Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
bahagian 33


__ADS_3

Tiba-tiba Hana kembali mengigau, bahkan sekarang suaranya terdengar jelas dan hanya memanggil Mama dan Papa nya. Karena kasihan, Roby menyingkirkan karpet yang menutupi seluruh tubuh Hana. Ia kemudian mendekati wajahnya dan memegang dahinya, ia tambah kaget saat suhu tubuhnya semakin tinggi.


Dengan perasaan cemas, Roby mengangkat tubuh Hana dan membaringkannya di atas ranjang. Ia juga menyelimuti tubuh Hana yang terus saja menggigil seperti orang kedinginan. Ia bingung karena malam sudah sangat larut dan semua pembantu sudah tertidur. Roby tidak menyadari jika disana ada makanan dan juga obat yang sudah disiapkan oleh sang ibu dan juga si mbok.


Roby lalu ikut berbaring di samping Hana, namun ia membelakanginya dan berusaha untuk menutup mata. Namun lagi- lagi suara Hana menganggunya dan membuat ia terjaga, dengan mengeyampingkan egonya. Roby berbalik dan melihat kondisi Hana, ia mengecek suhu tubuh nya.


Karena tak tega, ia memutuskan untuk mencari sesuatu di dalam kamar mandinya untuk mengompres Hana. Hingga akhirnya ia membasahi salah satu kaos dalam miliknya dan melipatnya menjadi kecil, lalu Roby menempelkannya di dahi Hana. Ia menunggui Hana dan kembali membasahi kainnya setelah mengering. Roby terlihat sangat berbeda saat menjaga Hana, belaian tangan yang sangat lembut dan juga tatapan kekhawatiran yang tersirat melukiskan sisi lain dari seorang Robyansyah.


Karena kelelahan, Roby tertidur dalam posisi duduk di samping Hana. Bahkan tangannya masih erat menggenggam tangan Hana, seakan ia takut kehilangan orang yang kini sudah menjadi istrinya itu.


Kini sang rembulan sudah tenggelam dengan di gantikannya oleh sang mentari yang terbit dari arah timur. Dua sejoli yang masih terlelap tidur pun tak terganggu dengan cahaya mentari yang sudah menyinari kamarnya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan seseorang masuk kedalam kamar tempat Hana dan Roby. Dia tak lain Nisa, ia sangat khawatir karena si mbok belum mengabarinya tentang Hana. Namun apa yang ia lihat kini sudah membuatnya tenang dan semakin membuat hatinya gembira.


Saat memasuki kamar, ia melihat Roby tidur sambil memeluk Hana. Dan yang membuatnya terlihat selalu menahan tawa adalah keadaan Roby yang hanya tidur mengenakan boxer saja, bahkan selimutnya kini sudah di pakaikan kepada Hana semuanya. Namun ia merasa heran dengan kain yang menutupi dahi dan juga sebagian mata Hana, namun bukan hanya hal itu saja yang membuatnya cemas. Makanan yang ia siapkan juga tidak tersentuh sama sekali, ia sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan menantu muda di keluarganya itu. Setelah asik mengambil poto dan juga beberapa poto selfie bersama dirinya, ia memutuskan untuk kembali keluar secara diam-diam agar tidak mengganggu pasangan pengantin baru itu.


Tapi baru saja ia akan membuka pintu, tiba-tiba si mbok membuka pintu dengan keras dan memanggil Roby agar segera bangun dan ikut sarapan pagi. Lantas Nisa langsung keluar dan memberi kode pada si mbok untuk tidak berisik. Mereka akhirnya pergi dari sana setelah menutup kembali pintu kamar.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar, Roby terbangun karena mendengar suara berisik yang menganggunya. Saat ia membuka mata, betapa terkejutnya ia karena di hadapannya kini ada Hana yang terbungkus oleh selimut. Namun Roby tak berpindah posisi, ia bahkan menatap wajah Hana dan menyingkirkan rambut yang terurai menghalangi wajahnya. Tak lupa ia juga mengambil kompres yang terdapat di dahi Hana, tangannya mulai membelai lembut wajah Hana. Hingga sebuah senyuman pun terbit untuk pertama kalinya di wajah dingin Roby.


Pandangannya teralihkan pada beberapa bercak kemerahan yang ada di leher Hana, ia begitu kaget melihat begitu banyak bekas ruam di kulitnya. Hingga ia menurunkan sedikit selimut dan ia baru teringat saat kejadian di Villa, kejadian saat malam pertama mereka.


" Maafkan aku karena sudah membuatmu ketakutan saat malam itu, sungguh aku tidak sengaja dan hanya ingin menakutimu saja. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh dan membuatku hilang kesadaran hingga membuatmu menjadi seperti ini. " Ucap Roby dengan pelan.


Tangannya tak henti mengusap pipi yang sedikit gembul, hingga satu kecupan mendarat di dahi nya. Morning kiss yang biasa para pasangan pasutri lakukan saat pagi hari.


Karena perlakuan Roby tersebut, Hana merasa tidurnya terganggu dan membuatnya terbangun. Namun sebelum Hana membuka mata dan kesadarannya kembali, Roby dengan cepat mendorong tubuh Hana hingga ia jatuh dari ranjang. Ia tidak ingin apa yang ia lakukan di ketahui Hana dan orang lain, karena ia takut jika egonya kalah dari perasaan nya sendiri.


Sementara Hana mengaduh kesakitan karena terjatuh ke lantai, Roby dengan santai berpura-pura masih terlelap tidur. Di bawah, Hana sedang berusaha bangun dan keluar dari dalam selimut tebal yang menggulungnya. Setelah bersusah-payah keluar dari dalam selimut, Hana kemudian bangkit dan merapikan bekas tidurnya. Ia juga melihat kearah Roby yang masih terlelap ( Pura-pura).


Hana kemudian berjalan menuju kearah pintu toilet, ia kemudian membasuh muka dan langsung membersihkan tubuhnya, tanpa mengetahui handuk yang harus ia pakai.


Setelah selesai dengan ritual mandi paginya, baru Hana menyadari kalau handuknya tak ada disana. Karena ia tak mungkin keluar dalam keadaan telanjang, ia kemudian mengambil pakaian yang berasal dari keranjang cucian. Disana ia mengambil celana panjang dan juga kemeja putih polos, ia juga terpaksa mengenakan ********** yang sedikit basah.


Saat Hana ingin keluar, ia terlebih dahulu memastikan keadaan di sana termasuk roby. Di rasa cukup aman dan robi masih tidur, Hana memutuskan untuk keluar dari dalam toiletnya. Ia berjalan mengendap-endap dan menghampiri Roby, ia berusaha untuk memastikan jika Roby benar-benar tidur dan dirinya bisa pergi dengan pakaian miliknya itu.

__ADS_1


Sementara Roby dengan susah payah menahan dirinya agar tidak ketahuan, namun Pertahanan nya hampir saja goyah akibat kelakuan Hana yang berada tepat di hadapannya sambil melambaikan kedua tangannya. Ditambah baju yang ia kenakan kebesaran hingga tanpa disadari oleh Hana, dirinya sedari tadi melihat isi dari dalam bajunya. Tapi akhirnya Hana langsung pergi dari sana, dan dirinya bisa tenang kembali walau di bawah sana ada sesuatu yang sedang berontak meminta di bebaskan.


Tak lama kemudian pintu di ketuk dari arah luar, tentu saja Hana kalang kabut mendengar suara ketukan itu. Karena otomatis akan ada orang masuk dan melihat dirinya dalam keadaan seperti itu. ia kemudian mencari sesuatu untuk menutupi bagian tubuhnya, hingga kedua matanya tertuju pada selimut yang ia lipat di atas sofa. Hana kemudian menggulung selimut itu ke seluruh tubuhnya dan hanya menampakan wajahnya saja.


Lalu dengan kesusahan, Hana berjalan secara perlahan dan membuka pintunya.


" akhhh.... " teriak seseorang dari luar kamar.


" Mama, maaf sudah mengagetkan mama. Hana enggak sengaja, Hana kira siapa" ucap Hana saat melihat Nisa ketakutan.


" kenapa kamu pakai selimut, apa kamu baik-baik saja? " tanya Nisa.


" aku baik-baik saja ma, hanya saja baju Hana ada di rumah. Jadi Hana... " kata Hana.


" oh iya, Mama lupa ngasih ke kamu. Ini Mama bawakan baju seragam sekolah baru, sebenarnya udah di beli dari kemarin. Tapi Mama lupa ngasih ke kamu, mana Roby, apa dia masih belum bangun juga?. " Ucap Nisa memotong perkataan Hana sambil menerobos masuk kedalam kamar.


Nisa kemudian pura-pura terkejut saat melihat Roby yang masih tidur dalam keadaan telanjang, padahal ia sudah tau kejadiannya dan hal itu sudah menjadi kebiasaan anaknya saat tidur. Hana yang melihat Roby juga sangat terkejut, karena ia tidak menyadari bahwa Roby dalam kondisi telanjang ditambah selimut yang seharusnya di pakai Roby malah ia pakai. Hal itu membuat panik dan Hana dengan cepat melempar selimut yang ia gunakan hingga menutupi kepala dan badan bagian atas Roby saja. sayangnya setengah badan hingga kebawah masih kelihatan. Padahal dirinya ingin menutupi pakaian yang ia ambil dari keranjang cucian, agar tak ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


Nisa yang melihat kejadian lucu dan tingkah gelagapan Hana hanya mampu menahan tawanya, walau sesekali ia kelepasan.


__ADS_2