
Sementara di tempat Hana berada kini, ia sedang menenangkan hatinya. Walaupun ia mencoba menepis semua perkataan serta perlakuan Roby terhadapnya, tapi tetap saja sebagai wanita ia merasa lemah dan tak menampik perasaannya sendiri.
Hana kemudian membasuh wajahnya dan mengeringkan nya dengan tisu yang ada disana, ia teringat dengan janjinya kepada Bimo. Beruntungnya tadi Hana sempat bertanya letak kamar tempat Bimo di rawat di bagian informasi.
Setelah merasa cukup tenang dan penampilannya sudah kembali rapih, Hana keluar dari dalam toilet. Ia kemudian pergi menuju tempat Bimo di rawat, ia sudah tak sabar ingin berbincang dengannya. Ia juga sudah menyiapkan satu hadiah sederhana, ia membawa boneka beruang kesayangannya untuk di berikan kepada Bimo. Entah mengapa Hana merasa kalau dirinya dan Bimo menjalani kehidupan yang sama persis, yakni kehidupan yang terkesan sangat kesepian dan penuh dengan segala macam cobaan yang harus mereka hadapi.
Saat Hana sampai tepat di depan kamar tempat Bimo, ia merasa heran melihat situasi yang sedikit riuh. Beberapa suster dan dokter memasuki ruangan, dan tak lama kemudian yang lain keluar dari sana. Ia juga melihat sepasang suami dan istri yang menangis di kursi tunggu tepat di depan pintu ruangan.
Tiba-tiba Hana merasakan perasaan tidak enak, ia mengingat wajah Bimo saat pertemuan mereka kemarin. Dengan memberanikan dirinya, Hana menghampiri salah satu suster yang baru saja keluar dari dalam ruangan. Ia bertanya mengenai Bimo yang berada di dalam ruangan itu, namun suster itu malah pergi tanpa menjawab apa yang Hana tanyakan karena sedang terburu-buru.
Tak mau menyerah, Hana kembali menanyakan kepada suster lainnya yang akan masuk kedalam ruangan. Suster itu nampak sedang sibuk, ia membawa alat medis dan hendak masuk kedalam. namun kali ini beruntung karena berhasil menghentikan seseorang yang bisa ia tanyai.
" Maaf Sus, apa ini ruangan tempat Bimo di rawat?. Kenapa banyak sekali dokter dan perawat yang masuk, apa ada sesuatu yang terjadi di dalam. " Tanya Hana dengan sopan.
" Iya mbak, ini memang tempat pasien bernama Bimo. Maaf saya harus segera masuk, pasien dalam keadaan kritis. Silahkan tunggu konfirmasi selanjutnya " Jawab sang suster lalu pergi masuk kedalam ruangan.
Seketika kaki Hana melemas mendengar perkataan dari sang suster, ia tidak menyangka dirinya akan mendapatkan kabar buruk itu.
" Seingat ku Bimo kemarin masih sehat dan tersenyum, kenapa keadaan nya tiba-tiba memburuk. " Ucap Hana yang sedang duduk di lantai.
__ADS_1
Ia masih syok dengan kabar yang sangat mengejutkan baginya. Tanpa ia sadari, bulir bening kembali jatuh membasahi pipinya. Padahal ia baru saja menghentikan tangisannya, tapi ia malah menangis kembali.
Tanpa disadari oleh Hana, dirinya sedari tadi menjadi pusat perhatian dari pasangan suami istri yang sedang duduk di kursi tunggu. Salah satu dari mereka kemudian bangkit dan berjalan kearah Hana.
" Maaf dek, adek ini siapa nya Bimo ya? " Tanya wanita yang menghampiri Hana.
Hana menoleh kearah sumber suara, ia menyeka air matanya dan berusaha bangun dari sana.
" Maaf, aku sudah membuat keributan disini. " Ucap Hana.
" Tak apa, aku juga mengerti perasaan mu. Perkenalkan, aku mama dari Bimo. " Ucap wanita itu sambil tersenyum dan membantu Hana berdiri.
" Maaf tante, aku tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku kesini datang untuk menepati janji ku kepada Bimo, kemarin kita bertemu di taman dan aku bilang akan berkunjung hari ini. " Jelas Hana dengan wajah terkejut.
" Benarkah, setahu ku Bimo anak yang pendiam dan suka menyendiri. Dia bahkan tidak mau berbicara kepada kami, dan kami hanya bila melihat dia kesakitan tanpa mendengarkan sedikitpun keluh kesah dari nya. " Kata ibu nya Bimo dengan wajah sendu.
" Oh ya, perkenalkan ini suami ku ayah dari Bimo.. "
" perkenalkan, saya Hana teman nya Bimo.Maaf sudah menggangu disini. " Ucap Hana memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
" Tak apa nak, lagian aku senang kalau Bimo mempunyai teman berbicara. Selama ini kami tidak bisa mengajak nya berbincang atau sekedar bercanda, dia anak yang terlalu menutup diri dan enggan untuk berbagi cerita atau sekedar mengeluhkan rasa sakit yang ia alami. " Kata ayah Bimo dengan raut wajah sendu.
" Dia anak yang baik kok Om tante, kemarin kita sempat berbincang dan tertawa. Bimo anak yang sangat ceria dan bagi Hana Bimo anak yang sangat imut " Cerita Hana sambil tersenyum.
Sontak kedua orang tua itu tercengang mendengar cerita yang dikatakan oleh Hana, karena menurut mereka semenjak anaknya sakit, mereka tak bisa berinteraksi seperti biasanya. Bahkan jika pun mereka mengajak mengobrol, hanya ada percakapan biasa seputar kabar atau sekedar berbincang kecil saja. Bahkan tak jarang Bimo akan langsung tidur saat melihat mereka, dan saat bangun tidur hanya ada ekspresi dingin yang selalu ia tunjukan.
" Benarkah nak, apa Bimo kami tertawa dan tersenyum.. " Ucap sang ibu sambil menangis, ia juga memegang tangan Hana mencoba memastikan kebenaran yang ia dengar dari perkataan Hana.
" Benar tante, Bimo terlihat sangat riang saat itu. Hanya saja kami tak bisa berbicara lama, karena salah satu perawat membawanya kembali. " Jawab Hana.
Pasangan suami istri menangis mengetahui bahwa anaknya bersikap berbeda saat bersama orang lain, mereka sadar kalau selama ini anak nya kesepian dan selalu sendiri dengan rasa kesakitan dari penyakit yang di deritanya.
" Maafkan kami nak, kami menyesal tidak bisa menjadi teman berbicara dan kami sangat menyesal karena sudah membiarkan mu selalu kesepian. " Ucap sang ibu sambil menangis tak berdaya di pelukan suaminya.
Hana hanya menatap kesedihan di wajah orang tua Bimo, ia sadar bagaimana rasanya berada di posisi seorang Bimo. Karena selama ini dirinya juga hidup sendiri, tapi berbeda dengan Bimo yang tidak memiliki teman bicara. Hana memiliki sahabatnya yang selalu ada untuk dirinya dan selalu mengkhawatirkan keadaan nya.
" Maaf tante, bukannya aku tidak mengkhawatirkan Bimo, tapi aku ada sedikit keperluan lagi. Mungkin besok lagi aku akan berkunjung lagi kesini, dan ini aku ada hadiah untuk Bimo. Titip salam untuk nya juga ya tante " Ucap Hana sambil menyerahkan boneka beruang kecilnya.
Orang tua Bimo sangat senang melihat keramahan dari Hana, terlebih ia juga memberikan hadiah untuk Bimo anaknya.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Hana lekas pergi dari sana untuk segera menuju tempat ia bekerja. Sebenarnya Hana merasakan pirasat buruk, tapi ia mencoba berdoa untuk kesembuhan teman kecilnya itu.
Tak jauh dari tempat Bimo dirawat, sedari tadi seseorang memperhatikan interaksi antara Hana dan kedua orang tua Bimo. Wajah nya terlihat keheranan dengan segudang pertanyaan di dalam pikirannya, namun saat melihat Hana pergi. Ia juga ikut pergi berlawanan arah dengan Hana.