Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 64


__ADS_3

" Loh, bapak kok ada disini. Ini siapa? " Ucap Hana heran. Ia tidak bisa melihat jelas wajah orang yang di bopong oleh mang Aji. Hana hanya bisa melihat seragam putih milik Aji di ruangan yang temaram itu.


" Kirain siapa Non, ini mamang bawa den Roby. Tadi temannya sempat nganterin, cuman langsung pulang. " Ucap Aji dengan gugup.


Hana terkejut mendengar perkataan dari mang Aji, ia kemudian ikut membantu memapah Roby dan segera membaringkannya setelah sampai di kamar tidur.


" Ini kenapa bisa sampai begini pak? " Tanya Hana dengan perasaan cemas, ia sedikit kaku saat berjalan menaiki anak tangga karena ikut menahan tubuh Roby yang cukup berat.


" Sebenarnya den Roby udah sering kaya gini Non, cuman biasanya nyonya yang ngurusin. Mamang cuman nganter sampai depan pintu aja. " Jawab mang Aji dengan gugup, ia takut kalau majikannya akan marah karena sudah memberitahukan kebiasaan buruk Roby.


" Makasih Pak udah ngasih tau Hana. " Jawabnya sambil tersenyum kecil.


Mereka sudah sampai di kamar atas, mang Aji membantu Hana membaringkan Roby di kasur. Tapi kejadian tak terduga membuat kedua orang yang sangat berbeda itu terkejut, Roby tiba-tiba saja kembali sadar dan mendorong tubuh Hana dengan kuat. Lalu ia kembali tak sadarkan diri setelah berkata kasar, bahkan mang Aji yang masih ada disana di buat kaget karena kejadian itu.


Hana hanya bisa diam mematung dengan rasa sakit yang mulai terasa di punggung nya, dorongan Roby yang sangat kuat membuat punggungnya menghantam meja hingga meja yang ada di belakangnya terjungkal.


" Non Hana, apa baik-baik saja? " tanya Aji dengan raut wajah khawatir dan ekspresi yang masih kaget.


" Aku baik-baik saja Pak, maaf sudah merepotkan bapak. Sebaiknya Hana saja yang menyelesaikan ini sendiri, Terima kasih ya pak sudah membantu membawa kak Roby. " Ucap Hana sambil merintih menahan rasa sakit di punggung nya.


" Tapi, bagaimana jika den Roby berbuat seperti tadi. " Ucap Aji khawatir.


" Gak papa, mungkin kak Roby tidak sengaja. " Jawab Hana.

__ADS_1


Mang Aji terlihat tak enak dengan keadaan disana, ia merasa kasihan melihat Hana yang merintih kesakitan akibat dari anak majikannya. Ia juga tidak menyangka akan mendengar kata-kata kasar dan tidak pantas yang dilayangkan oleh Roby kepada Hana. Pada akhirnya ia pergi meninggalkan kamar itu, dan kembali berjaga di pos depan.


Sedangkan Hana ia berusaha untuk bangkit dan merapikan apa yang sudah terjadi disana, ia merasa tidak enak saat mang Aji juga mendengarkan dan menyaksikan kejadian tadi. Air mata jatuh tak terbendung lagi, Hana menangis dalam diam. Ia memandangi Roby yang terlentang di atas kasur tak sadarkan diri, sesekali suara isakan dari mulut Hana lolos walau ia sudah mencoba membungkam mulutnya sendiri.


Ia kemudian merapikan kembali meja dan segera menghampiri Roby, ia bisa mendengar gumaman kecil Roby yang merutuki dirinya. Dengan penuh kesabaran, Hana merawat Roby dan membantu membersihkan dirinya. Ia membuka semua pakaian luar kecuali celana yang ia kenakan, lalu ia membersihkan luka serta darah yang sudah mengering. Tak lupa ia juga mengompres luka lebam yang ada di wajah Roby.


Setelah selesai, Hana kemudian menyelimuti Roby dan menyalakan AC di ruangan itu. Setidaknya ia sudah tahu lebih banyak tentang kebiasaan dari suaminya itu, ia sudah mulai belajar memahami apa yang disukai dan di benci olehnya. Berkat cerita dari si mbok dan juga sang Mama, membuatnya sedikit demi sedikit mulai memahami karakter Roby.


Hana kemudian pergi keluar kamar, ia menuruni tangga dan berjalan kearah sofa yang ada di ruang tengah. Ia semakin merasakan rasa sakit yang bercampur dengan rasa ngilu di bagian punggung nya. Rasa kantuk mulai menyerangnya, Hana kemudian tertidur di sofa tanpa menggunakan selimut.


Di dalam tidurnya, sesekali badannya bergetar menahan hawa dingin malam. Terdengar juga gumaman kecil saat ia tidur pulas di ruang tengah yang gelap gulita sendirian.


Keesokan paginya, Hana langsung bergegas mandi dan sembahyang. Ia langsung memakai seragam dan pergi berangkat masih pagi, ia tidak ingin bertatap muka dengan Roby dahulu. Ia merasa sakit dan kecewa dengan perkataan yang ia lontarkan kepadanya semalam, ditambah perlakuan kasarnya membuat punggung nya sakit. Hana tak lupa menengok keadaan Nisa dan membantunya terlebih dahulu, ia juga sudah mengetahui penyebab sang Mama mertua itu tak sadarkan diri kemarin malam.


Awalnya Hana menolak dengan sopan, namun mang Aji tidak tega dan tetap akan mengantarnya. Hana hanya mengangguk dan menunggu di luar gerbang, ia merasa takut, kalau ia akan menyusahkan mang Aji nantinya. Ia takut tak sadarkan diri setelah sampai di persimpangan nanti.


Hingga mang Aji datang dengan sepeda tua yang ia kayuh. Hana hanya bisa terdiam melihat mang Aji mengayuh sepeda dengan seragam security.


" Ayok Non, biar mamang yang anter. Tadinya mau suruh supir yang anterin Non, tapi takutnya Non gak mau. Jadi mamang pake sepeda aja. " Ucap mang Aji sambil bersiap mengayuh sepeda nya.


" Ini beneran Pak gak merepotin, nanti bapak cape bawa Hana yang berat ini. " Ucap Hana ragu.


" Tak apa, lagian dulu sebelum kerja disini. Mamang sering anter anak mamang sekolah pake sepeda, makanya mamang seneng banget, berasa nostalgia gitu Non. Lagian jangan panggil bapak, berasa kayak bos aja. " Ucap mang Aji sambil tertawa.

__ADS_1


" Ya udah maaf ya mang, udah di repotin sama Hana. " Ucap Hana canggung.


Hana kemudian naik di belakangnya, ia duduk sambil memegangi rok panjangnya karena takut nyelip di jeruji ban sepeda. Sepanjang jalan, mang Aji bercerita mengenai keluarganya, tak lupa ia juga sesekali bertanya tentang Hana. Mereka terlihat layaknya seorang ayah dan anak yang sangat bahagia, sesekali Hana tertawa pelan mendengar cerita lucu dari mang Aji.


" Oh iya Non, mamang heran banget sama Non Hana. Kenapa gak pernah di anter sama supir, lagian dirumah nyonya banyak mobilnya. Kenapa harus susah - susah jalan kaki. " Tanya mang Aji penasaran.


" Itu mang, dulu aku sempet ngalamin kecelakaan gitu. Terus sampai sekarang masih trauma sama mobil dan motor, kecuali mobil angkot yang biasa aku naikin. Makanya Hana lebih baik jalan kaki, dari pada harus nyusahin orang lain. " Jelas Hana.


" Oh, pantes aja dulu pas Non Hana baru dateng kesini langsung pingsan setelah turun dari mobil. Kirain Non Hana cuman mabuk perjalanan. " Kata mang Aji.


" Iya mang, makanya Hana memilih jalan kaki aja. " Ucap Hana.


" Ya udah, besok-besok lagi minta bantuan sama mamang aja. Lagian mamang seneng bisa bantu Non Hana " Ucap mang Aji.


Tak terasa, mereka sudah sampai tepat di persimpangan jalan. Hana kemudian turun, dan mengucapkan banyak Terima kasih kepada mang Aji.


" Untuk kejadian semalam, Hana mohon jangan bilang sama siapa-siapa ya mang. Hana tidak mau ada omongan jelek tentang kak Roby, Hana takut jika Mama dengar cerita semalam ia akan kembali drop lagi. " Kata Hana.


" Iya Non, mamang gak bakal cerita sama orang lain. Kalo gitu mamang pergi dulu ya, Hati-hati di jalannya. " Ucap mang Aji.


Tak lama kemudian, mobil angkutan umum tiba, Hana kemudian bergegas naik. Walau hari masih agak pagi, tapi Hana sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai di sekolah. Wajahnya kembali murung, ia masih kepikiran dengan perkataan Roby semalam. Namun saat mendengar cerita dari sang Mama mertua, ia merasa bersalah walau tujuan nya sangat bagus untuk Roby.


Sesampai nya di sekolah, Hana lantas langsung menuju ke kelas nya. Ia ingin langsung menenangkan pikirannya sebelum teman-temannya datang.

__ADS_1


__ADS_2