
Hana sadar kalau ucapan dari lelaki di hadapannya itu mengisyaratkan sesuatu yang tidak baik, ia berpikir jika anak pulang kenapa wajah mereka terlihat sangat muram dan malah menangis.
" Maksud om itu apa ya, " kata Hana gelisah.
" Bimo sudah beristirahat dengan tenang, kami baru selesai memakamkannya tadi pagi. Setelah itu kami datang kesini untuk mengambil barang yang akan menjadi kenang-kenangan dari almarhum Bimo anakku." Ucap sang ibu sambil menangis. Terlihat sang suami berusaha menguatkan sang istri atas kepergian anaknya.
" Innalillahi Wainnailaihirojiun... " Air mata Hana meluncur membasahi kedua pipinya, tangannya berusaha menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakan tangis. Ia tidak percaya kalau anak yang terlihat sangat ceria dan baru beberapa hari yang lalu bertemu, kini mereka harus terpisah untuk selamanya.
Hana kemudian berjalan kearah wanita parubaya itu, tak lupa ia menyeka air matanya yang tak henti membasahi pipinya.
" Maafkan aku tante, aku turut berduka cita atas kepergian Bimo. Maaf karena aku tidak bisa melayat keacara pemakaman nya. Aku harap tante akan kuat dan bisa merelakan Bimo, ia anak yang sangat ceria dan baik. Bimo pasti akan sedih kalau melihat tante seperti ini, sebaiknya tante mendoakan nya agar dia tenang dalam peristirahatannya. " Ucap Hana sambil memegang kedua tangan ibu nya Bimo.
" Terimakasih nak, Bimo sangat beruntung sekali berteman dengan gadis baik seperti mu. Aku mengucapkan terimakasih karena kau sudah mau meluangkan waktu mu untuk anak ku itu. " Ucap nya sambil terisak menangis.
" Nak, sepertinya ini untuk mu, bukankah nama mu Hana. Ini tertulis di luar amplop, mungkin Bimo ingin menyampaikan sesuatu kepadamu sebelum ia pergi. " Ucap lelaki parubaya di belakang istrinya, tak lupa ia menyerahkan sebuah amplop warna putih bertuliskan Nama Hana.
" Terimakasih om, " Ucap Hana sambil mengambil amplop putih itu dan menyimpannya di dalam tas ransel.
__ADS_1
" Apa kamu bolos sekolah nak, bukannya ini belum waktunya pulang sekolah ya. " Ucap sang ibu.
" Hari ini sekolah lagi ada acara dan guru nya sedang mengadakan rapat, jadi acara belajar mengajarnya tidak epektif. Aku mutusin untuk menjenguk Bimo sebelum pulang kerumah, entah mengapa aku sangat khawatir saat melihat kondisi kemarin. Dan ternyata perasaan gak enak ku memang kabar buruk yang terjadi kepada Bimo. " Jelas Hana sambil menunduk sedih.
Kedua parubaya itu tersenyum penuh haru, mereka tidak menyangka jika gadis yang masih memakai seragam SMA di hadapannya itu begitu mengkhawatirkan anak tunggalnya yang sudah meninggal. Mereka melanjutkan berbincang kecil, tak lupa Hana juga ikut membantu mengemas barang yang akan di bawa pulang oleh kedua orang tua Bimo.
Setelah selesai membantu orang tua Bimo, Hana kemudian ijin pamit untuk pulang. Tak lupa ia mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orang tua teman barunya itu. Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit, Hana pergi terlebih dahulu untuk menengok keadaan Raihan papa mertuanya. Disana hanya ada suster yang di tugaskan untuk menjaga dan merawatnya. Hana tak bisa lama tinggal disana, ia harus bergegas pergi untuk bekerja.
Kini Hana sudah berada di kafe, setelah datang, ia segera mengganti seragam sekolah nya dengan pakaian khusus pekerja disana. Tak lupa ia juga menyapa para pekerja lain seperti biasa nya.
" Hana, sini dulu! " ucap Mila sambil memberi kode dengan tangannya.
" Kamu berhutang penjelasan sama mbak loh, kamu udah janji buat cerita hari ini. " Kata Mila
" Iya mbak, tapi aku ada kabar buruk mengenai teman baru yang aku ceritain sama mbak kemarin. " Ucap Hana. Ia meletakan tray di atas meja bartender.
" Kenapa dengan wajah mu, apa sudah terjadi sesuatu sama anak kecil itu? " tanya Mila penasaran.
__ADS_1
" Dia sudah meninggal kemarin malam mbak, tadi pagi dia baru di makamkan. Aku tadi ingin menjenguknya tapi malah ketemu sama kedua orang tuanya yang sedang mengemas barang di ruangan tempat Bimo di rawat. " Cerita Hana.
" Astaghfirullah, innalillahi wainnailaihi rojiun.. " Mila terkejut. " Ya udah, kamu yang tegar aja. Do'a in semoga anak itu tenang di alam sana. Umur seseorang memang tidak bisa di tebak, mau yang belum lahir atau yang sudah tak bisa bergerak tapi masih bisa bernafas ( lumpuh / koma ). Jika sudah azal mau gimana lagi, kita yang masih di berikan kesempatan hidup harus lebih mensyukuri karena sudah di beri waktu untuk memperbaiki diri kita. " Ucap Mila.
" Iya mbak, hanya saja pertemuan pertama kami ternyata itu juga perpisahan juga. Anak itu terlihat ceria di atas derita yang ia rasakan dari penyakitnya. " Ucap Hana.
" Sudahlah, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Itu gak bagus untuk kesehatan mu. " Ucap Mila. " Jadi bagaimana dengan mu sendiri, kenapa kamu bisa menikah di usia mu yang masih muda ini. " Tanya Mila.
" Iya Mbak, sebenarnya ceritanya sangat panjang. Tapi mbak janji ya untuk tidak membocorkan rahasia ku kepada orang lain. " Ucap Hana dengan wajah serius.
" Iya, mbak janji akan merahasiakannya dari siapapun. " Ucap Mila sambil tersenyum.
Hana kemudian menceritakan semua kejadian yang ia ketahui, dimulai saat ia terbangun di rumah sakit hingga ia berakhir menikah dengan Roby di Villa milik keluarga Danuarta. Mila juga tidak menyela setiap obrolan dari Hana, ia mendengarkannya dengan seksama dan bisa mengambil kesimpulannya.
" Hemm.. Menurut kesimpulan mbak, kayaknya mertua kamu udah kenal sama kamu deh. Gimana ia bisa yakin dan begitu saja menikahkan kamu dan anaknya, apa kamu ingat sesuatu tentang mereka?. Pernah bertemu atau kenalan di masa lalu mu? " tanya Mila ketika Hana selesai bercerita.
" Aku enggak tahu Mbak, aku tidak mengenal mereka ataupun hanya bertemu. Aku bahkan tidak ingat kejadian saat aku kecil, bagaimana aku bisa mengingat satu persatu orang di masa lalu. " Ucap Hana kebingungan.
__ADS_1
" Ya sudah, mungkin ini sudah takdir kamu. Menikah muda juga sangat baik, setidaknya kamu terhindar dari pergaulan yang di larang agama. Mbak tidak punya apa-apa untuk di kasih sebagai hadiah pernikahan, tapi mbak hanya bisa do'ain kalian semoga pernikahan nya sakinah mawaddah warohmah. " Ucap Mila.
" Amin mbak, makasih ya atas doanya. " Kata Hana sambil tersenyum kecil.