
Alex terlihat termenung setelah mendengar perkataan suster tadi, ia seperti berpikir tentang diagnosa dari semua keluhan yang Hana selama ini ia ketahui. Semenjak tadi Alex tak henti memainkan pulpen di tangannya dan seperti sedang memikirkan hal yang sangat serius. Hingga akhirnya ia berhenti memainkan pulpennya dan menutup laporan medis itu dan menyimpannya di tempat semula. Alex lantas bangkit dari duduk nya dan meregangkan tubuhnya dengan sangat lama.
" Tinggal menunggu hasil dari CT scan, maka apa yang aku pikirkan akan terbukti dan masalah Hana selama ini akan terpecahkan. " Cuman Alex pelan.
Sementara di tempat Hana, kini ia sudah di pindahkan di ruang perawatan. Hana nampak sedang tidur pulas sendirian disana, karena Hana tidak punya saudara untuk di hubungi apalagi ia tidak mengingat tentang temannya saat ini. Karena kejadian yang terjadi itu sudah membuatnya sangat syok saat ini, sehingga ia masih berpikir jika hal itu hanyalah gambaran patamorgana buatnya.
Kini sudah tengah malam, Hana nampak begitu gelisah dalam tidurnya. Bulir keringat mulai membasahi dahi dan juga telapak tangannya, gerakan gestur tubuhnya juga semakin terus meningkat ditambah gumaman tak jelas yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya Hana terbangun sambil berteriak kencang, ia terlihat sangat ketakutan.
" Kenapa mimpi buruk itu selalu datang dalam tidurku, apa Tuhan sedang menghukumku karena sudah menentang perkataan kakek dulu. " Gumam Hana pelan.
Hana terlihat melihat sekitar ruangannya, ia juga memperhatikan jarum infus yang menempel di tangan kanannya. Hingga pandangannya teralihkan kepada toples obat dan secarik kertas yang di taruh di atas nakas. Hana kemudian membaca tulisan tersebut dan langsung meminum obat itu sendiri.
Setelah selesai meminum obat itu, Hana kembali membenarkan duduknya ke posisi yang membuatnya nyaman. Ia kini sedang menyender di kepala ranjang, tak lama kemudian Hana kembali tertidur di posisi duduk menyender.
π π π π
Keesokan paginya, Hana terbangun lebih awal. Sudah menjadi kebiasaan Hana bangun jam empat subuh, ia mengambil air wudhu dan melakukan sembahyang sholat, walau ia harus melakukannya dalam posisi duduk di atas ranjang. Karena kondisi nya belum memungkinkan ia untuk bergerak berlebihan, apalagi tangannya mengalami patah tulang, membuat Hana merasa kesakitan sekaligus kesusahan sendiri.
Saat jam tujuh pagi, Alex kembali mendatangi Hana. Suster yang merawat Hana juga sedang membantu Hana untuk mengganti pakaiannya di toilet dan memberikan sarapan pagi beserta obat yang di berikan oleh dokter.
" Pagi dek, gimana keadaan mu saat ini. Apa kau sudah baikan atau kau punya keluhan lainnya, jika kau merasakan keluhan sakit. Kau bisa memberitahu suster dan dokter akan memeriksa keadaan mu. " Kata Alex lembut.
" Pagi juga pak dokter, maafkan Hana ya sudah membuat pak dokter repot. Makasih untuk obat yang semalam, aku merasa sangat senang dan tenang semalam. Berkat dokter Alex, aku bisa tidur dan mimpi buruk itu sudah hilang. Tapi saat ini aku merasa sakit pada tanganku, dan ini juga sangat merepotkan. " Ucap Hana sambil tersenyum.
__ADS_1
" Apa keluhan mimpi mu itu masih belum hilang juga, kamu tidak usah sungkan kepadaku. Anggaplah aku sebagai kakak mu sama seperti biasa yang selalu kita lakukan. " Ucap Alex dengan ramah.
" Terimakasih pak dokter, kau selalu baik terhadap ku. Oh ya, aku mau minta maaf karena jadwal cek up ku kemarin sempat tertunda. Apa aku masih bisa berkonsultasi hari ini, sebagai ganti yang kemarin aku tidak melakukan nya. Apa masih bisa? " tanya Hana dengan malu-malu.
" Kau memang gadis yang terlalu polos, tentu saja bisa, mau sekarang juga tak apa. Lagian jadwalnya hari ini lagi lenggang, jadi aku akan mendengarkan pasien ku ini. " Kata Alex bercanda sambil ketawa.
Alex sendiri tipikal orang yang hangat dan ramah, dia juga mudah untuk berbaur dengan setiap orang. Senyuman yang manis serta terdapat dua lesung pipi yang menambah kadar ketampanan dokter berumur 28 tahun itu semakin sempurna.
" Pak dokter terlalu berlebihan, apa cuman aku saja yang menjadi pasien disini. Pak dokter bisa memeriksa mereka, atau kalo tidak pak dokter bisa menangani pasien yang lain. " Kata Hana dengan canggung.
Suster yang masih berada disana terlihat senyum-senyum sendiri, ia merasa iri dengan kedekatan Alex dan Hana. Karena ia sangat tahu jika dokter Alex adalah dokter yang selalu menjadi bahan perbincangan dan sudah menjadi idola akibat ketampanannya di rumah sakit itu.
" Jadi kau mau berkonsultasi apalagi, aku akan setia mendengarkan ceritamu kali ini. " Ucap Alex sambil menepuk pelan puncak kepala Hana.
" Akhhhhh... Dokter terlalu manis, aku jadi iri. " Teriak suster itu dengan histeris.
" Lihatlah kau sudah meningkatkan intensitas cairan infus nya, apa kau sadar dengan apa yang sudah kau perbuat Sus. Kau bisa saja membunuh pasien yang kau tangani dan membuat jantungnya di penuhi oleh cairan infus, jangan kau ulangi kecerobohan mu itu. " Ucap Alex dengan tegas.
Hana yang ada disana menjadi merasa bersalah dan malu karena tingkah berlebihan Alex. Hana hanya bisa diam dan tertunduk ketakutan, ia tidak mengira jika perkataan Alex barusan mampu membuatnya sangat takut.
" Ah, maafkan aku dek. Aku memang sangat ceroboh dan hampir membuatmu dalam keadaan bahaya, aku juga minta maaf Pak Alex. Karena tingkah berlebihan ku, aku hampir saja membuat pasien ku sendiri dalam keadaan bahaya.
" Baiklah, jika kau sudah selesai. Kau bisa tinggalkan kami, karena pasien ku ini ingin berkonsultasi dengan ku. " Ucap Alex kepada sang suster.
__ADS_1
Suster itu lantas pergi setelah mengecek semua nya dengan teliti, ia juga meminta maaf lagi kepada Hana karena ia sudah ceroboh. Sedangkan Hana hanya mampu mengangguk karena masih syok dengan kejadian barusan.
" Jadi apa yang ingin kau ceritakan kepadaku, apa ada masalah penting yang kau alami atau kau rasakan saat ini. " Tanya Alex setelah suster itu pergi.
" Aku merasa kebingungan pak dokter, kenapa aku sangat mudah melupakan kejadian di masa lalu. Bahkan aku tidak mengingat kejadian semalam saat aku mengalami kecelakaan. Semalam aku juga bermimpi sangat mengerikan, dan bayangan kecelakaan selalu saja menghantui ku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan ku pak dokter. " Tanya Hana dengan ketakutan.
" Sepertinya mimpimu itu adalah potongan gambar yang pernah kau alami, untuk itu aku datang kemari. Aku ingin meminta persetujuanmu agar aku bisa menangani kasus mu lebih lanjut. " Ucap Alex serius.
" Apa penyakitku seserius itu pak dokter? " tanya Hana gelisah.
" Menurut diagnosis yang aku peroleh dari laporan medis mu, semua ini merujuk pada beberapa kemungkinan. Tapi yang paling umum dan sudah banyak kasus yang aku tangani ternyata memang menunjukan hal positif. " Jawab Alex lesu.
" Jadi apa kemungkinan yang akan terjadi padaku pak dokter, apa penyakitku ini begitu berbahaya. Aku akan mendengarkan penjelasan mu, dan aku akan menerima hasil nya apapun itu. " Ucap Hana sedih.
" Menurut diagnosis yang aku pelajari dari hasil pemeriksaan dan juga laporan medis, ini merujuk pada penyakit kanker atau tumor yang berada di pusat kepala. Karena itu lah kau selalu berhalusinansi dan bermimpi buruk setiap malam. Tapi kejadian seperti ini juga bisa di sebabkan oleh kecelakaan yang membuat sel saraf di otak mu jadi tidak berfungsi atau terganggu. Hanya itu diagnosis saat ini. " Kata Alex.
Hana hanya termenung memikirkan perkataan Alex, ia kembali menangis karena memikirkan nasib hidup dirinya untuk kedepannya. Ia tinggal sebatang kara tanpa seorang saudara yang ia ketahui.
" ya Alloh, kenapa kemalangan ini terjadi kepadaku. Cobaan apalagi yang kau berikan padaku, apakah aku akan mampu bertahan dari setiap ujian yang kau berikan padaku. " Batin Hana.
" Untuk itu lah aku ingin meminta persetujuan mu untuk melakukan CT scan pada bagian kepalamu. Tapi untuk melakukan ini harus ada yang bertanggung jawab dan hanya keluarga mu lah yang harus menandatangani persetujuan ini. Walau pun kau sudah memiliki KTP, kau harus memiliki persetujuan orang tuamu. " Ucap Alex lagi.
Hana semakin kebingungan dengan dirinya sendiri, ia tidak bisa berpikir saat ini. Ia kembali menangis karena harus mengetahui tentang kabar yang sangat buruk itu. Sedangkan Alex hanya bisa terdiam menghadapi situasi yang begitu menyedihkan itu. Ia sendiri sudah terbiasa dengan situasi yang ia rasakan saat ini, menjadi dokter kadang membuatnya menjadi sangat lemah dan tetap melakukan tugasnya yang harus menyelamatkan hidup seseorang.
__ADS_1
__________________________________________
See you next part Kak ππ