Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 37


__ADS_3

" Siapa orang yang Hana temui barusan, bukannya selama ini dia hidup hanya sebatang kara. Kenapa Hana terlihat sangat akrab dengan orang itu, sikapnya juga agak aneh sejak kemarin. Apa dia sudah menyembunyikan sesuatu dan tak ingin kami ketahui. " Gumam wahyu pelan.


Hana yang melihat mobil Nisa sudah pergi jauh, ia kemudian lekas masuk kedalam gerbang. Ia juga sudah menaruh ponsel serta kartu debit yang di berikan Nisa kepadanya. Ia tidak ingin menunjukan ponsel baru nya itu di hadapan teman-temannya, dan membuat mereka curiga dan berfikiran negatif tentang dirinya.


Sesampai di kelas, Hana seperti biasa menyapanya dan langsung duduk di bangkunya. Suasana kelas masih sangat sepi karena hari masih pagi, Hana kemudian mengeluarkan buku dan mulai mengerjakan tugas selama ia cuti sekolah.


Tak lama kemudian, Wahyu masuk kelas setelah mengucapkan salam. Ia duduk di bangku tempatnya, Hana juga sempat menyapa wahyu sebelum dirinya kembali pokus pada pelajaran.


Sementara di dalam mobil yang di tumpangi Nisa, sang supir sangat mengagumi keanggunan Hana saat tadi berbicara kepada Nisa. Ia memuji Hana sebagai gadis baik yang sudah jarang di temui di waktu sekarang.


" Non Hana gadis yang baik ya Bu, saya kaget loh pas lihat dia tadi berbincang sama ibu. " Kata supir memuji nya.


" Iya Pak, dia memang gadis yang sangat lugu. Beruntung keluarga kami mendapatkannya, dia benar-benar anak idaman semua ibu. " Kata Nisa dengan sangat bangga.


" Iya, coba saja kalau aku ketemu sama Non Hana duluan. Pasti saya langsung jodohin dia sama anak saya " Canda Pak supir sambil tertawa.


" Jangan ganggu dia loh Pak, dia udah jadi anak saya. Lagian si Roby mana mau sesuatu miliknya di ambil orang, pasti dia enggak bakal tinggal diam. " Canda Nisa sambil ikut tertawa, walaupun perkataannya sedikit terdengar seperti sebuah ancaman.

__ADS_1


" Oh ya pak, sebentar lagi kayaknya aku udah mau punya cucu baru. Menurut bapak, nanti cucuku itu perempuan atau laki-laki? " tanya Nisa dengan semangat.


" Ya ampun bu, masa iya saya mau rebut Non Hana. Lagian dia pasti sangat cocok kalo di sandingkan sama dengan den Roby." Kata pak supir gugup.


" Lah memangnya istri den Malik lagi hamil lagi ya Bu, bukannya adek nya Cilan masih kecil?. " Tanya pak supir keheranan.


" Bukan istrinya Malik pak, tapi istrinya Roby. Aku tuh udah enggak sabar pengen nimang cucu dari dia, pasti anaknya bakal lucu kaya aku. " Ucap Nisa sambil tersenyum.


" Oalahh.. Tak kira siapa loh bu. Den Roby kan masih muda, ditambah Non Hana juga masih sekolah. Masa iya langsung punya anak, lagian ini jaman sudah modern enggak kaya jaman dulu yang enggak tahu masalah KB implan atau apalah itu namanya. Lagian Ibu ada-ada saja, masa iya anak nya mirip ibu, kan ibu bapaknya den Roby sama Non Hana. " Ucap sang supir ketawa.


" Iya ya pak, ya udah lah sing penting anak mantu sama cucu ku pada sehat semua. " Ucap nisa.


" Oh iya Pak, bapak istirahat aja dulu. Nanti saya mau ke kantor, sekitar jam 10 aja bapak bersiap. Soalnya ada rapat penting " Kata Nisa sambil turun dari mobil.


Nisa melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut, terlihat pelayan membukakan pintu dan lekas menutupnya kembali setelah Nisa masuk.


" Dimana anak itu, apa dia belum berangkat sekolah? " Tanya Nisa.

__ADS_1


" Den Roby masih di kamarnya nyonya, aku belum lihat den Roby keluar dari kamarnya. " Ucap pelayan yang tadi membukakan pintu.


" Hemm.. Sampai kapan anak itu akan seperti itu, apa dia tidak memikirkan tentang masa depannya. Bagaimana dengan menantu sama cucuku nanti, jika suami dan ayahnya seperti ini. " Keluh Nisa sambil berjalan menuju ke lantai atas.


Nisa membuka pintu kamar, ia berjalan kedalam kamar tersebut untuk mencari anaknya. Namun ia heran karena anaknya tak ada di atas ranjang, ia kemudian berjalan kedalam toilet dan tidak menemukan nya disana. Namun saat keluar dari toilet, ia terkejut melihat anaknya tertidur di atas lantai yang sudah di alasi karpet. Nisa menghampiri anaknya dan mengecek keadaannya, dia khawatir karena tidak biasanya Roby tidur di lantai.


Setelah mengecek keadaan dan semuanya baik-baik saja, ia kemudian duduk di sofa untuk beristirahat. Nisa merasa sangat lelah karena harus bolak balik ke rumah sakit, belum juga dia harus menggantikan posisi suaminya di perusahaan. Raga yang sudah tak muda lagi membuatnya cepat merasa lelah, selama ini dia selalu berkonsultasi dengan dokter tentang kesehatannya yang selalu menurun tiba-tiba.


Nisa memandangi kamar anaknya yang terlihat suram karena dekorasinya berwarna hitam-abu abu. Namun matanya menangkap satu barang yang membuatnya heran, karena setahu dirinya anaknya itu sangat tidak menyukai barang tersebut apapun bentuk nya.


" Sejak kapan dia mulai menaruh jam di kamarnya, bukannya dia sangat benci dengan yang namanya jam. Apa ini karena istrinya, syukurlah kalau dia sudah mulai sedikit berubah. Semoga saja dengan hadirnya Hana di hidupnya membuatnya sadar dan lebih menghargai waktu yang ada. " Ucap Nisa yang memandangi Roby yang masih terlelap di depan kakinya.


Tak lama kemudian Roby terbangun karena kakinya terasa panas, Nisa sengaja membuka tirai kamar Roby dan membuat sinar matahari mengenai kaki anaknya itu.


" Sejak kapan Mama duduk disana, apa aku setampan itu hingga Mama terus memandangi ku bahkan saat aku tidur. " Ucap Roby dengan pede, walau ia masih belum membuka matanya. Tapi ia sudah kenal dengan aroma khas sang ibu, baginya aroma ibunya itu sangat unik dan dia bisa membedakan nya dengan orang lain.


" Sampai kapan kamu akan menjadi anak tak berguna, apa kamu ingin seperti ini sampai tua. Kau sudah memiliki istri, setidaknya kau harus belajar bertanggung jawab dan memenuhi tugas sebagai seorang suami. Bukannya kamu harusnya sudah masuk ya, kenapa tidak berangkat sekolah. " Ucap Nisa dengan nada kesal.

__ADS_1


" Mama kenapa sih, pagi-pagi udah marah-marah gak jelas. Gimana perkembangan Papa, apa sudah ada peningkatan. Besok Mama istirahat saja di rumah, biar Roby yang jaga Papa di rumah sakit. " Jawab Roby sambil bangun dan duduk di samping Nisa.


" Jangan mengelak dari pertanyaan Mama Roby, Mama sudah tak muda lagi dan kondisi Papa mu juga belum pasti. Kamu belajarlah untuk sedikit demi sedikit merubah kebiasaan buruk mu ini, Mama tidak ingin kamu menjadi orang yang tak berguna di masa depan." Ucap Nisa dengan nada lemah.


__ADS_2