
" Loh, kok Non Hana tiba-tiba pulang. Ini sudah malam loh Non, apa Non jalan kaki lagi dari persimpangan jalan di ujung sana. " Tanya pak satpam dengan keheranan.
Hana baru saha sampai di depan gerbang, ia tidak menghiraukan rasa lelahnya setelah bekerja dan ia dengan tenaga yang tersisa harus berlari menempuh jarak 1 km dari tempat pemberhentian angkot menuju kediaman suaminya.
" Iya Mang, soalnya aku denger Mama tadi jatuh pingsan. Makanya Hana cepet-cepet datang kesini. " Jawab Hana sambil ngos-ngosan. Ia juga tidak sadar, saat memanggil satpam itu dengan panggilan 'mang' tanpa embel-embel 'Pak' kepada nya.
" Barusan juga mobil dokter baru saja tiba, mungkin beliau sedang meriksa keadaan nyonya. " Ucap satpam.
" Ya sudah pak, Hana masuk dulu ya. Makasih sudah bukain pintunya " Kata Hana berpamitan untuk masuk kedalam rumahnya.
" Pak Raihan sama Bu Nisa sangat beruntung mempunyai menantu sebaik Non Hana, dia bahkan rela berlari di tengah malam saat mendengar mertuanya sakit. Coba saja kalo menantu ku di kampung juga memiliki sipat baik seperti Non Hana, mungkin istri ku tidak akan kesusahan saat ia sedang sakit. " Gumam satpam sambil menutup pintu gerbangnya kembali.
Sedangkan Hana kini sudah masuk kedalam rumah, suasana yang sama dan kini Hana sudah mulai terbiasa. Hana hendak pergi kearah kamar Mama Nisa, namun ia urungkan karena melihat si mbok bersama seorang lelaki yang memakai jas dokter.
" Assalamualaikum mbok, gimana keadaan Mama sekarang? " sapa Hana sambil menyalami si mbok.
" Waalaikumsalam non, nyonya baru saja di periksa. Beliau baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan. " Jawab si mbok.
" Oh ya, ini dokter Angga. Beliau dokter pribadi keluarga nyonya. " Jelas si mbok memperkenalkan kepada Hana.
" Salam kenal Nona, nama saya Angga Rizky. Nona bisa panggil saya Angga saja, sama seperti si mbok. " Ucap Angga sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
" Salam kenal Pak Angga, panggil saya Hana. Makasih karena sudah merawat Mama dengan baik, bagaimana kondisi Mama." Ucap Hana dengan sopan sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Melihat respon Hana yang tidak membalas uluran tangannya, Angga kembali menarik tangannya dan sedikit salah tingkah. Ia juga merasa malu karena baru pertama kali ia menemui seorang gadis yang tidak mau di ajak bersalam secara langsung.
" Nyonya Nisa hanya kelelahan, aku sarankan untuk tidak memberikan beban fikiran kepada beliau. Saat ini saya sudah menyuntikan obat agar beliau beristirahat, mungkin beliau akan sadar dalam beberapa jam kedepan. " Jelas Angga dengan kaku, ia masih merasa malu dengan sikap santun Hana.
Hana mengangguk pelan, sebenarnya ia merasa aneh karena saat ia berangkat sekolah tadi pagi. Mama mertuanya itu sudah mendingan, bahkan tadi Hana membantunya mandi dengan air hangat. Tapi setelah mendengar penjelasan dari dokter, Hana berfikir jika mama mertuanya itu merasa rindu dengan Papa mertuanya yang masih terbaring koma di rumah sakit.
" Kalo begitu saya akan pulang dulu. " Ucap Angga berpamitan.
" Apa pak Angga tidak minum dulu, biar saya buatkan. " Tawar Hana.
" Tidak usah, lagian aku harus kembali ke rumah sakit karena ada jadwal piket. " Jelas Angga dengan sopan.
" Biar aku antar sampai kedepan " Ucap Hana.
" Baiklah, silahkan " Kata Angga sambil tersenyum.
" Oh ya, aku baru lihat nona disini. Dan lagi seragam sekolah yang nona pakai, apa nona kerabat dari nyonya Nisa. " Tanya Angga penasaran. " Maaf karena sudah lancang bertanya mengenai privasi nona " Ucapnya lagi dengan gugup.
" Tak apa pak Angga, aku memang masih sekolah. Aku kerabat dekat dari Mama, aku baru pindah kesini. Oh ya, pak Angga jangan panggil Nona, panggil Hana aja. " Jawab Hana, ia menutupi status menantu di keluarga itu di depan orang luar.
" Oh, pantas saja aku tidak pernah melihat kamu. Dek Hana juga jangan terlalu formal, lagian aku masih berumur 28 tahun. Jadi jangan panggil pak, soalnya aku masih belum mau jadi bapak-bapak. Kalo enggak keberatan dek Hana bisa panggil Mas saja. " Canda Angga sambil tertawa pelan.
" Iya Mas " Jawab Hana dengan kaku.
__ADS_1
Mereka tidak sadar kalau mereka sudah sampai di teras rumah. Hana kembali berterimakasih kepada Angga. Hana kembali masuk setelah Angga benar-benar pergi dengan mobilnya menuju ke arah gerbang.
" Doker Angganya sudah pergi non " Tanya si mbok pada Hana yang baru saja masuk kembali.
" Sudah mbok, baru saja mas Angga pulang. " Jawab Hana sambil mendudukan tubuhnya disofa, ia bahkan lupa dengan tas ransel sekolahnya yang masih menempel di punggungnya. Lalu dengan cepat segera melepaskannya dan menaruh di bagian samping kiri tubuhnya.
" Ini minum dulu, apa mau makan sekarang. Biar mbok bawain kesini " Ucap si mbok sambil memberikan satu gelas teh manis hangat yang ia bawa dari dapur.
" Makasih ya mbok, maaf sudah merepotin. Untuk makanan nya biar Hana nanti ngambil sendiri, lagian Hana belum bersih-bersih badan. " Ucap Hana, lalu ia meminum teh hangatnya. " Sini duduk sama Hana mbok, ada yang mau Hana tanyain soal Mama. " Ucap Hana sambil menepuk sofa di samping kanan nya.
" Iya non, memang non mau tanya apa soal nyonya Nisa. " Kata si mbok penasaran, tak lupa ia duduk di samping sesuai dengan kemauan Hana.
" Apa sudah terjadi sesuatu saat Hana belum pulang tadi, setahu Hana Mama tadi pagi sudah mendingan dan bisa duduk di sofa. Kenapa tiba-tiba Mama langsung drop lagi " Tanya Hana.
" Anu... Itu non, tadi sore nyonya habis ngobrol berdua sama den Roby. Itu...sepertinya den Roby sangat marah, setelah keluar dari kamar nyonya, den Roby langsung pergi begitu saja. Bahkan mbok nyapa dia aja gak di gubris, kayaknya sudah terjadi sesuatu diantara nyonya besar sama den Roby. " Cerita si mbok dengan gugup.
Hana menghela nafasnya, ia sangat bingung dengan keadaan nya sekarang. Ia masih belum terbiasa dengan suasana baru seperti saat ini, bahkan dirinya masih takut dengan statusnya saat ini. Ia takut gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan juga menantu di keluarga nya itu, ditambah sikap Roby yang kadang susah untuk di tebak. Membuatnya merasa takut melakukan kesalahan dan berakibat dengan merenggangnya interaksi antara dirinya dan Roby.
" Ya Alloh, sampai kapan ujian mu ini akan berakhir. Apa aku masih sanggup menjalankan amanah dari mu... " Ucap Hana dalam hatinya.
" Non, sebaiknya non segera membersihkan diri. Ini sudah hampir tengah malam " ucap si mbok pelan.
Hana yang masih termenung pun langsung sadar kembali dan mengikuti perkataan dari si mbok. Ia juga sudah merasakan lelah yang teramat, apalagi betis dan kaki nya yang sudah terasa pegal.
__ADS_1
" Ya sudah Hana mau naik keatas dulu, nanti Hana akan turun kembali. " Ucap Hana sambil meraih tasnya dan beranjak pergi. " Makasih ya mbok teh nya, ini sangat enak dan segar. " Ucap Hana kembali.
" Iya sama-sama non " Jawab si mbok.