
Sementara di lain tempat, tepatnya di sebuah gedung pencakar langit. Seorang lelaki turun dari mobil sedang hitamnya, ia berjalan masuk dan bertanya kepada resepsionis. Tak lupa ia juga menyapa semua orang yang di temuinya, begitupun dengan orang-orang disana ikut menyapa balik. Bahkan mereka terlihat sangat menghormatinya seperti bertemu dengan bos besar.
" Alex, tumben kamu dateng kesini. Bukannya kamu selalu sibuk dengan urusan di rumah sakit? " sapa seorang lelaki yang seumuran dengan nya.
" Pak Dito, apa kabar. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, aku ada urusan penting. Jika ini tidak penting aku tidak akan berada disini. " Ucap Alex sambil menjabat tangan lelaki yang berperawakan tinggi itu.
" Saat ini aku sangat baik, kau juga gimana? Apa tidak bosan berada dalam ruangan dan terus berkutat dengan alat medis dan darah saat operasi. Kau memang tidak berubah, datang saat ada yang penting saja. " Ucap Dito sambil terkekeh pelan.
" Aku juga baik, bahkan saat ini aku sedang merasa bahagia. " Jawab Alex sambil tersenyum. " Apa beliau ada di kantor, aku datang kesini untuk menemuinya! " Ucap Alex lagi.
" Tentu saja, beliau ada di ruangannya. Ayo, biar aku antar kesana " kata Dito sambil mempersilahkan Alex untuk ikut bersama nya.
Mereka berdua berjalan beriringan, kemudian memasuki lift dan menekan tombol menuju ke lantai atas. Tampak mereka berbincang dengan akrab, bahkan Dito sesekali tertawa pelan, hingga pintu lift tertutup mereka masih asik dengan perbincangannya.
Denting bunyi lift terbuka seakan menggema di lorong ruangan lantai atas, disana tidak ada orang yang sekedar lewat atau berjalan. Ruangan disana sangat sepi, berbeda dengan lantai bawah yang banyak orang sedang berlalu lalang dengan kegiatan yang di kerjakannya.
" Aku akan ke ruangan ku dulu, kau masuk lah. Beliau pasti sangat senang bertemu dengan mu " Ucap Dito sesampainya di depan pintu bertuliskan Direktur.
" Terimakasih sudah repot-repot mengantarkan ku, aku akan masuk, sekali lagi Terimakasih. " Ucap Alex yang di balas anggukan oleh Dito.
Alex kemudian mengetuk pintu kayu dengan ukiran sederhana di depannya. Hingga suara orang di dalam mempersilahkan Alex untuk memasuki ruangannya.
" Nak, tumben kamu berkunjung ke kantor? " sapa seorang lelaki parubaya yang duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
" Apa kabar ayah, bagaimana keadaan ayah sekarang? " Ucap Alex sambil tersenyum.
Alex berjalan mendekati lelaki perubaya yang sedang berdiri di depannya, ia kemudian memeluk lelaki itu. Terlihat wajahnya mulai sendu, begitupun dengan lelaki parubaya yang di peluknya bahkan sampai kedua matanya berkaca-kaca.
" Ayah baik-baik saja, lalu bagaimana kabar mu? " Tanya lelaki parubaya itu.
" Aku juga baik ayah " Jawab Alex.
Setelah melepaskan pelukan yang penuh dengan rasa rindu, mereka kembali berbincang dengan Alex yang sudah duduk di kursi depan meja kerja orang yang di panggil nya Ayah.
" Apa ada hal yang sangat penting, ayah tau kamu tidak akan meninggalkan pekerjaan mu bahkan saat di jam kamu kerja. " Ucap lelaki parubaya itu.
" Aku kesini membawa kabar gembira, pencarian ayah sebaiknya hentikan saja. Aku sudah menemukan nya, dia pasien yang selama ini aku tangani ayah. " Ucap Alex sambil tersenyum senang.
" Tenanglah ayah, aku juga baru mengetahuinya kemarin dari hasil tes DNA. Beruntung aku menyimpan DNA nya, dan hasilnya sangat cocok. " Kata Alex sambil mengeluarkan amplop coklat yang berisi hasil tes DNA.
" Syukurlah kalau dia sudah ketemu, setidaknya aku bisa beristirahat dengan tenang " Ucap nya sambil menghela nafas.
Alex melihat wajah ayahnya yang sudah nampak lelah, ia tahu jika selama ini ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Ia sangat senang setelah mendapatkan hasil Lab kemarin, dan ia sedikit mengurangi beban yang di pikul sang ayah.
" Yah, aku ada kabar buruk yang harus aku sampaikan " Ucap Alex Hati-hati.
" Tak apa, ayah tahu pasti ini tak akun mudah. Kau ceritakanlah semuanya, setidaknya ayah senang adik mu sudah ketemu. " Ucapnya.
__ADS_1
Alex menghela nafasnya pelan, kemudian ia mulai menceritakan semua yang ia ketahui. Saat di pertengahan cerita, terlihat wajah dari ayah Alex keheranan kemudian berubah menjadi sendu. Sang ayah juga terlihat mendengarkan cerita dari Alex dengan seksama, ia bahkan tidak memotong sedikitpun pembicaraan dari Alex.
" Lalu gimana rencana ayah selanjutnya? " Tanya Alex setelah selesai berbicara.
" Sebaiknya kamu tetap menjaga adikmu, terus pantau kesehatannya. Biar ayah yang akan mengurus sisanya, nanti ayah akan menyuruh beberapa orang untuk menjaganya. " Ucap nya.
" Andai saja ada obat untuk mengembalikan ingatan adik, aku akan membelinya berapapun harga obat itu. " Ucap Alex.
" Bersabarlah, mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik. Saat tiba waktunya, ayah akan menyerahkan semuanya dan akan beristirahat dengan tenang. " ujar lelaki parubaya itu.
Seketika kedua lelaki itu terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing, suasana ruangannya juga kembali terasa sepi.
Hingga sebuah ketukan di pintu menyadarkan dua lelaki yang berbeda umur itu dari lamunan panjang mereka. Alex juga sadar jika dirinya sudah terlalu lama berada disana, sedangkan waktu ijin nya sudah hampir habis. Ia pun beranjak dan berpamitan kepada sang ayah, karena dirinya tidak bisa berlama-lama karena banyak tugas yang menunggunya di rumah sakit.
" Aku akan mengabari ayah lagi, jaga kesehatan dan perbanyak istirahat. Aku lihat kantung matamu sangat parah, sebaiknya ambilah cuti beberapa hari untuk mengistirahatkan raga mu. " Ucap Alex sambil menatap sendu ayahnya.
" Aku tak apa dibanding dengan semua yang sudah aku alami selama ini, aku akan beristirahat setelah waktunya tiba. Saat itu aku akan menikmati sisa umurku di tempat yang selalu aku inginkan. " Jawab sang ayah sambil memeluk Alex dengan erat.
" Baiklah, aku akan pergi dulu. " Ucap Alex sambil melepas pelukan dari sang ayah.
Ayah Alex mempersilahkan orang yang menunggu di luar ruangannya untuk segera masuk, berbarengan dengan Alex yang akan keluar. Orang yang mengetuk pintu masuk kedalam ruangan, mereka berdua sempat pernapasan, namun Alex melenggang pergi.
Di sekolah, Hana dan teman-temannya masih setia bercerita di dalam kelasnya. Sejak rombongan OSIS pergi dari kelas, mereka kembali heboh dan berdebat menentukan siapa yang harus mereka pilih. Total ada empat pasang kandidat yang mencalonkan diri sebagai ketua dan wakil OSIS. Hana hanya bisa diam dan sesekali ikut menengahi dan memberikan pendapatnya, ia merutuki dirinya sendiri yang tidak pokus saat presentasi tadi dan malah membayangkan Roby yang ada di hadapannya.
__ADS_1