
Sejenak, Hana berhenti di taman rumah sakit. Ia menuangkan semua rasa sakit nya dalam tangisan, ia tak percaya jika kakek nya menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya. Apalagi tentang kecelakaan keluarganya dan trauma serta mimpi buruk yang selama ini di alaminya.
Saat Hana menangis, Tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangan Hana. Tangan kecil yang terlihat sangat pucat dan terasa dingin menyentuh punggung tangan Hana.
" Apa kakak baik-baik saja, kenapa kakak menangis disini? " Tanya seorang anak kecil dengan polos.
Hana lantas segera menghapus air mata dan menatap orang yang berbicara kepadanya. Dengan wajah yang di buat ceria, Hana menjawab pertanyaan anak di hadapannya itu dengan lembut.
" Oh, enggak kok. Mata kaka barusan kemasukan debu, kakak enggak nangis kok dek" Jawab Hana sambil tersenyum.
Hana sedikit terkejut melihat seorang anak kecil yang ada dihadapannya, wajahnya terlihat sangat pucat dan dia duduk di kursi roda. Tangan nya juga terasa dingin saat bersentuha dengan nya, Hana hanya menatap keheranan pada anak kecil itu.
" Jangan melihat ku seperti itu Kak, aku manusia ya bukan vampir. " Ucap anak tersebut sambil terkekeh pelan, ia merasa lucu melihat ekspresi wajah Hana yang terkejut sambil menatap kearahnya.
" Maaf, kakak enggak bermaksud seperti itu. Hanya saja kakak kaget saat kamu menyentuh tangan kakak, dan wajah mu juga terlihat sangat pucat. " Jawab Hana sambil menormalkan ekspresi nya.
" Tak apa, aku sudah terbiasa melihat tatapan seperti itu dari orang lain. " Jawab anak itu sambil tersenyum.
__ADS_1
" Maafkan kakak, sungguh itu bukan karena kakak sengaja. Lantas adek sendiri kenapa bisa ada disini? " Kata Hana.
" Emmm... Aku sedang merasa bosan, diam di ruangan yang di penuhi sama bau obat dan alat medis membuatku merasa sesak. Jadi tadi aku putuskan untuk jalan-jalan menghirup udara segar, serta menikmati pemandangan yang indah ini. Tapi bukannya aku menikmati, kakak malah datang dan duduk sambil menangis. Itu membuat suasana bahagia ku jadi terganggu " ucap anak kecil itu dengan semangat.
" Maaf lagi " Ucap Hana sambil tersenyum.
" Kalo boleh tahu adek ini kenapa ya, hmm__ maaf karena kakak sudah lancang bertanya seperti itu sama kamu. " Ucap nya lagi.
" Oh.. Tak apa, lagian ini bukan masalah besar bagiku. Tuhan sedang mengujiku dengan memberikan penyakit kanker di kepalaku, tapi aku percaya kalau Tuhan juga sudah memberikan penolong untukku. Besok jadwalnya untuk di operasi, aku yakin aku akan sembuh dan bisa bermain seperti anak yang lainnya. " Jawab anak tersebut dengan wajah cerianya.
" Ya Alloh, kenapa anak yang masih kecil seperti dia harus merasakan sakit seperti itu. Semoga kau cepat sembuh dan bisa bermain seperti yang kau impikan, ya Alloh berilah anak ini kesehatan dan sembuhkanlah anak ini serta berikan dia umur yang panjang " Ucap Hana dalam hatinya.
Anak tersebut hanya tersenyum sambil menatap Hana, ia merasa sangat senang dengan sikap Hana yang sangat lembut dan ramah kepadanya. Selama ini ia hanya merasakan kesepian dan orang lain hanya menatapnya kasihan, tanpa ada yang mau menghiburnya tanpa embel-embel rasa iba kepadanya.
Tak lama kemudian, seorang suster berlari menghampiri mereka berdua. Ia terlihat sangat panik saat melihat orang yang dicarinya berada ditaman.
" Kenapa kamu kabur dari ruangan mu, bukannya dokter sudah bilang jangan keluar dari ruangan mu. Kondisimu sangat lemah, jika kamu terus saja kabur seperti ini. Kesehatan mu akan menurun dan nyawamu dalam bahaya. " Marah suster itu kepada sang anak kecil.
__ADS_1
" Maaf Mbak, sebaiknya bersikaplah sedikit lembut. Dia masih kecil, tak baik jika Mbak memarahinya seperti ini. " Ucap Hana dengan sopan.
" Maaf, mbak ini siapa ya. Lagian anak ini sudah tak bisa di tolerir lagi, dia selalu menyusahkan kami para perawat dengan tingkah yang seenaknya. Dia selalu kabur dari ruang perawatannya dan hal itu akan membuat nyawanya dalam bahaya. Mbak enggak bakal ngerti masalah seperti ini, karena Mbak bukan seorang dokter. " Ucap suster itu dengan wajah marah.
Anak itu terlihat sedih melihat kearah Hana, ia sering mendengarkan perkataan seperti itu dari sang suster penjaganya. Mereka akan marah ketika melihat dirinya keluar untuk menikmati udara segar, dan karena hal itu pula dirinya akan di kurung di ruang perawatan nya selama seharian.
Sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya, mereka hanya akan menjenguk saat malam hari sepulang dari bekerja. Sedangkan dari pagi hingga sore, dia sendirian duduk dikamar yang di penuhi oleh peralatan kedokteran.
" Saya kakak nya, setidaknya mbak tidak bersikap seperti ini kepada adik ku. Bagaimana bisa mbak menjadi perawat dan bersikap seperti itu, setidaknya mbak juga memikirkan perasaan pasien. Bagaimana jika hal seperti ini juga terjadi kepada keluarga mbak, apa mbak akan tinggal diam melihat adik mbak di perlakukan seperti ini. " Ucap Hana dengan keras, dan wajahnya yang terlihat kesal.
Ini pertama kalinya ia memperlihatkan sisi emosianal nya kepada orang lain, selama ia tinggal di kota ini. Ia selalu bersikap ramah dan santun walaupun seseorang sudah merendahkannya atau pun menjelekkan tentang dirinya. Namun semenjak kejadian kemarin, ia tidak ingin di rendahkan lagi dan selalu diam saat melihat orang lain dalam keadaan seperti ini.
" Kau... " Teriak suster itu marah.
" Kakak, sudahlah. Aku baik-baik saja, seperti nya pertemuan kita tidak bisa lama. Aku harap aku bisa bertemu dengan kakak lagi, aku senang saat berbicara dan dekat sama kakak. Kakak terlalu baik, aku yakin semua orang yang ada di sekitar kakak akan merasa nyaman dengan sikap kakak ini. Terima kasih karena sudah membela Bimo, aku tidak akan melupakan pertemuan kita ini." Ucap anak kecil tersebut sambil tersenyum, walau raut wajah nya terlihat sangat sedih.
" Maaf, kakak terlalu keras saat berbicara tadi. Besok kita akan bertemu lagi, kakak akan datang demi Bimo. Oh ya, kita belum berkenalan sebelumnya. Panggil saja kakak Hana, senang berkenalan dan bertemu dengan mu Bimo. " Ucap Hana dengan nada lembut, ia bahkan sudah berjongkok di hadapan kursi roda anak itu. Hana juga menyentuh pipi Bimo, ia merasakan kulit nya dingin.
__ADS_1
Bimo sangat senang saat mendengar perkataan Hana barusan, ia juga menyentuh pipi Hana dengan tangan nya pucat dan dingin. Mereka berdua saling menguatkan hati mereka masing-masing dengan segala kondisi dan takdir yang sedang mereka jalani.