
Hana mulai duduk agak mundur kebelakang dan mensejajarkan tubuhnya dengan kaki Nisa. Dengan sangat lembut Hana mulai memijat kaki nya secara bergantian, ia begitu telaten dalam mengurus nya. Hana melakukan semua itu dengan ikhlas dan menganggapnya sebagai sebuah kewajiban untuk merawat orang tua. Ia bahkan tidak memperlihatkan wajah letih dan juga suram di hadapan orang terdekatnya, melainkan wajah riang dan lembut yang selalu ia tampilkan.
" Ini sangat enak sayang, kamu sangat pandai memasak. " Puji Nisa sambil memasukan satu suapan bubur kedalam mulutnya. Sebenarnya ia tidak terlalu menikmati makanannya, mulutnya terasa pahit saat makanan atau minuman memasuki mulutnya. Untuk itulah kenapa ia tidak makan saat sore tadi, karena dirinya sangat tidak selera dan memilih untuk tidur. Namun melihat perhatian menantunya, ia tidak ingin melihat wajah letih sang menantu kecewa karena ia tidak memakan makanan masakannya sendiri.
" Mama baik-baik saja, ini minum dulu ma. " Ucap Hana terkejut saat Nisa tersedak dan hampir memuntahkan kembali bubur yang ia makan.
" Mama baik-baik saja nak, kepala Mama terasa sangat pusing. Maaf Mama tidak menghabiskan bubur buatan mu " ucap Nisa dengan tatapan sendu.
" Tak apa ma, lagian Hana senang Mama bisa makan walaupun tidak banyak. Ini Mama minum dulu obatnya, setelah ini Mama beristirahatlah. Biar Hana memijat Mama sebentar lagi, setelah itu baru Hana pergi beristirahat. " Ucap Hana sambil memberikan sebuah pil dan juga segelas air putih.
Setelah selesai minum obat dan Hana juga meletakan nampan diatas meja lagi. Nisa kemudian membaringkan kembali tubuhnya dibantu oleh Hana, setelah Nisa tertidur dengan selimut tebal menyelimutinya. Hana kembali melanjutkan memijat kaki sang ibu secara bergantian, Hana hanya sesekali menatap wajah Nisa dan kembali pokus dalam memijat kaki ibunya itu.
Setelah cukup lama Hana memijat kaki Nisa, ia memutuskan untuk pergi dari sana dan beristirahat. Ia merasakan kakinya yang sudah kesemutan entah yang keberapa kalinya, tangannya juga sudah terasa kebas dan ia tidak ingin ketiduran di kamar sang Mama mertua.
Setelah mematikan lampu kamar dan menutup pintunya dengan rapat, Hana berjalan kearah dapur untuk menaruh mangkuk serta gelas yang di gunakan tadi. Ia mencucinya peralatan yang kotor dan menaruh nya di rak. Setelah selesai, Hana kemudian pergi kearah kamar tidurnya untuk beristirahat.
Ia membuka pintu kamar dan segera menutupnya kembali, Hana berjalan menuju sofa dan duduk disana. Ia menyandarkan tubuhnya, sebelah tangannya memijat bahu dan sesekali memukulnya perlahan. Ia baru merasakan rasa lelah yang sangat mendera tubuhnya.
Pada akhirnya Hana tertidur di atas sofa, ia memang selalu tidur disana. Ia tahu kalau Roby tidak menyukai jika dirinya berdekatan, lagian Hana juga masih merasa canggung walau mereka sudah sah sebagai seorang suami dan istri.
Malam yang terkesan sangat gelap, awan menutupi cahaya bulan dan bintang di atas sana. Angin berhembus kencang menerbangkan dedauan yang sudah tua, semua mahluk hidup kini sedang terlelap dalam dunia mimpi. Walau masih ada beberapa yang terjaga dan menjalani waktu seperti pada siang hari.
__ADS_1
Belum lama Hana tertidur, ia kembali mengalami mimpi buruk. Keringat membasahi anak rambut. Wajah ketakutan dan kegelisahan tersirat dengan sangat jelas, selalu ia mengingat sang Tuhan dan mengucapkan istighfar beberapa kali.
Hana melihat kearah tempat tidur, ia tidak menemukan sosok yang sebenarnya sedang ia tunggu. Karena rasa lelah, ia tertidur disana sampai mimpi buruk itu datang lagi kepadanya.
" Kemana kak Roby, kenapa belum pulang " gumam nya sambil menatap ranjang yang masih rapi.
Hana mengambil toples kecil dari dalam laci, toples yang berisi obat yang selalu ia minum. Ia meneguk air setelah menelan pil yang selalu menemani malamnya selama ini.
Kakinya kembali menginjak lantai yang terasa dingin bagaikan terbuat dari es, langkah kaki membawa nya ke arah toilet. Disana ia mengguyur wajahnya dengan air dan bagian lainnya, setelah selesai mengambil wudhu.
Hana melaksanakan solat di sepertiga malam seperti kebiasaannya selama ini, tak lupa ia selalu berdoa kepada yang maha kuasa. Tak jarang pula Hana menangis di setiap doa yang di tujukan kepada orang tuanya, kerinduan yang selalu ia rasakan tak pernah terkabulkan.
Hana kembali tertidur setelah selesai bertadzarusan, pengaruh obat itu sangat kuat. Hingga Hana selalu tertidur pulas setelah meminumnya.
*
*
*
Cuaca pagi hari itu sangat sejuk, langit hanya di penuhi sama awan putih yang menutupi cahaya matahari. Angin berhembus pelan membawa begitu banyak kesegaran dan juga kehangatan nya tersendiri.
__ADS_1
Dapur di kediaman Danuarta terlihat sangat sibuk sejak pagi, Hana dan si mbok beserta para pelayan disana tengah sibuk menyiapkan sarapan. Tak lupa ia membuatkan Nisa bubur dan segelas jus untuk sarapan paginya. Saat ini Hana sedang menyiapkan bekal untuk dibawa berkunjung kerumah sakit, karena saat bagun tadi pagi ia mendapati pesan dari Roby. Ia mengatakan kalau ia menginap di rumah sakit dan akan menjaga Raihan mengantikan sang ibu.
Setelah selesai membuat bekal untuk dua orang, karena pak Hans juga selalu berjaga di rumah sakit karena kemauan nya sendiri. Hana juga ingat kalau dirinya punya janji dengan pasien anak kecil yang waktu itu ia temui di taman.
" Mbok, Hana ke kamar Mama dulu ya. Mbok sama yang lain sarapan aja dulu, nanti Hana makan setelah membantu mama " ucap Hana sambil membawa nampan di tangannya.
" Iya Non, sebaiknya kita nunggu Non Hana selesai mengurus nyonya. Baru kita sarapan setelahnya " Kata si mbok sambil tersenyum.
Hana hanya mengangguk dan segera pergi menuju kamar sang ibu mertua, sebelum masuk tak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah berada didalam, Hana meletakan nampan yang ia bawa di atas meja. Ia berjalan kearah jendela dan membuka tirai kamar nya, agar cahaya matahari bisa masuk kedalam. Tak lupa ia juga membuka jendelanya agar kamar nya terisi dengan udara yang segar, karena hal itu sangat baik untuk kesehatan.
" Pagi Ma, gimana keadaan Mama sekarang? " ucap hana menyapa nya dengan seutas senyuman.
" Pagi sayang, berkat kamu Mama sudah merasa lebih baik. " Ucap Nisa sambil tersenyum.
Hana menghampiri Nisa dan membantunya untuk duduk dan bersender di kepala ranjang. Ia juga mengambil mangkuk berisi bubur dan memberikannya kepada Nisa.
" Mama harus sarapan dulu, setelah itu Mama baru minum obat. Biar Mama kembali sehat dan Hana tidak cemas lagi dengan keadaan Mama yang seperti ini. " Ucap Hana sambil menyodorkan mangkuk itu pada Nisa.
" Iya sayang Terima kasih " Ucap Nisa tersenyum.
Nisa kemudian mulai menyuapkan bubur dalam mangkuk ituk ke dalam mulutnya, ia kembali tersenyum saat merasakan rasa yang sangat enak buatnya. Ia menyuapkan bubur itu lagi dan lagi, hingga mangkuk itu kosong. Melihat nafsu makan Nisa sudah membaik, Hana tersenyum dengan perasaan tenang. Ia langsung memberikan satu gelas jus kepada sang ibu mertua dan menaruh mangkuk nya diatas meja.
__ADS_1