
" Gimana keadaan mama saat ini? " Sapa Roby sambil duduk di sofa yang ada di samping ranjang.
" Mama sudah lebih baik, ini semua berkat menantu mama yang selalu merawat dan memperhatikan mama. " Ucap Nisa dengan wajah tersenyum.
Aku kadang heran, kenapa mama begitu menyukai gadis yang belum lama di kenalnya. Dia bahkan sudah melupakan ku sebagai anak kandungnya dan selalu memuji-muji Hana. Aku tidak suka jika kasih sayang ibuku lebih banyak kepada nya dan aku jadi tersisihkan.
" Apa cuman dia yang selalu Mama anggap, lalu bagaimana dengan ku " Ucap Roby dengan tatapan kesal.
" Bukan seperti itu Bi, Mama cuman mengatakan apa yang Mama perhatikan. Beberapa hari ini Mama sakit, apa kamu melihat mama disini, apa kamu khawatir dengan kondisi mama. Mama lihat, beberapa hari belakangan cuman Hana yang selalu merawat dan memperhatikan Mama sama si mbok. " Ucap Nisa sambil menatap Roby meminta jawaban.
" Aku... " Roby seketika terpaku di tempat, ia bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata yang ingin di ucapkan nya.
" Kamu tahu kan, kalau Papa mu saat ini dalam kondisi vegetatif. Walau pun Mama tidak selalu ada disamping Papa, tapi Mama tahu semua laporan medisnya karena dokter selalu memberikan informasinya kepada Mama. Seharusnya kamu belajar untuk menjadi lebih dewasa lagi, ingatlah karena kamu sekarang adalah kepala keluarga ini. Jika Papa mu tidak... " Ucapan nisa terhenti, bulir bening jatuh dari kedua sudut matanya. Ia tidak kuasa menahan kesedihan yang selalu ia pendam sendiri.
" Apa yang Mama katakan, Papa akan baik-baik saja. Dan lagi aku masih ingin menikmati masa muda ku Ma, jangan membuatku terkekang dengan status pernikahan ini. " Jawab Roby dengan wajah yang sedang menahan amarahnya.
" Sampai kapan kamu akan tetap seperti ini Bi, umur kamu sudah dewasa. Beberapa bulan lagi kamu akan genap 21 tahun, mau sampai kapan kamu mempertahankan sikap kekanak-kanakan mu itu. " Ucap Nisa.
" Memangnya kenapa dengan hal itu? " Tanya Roby tak terima.
" Bian, Mama sudah memutuskan memblokir semua kartu debit dan kredit yang kamu miliki. Mama juga sudah berbicara kepada pak Hans untuk tidak memberikan mu uang sepeser pun, dan jangan harapkan jika kamu akan mendapatkan dana dari keluarga ini sebelum kamu benar-benar berubah dari sikap kekanakan mu ini. " Kata Nisa dengan tegas.
" Apa! Kenapa harus seperti itu, apa mama sudah terpengaruh oleh gadis yang selalu Mama banggakan itu. Kau bahkan tidak perduli lagi kepada anak kandung mu sendiri. " Ucap Roby dengan keras dan meluapkan amarahnya.
__ADS_1
Roby sudah berdiri dan hendak pergi dari dalam kamar sang Mama, ia bahkan tidak memperdulikan kondisi Nisa yang kembali melemah karena sakit yang ia derita.
" Maafkan Mama Bi, tapi ini juga demi kebaikan kamu sendiri. " Ucap Nisa dalam hatinya, ia menangis melihat Roby yang sangat marah terhadapnya.
" Maaf karena aku selalu menyusahkan Mama, aku memang tidak berguna dan hanya menjadi beban. Terlebih lagi kondisi cacat yang aku alami membuat mu malu, maaf karena aku tidak bisa berbakti seperti anak baik yang lain. " Ucap Roby sebelum keluar dari pintu.
Setelah mengucapkan kata-kata barusan, Roby pergi dengan kemarahan yang masih menguasai dirinya.
" Tidak nak, kau tidak pernah menyusahkan Mama. Kamu tetap menjadi kebanggaan Mama untuk selamanya, tapi Mama tidak punya pilihan setelah melihat prilakumu selama ini. Semoga kamu mengerti dengan yang Mama inginkan ini, dan Mama harap kamu mampu berubah menjadi lebih baik. " Guman Nisa sambil menyeka air matanya.
Nisa tidak menyangka jika keputusan cukup berdampak terhadap dirinya dan Roby, ia sempat goyah dengan tidak memberi hukuman kepada anak bungsunya itu. Tapi ia tidak ingin sikap anaknya itu terus seperti itu, ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Walau ia tahu harus melewati jalan yang terjal demi sampai dengan tujuan yang diharapkan.
Sedangkan Roby kini sedang menuruni tangga, ia juga sudah rapih dengan setelan jaket bomber dan celana jeans rapid nya. Wajahnya masih terlihat suram, dengan tangan yang mengepal kunci dengan kuat. Bahkan saat berpapasan dengan si mbok, Roby tidak menjawab pertanyaan nya dan pergi begitu saja. Setelah sampai di luar rumah,ia mulai menyalakan motor sport nya dan pergi meninggalkan kediaman Danuarta.
Tiba-tiba saja suara benda jatuh terdengar cukup jelas dari arah kamar Nisa, si mbok yang memang kebetulan ingin membawakan obat pun kaget dan lekas menghampiri untuk mengecek keadaan nyonya besarnya.
" Nyonya, kenapa bisa seperti ini. " Ucap si mbok kaget setelah memasuki kamar Nisa.
Nisa sudah tergeletak tas sadarkan diri di lantai dengan sebuah pigura yang pecah di dekatnya. Karena si mbok kaget dan kebingungan, karena hari sudah malam dan semua pembantu sudah beristirahat. Ia kemudian meraih ponsel dan menghubungi dokter pribadi keluarga Danuarta. Tapi sayangnya, ia malah salah pencet nomor dan berakhir di nomor panggilan Hana.
" Hallo assalamu'alaikum mbok " Sapa Hana di ujung suara telpon berdering.
" Non, nyonya besar pingsan. Tadi maksudnya mbok mau nelpon dokter, tapi kayaknya salah tekan. Maaf ya Non " Ucap bibi dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
" Astaghfirullah, kenapa bisa begitu mbok. Ya udah kebetulan Hana baru saja pulang kerja, biar Hana langsung pulang kerumah aja. " Ucap Hana terkejut.
" Tapi, bukannya Non mau nginap di rumah kontrakan ya. " Ucap si mbok dengan Hati-hati.
" Gak papa, lagian Mama lebih penting, ya udah Hana matiin dulu ya mbok. Angkotnya udah sampai " Ucap Hana dengan sopan.
" Iya Non Hati-hati ya dijalan nya " Ucap si mbok.
" Iya mbok pasti, kalo gitu aku tutup dulu. Assalamualaikum " Kata Hana.
" Iya, waalaikumsalam Non " Jawab si mbok
Setelah sambungan telpon berakhir, si mbok kembali mencari nomor dokter yang ia maksud. Setelah menemukannya, ia kembali memastikan jika nomor yang ia hubungi sudah benar.
Sementara di tempat Hana, ia terlihat begitu gelisah setelah mendapat kabar yang mendadak. Mila yang ada disamping Hana hanya kebingungan dengan raut wajah nya saat ia sedang berbincang di telpon.
" Kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi. " Tanya Mila saat Hana selesai berbicara di telpon.
" Iya mbak, Mama mertuaku tiba-tiba pingsan. Sepertinya aku akan pulang kesana saja, maaf ya mbak harus pergi duluan. " Ucap Hana dengan raut wajah khawatir.
" Iya gak papa, sebaiknya kamu segera naik dan berhati-hati lah. Jangan terlalu khawatir, beliau pasti akan baik-baik saja. " Ucap Mila menenangkan Hana.
Hana segera naik angkutan umum yang mengarah kerumah Nisa, kebetulan angkot nya belum pergi dan masih nunggu penumpang lain yang akan naik ke mobilnya. Hana kembali mengucapkan salam perpisahan sebelum angkot nya melaju meninggalkan halte yang biasa ia dan Mila menunggu angkutan umum.
__ADS_1