Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 32


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Hana pergi kearah jendela dan melihat sinar rembulan yang terlihat sangat cerah dan bulat sempurna. Hana memberanikan diri membuka jendela yang terlihat seperti pintu geser, ia berjalan kearah balkon luar kamarnya. Mata yang berkaca-kaca memandangi langit malam yang di penuhi bintang.


" Ada apa dengan ku, kenapa perasaan ku merasa tak asing dengan posisiku sekarang ini. Bukankah ini pertama kalinya aku berada di rumah mewah dan besar seperti ini, tapi kenapa hati ku merasakan kalau tempat ini tak asing buat ku. " Gumam Hana.


Hana jatuh terduduk di lantai, hembusan angin malam yang dingin tak membuat dirinya beranjak dari sana. Hana meyenderkan tubuhnya di dekat pot bunga yang terbuat dari keramik. Ia memandangi tanaman bunga itu dengan seksama, tanpa ia sadari, tangannya ingin menyentuh bunga tersebut. Namun jari nya tertusuk duri yang ada di sekitar barang bunga tersebut, Hana hanya menatap luka di jarinya yang sudah mengeluarkan darah. Kini tatapan Hana seakan kosong dan hanya tertuju pada bulan purnama.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, seseorang masuk kedalam kegelapan. Ia berjalan pelan sembari menanggalkan pakaian dan melemparkannya kearah sembarangan. Orang tersebut nampak heran karena jendela balkonnya terbuka, dan angin masuk kedalam kamar dan membuat tirai disana seperti melambai-lambai.


" Tumben pintu kacanya enggak di tutup sama si mbok, apa dia lupa ya. " Gumam orang tersebut, sambil berjalan kearah balkon untuk menutupnya.


Namun ia terdiam saat melihat seseorang yang tak asing lagi buatnya, seketika wajahnya berubah menjadi dingin saat menatap orang tersebut. Ia berjalan mendekat dan kembali berhenti saat dia sudah berada tepat di depan pintu.

__ADS_1


" Apa yang sedang kau lakukan, apa kau mencoba untuk bunuh diri. Atau kau sedang pura-pura sakit dan diam disana agar aku kasihan kepadamu, hahaha.. Jangan berharap hal seperti itu kepadaku, kau tak pantas untuk mendapatkan perhatian bahkan kasih sayang dari siapapun termasuk Papa sama mama ku. " Ucap orang yang berdiri di depan pintu kaca.


Tiba-tiba ia kaget saat mendapati tatapan kosong yang di tunjukkan kepadanya, seketika hatinya berdenyut sakit dan ada perasaan aneh yang menyeruak keluar dari dalam dadanya. Ia terdiam tak berkata lagi setelah orang yang ia tegur menatapnya, tatapan yang penuh keputusasaan, ketakutan, kehampaan dan juga kesepian. Semua hal itu tersirat dalam bola mata yang bersinar saat cahaya rembulan menyinarinya.


" Dari dulu aku tidak pernah mengemis perhatian, kakek selalu keras dalam mendidik ku. Anak yang lain tinggal bersama kedua orang tua mereka di rumah dan hidup dengan bahagia, sedangkan aku selalu tinggal di Asrama dengan iming-iming agar aku hidup mandiri. Aku juga tidak berharap orang lain menyayangiku, karena Tuhan sudah mengambil semua orang yang aku sayang. Aku bahkan hanya tinggal dua hari dalam seminggu di rumah kakek, dan fakta yang paling menyedihkan adalah aku tidak mengenali kedua orang tuaku, bahkan wajah mereka sekalipun aku tidak mengingatnya. Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu dari orang lain bahkan sampai merenggutnya, itu semua karena aku tak sanggup lagi kehilangan orang yang aku sayangi. Dan satu hal lagi, aku tidak mengerti kenapa kakak selalu berkata kasar dan menjelekan ku. Kita bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya, aku dan kakak hanya orang asing sebelumnya, bahkan aku tidak mengenal siapa Papa. Tapi takdir membuatku terikat dengan kakak dan menjadi bagian keluarga Papa dan Mama. Aku tahu aku memang gadis tidak tahu diri, tapi aku juga punya hati nurani dan perasaan ku selalu terluka saat mendengar perkataan kakak. Kenapa, apa yang salah dan hal yang sudah aku perbuat hingga kakak seperti itu kepadaku. " Dengan tubuh yang lemah, ia bangkit dan berusaha menahan agar badannya tidak jatuh dengan berpegangan pada dinding.


Ia yang tak lain adalah Hana, dengan suasana hati yang sedang tak baik. Ia dengan berani mengungkapkan perasaan nya saat itu, seperti ada sosok lain yang tersembunyi dalam raganya. Ia kemudian berjalan kembali memasuki kamar dan melewati orang yang sedang berdiri di depan pintu yang tak lain adalah Roby., dengan kaos putih polos yang masih ia kenakan, dia terlihat terdiam merenungi setiap kata yang Hana ucapkan kepadanya, ia bahkan tak bergerak sedikitpun dan mematung begitu saja.


Hana yang sudah berada didalam memilih tidur di lantai yang sudah beralaskan karpet tebal, ia tidur tanpa bantal atau pun selimut.


Roby seakan tersadar dari lamuman nya, ia membalikan tubuhnya dan menatap Hana yang sudah tertidur membelakanginya. Tangannya tanpa sadar memegang dadanya, ia merasakan sakit yang aneh pada bagian itu. Dengan langkah lesu, Roby berjalan memasuki kamar mandi dan menganti pakaiannya dengan setelah yang biasa ia pakai saat tidur. Tak lupa ia juga menutup pintu agar angin tak masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Setelah selesai menganti pakaiannya, ia kemudian langsung pergi menuju kasur dan berbaring disana. Namun saat ingin memejamkan mata, ia tak bisa karena pikirannya kini di penuhi oleh kata-kata yang Hana ucapkan.


Justru Roby nampak gelisah, walau sudah berapa kali merubah posisi tidurnya. Tapi ia tetap tak bisa memejamkan matanya dan tidur seperti biasa.


" Apa yang dimaksud sama perkataannya tadi, apa dia seorang yatim-piatu, lalu dimana saudaranya?. Kenapa aku tidak mencari tahu sebelumnya, di pernikahan kami juga tak ada orang lain yang mendampinginya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadanya? , siapa dia sebenarnya? dan kenapa dia menatapku dengan tatapan kosong seperti itu? . " Gumam Roby bertanya-tanya.


Kemudian Roby membalikan badannya dan sedikit bergeser kesamping arah Hana, ia melihat tubuh Hana yang bergetar kedinginan. Hingga akhirnya ia sadar kalau ia lupa jika kebiasaan tidur nya yang selalu menyalakan AC dan tidur dengan hanya memakai celana boxer saja.


" Kenapa aku lupa kalau ada orang lain di kamarku" gerutu Roby dengan kesal.


Kemudian ia bangkit dan menghampiri Hana, ia terlihat kebingungan harus melakukan apa terhadapnya. Samar-samar terdengar Hana tengah mengigau dan memangging ayah dan ibunya. Dengan perasaan cemas untuk pertama kalinya, Roby berjalan mendekati tubuh Hana. Ia memegang tangannya, betapa terkejutnya ia saat menyadari suhu tubuh Hana sangat tinggi. Ia merasa bersalah karena berbicara kasar padanya, tapi perasaan itu di tepis dan di anggap angin lalu saja.

__ADS_1


Dengan bodohnya Roby tidak mematikan AC dalam kamarnya itu, ia bahkan menyelimuti Hana dengan sebagian karpet yang Hana tiduri kemudian dilipat menutupi tubuhnya. Roby benar-benar sangat bodoh dan tidak tahu cara memperlakukan seorang gadis dengan baik, justru ia malah memperlakukan Hana layaknya sebuah barang.


" Tidak.. Tidak.. Tidak, jika Mama melihat dia tergulung karpet, Bisa-bisa aku di usir dan gak dapet uang jajan lagi. " Gumam nya sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2