
Setelah berpisah dengan temannya, Hana berjalan sendirian menuju Keperpustakaan. Di perjalanan nya, ia tak sengaja berpapasan dengan Romi yang sedang berjalan bersama kedua temannya.
" Eh Hana, mau kemana. Bukannya arah kelas kamu kesebelah sana ya, kok malah kesini? " tanya Romi sambil tersenyum.
" Ekh ada kak Romi, aku mau keperpustakaan untuk meminjam buku fisika dan beberapa novel. Kak Romi sendiri mau kemana? " ucap Hana lalu melemparkan pertanyaan balik ke Romi.
" Aku sama yang lain mau ke ruang OSIS untuk menyiapkan presentasi calon ketua dan wakil OSIS baru. Kalo gitu aku duluan ya " Jawab Romi dengan ramah dan tangannya mengelus kepala yang terhalang hijab.
" Oh iya Kak, semangat ya " Kata Hana sambil tersenyum.
" Terimakasih " Romi tersenyum lebar saat mendengar kata-kata penyemangat dari Hana. Lalu ia pun segera pergi dengan temannya menuju ruang OSIS yang agak jauh dari sana.
Sementara disisi lain dinding bangunan sekolah, seorang siswa tengah menguping pembicaraan yang terjadi antara Hana dan juga Romi.ia terlihat begitu kesal, namun tak lama kemudian ia pergi dari sana dengan wajah datar nya.
" Sial, kenapa aku malah kesini. Bukannya tujuan utamanya parkiran, kenapa malah masuk tempat membosankan dan tempat berkumpulnya mahluk bermata empat. " Gumam siswa yang mengintip tadi.
Ia kemudian masuk dan berjalan menuju kepojok kan ruangan, dengan cueknya ia mengabaikan penjaga perpus yang menyapa dan memintanya untuk mengisi daftar hadir.
Tak lama dari siswa tadi, Hana masuk kedalam perpus dan langsung menghampiri meja petugas. Kebetulan yang bertugas hari ini adalah salah satu murid, karena petugas perpus juga di haruskan ikut dalam rapat bersamaan dengan guru yang lain.
" Pagi Kak, bu Lili nya kemana ya. Tumben beliau gak ada disini? " Sapa Hana dengan ramah.
" Iya Han, beliau juga ikut rapat sama guru yang lain, jadi kita yang jaga disini. " Ucap salah satu siswa yang duduk di depan komputer.
Mereka mengobrol dengan santai, karena Hana memang cukup terkenal di kalangan murid yang suka berada di perpustakaan. Terlebih sikap ramah dan hangat yang selalu Hana berikan, membuat siapapun merasa senang dan dapat berbaur dengan sangat baik.
__ADS_1
" Tumben kak beberapa minggu ini gak pernah absen, biasanya kakak selalu hadir tiap hari? " tanya siswi yang duduk di samping siswa yang menyapa Hana.
" Iya dek, Kemarin-kemarin kakak lagi banyak tugas setelah izin karena ada kepentingan keluarga. Makannya setelah semua tugas selesai, aku cepetan datang kesini buat minjam buku fisika dan beberapa novel untuk ku baca. " Ucap Hana.
" Oh, pantas saja aku enggak lihat. " Siswi itu pun mengangguk membenarkan perkataan Hana.
" Aku permisi dulu ya, aku harus cepetan cari bukunya. Takutnya nanti ketinggalan acara pengenalan ketua OSIS baru. " Ucap Hana sambil beranjak pergi dari sana.
Hana berjalan menuju rak buku yang berada di pojokan ruangan, disana ada banyak buku novel berada dan juga tempat favorit Hana saat membaca buku. Setelah tiba tepat di depan rak buku yang di maksud nya, ia segera mengedarkan pandangannya untuk mencari novel series yang biasa di baca nya.
Setelah berusaha untuk mengambilnya, Hana mendengus kesal karena jarak antara jangkauan tangannya serta buku novel itu sangat jauh, bahkan ujung jarinya pun tidak dapat menyentuh buku yang berada di rak bagian ke tiga.
" Kenapa bukunya susah banget di ambilnya sih, perasaan terakhir kali aku kesini buku nya ada dirak bagian kedua. Kenapa tiba-tiba di pindah ke atas! " gerutu Hana pelan.
Tiba-tiba seseorang membantu mengambilkan buku yang hendak di ambil Hana, sedangkan orang yang dibantunya diam karena terkejut saat melihat ada tangan lain yang berusaha mengambil buku yang di incar nya.
Hana kembali tersadar dan segera berbalik untuk meminta buku yang sudah susah payah ia ambil, walau kenyataannya ia belum bisa menjangkaunya.
" Anu, buku itu aku duluan yang melihatnya jadi__" Ucapan Hana terhenti tak kala pandangan matanya bertemu dengan manik hitam yang tak asing lagi untuknya.
" Apa kau selalu seperti ini, aku merasa kau cewek yang aneh karena setiap aku bertemu dengan mu. Kau pasti akan berakhir diam seperti patung, apa wajah ku se-menakut kan itu?. " Tanya Roby dengan wajah kesal dan suara yang pelan.
" Kak Roby, apa yang dilakukan kakak disini?. " Tanya balik Hana dengan gugup.
" Ck.. Kau sudah kebiasaan membalikan pertanyaan. Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah membantu mu mengambilkan buku " Ucap Roby santai. Sedangkan Hana sedikit gelisah takut ada yang melihat kearah mereka.
__ADS_1
Roby kemudian memberikan bukunya ke pada Hana, lalu ia pergi menuju meja yang berada tak jauh dari sana dan melanjutkan kembali tidurnya.
" Sejak kapan kak Roby ada disini, kenapa aku tidak melihat nya tadi. " Gumam Hana pelan.
Hana menatap buku yang di berikan oleh Roby, kemudian ia menatap Roby yang kembali duduk dan tidur di meja tempat biasanya ia membaca buku.
Dengan penuh keberanian Hana berjalan untuk menghampiri Roby, ia memiliki banyak pertanyaan yang selalu berputar dalam otaknya. Terlebih saat dirinya melihat Roby saat sedang upacara, dan juga keberadaannya disini yang membuatnya semakin penasaran.
" Kak, terimakasih sudah membantu ku untuk mengambil bukunya. " Ucap Hana pelan setelah mendudukan tubuhnya di kursi depan Roby duduk.
" Hemmm... "
Roby hanya berdehem pelan untuk menyahut perkataan dari Hana.
" Sebenarnya aku masih kaget, aku baru tahu kalau kak Roby juga sekolah disini. Dan ya kenapa aku baru melihat kak Roby ada disekolah, dan lagi ini tempatku biasa membaca kenapa kak Roby juga ada disini? " tanya Hana penasaran.
Tidak ada jawaban dari Roby, Hana semakin takut kalau Roby akan marah dan membuat keributan disini. Dan hal yang paling Hana takutkan adalah statusnya yang kini sudah menikah, ia tidak ingin membongkarnya terlebih dahulu sebelum ia lulus dari sekolah dan berhasil masuk universitas impiannnya.
" Kak Roby, kenapa kakak enggak menjawab? Apa kakak sudah tertidur? " tanya Hana pelan.
" Kenapa dia menjadi sangat cerewet, dan juga apa yang tadi ia katakan. Dia bahkan tidak mengenalku sama sekali selama ini, sebenarnya dia ini sekolah atau cuman bersenang-senang dengan teman lelakinya. " Gerutu Roby dalam hatinya.
" Kak... " Ucap Hana sambil menekan-nekan pelan bagian lengan Roby.
" Kau ini kenapa sih, suka banget ganggu gue. " Kata Roby dengan kesal.
__ADS_1
Seketika raut wajah kesal Roby berubah, ia melihat Hana yang sedang menundukkan kepalanya. Ia heran kenapa Hana sering menunduk dan menghindari tatapan darinya, Roby mengira jika Hana menunduk karena wajahnya yang menakutkan. Ia masih belum menyadari apa yang sebenarnya membuat Hana tidak nyaman saat bersamanya.
" Karena kita satu sekolah, aku harap kakak bisa menjaga rahasia kita. Maksudku pernikahan kita, aku tidak ingin ada orang sekolah yang mengetahuinya. " Ucap Hana tiba-tiba.