Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
Bahagian 71


__ADS_3

Hana menggelengkan kepalanya, karena ia merasa kali ini Roby bersikap sangat lembut kepadanya.


" Apa kak Roby mengkhawatirkan ku, tidak biasanya dia seperti ini. Dia bahkan mengucapkan maaf secara langsung, apa kak Roby benar-benar mengkhawatirkan keadaan ku sekarang. " Batin Hana.


Hana melepaskan cengkraman pada jaket Roby, ia segera memposisikan duduknya agar di posisi ternyaman.


" Bukannya kak Roby tadi sama kak Gilang, kenapa kakak malah kesini?. " Mata Hana terbuka lalu menatap heran kearah Roby.


" Gak usah banyak ngomong, sekarang pikirin keadaan loe dulu. Ngapain repot-repot ngurusin orang sih. " Roby nampak geram saat mendengar perkataan Hana, ia tidak menyangka jika Hana akan menanyakan sahabatnya sendiri.


Roby kemudian langsung menggerakkan kedua tangannya untuk menyibabkan tank top Hana, ia sangat penasaran dengan luka di area yang ia pegang tadi, hingga Hana menangis kesakitan karenanya.


" A_a_apa yang kak Roby lakukan.. " Tanya Hana gugup, ia mencoba menahan tangan Roby yang akan mengangkat tank top nya.


" Diam atau... " Roby berhenti berkata saat Hana kembali menunduk. Ia sadar jika barusan ia membentak Hana dengan keras, sedetik kemudian Roby menghela nafas dan berkata lebih rendah agar Hana tidak ketakutan kepadanya.


" Aku cuma mau periksa luka nya aja Hanadia Marissa. " Ucap Roby dengan nada rendah.


Tak menunggu lama lagi, Roby segera menaikan kain tipis di hadapannya. Ia terjengkat kaget saat melihat luka lebam yang cukup lebar dengan warna biru keunguan, ia mencoba mengelus di sekitaran luka lebam itu. Hingga Hana kembali meringis dan menangis, bahkan kepalanya kini sudah berada di pundaknya. Tangan kirinya kembali mencengkram kuat pundak nya, Roby sangat geram melihat Hana yang kesakitan tak berdaya di hadapannya itu.


" Apa sangat sakit? " Tanya Roby, tangan kirinya tergerak untuk memeluk tubuh Hana memberikan kehangatan.


Sedangkan Hana hanya bisa mengangguk membenarkan pertanyaan dari suaminya itu.


Roby mengedarkan pandangannya untuk mencari benda yang akan membantu meredakan ngilu dari luka lebam istrinya itu. Namun sayang nya ia tidak melihat benda yang sedang ia cari.


" Kamu gak punya kulkas An. " Tanya Roby.


Hana kembali menggelengkan kepalanya, ia sempat keheranan dengan Roby yang mencari kulkas. Emang apa hubungannya kulkas sama luka lebam nya itu, pikir hana.


Roby lantas sedikit bergerak dan mengambil bantal yang tak jauh dari Hana, setelah mendapatkannya. Ia meletakan nya di posisi agar Hana bisa berbaring dengan nyaman. Tak lupa ia membuka jaket nya dan memakaikannya ke tubuh Hana.


" Biar gak dingin, aku mau keluar dulu sebentar nyari obat sama es batu buat kompres luka lebam nya. Jangan nangis lagi, loe jelek kalau nangis kaya gitu. " Ucapan Roby membuat Hana menatap tak percaya, ia merasa jika yang dihadapannya kini bukanlah Roby suaminya. Tutur kata yang lembut membuat Hana merasa sangat nyaman, apalagi perlakuannya tadi.


Roby mengelus kepala Hana dan membantu membaringkan tubuh Hana. Setelah selesai, Roby segera pergi dari sana. Ia keluar lewat pintu dimana ia masuk tadi, tak lupa ia juga mengambil kunci pintunya dan menguncinya dari luar.


Hana hanya menatap kepergian Roby dengan perasaan gelisah, ia takut jika Roby ketahuan sama bapak-bapak yang sering berkeliling komplek untuk berjaga-jaga. Terbersit rasa tak rela saat Roby malah pergi meninggalkannya lagi, padahal ia tahu jika Roby keluar untuk mencari obat untuknya.

__ADS_1


Setelah menunggu cukup lama, Roby akhirnya sampai. Dia kembali mengunci pintu belakang dan berjalan dengan plastik yang ada di tangan kirinya.


Roby tersenyum menatap Hana yang sudah tertidur, ia sadar jika dirinya terlalu lama di luar.


" An.. Ana bangun dulu " Panggil Roby, ia juga menepuk pipi Hana pelan.


" Kak Roby udah pulang, maaf Hana udah repotin kak Roby. " Ucap Hana yang tiba-tiba bangun.


Roby yang kaget pun langsung membantu Hana untuk duduk, ia kemudian mengambil kantong kresek yang ia bawa tadi.


" Warung di sini jauh banget, mana udah pada tutup lagi. Untung aja masih ada mini market yang buka. " Ucap Roby sambil mengeluarkan botol minuman beku.


Hana hanya menatap Roby, matanya benar-benar ingin menutup karena ia merasa sangat kelelahan dan mengantuk.


" Maaf udah bikin kamu nunggu lama. " Ucap Roby sambil mengelus kepala Hana.


Hana menggelengkan kembali kepalanya, matanya berusaha tetap terbuka walau ia sudah beberapa kali menguap.


" Aku sangat beruntung karena kak Roby ada disaat Hana kesusahan seperti ini, makasih karena udah merawat Hana kak. " Ucap Hana lembut.


" Kak, nanti kakak kedinginan kenapa harus pakai baju kakak. Kan disini ada kain juga. " Ucap Hana.


" Gue gak kedinginan Ana, rumah loe gak ada AC. Badan gue gerah dari tadi " Ucap Roby kesal. Bagaimana tidak, ia terbiasa dengan ruangan ber-AC. Bahkan di apartemen nya pun seluruh ruangannya ber-AC, kecuali dapur ya.


" Itu di dalam kamar ada kipas angin kecil, tapi lumayan besar kok anginnya. " Ucap Hana malu, ia sadar kalo Roby tidak pernah berada di ruangan seperti rumahnya ini. Ia juga baru ingat kalo suaminya itu tidak pernah menggunakan pakaian selain celana boxer nya saat tidur.


" Kenapa gak dari tadi sih, udah kepanasan gini baru loe nyebut ada kipas. " Kesal Roby.


Hana hanya terkekeh pelan melihat Roby yang kelabakan karena udara nya pengap, Hana juga merasa kasihan melihat Roby yang kini sudah berkeringat karena udara di ruangan kecil itu sudah seperti ruangan di sauna bagi Roby.


" Lagian kakak gak nyebut sih. " Ucap Hana.


" Seneng bener sih liat suami sendiri kepanasan kayak gini. " Sindir Roby sambil nyentil dahi Hana.


Sedangkan Hana terjengkit kaget sambil menahan sakit di dahi juga ia tersenyum malu mendengarkan perkataan Roby, ia merasa salting dengan perlakuan Roby kali ini.


Roby sudah berada di dalam kamar, ia melihat ke sekeliling penjuru kamar itu. Ia hanya melihat ada springbed ukuran single, lemari kecil dan juga meja lesehan yang di penuhi buku di atas nya.

__ADS_1


Roby terlihat memendam perasaan nya saat melihat bagaimana kondisi kamar Hana, tapi walau begitu. Roby terlihat senang, senyuman kecil terbit saat melihat beberapa poto yang menempel secara acak di dinding kamar.


" Kenapa harus sekarang kenyataan ini aku ketahui, kenapa tidak dari awal saja. Setidaknya aku tidak akan melakukan tindakan yang menyakitinya, maafkan aku karena sudah memperlakukan mu dengan kasar " Ucap Roby dalam hati.


Ia kembali ke tengah ruangan setelah mengambil kipas angin kecil, ia kemudian menaruhnya di bawah televisi berukuran kecil. Setelah berhasil menyala, ia kembali ke dekat Hana dan kembali mengobati luka nya.


" Gimana, apa sakit nya sudah mereda? " Tanya Roby pelan sambil mengambil alih botol es dari tangan Hana.


Hana mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Roby. " Rasa ngilunya sudah berkurang, tapi rasa sakitnya masih kerasa apalagi kalau di gerakan. " Ucap Hana.


Roby mengambil lengan kanan Hana kemudian membuka kain kasa yang melilit di sana, ia kemudian mengambil alkohol yang ia beli dan juga kapas. Ia mulai membersihkan sisa darah yang mulai mengering, tak lupa ia juga sesekali melihat wajah Hana. Ia hanya bisa menghela nafas saat hangan kiri Hana menarik celana jeans nya dengan kuat, ia mengalihkan rasa perihnya dengan mencengkram kuat kain tebal itu.


" Sudah selesai, jangan sampai kena air dulu. Lukanya belum benar-benar kering. " Jelas roby sambil membereskan peralatan yang habis ia gunakan. Hana hanya mengangguk pelan dan segera memperbaiki duduknya agar lebih nyaman.


" Kamu udah makan belum? " Ucap Roby khawatir.


" Tadi siang aku malas kekantin, soalnya lagi seneng baca novel di perpus. Niatnya mau makan di kafe sebelum kerja, tapi gak jadi soalnya aku lupa kalo malam minggu kafe pasti rame banget. " Jelas Hana.


" Oh, jadi loe lebih mentingin novel loe dibanding kesehatan loe hah. Loe tau kan, kalo loe sakit mama sama gue pasti bakal khawatir. " Ucap Roby penuh tekanan.


Hana terjengkat kaget, ia tidak mengira kalau Roby akan semarah itu setelah mendengar perkataannya tadi.


" Apa kak Roby marah karena khawatir sama keadaan ku, tapi bukannya kemarin-kemarin dia bersikap acuh. " Batin Hana.


Roby yang melihat ada plastik lain tak jauh dari dirinya, segera mengambil dan membuka nya. Ia menatap Hana yang terlihat termenung, tanpa banyak berfikir lagi. Roby segera membuka plastik itu dan melihat isi nya. Ia sedikit tenang karena disana ada satu kotak makanan, ia kemudian bangkit dan pergi ke arah dapur untuk mengambil piring dan sendok. Setelah menemukan yang ia cari, Roby kembali kembali dan segera duduk di tempatnya tadi.


" Sini makan dulu, seharusnya loe lebih mentingin kesehatan loe sendiri Ana. Lihat badan loe udah kaya cengcorang aja, kena angin juga loe bakal jatoh. " Sindir Roby.


Setelah menuangkan nasi ke dalam piring, Roby kemudian mulai menyendokan nasinya dan hendak menyuapi Hana.


" Aaa... " Roby memberikan kode pada Hana untuk membuka mulutnya.


Sedangkan orang yang dimaksud malah bengong sambil menatap ke arahnya. Decakan kesal dari Roby membuat gadis di hadapannya itu langsung tersadar dan kembali menunduk malu. Roby sendiri sangat heran, kenapa dengan gadis yang ada dihadapannya itu. Ia tidak mengerti dengan sikap nya yang selalu menunduk, lalu termenung dan berakhir malu-malu. Ia sempat berpikir jika ada yang aneh dengan penampilan nya atau emang udah sifatnya seperti itu.


" Biar Hana aja Kak, lagian Hana udah banyak ngerepotin kakak. " Ucap Hana sambil menatap piring yang ada di tangan Roby.


Sebenarnya ia sangat terkejut dengan panggilan Roby kali ini, ia heran karena panggilannya berbeda dengan panggilan yang selalu teman dan kerabat dekatnya ucapkan. Terlebih sikap Roby yang sangat lembut dan penuh perhatian, membuatnya semakin merasa heran dan bahagia di waktu bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2