah. Kau boleh tinggal dimana pun kau mau termasuk kegiatan yang selalu kamu lakukan sayang, tapi jika hari libur kau harus tidur dirumah. Karena Mama akan sangat merindukan putri baru Mama, oke " Ucap Nisa dengan lembut.
" Terima kasih, sekali lagi Terima kasih Ma. " Ucap Hana.
Dibalik kegelisahan yang sedang Hana rasakan, terselip rasa bahagia yang begitu mendalam. Dimana sosok Nisa yang begitu lemah lembut sangat mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan, sosok ibu yang selama ini ia impikan dan sangat ia rindukan. Kini sudah terbayar dengan perlakuan Nisa kepadanya, walau pada awalnya ia merasa takut dan ragu. Tapi kini hatinya harus belajar untuk menerima takdir yang sudah Tuhan berikan kepadanya.
" Sayang, Mama tidak akan tinggal bersama kalian disini. Mama akan pulang lebih dulu ke kota, kalian tahu kan kalau Papa mu masih dirawat dan tidak ada orang lain yang menjaganya. Untuk keperluan kalian, Mama sudah menempatkan salah satu pembantu dari rumah untuk menjaga kalian. Maafkan Mama sayang, Mama tidak bisa tinggal dan berbagi kebahagiaan bersama kalian. " Ucap Nisa dengan sedih.
__ADS_1