
Setelah selesai dengan urusannya, Hana kembali menghampiri mobil dan segera masuk. Sebenarnya rumah kostan Hana lumayan dekat dari sana, tapi jika dirinya pulang kesana pasti Nisa akan memarahinya.
" Dari mana saja kamu? " tanya Roby saat Hana memasuki mobil.
" Maaf karena sudah membuat kakak menunggu, maafin Hana ya pak karena udah ngerepotin. " Ucap Hana.
" Tak apa Non, lagian ini enggak lama kok. " Jawab sang supir dengan ramah.
Sedangkan Roby kembali memasang wajah datar dan juga judes khasnya, ia bahkan tak berbicara lagi dan pokus memainkan ponselnya. Perjalanan kembali dilanjutkan dan Hana kembali diam dan sesekali menengok kearah jendela.
Sesampainya di depan rumah Roby yang sangat megah, Roby turun duluan. Lalu disusul sama si mbok dan supir, sedangkan Hana masih terduduk di dalam mobil karena ia merasa ketakutan karena terlalu lama berada dalam mobil. Hingga supir menyadarkan Hana dan menyuruhnya untuk segera turun dan lekas masuk kedalam rumah.
Saat turun dari dalam mobil, Hana begitu terkejut melihat dimana dirinya berada. Ia menatap sekeliling arena halaman rumah yang sangat luas serta bagunan yang sangat megah berdiri kokoh tepat di hadapannya.
Seketika sekelebat ingatan Hana muncul, ia sangat panik dan sedikit merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia juga merasakan sesak, wajahnya yang berubah menjadi pucat dan keringat dingin mulai keluar dari dahinya. Tak lama kemudian Hana jatuh pingsan tepat di samping mobil.
Supir yang sedang mengangkat koper pun terkejut saat mendengar suara benda jatuh, lalu ia melihat kearah Hana. Sontak ia langsung menaruh kopernya dan menghampiri Hana, tak lupa ia juga memanggil si mbok dan membawa Hana kedalam rumah.
Nisa yang sedang menunggu kedatangan menantu barunya terlihat sangat senang dengan senyuman yang terukir di bibirnya. Namun yang ia lihat pertama kali adalah wajah datar anaknya yang tiba-tiba masuk dan pergi kearah kamarnya tanpa menyapanya sedikitpun. Hingga tak lama kemudian, suara ribut memasuki rumah besar itu. Nisa begitu terkejut melihat Hana yang tak sadarkan diri yang dibopong sama supir dan si mbok.
" Kenapa dengan Hana, kenapa dia bisa seperti ini. Apa Roby sudah berbuat sesuatu kepada menantu ku?. " Tanya Nisa dengan begitu gelisah.
" Non Hana tiba-tiba pingsan nyonya, den Roby tidak melakukan apapun kepada Non Hana. Sepertinya Non Hana sangat kelelahan akibat perjalanan yang jauh. " Jawab supir dengan sangat cepat.
__ADS_1
" Ya sudah, cepat bawa kekamar Roby. Setelah itu biar aku yang mengurusnya " ucap Nisa sambil mengikuti mereka menuju kekamar Roby.
Sesampai disana, mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Roby yang sedang duduk pun terkejut melihat keributan yang tiba-tiba terjadi di dalam kamarnya.
Setelah membaringkan Hana di ranjang, supir dan juga si mbok segera pergi setelah di perintahkan oleh Nisa. Sedangkan Roby hanya mendengus kesal melihat kearah sang ibu.
" Ma, ini apa-apaan sih. Kenapa dia tidur disini, kenapa tidak di kamar tamu aja Ma! " kata Roby dengan kesal.
" Roby, dia ini istrimu. Apa kau tidak kasihan melihatnya lemah seperti ini, seharusnya kamu yang menolongnya dan membawanya kesini bukan orang lain. " Ucap Nisa dengan keras, ia begitu kesal melihat sikap anaknya yang tidak berubah sedikit pun padahal sudah mempunyai istri.
Roby kemudian pergi dari sana, ia juga membawa jaket serta kunci motor kesayangan nya.
Setelah kepergian Roby, Nisa kemudian berinisiatif untuk mengganti pakaian yang di kenakan Hana dengan baju tidur yang sudah ia persiapkan. Saat ia membuka kerudung Hana, ia begitu terkejut melihat kondisi pada leher Hana. Lalu ia membuka baju dan di buat lebih terkejut lagi. Namun dengan cepat ia memakaikan pakaian tidur, tak lupa ia juga merapikan rambut Hana. Setelah selesai, ia langsung menyelimuti Hana dan pergi dari sana.
" Mbok, bantu aku menyiapkan bubur sama beberapa buah. Nanti antar kekamar Roby ya " kata Nisa dengan gembira.
" Iya nyonya " jawab si mbok dengan penuh keheranan. Karena sudah lama sekali Nisa tidak memperlihatkan sikap bahagia seperti ini.
Mereka berdua pun mulai memasak dan menyiapkan keperluan Hana.
" Menurut mbok, Kira-kira aku bakal dapat cucu perempuan atau laki-laki?. " Tanya Nisa tiba-tiba.
Sontak si mbok yang sedang mencuci buah pun terkejut, hingga apel yang ia pegang terjatuh.
__ADS_1
" Tumben nyonya ngomong seperti itu, memangnya istri den Malik lagi ngisi lagi. ? " Tanya balik si mbok.
" Ah enggak bukan itu mbok, aku cuman tanya aja. " Jawab Nisa sambil tersenyum.
" Oh, iya aku lupa. Siapin obat demam sekalian ya mbok, juga bilangin sama Hana nanti kalau sudah sadar kalo aku di rumah sakit. Kabarin aku juga nanti setelah ia sadar, sekarang aku akan berangkat. " Ucap Nisa sambil bergegas pergi ke arah kamar setelah menyelesaikan masak nya.
" Baik nyonya " jawab si mbok.
Setelah itu si mbok langsung menyiapkan makanannya dan memanggil satu pembantu yang lain untuk membantu membawa semua makanan nya kekamar.
sesampainya di rumah sakit, Nisa langsung menghampiri sang suami yang masih terbaring koma. Ia dengan semangat menceritakan apa yang ia lihat saat mengurus Hana tadi. Ia bahkan bercerita sambil membayangkan apa yang telah terjadi antara anaknya dan juga Hana sang menantu, ia bahkan dengan senang berkata jika dirinya tak sabar ingin menggendong cucu dari anak bungsunya itu.
Di saat Nisa bercerita, tanpa ia sadari. Sudut mata Raihan meneteskan air, ia terlihat seperti merespon apa yang di katakan oleh Nisa.
" Pah, cepatlah sadar. Aku yakin Hana pasti akan sangat senang saat melihat mu sudah sadar, aku bisa merasakan jika dirinya begitu tertekan dengan kondisinya saat ini. Apalagi sikap Roby yang sangat kasar membuat ku semakin mengkhawatirkannya. " Ucap Nisa sambil menangis.
Kini malam pun telah tiba, sinar rembulan menembus celah jendela yang ada di kamar tempat Hana terbaring. Tubuh Hana tiba-tiba bergetar, keringat dingin membasahi dahi dan juga rambutnya. Hingga cairan bening mengalir dari kedua sudut kelopak mata yang masih menutup, seakan menyiratkan kesedihan yang mendalam dan menyiksa.
" Bunda...Papa....tidakkk........ " Teriak Hana dengan sangat keras, nafas yang terdengar sangat berat dan memburu. Hana kembali mengalami mimpi buruknya lagi, dan membuatnya sangat ketakutan.
Hana menangis sejadi-jadinya dan memeluk kaki dan menenggelamkan wajahnya di atas lutut.
" Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku. Kenapa aku selalu mengalami mimpi buruk, kenapa bayangan yang mengerikan itu selalu muncul dalam kepala ku. " Ucap Hana dalam tangisnya.
__ADS_1
Setelah ia puas menangis dan meluapkan semua kegelisahan yang di rasakan, Hana kemudian bangkit dari tempat tidur. Karena ia baru teringat kalau ia tadi membawa obat, beruntungnya supir tadi menaruh plastik obat yang sempat jatuh di nakas samping Hana berada. Lantas Hana mengambil obatnya dan segera meminumnya, keadaaan kamar itu terlihat remang-remang. Berkat cahaya bulan kamar itu tidak menjadi ruangan yang gelap gulita.