
" Jadi menurutku yang paling bagus tuh kandidat no.3. Dia sangat lugas dan tegas saat berbicara, terlebih visi dan misi yang ia bawakan tadi sangat bagus. Menurut ku kandidat itu yang pantas di pilih " ucap Wahyu dengan yakin.
" Bukannya dia itu dikenal sebagai anak nakal ya, kenapa harus milih dia. Bahkan dia pernah terlibat perkelahian antar siswa dan beberapa kali masuk ruang Bp " tanya Alifa.
" Gak semua anak nakal akan berprilaku bebas seterusnya Lif, terkadang mereka akan cepat berubah jika mereka sudah di beri tanggung jawab. Contoh nya ketua OSIS sebelum kak Romi, dia dikenal sebagai siswa pemberontak dan suka tawuran hingga hampir di keluarkan oleh pihak sekolah. Bahkan ia juga terlibat perkelahian antar siswa hingga ia harus di skorsing selama seminggu. Tapi dia menjadi murid yang disiplin, tegas dan bahkan teman sepergaulannya juga ikut berubah setelah dia menjadi ketua OSIS. " Jawab Mira.
" Bener kata si Mila, terkadang orang yang berprilaku nakal dan bebas. Mereka justru akan mudah berubah jika mereka diberikan suatu tugas dan tanggung jawab. Berbeda dengan orang yang terlihat dengan kesan baik, mereka justru akan sulit untuk di atur. Karena saat dirinya diberikan arahan untuk lebih meningkatkan diri, mereka akan terkesan acuh dan tak akan mengikutinya. Mereka menganggap kalo diri mereka itu sudah baik dan tidak perlu di tingkatkan lagi. " Tambah Wahyu memberikan penjelasan kepada Alifa.
Hana mendengarkan perkataan dari temannya itu dengan seksama, ia memikirkan tentang Roby. Ia berharap jika Roby bisa lebih meningkatkan dirinya menjadi lebih baik lagi, ia juga ingin Roby lebih lembut dan menghargai orang lain.
" Ya sudah, jadi besok sudah fix ya pilih no.3 " kata Alifa.
" Kata siapa, aku mau pilih no 2 kok "
" Kata siapa, aku mau pilih no 4 kok "
Mira dan Wahyu menjawab dengan serempak, Alifa hanya mendengus mendengar perkataan kedua temannya itu.
" Ya udah Lif, kamu tinggal pilih yang menurutmu baik aja. Kan gampang gak susah " Ucap Hana menyudahi perdebatan mereka.
__ADS_1
" Iya, kamu ini gak punya pendirian amat sih jadi orang. " Tegur Mira.
Hana kemudian menyudahi perbincangan mereka, ia mengajak ketiga temannya itu untuk pergi ke kantin. Ia ingin membeli minuman dan juga cemilan untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa lapar.
Siangnya atau lebih tepatnya jam 11 lewat, Alifa mengajak Wahyu, Hana dan Mira untuk pergi main. Kebetulan hari ini jamnya kosong, banyak murid yang sudah pulang dan keluar untuk sekedar nongkrong.
Mira mengangguk dan menyetujui perkataan dari Alifa, ia juga sudah lama tidak jalan bareng sama ketiga temannya. Mungkin kebersamaan mereka di luar sekolah bisa dihitung dengan jari, jangankan seminggu sekali. Kadang dalam sebulan saja mereka akan menghabiskan waktu bersama cuman sekali atau bahkan enggak sama sekali.
Hana hanya bisa meminta maaf untuk kesekian kalinya, ia tidak bisa ikut bergabung dengan temannya untuk nongkrong. Kesibukannya dalam bekerja paruh waktu, cukup menyita waktu kebebasannya. Beruntung ketiga temannya itu mengerti dengan apa yang Hana lakukan, mereka kadang akan nongkrong di kafe tempat Hana bekerja agar dia juga bisa bergabung.
" Yakin Han gak ikut lagi, kita mau ke Tamkot loh. Kamu gak bisa ijin sehari aja sama bos kamu " tanya Wahyu sambil membujuk Hana.
Kini mereka berempat sudah ada di luar gerbang sekolah, entah bujukan keberapa kalinya yang di layangkan kepada Hana agar dia ikut nongkrong bareng.
" Ya udah, padahal disana lagi ada karnaval. Aku udah lama gak jalan-jalan bareng sama kamu lagi mak " ucap Alifa dengan wajah sendu.
" Iya kami ngerti kok keadaan kamu, nanti aku beliin oleh-oleh buat kamu oke. Tapi buat gantinya besok kasih tau aku jawaban PR fisika " Ucap Mira tersenyum sambil memberikan kode.
" Ck.. Kamu ada-ada aja Mir, lagian kalau pun gak di beliin kalian tetap bakal liat jawaban dari buku tugas ku. " Hana berdecak pelan dengan perkataan Mira.
__ADS_1
" Ya udah kita berangkat dulu ya, Hati-hati di jalan nya ya mak. Semangat juga kerjanya, jangan lupa untuk beristirahat kalau cape. " Ucap Alifa sambil berjalan pergi meninggalkan Hana. Tak lupa ia melambaikan tangannya tanda perpisahan mereka.
Wahyu dan juga Mira menyusul Alifa di belakangnya, mereka berdua berpamitan dan mengucapkan salam perpisahan.
Sementara Hana berjalan kearah lain menuju halte untuk menunggu angkutan umum. Ia berencana untuk berkunjung ke rumah sakit terlebih dahulu, kejadian kemarin cukup membuatnya merasa sangat khawatir dengan keadaan Bimo. Entah mengapa saat Hana memikirkan pertemuan nya dengan Bimo, ia merasa ada seorang anak kecil yang selalu melintas di pikiran nya. Ia tidak mampu mengingat wajahnya, tapi ia selalu mendengar kata-kata lembut yang memanggil dirinya, dan juga sentuhan tangan kecil yang selalu melintas di pikirannya'.
" Kenapa aku jadi kepikiran bayangan anak kecil, siapa dia? Apa aku pernah bertemu dengan anak kecil, apa aku punya saudara " Gumam Hana sambil memukul-mukul kepalanya pelan.
Setelah sampai di halte, Hana segera naik angkot menuju ke rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bimo, ia ingin melihat senyuman hangat di wajah anak kecil itu.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan cukup jauh, Hana akhirnya sampai di depan rumah sakit. Tanpa pikir panjang, ia segera bergegas pergi ke ruangan tempat kemarin ia berkunjung. Tampak raut wajah Hana yang terlihat sangat gelisah, dan jalan dengan terburu-buru.
Sesampainya di depan ruangan tempat Bimo di rawat, Hana nampak sangat kebingungan. Ruangan yang sepi, bahkan tidak ada suara dari dalam ruangan itu. Ia pun memberanikan diri nya untuk membuka pintu dan membuang semua pikiran negatifnya. Hingga dua sosok parubaya menatap secara bersamaan kearah nya, saat pintu ruangan itu terbuka.
" Om.. Tante... Bagaimana kabar kalian, maaf aku tidak sopan dengan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. " Sapa Hana dengan gugup. Sementara pandangannya menyapu area disana, berharap ia menemukan sosok yang ia cari dan sangat ingin ia temui.
" Oh nak Hana, kami baik-baik saja. Tidak apa-apa kok, lagian kami datang kesini untuk mengemas barang milik Bimo. " Ucap wanita parubaya itu dengan wajah sendu.
Wajah kedua orang tua itu terlihat sangat sedih, mata yang membengkak akibat menangis dan juga suara yang terdengar parau. Hana merasakan perasaan yang aneh, ia tidak bisa menemukan orang yang ingin ia temui dan malah melihat kedua orang tua nya sedang mengemas barang pribadi milik anaknya itu.
__ADS_1
" Maksud tante sama om, Bimo sudah sembuh ya. Apa hari ini dia sudah di izinkan pulang " tanya Hana dengan senyum yang di paksakan.
" Iya, sebenarnya kemarin malam Bimo sudah pulang. Kami datang kesini untuk mengambil barang terakhir milik anak ku. " Jawab lelaki parubaya itu dengan berlinang air mata.