Another Life : After Meet You

Another Life : After Meet You
Bahagian 70


__ADS_3

Roby menatap telapak tangan Hana mengeluarkan darah, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Bahkan urat-urat di tangannya sampai terlihat tercetak dengan jelas seperti garis yang tak beraturan tapi saling terhubung.


" Gue tunggu loe di luar, habis ini gue ada sesuatu yang perlu di omongin sama loe. " Ucap Roby lalu pergi dari sana, ia menekan kemarahannya dan berusaha bersikap santai. Namun berbeda dengan hatinya, ia mampu merasakan sakit yang teramat melihat bagaimana Hana di perlakukan tak baik oleh calon istri dari bos tempatnya bekerja. " Shitt... Loe harus ngasih gue penjelasan Hana. " Batin Roby.


" Maaf ya dek, temen aku emang tempramen. Tapi dia tuh sebenarnya baik kok, lagian dia juga udah nikah jadi dia gak bakal macem-macem. " Ucap Gilang.


" Iya kak gak papa. " Ucap Hana kaku.


Hana sempat menatap takut kearah Roby, kini rahasianya sudah terbongkar. Ia takut jika Roby akan memarahinya nanti dan yang lebih menakutkan adalah ia takut jika Roby akan menghajar Gilang habis-habisan karena berani dekat dengannya. Bahkan Gilang tanpa sadar tadi sudah mengenalkan dirinya kepada Roby, yang aslinya adalah suami Hana sendiri.


" Gue duluan dulu ya, takut tuh anak ngamuk. Nanti kalo ada perlu apa-apa hubungi aku aja ya, InsyaAllah aku bakal bantu. " Ucap Gilang berpamitan.


Hana mengangguk paham, ia kembali berterimakasih karena Gilang sudah membantu dirinya. Hana berjalan dengan langkah tertatih, hingga Anita datang dan membantu  Hana untuk berjalan.


" Loe gak papa kan, gila ya tuh mak Lampir. Kalo gue berani ya, tuh cewek pengen banget gue cemplungin ke got. Sumpah gue kesel banget sama tuh orang, sok banget. " Anita tiba-tiba berbicara dan mengungkapkan kekesalan dirinya.


" Udah, jangan terlalu di ambil hati. Lagian dia tuh calon nya si bos, kita gak boleh ngomong kayak gitu. " Ucap Hana sambil tersenyum.


" Ya kan tetep aja gue kesel sama tuh orang, loe juga, gue gak habis pikir sama loe. Udah di gituin masih aja baek sama orang, lawan kek sesekali gausah baek mulu loe. Yang ada loe habis di tindas sama orang kaya dia. " Cerca Anita dengan wajah kesal.


" Iya besok lagi aku usahain buat lebih berhati-hati saat bekerja. Oh ya nit, makasih ya udah bantuin aku tadi. "


" Iya sama-sama. "


Anita pun pergi untuk melayani pengunjung yang masih ada disana, sedangkan Hana sudah ada di ruang ganti untuk segera pulang.


" Han kamu gak papa kan? " Tanya Mila tiba-tiba.


" Enggak kok mbak. " Jawab Hana.

__ADS_1


" Itu pinggang kamu pasti sakit, mbak liat tadi kamu nyenggol meja sampe jatuh. Sini mbak bantu buat ngobatin luka di tangan kamu. " Ucap Mila sambil membawa kain kasa.


" Gak papa mbak, biar Hana obatin di rumah aja. " Ucap Hana.


" Itu sih kamu ngeyel, udah mbak suruh istirahat dulu kamu nya gak mau. Besok-besok lagi kamu harus banyak makan, jaga kesehatan kamu. Mbak tau kamu belum makan dari siang kan, tuh wajah kamu sampe pucet kaya gitu. " Nasehat Mila.


" Iya nanti sampai di rumah langsung makan kok mbak, makasih ya udah banyak bantuin aku. " Ucap Hana tulus.


" Iya, mbak juga gak papa kamu repotin. Mbak malahan seneng kalo kamu selalu ngandelin mbak, berasa kaya ibu kamu tau." Tawa Mila. " Udah sana ganti baju, habis itu langsung pulang aja. Sekalian nanti minta bungkusin makanan sama si Danis, biar kamu gak usah repot-repot masak. " Ucapnya lagi.


" Iya, sekali lagi makasih banyak ya mbak. " Ucap Hana.


Mila kemudian pergi dari sana dan menyisakan Hana yang akan mengganti pakaian nya, setelah selesai ia segera bergegas pergi kedapur dan meminta di bungkusin makanan seperti yang di katakan Mila tadi. Saat disana, Danis menanyai Hana dengan berbagai macam pertanyaan. Dia sangat kepo dengan suara bising yang ada didalam, sedangkan dirinya tak bisa melihat kejadian lantaran kerjaannya numpuk dan chef memang gak boleh keluar saat ramai tamu.


Hana berjalan dengan tertatih, ia baru merasakan sakit yang teramat di area pinggangnya. Terlebih luka di telapak tangannya juga terasa berdenyut, beruntungnya Mila sudah membalut lukanya dengan perban. Namun darahnya masih merembes hingga perban ditangannya mulai sedikit berubah warna menjadi merah.


Sesampainya di rumah, Hana langsung membuka kunci rumahnya dan langsung masuk. Tak lupa ia mengunci kembali pintu depannya, agar tidak ada orang asing yang masuk.


Hana sempat membuka ponselnya sebentar saat ia selesai membuka kemeja putih nya. Kini dirinya hanya mengenakan tanktop dan juga rok sekolahnya. Ia heran saat membuka satu pesan yang berasal dari Roby, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


...Kak Roby :...


^^^" Buka.. "^^^


Pesan singkat yang Hana sekalipun tidak mengerti apa maksudnya. 'Buka' Apa nya yang harus di buka, memang di dalam rumah itu ada siapa. Bukannya dia cuman sendirian. Hingga suara ketukan pintu di bagian belakang rumah terdengar sampai ke kamar Hana.


Hana kemudian menghampiri pintu belakang, ia mengintip sedikit dari balik tirai di jendela samping pintu. Hana tidak menemukan siapun yang ada disana, lantaran bagian belakang rumah itu masih kebun dan Penuh semak belukar. Bahkan selama Hana tinggal disana, ia tidak pernah membuka pintu itu dan membiarkannya selalu terkunci.


Dengan perasaan waspada, Hana memberanikan diri untuk membuka pintu dan mengecek nya langsung. Setelah kunci dan pintu terbuka, Hana di kagetkan dengan Roby yang tiba-tiba saja muncul dan memaksa masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Hana yang kaget hampir saja berteriak, namun Roby dengan cepat membungkamnya.


" Lama amat sih loe buka pintu, ini juga loe ngapain pake baju kayak gini hah. " Bentak Roby dengan suara pelan.


" A_a_apa yang kak Roby lakukan disini, dari mana kak Roby tau alamat rumah aku. " Tanya Hana gelagapan.


" Ck.. Gue ngikutin loe tadi, tapi gue putusin lewat belakang biar aman. " Jawab Roby malas.


Hana hanya mengangguk kaku, ia masih takut jika Roby akan marah kepada dirinya.


" Loe tadi ngapain sih di sana, loe juga bikin gue kesel. Bisa-bisa nya loe di maki sama cewek goblok tadi, loe seharusnya lawan balik Hana, bukan cuman nunduk aja. " Ucap Roby dengan tegas. Tak lupa ia juga mencengkaram dengan kuat pinggang Hana, hingga sang empunya meringis bahkan hampir jatuh karena gak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan.


" Kak Roby lepasin, sakit kak... " Lirih Hana, air matanya jatuh tak terbendung lagi. Sebenarnya dirinya sudah ingin menangis saat di kafe tadi, hanya dia berusaha kuat dan menekan kesedihannya itu beserta rasa sakit yang ia rasakan.


" Jawab aku Hana, tadi kamu ngapain disana hah. " Tanya Roby.


Hana sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit nya, tubuhnya merosot kebawah dengan tangan yang berusaha melepaskan tangan Roby.


Melihat Hana yang kesakitan, Roby sadar apa yang baru saja ia lakukan dan segera melepaskan cengkramannya. Ia juga melihat perban di tangan kanan Hana yang sudah berubah menjadi merah. Ia membantu Hana untuk berdiri, namun Hana semakin terisak menangis tak kala Roby membantunya bangun.


Karena merasa bersalah, Roby mensejajarkan tubuhnya dengan Hana. Ia langsung mengangkat Hana dan menggendongnya menuju ruang tengah, tak lupa ia juga mengunci kembali pintu belakang rumah Hana agar tidak ada orang yang masuk dan menggerebek mereka.


" Maaf, aku gak sengaja tadi. Aku terlalu emosi saat melihat kamu di perlakukan kasar sama cewek sialan itu. Seharusnya dia yang terluka, bukan kamu Hana. " Ucap Roby pelan.


Hana yang mendengar perkataan Roby pun merasa tenang, ia tidak khawatir lagi kalau Roby akan memaki dirinya.


" Akh... " Hana sedikit terhenyak saat Roby menurunkannya di atas karpet bulu. Tangan kirinya juga mencengkram bahu  Roby dengan kuat, ia merasakan sakit di area pinggangnya semakin menjadi. Ditambah kepalanya yang mulai berasa pusing dan badannya semakin melemah.


" Maaf, apa aku terlalu kasar. " Ucap Roby pelan. Ia melihat ekspresi Hana yang tengah menahan sakit dan juga tangan yang mencengkram bahunya cukup kuat, menyadarkan nya bahwa gadis di hadapannya itu terluka parah.

__ADS_1


Hana menggelengkan kepalanya, karena ia merasa kali ini Roby bersikap sangat lembut kepadanya.


__ADS_2