Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 55


__ADS_3

Roby terlihat kebingungan dengan perkataan Hana, terlebih saat dirinya membahas tentang pernikahannya. Namun ia kembali sadar, ia ingat saat tadi tak sengaja melihat Hana yang sedang mengobrol dengan Romi. Ia tak sengaja mendengar kata-kata semangat yang di berikan oleh Hana kepada Romi, dan dirinya segera bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan obrolan mereka. Untuk itulah kenapa ia malah berakhir di ruangan ini dan bertemu dengan sosok yang membuatnya kesal.


" Oh, lagian aku juga tidak terlalu memperdulikan hal itu. Kau bisa santai dan menikmati hari mu bersama orang yang kau cintai. " Ucap Roby dengan wajah datar.


Sebenarnya dalam hatinya ia merasa kesal dan juga marah mendengar permintaan dari Hana, ia tidak Terima jika Hana dekat dengan lelaki lain bahkan bisa akrab seperti yang ia dengar tadi saat tak sengaja menguping.


Hana sedikit syok mendengar jawaban Roby yang tidak sesuai dengan dugaan nya. Ia tidak menyangka jika Roby akan berfikir hal seperti itu terhadapnya. Padahal saat ini Roby lah cinta pertamanya, Hana mulai merasakan perasaan terhadap Roby akhir-akhir ini. Walau ia tahu bagaimana kasarnya perkataan dan perlakuan dari Roby, tapi entah mengapa ia selalu khawatir dan merasa nyaman jika saat bersamanya.


" Aku tidak ingin ada hambatan dalam belajar, aku ingin lulus dengan nilai terbaik dan bisa membuat Mama dan papa bangga, aku juga ingin lolos masuk universitas yang selalu aku impikan. Jika status kita terbongkar, aku yakin sekolah akan mengeluarkan ku dan semua harapan dan cita-cita ku akan pupus seketika. " Ucap Hana memberikan penjelasan kepada Roby.


" Aku juga tidak dekat dengan lelaki, selama ini aku selalu menjaga jarak dengan mereka. Termasuk kedua teman dekat ku wahyu dan Ali " Ucapnya lagi.


Roby seketika merasakan sedikit sakit di hatinya, ia sudah berkata menyakitkan kepada Hana. Terlebih kata-kata tadi terkesan menyudutkan Hana, tanpa adanya bukti yang jelas.


Roby terdiam sambil menatap Hana, ia bingung harus berkata apa lagi kepadanya. Ia merasa bersalah atas ucapannya barusan, namun kembali lagi egonya yang membuatnya enggan untuk berkata maaf.


Hana memberanikan dirinya menatap Roby, ia heran karena Roby tidak menyahut perkataan nya. Sedetik kemudian, ia merasa malu karena mendapati Roby yang sedang menatap dirinya. Ia merasakan perasaan hangat dan nyaman saat menatap Roby, namun pandangannya teralihkan pada luka lebam yang membuatnya mengernyit ngilu saat melihatnya.


Hana melepaskan buku yang sedari tadi ia pegang, tangannya terangkat untuk menyentuh lebam yang ada di ujung pelipisnya. Hana kembali teringat sosok Roby saat pertama kali ia bertemu di rumah sakit.


" Kenapa bisa ada lebam di wajah kakak, bukannya kemarin sore masih baik-baik saja. Apa sudah terjadi sesuatu? " Ucap Hana dengan wajah khawatir.

__ADS_1


" Akh... Jangan menekannya terlalu kuat, lukanya masih baru. " Kata Roby meringis saat Hana menyentuh bagian lukanya.


" Maaf, aku tak sengaja. " Ucap Hana sambil menjauhkan tangannya.


" Tunggu dulu disini, aku akan mengambilkan sesuatu untuk mengobati luka kakak. " Ucap Hana sambil beranjak pergi dari sana.


Sedangkan Roby kembali diam, ia terkejut melihat sikap Hana berubah. Ia juga melihat kekhawatiran di wajahnya Hana, perasaan nya mulai menghangat ketika tangan Hana menyentuh kulit wajahnya. Ini pertama kali dirinya merasakan perasaan aneh terhadap lawan jenisnya, karena selama ini dirinya sangat membenci wanita terkecuali sang ibu.


Tak lama Hana kembali dengan sebotol minuman di tangannya, Hana kemudian duduk di kursinya tadi. Dengan perlahan ia menempelkan botol minumannya ke arah luka lebam, Hana berpikir kalau minuman dingin bisa digunakan untuk mengompres agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


" Apa masih terasa sakit? Aku harap ini bisa meringankan rasa sakit di bagian lukanya. " Ucap Hana pelan.


" Ini sudah lebih baik, Makasih " Kata Roby pelan. Tangannya terulur untuk menyentuh tangan Hana yang berada di pipinya.


" Ini akan menutupi bagian yang lebam agar tidak terlihat " Ucap Hana sambil menempelkan plester di bagian lukanya.


Hana tersenyum kecil, lalu ia mengambil buku yang ada di atas meja. Ia akan pergi ke kelas karena sudah terlalu lama berada disana, ia juga tak ingin melewatkan presentasi para calon OSIS nanti.


" Aku akan kembali ke kelas, sebaiknya kakak juga kembali ke kelas. " Ucap Hana sebelum pergi.


Hana kemudian berjalan pergi meninggalkan Roby, namun belum juga beberapa langkah kakinya sudah terhenti. Roby mencekal pergelangan tangan Hana, entah kenapa saat ini dirinya merasa tak rela jika Hana pergi dari harapannya.

__ADS_1


" Kenapa kak? " Tanya Hana bingung.


" Terimakasih " Ucap Roby dengan kaku sambil mengalihkan tatapannya agar tidak bertemu dengan tatapan Hana.


" Ini juga bagian tugas ku bukan, merawat kakak juga membuatku senang. Sebaiknya mulai sekarang kakak lebih berhati-hati, Mama pasti sangat khawatir jika melihat kondisi kakak seperti ini. Terlebih aku juga akan khawatir " Ucapan Hana terhenti, ia lalu tersenyum dan pamit pergi untuk melanjutkan pergi ke kelasnya.


Sedangkan Roby hanya terdiam disana seperti patung, namun tak lama kemudian ia tersenyum sambil memegang plester yang menempel di pelipisnya.


" Kenapa aku merasa sangat senang, padahal dia hanya memberiku plester kecil ini. Apa katanya tadi, 'aku juga khawatir', apa dia sangat mengkhawatirkan diriku.bagaimana dengan perasaan nya,apa dia sudah mulai menerima ku. " Ucap Roby sambil tersenyum sendiri.


Ia kemudian mengambil botol minum yang di berikan oleh Hana, dan pergi dari perpustakaan. Ia bahkan mengabaikan siswa yang menjaga perpus yang menyuruhnya mengisi daftar hadir. Namun bukan Roby jika dengan mudah disuruh oleh orang lain, ia bahkan tidak menggubris perkataan yang ditujukan kepadanya. Dengan wajah datarnya ia keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju parkiran.


πŸƒ... 🌾... πŸƒ... 🌾... πŸƒ... 🌾


Hana kini sudah sampai di depan kelasnya, ia berusaha menormalkan ekspresinya setelah kembali dari perpustakaan. Entah mengapa ia begitu bahagia setelah pertemuan dengan Roby barusan, sedari tadi ia tidak hentinya memikirkan perkataan Roby yang berterima kasih kepadanya. Senyuman pun tak pernah luntur dan selalu membingkai indah di wajah Hana.


Hana kemudian masuk kedalam kelas, ia langsung duduk di bangku tempatnya. Ketiga sahabatnya hanya menatap heran kearah Hana yang tiba-tiba datang dan langsung duduk begitu saja tanpa menyapa atau nimbrung percakapan mereka. Mereka juga melihat Hana yang terus saja tersenyum dan menatap buku novel yang ia bawa.


" Khem__mau sampai kapan natap tuh buku, ditunggu sampe buku itu beranak juga gak bakal berubah jadi lucu. " Alifa berdehem pelan menyadarkan Hana yang sibuk dengan pikirannya dan juga perasaannya yang sedang bahagia.


" Oh, maaf aku terlalu terbawa suasana. " Jawab Hana santai sambil memasukan buku fisika ke dalam laci di bawah meja nya.

__ADS_1


Ketiga temannya saling berpandangan, mereka semakin heran dengan sikap dan perkataan Hana.


__ADS_2